Keyla Salsabila, rela mengorbankan dirinya dalam sebuah pernikahan kontrak. Demi mendapatkan biaya untuk pengobatan sang Ibunda yang tengah sakit keras.
Hubungan pernikahannya dengan Edgar, pria yang menawarkan pertolongan dengan sebuah perjanjian kontrak awalnya jelas terasa hambar. Hingga berjalannya waktu, benih-benih cinta itu mulai tumbuh. Namun, ego mereka lebih besar menutupi cinta yang sudah lama bersemi.
Lantas, akankah mereka memilih tetap bersama atau malah memutuskan untuk berpisah sesuai surat perjanjian pernikahan?
Mari sama-sama kita simak perjalanan cinta mereka dalam cerita author amatir berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iing Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evan Mahendra
Keyla tersenyum lembut pada semua orang yang ada di sana. Melangkah mendekati pria yang paling tua, sedikit membungkuk seraya menarik tangan tua itu di cium nya sopan, kemudian beranjak pada pria dan wanita paruh baya yang Keyla yakini orang tua Edgar. Keyla hanya mengulas senyum pada dua gadis yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Keluarga ini wajah nya garang semua, " gumam Keyla dalam hati memperhatikan mimik wajah setiap orang yang menatap pada nya.
Mama tersenyum seraya berjalan mendekat, merangkul bahu Keyla membawa nya menuju 2 kursi kosong yang berdampingan.Edgar menarik salah satu kursi untuk Keyla.
"Duduk Bee! " seru Zain lembut, Keyla terkesiap saat mendengar panggilan Zain pada nya.
"Terima kasih! " jawab nya. Mengulas senyum manis kemudian mendudukkan tubuh nya di kursi, tanpa sadar Edgar pun ikut tersenyum.
Dan semua interaksi itu, di saksikan oleh pria tua yang sedari tadi memperhatikan mereka lewat sudut mata nya.
" Gadis yang baik, " ucap nya dalam hati, kesan pertama di mata Kakek saat pertama kali bertemu Keyla.
"Tidak usah sungkan Keyla, anggap saja rumah sendiri! " tutur Mama lembut, mengulas senyum hangat menepuk pelan pundak Keyla, setelah nya kembali duduk di kursi nya sendiri.
Mereka menikmati makan malam dengan tenang tanpa ada yang mengeluarkan suara. Setelah makan malam selesai, Edgar mengajak Keyla ke ruang keluarga, berkumpul bersama keluarga Addison.
"Kamu masih sekolah? " Tanya kakek datar, sebuah pertanyaan yang paling ingin ia tanyakan sedari tadi.
"Mmm.. Saya kuliah Kek! " jawab Keyla gugup, dengan tangan memilin ujung gaun nya.
Edgar menggenggam tangan Keyla yang terasa dingin, menatap pada Keyla mengulas senyum mengisyaratkan tidak masalah.
"Fakultas apa? " Lagi-lagi Kakek bertanya, Keyla berusaha tenang menegakkan badan nya dengan mata menatap lurus pada Kakek.
"Kedokteran Kek, lagi menyelesai skripsi! " ungkap nya mantap.
Entah kenapa, mama merasa bangga dan juga senang mendengar tutur kata dan sikap Keyla yang selalu sopan.
"Ayo pulang, kasihan bunda sendirian, " bisik Edgar di telinga Keyla, melihat arloji di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Key pamit dulu Tan! " pamit Keyla kembali bersalaman bersama orang tua Edgar dan kakek.
Di sepanjang perjalanan Keyla hanya diam memandangi keluar jendela mobil. Pikiran nya menerawang jauh entah kemana. Berulang kali Edgar menoleh pada Keyla, mau bertanya tapi urung dia lakukan, akhirnya Edgar juga memilih diam dan fokus mengendarai mobil nya, sampai di pelataran rumah sakit.
"Terima kasih,Tuan. Saya masuk dulu! " ujar Keyla, membuka pintu mobil.
"Hmm! " Setelah mendapat kan jawaban Edgar, Keyla langsung keluar berjalan menuju ruang perawatan Bunda nya.
Keesokan hari nya Keyla kembali berangkat mencari pekerjaan, dengan mengendarai motor kesayangan nya memulai hal baru, berharap hari ini mendapatkan keberuntungan.
Keyla melangkah gontai keluar dari sebuah kafe dengan menenteng map coklat di tangan kembali menuju motor nya.
Pandangan matanya tertuju pada pria yang berjalan sambil bermain ponsel, sedangkan dari kejauhan Keyla melihat sebuah truk kontainer melaju sangat kencang. Dengan sekuat tenaga Keyla berlari kencang dan.
"Awaaaassssss.... " Teriak nya, menarik tangan pria tersebut hingga ke dua nya terlempar di trotoar jalan.
Keyla menegakkan kepala menatap pada pria yang juga tergelatak di samping nya.
"Kamu ngak papa? " tanya Keyla, saat melihat pria itu berusaha duduk. mengibaskan pakaian nya yang kotor.
"Mari saya bantu berdiri! " seru Keyla, mengulurkan tangan memapah tubuh pria yang jauh lebih besar dari tubuh nya.
"Saya ngak papa, Mbak. Terima kasih sudah menolong saya! " terang pria tersenyum lega, menatap wajah cantik Keyla yang terlihat begitu panik.
"Mbak ada yang terluka? " sela nya balik bertanya, memeriksa seluruh tubuh Keyla apakah ada yang terluka.
"Ngak ada Mas, Kalau gitu saya pamit dulu." pamit nya, Keyla berbalik hendak melangkah pergi tapi tertahan oleh tangan pria yang di samping nya.
"Tunggu dulu! nama saya Evan Mahendra. " Ucap nya memperkenalkan diri, mengulurkan tangan nya di hadapan Keyla.
"Saya, Keyla." Sahut Keyla sopan, mengulas senyum manis membalas uluran tangan Evan.
"Tambah cantik pas lagi senyum gini," gumam Evan dalam hati, menatap Keyla penuh kekaguman.
Evan Mahendra seorang dokter spesialis anak, di salah satu pemilik rumah sakit Ibu dan anak yang ada di ibu kota Jakarta.Memiliki wajah yang tampan dan juga baik hati, membuat Evan menjadi dokter idola pasien nya. Tidak hanya menjadi idola anak-anak, Evan juga menjadi idola di kalangan dokter dan juga perawat kaum hawa.
"Astaga... tangan kamu terluka! " Pekik Evan terkejut saat melihat lengan Keyla yang berdarah.
Tanpa permisi Evan langsung menggendong tubuh Keyla masuk kedalam mobil. Melajukan mobil menuju rumah sakit milik keluarga nya yang berada tidak jauh dari sana.
Sesampai nya di rumah sakit, Evan menuntun Keyla masuk lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai paling atas di mana ruangan Evan berada.
"Luka kamu harus segera di obati! kalau tidak takut nya malah infeksi, " seru Evan, mulai membersihkan luka di lengan Keyla menggunakan alkohol.
"Ini gak papa kok, cuma lecet sedikit. " Sahut Keyla meringis saat Evan memberi obat pada luka nya.
"Terima kasih, kak. Aku harus pergi sekarang. " Pamit Keyla, turun dari tempat tidur.
Meskipun lengan nya terasa perih, Keyla harus segera pergi dari sana dan kembali mencari pekerjaan.
"Kamu istirahat aja dulu disini, nanti sore saya antar pulang!" bujuk nya lembut, merasa khawatir pada Keyla.
"Saya ada janji, kak. " kilah nya sengaja berbohong.
"Oh iya, ada liat map coklat ngak,Kak? " tanya Keyla yang melupakan map milik nya.
"Oh.. Ada di mobil, mari saya antar! " sahut Evan tersenyum, meraih tangan Keyla membantu nya berjalan.
Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, sesekali ada yang mengangguk hormat saat berpapasan dengan Evan.
Keyla melirik pada Evan yang terlihat biasa saja, dalam hati Keyla bertanya-tanya siapa Evan sebenarnya. Banyak kejanggalan yang Keyla rasakan sedari tadi.Yang pertama, Evan membawa Keyla ke sebuah ruangan mewah saat mengobati tangan nya yang terluka.
Dan sekarang, Evan juga sangat di hormati orang-orang yang ada di rumah sakit ini.
"Dokter Evan! " panggil seseorang dari belakang, menghentikan langkah Keyla dan juga Evan. Kedua nya kompak berbalik terlihat seorang perempuan memakai sneli putih berjalan menghampiri mereka.
"Ooo.. Evan ini seorang Dokter toh! " Gumam Keyla dalam hati. Tapi sejurus kemudian Keyla kembali terkejut mendengar perkataan Evan.
****
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, kasih like, komen dan vote ya.
Tap love nya💕.
To be continued........