Kedekatan yang telah terjalin semenjak masih belia harus berbanding terbalik kala sebuah ikatan memaksa mereka untuk bersatu.
Surinala Jarumilind, gadis berparas ayu bertatapan sendu. Salah mengartikan sikap manis seorang pria yang telah lama mengisi hari-harinya.
Bara Dewandaru, pria berparas tampan, berperawakan gagah dan bermulut manis yang di gandrungi banyak wanita.
Mau tau kelanjutannya, baca dan ikuti perjalanan rumah tangga mereka yang penuh dengan intrik dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk kesekian kalinya
Filosofi sepatu. Jika dia menyakitimu maka dia bukan ukuranmu.
Nala tersenyum getir. Tanpa bisa di cegah, bulir bening kembali merembes di pipinya yang bersemu merah. Sebuah filosofi yang tanpa terduga tiba saja melintas di benaknya.
Tapi, benarkah demikian. Tidakkah pemikirannya terlalu awal menyimpulkan sesuatu? Miriss! Nyatanya ia terlalu besar kepala. Terlalu berharap sedangkan sang pemberi harap mengacuhkannya seolah tak ada.
Waktu masih begitu pagi. Bahkan sinar matahari yang menawan, belum menampakkan sosoknya yang tengah di harapkan. Suara ayam berkokok saling bersahutan. Pertanda jika saat ini masih pagi buta.
Namun, malang dengan nasib gadis yang bangun dengan wajah sembab serta bulir bening yang setia menggantung di paras ayunya.
Bara meninggalkannya tanpa sepatah kata. Ia pergi tanpa berpamitan. Entah kemana pria itu pergi. Yang jelas seseorang dengan panggilan sayang, yang malam tadi ia dengar, menjadi tujuan kemana pria itu berada.
Tak ingin larut dengan kesedihan, Nala segera bergegas ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Setelahnya ia melakukan sholat subuh. Pakaian serta semua perlengkapan dirinya telah di persiapkan oleh sang mertua sedemikian rupa.
Rasa canggung jelas ia rasakan. Untuk pertama kalinya ia menempati kamar sang pria pujaan.
Nala membersihkan kamar itu, ia juga mengambil beberapa potong pakaian suaminya yang telah kotor untuk di cuci.
Berbagai tanggung jawab sebagai istri tengah ia kerjakan, meskipun tanpa rona bahagia. Nala melakukan itu dengan ikhlas dan sepenuh hati. Selesai dengan kesibukannya mengurus keperluan suami. Ia beranjak turun ke bawah untuk membantu Mega menyiapkan sarapan.
"Nak, udah bangun kamu," sapa Mega yang tengah menyeduh teh di dalam dapur.
"Udah, tante."
"Lohh, kok masih Tante? Mama dong Nak. Kan kamu udah jadi anak Mama sekarang."
Sontak Nala tersenyum canggung, "Maaf, Ma. Nala belum kebiasaan."
"Heem, gak apa-apa sayang. Ohh iya, Bara mana? Belum bangun pasti yah?"
"Ehhmm ..., udah. Tapi, itu. Abang pergi pagi-pagi banget," jawabnya ragu.
"Kemana? kenapa gak pamit sama Mama?" saut Mega cepat.
"Tadi Abang bilang ada kerjaan dan udah keburu banget makanya gak sempet pamit. Tapi Abang titip salam kok buat Mama sama Papa."
Nala mengatakannya dengan ragu dan terkesan takut. Ia terpaksa berbohong demi menghindari kemarahan sang mertua yang sudah pasti akan di lontarkan teruntuk suaminya.
Seketika raut wajah Mega terlihat melunak. Ia tersenyum lembut kepada menantunya.
"Ohh, ya udah. Yang penting anak itu jelas perginya kemana, gak kelayapan gak jelas.
Ohh iya, La. Ada yang mau Mama sampein, habis gini Mama sama Papa mau pergi. Abang kamu, bang Bima mau dateng. Jadi Mama sama Papa mau jemput dia, nanti pulangnya juga agak maleman. Soalnya ada beberapa barang yang mau di beli.
Kamu gak apa-apakan Nak, Mama tinggal dulu?" tutur Mega panjang lebar.
Gadis itu mengangguk di sertai senyum yang mengembang.
"Gak apa-apa, kok Ma. Nanti Nala bisa ke rumah Bunda."
"Alhamdulillah, oke deh kalau gitu Mama siap-siap dulu yahh. Kamu sarapannya ke rumah Bunda dulu ya Nak."
Sepeninggalan kedua mertuanya. Nala lantas pergi ke rumah Bundanya. Di sana ia membantu sang ibu seperti biasanya. Tak banyak yang ia bicarakan dengan Bundanya. Nala tak memberi tahu atau sekedar bercerita tentang kesan pertama menjadi seorang istri.
Sering kali ia mengalihkan topik pembicaraan jika sang ibu tengah menanyakan tentang rumah tangganya. Waktu terus berputar, tak terasa jam telah menunjukkan pukul 7 malam.
Sadar akan jam yang telah menunjukkan waktu malam. Ia membuka ponselnya dan sedikit terkesiap begitu melihat beberapa notifikasi pesan dari sang mertua yang belum sempat ia buka.
"Nak, Bara udah pulangkan? Mama bentar lagi sampek. Minta tolong bersihin meja makan yah, nanti pas di rumah kita makan bareng-bareng. Abang kamu, bang Bima kangen sama kamu katanya."
Pesan terakhir yang sedikit mengejutkannya. Bagaimana tidak? bahkan hingga saat ini Bara tak memberinya kabar apapun. Ia sendiri bahkan tidak tau suaminya akan pulang atau tidak.
Terdesak akan sebuah keadaan, terpaksa ia menelfon sang suami. Satu panggilan pertama tak terjawab hingga panggilan yang ke tiga. Begitu panggilan ke empat, tiba saja sambungan telfon itu tersambung.
"Hallo, Assalamualaikum. Abang! Abang kemana? Mama bentar lagi dateng, Abang cepet pulang yahh." rentetnya dengan gelisah.
"Halo, Baranya lagi mandi. Nanti biar di telfon balik aja ya."
Terdengar suara wanita dari sebrang, telfon segera terputus. Wajah Nala pucat pasi. Ia jatuh terduduk tanpa daya seraya meremasi ponsel di dadanya. Tangis tak dapat tertahankan di matanya. Untuk kesekian kalinya, rasa sesak terus mendera.
...----------------🍁🍁🍁----------------...
"Jangan lupa tinggalin jejak kalian yahh. Tekan like dan komen setiap babnya, ratenya jangan lupa guyss ..., terus ikuti kelanjutan kisah Nala. Next chapter, abang Bima ganteng bakalan muncul lohh🤭
gamPaR aja banG baRa nya biaR gak kuraNg ajaR saMa oRtu😡😡😡