Desri Winandra, gadis yang dibayar menikahi lelaki lumpuh untuk melunasi hutang-hutang biaya pengobatan almarhum ayahnya.
Ternyata lelaki lumpuh itu Arkhan Ghani, dia tak lain CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang selama dua tahunan ini dia kagumi. Lelaki yang begitu dingin dan seolah bersikap tidak menyukainya.
Dibalik kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan penderitaan yang selalu datang bertubi-tubi, Desri memiliki sikap tegas, baik, tulus dan penyayang.
Di dalam kisah mereka, kalian juga akan tertarik dengan beberapa karakter pendukung lainnya yang menjadi lakon utama pada diri mereka masing-masing. Terutama sang pengawal tampannya keluarga Arkhan.
Mampukah Desri melalui penderitaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Dapatkah dia memikat hati Arkhan yang dikaguminya selama dua tahun itu?
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN ENDRO
Masih di kediaman Ghani.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.47, dan semua keluarga besar pun sudah berangsur-angsur meninggalkan rumah mewah itu. Kini tinggallah Desri yang masih berbincang-bincang dengan Yuni.
"Nona, apa Anda sudah ingin pulang?" Tanya Endro si pengawal itu yang tiba-tiba menghampiri mereka.
Bahkan sudah dari tadi saya ingin pulang, dasar Anda saja yang tidak peka~ Gerutu Desri dalam hatinya.
"Iya, Endro... Saya takut ibu saya akan mengkhawatirkan saya." Jawabnya lirih penuh kecemasan sambil mulai berdiri.
"Kenapa tidak menginap disini saja, Kak?" Protes Yuni dengan merengek dan menggelayuti tubuh calon kakak iparnya itu.
"Nanti setelah menikah, kakak akan nginap disini terus kan, Yun... Entah untuk sebulan dua bulan atau beberapa bulan." Bujuk Desri menenangkan Yuni, padahal hatinya sendiri tersakiti oleh ucapannya itu.
"Mudah-mudahan untuk seterusnya dan selamanya..." Ucap Yuni menenangkan Desri dan memeluknya seolah tahu apa yang tengah dirasakan oleh calon kakak iparnya itu.
Desri hanya tersenyum getir tanpa percaya diri.
Endro si pengawal itu pun juga diam-diam menyunggingkan senyumnya.
"Ya sudah... Kak Des pulang ya, Yun.. Kamu jaga diri baik-baik." Ucap Desri sambil melepaskan pelukan Yuni.
"Iya.. Kakak juga ya." Jawabnya lirih dengan senyum dipaksakan. Masih ada guratan kekecewaan di wajahnya itu.
"Biar Yuni antar ke depan." Tawar Yuni.
"Tidak usah, Yun... Kamu langsung istirahat saja." Elak Desri.
"Tapi, Kak...." Protes Yuni lagi.
"Yuni, istirahat lah." Potong Desri cepat.
"Ya udah deh... Kakak hati-hati. " Ucapnya sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri Desri. Desri mengiyakan sambil tersenyum dan kemudian berlalu meninggalkan Yuni.
"Oh ya, Endro, nyonya dimana? Saya ingin pamit." Tanya Desri sambil menatap ke sekelilingnya seolah mencari Nur.
"Nyonya sudah beristirahat, Nona... Beliau sangat kelelahan... Tadi beliau sudah meminta saya untuk mengantarkan Nona." Jawab Endro panjang lebar.
Tetapi Desri tetap saja menyapukan pandangannya ke setiap sudut rumah yang di laluinya itu.
Apa mungkin dia sudah tidur?~ Gumam Desri.
****
Dalam perjalan pulang, Desri yang duduk di kursi penumpang belakang hanya diam. Dia terlihat seakan membayangkan sesuatu.
"Endro...." Panggil Desri memecahkan kesunyian yang terjadi di antara mereka.
"Iya, Nona..." Jawab Endro sambil melirik kearah spion.
"Sejak kapan kamu menjadi pengawal tuan Arkhan?" Tanya Desri sedikit hati-hati namun penuh selidik.
"Jauh sebelum kita bertemu pertama kali, Nona." Jawabnya singkat.
Desri mangut-mangut.
***
Flashback On
Dua tahun yang lalu, di sebuah taman.
Desri tampak menunggu seseorang dengan memegang kertas yang sepertinya lebih dari lima lembar. Sekali-sekali kertas-kertas itu di gunakannya untuk berkipas. Hampir setengah jam duduk menunggu, seseorang datang dari belakangnya.
"Sudah lama menunggu, Nona?" Tanya seseorang itu yang tak lain adalah Endro.
Desri sedikit terkejut dan menoleh ke belakangnya. Tapi senyumnya yang ia peragakan saat mendengar seseorang yang datang itu langsung memudar, ketika melihat yang mendatanginya tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
"I-iya, betul..." Jawabnya malas.
"Sudah lama menunggu, Nona?" Tanya Endro lagi.
Desri hanya tersenyum simpul menyahuti pertanyaan Endro.
"Jadi kamu yang sudah mengirimiku surat-surat paparazi ini?" tanya Desri tanpa basa-basi.
"Iya, Nona... Saya selalu mengikuti, Nona... Sepertinya sangat sulit untuk saya berhenti mengagumi, Nona." Jawab Endro penuh percaya diri.
"Tapi, maafkan saya... Saya belum tertarik untuk hal ini..." Seru Desri sambil menyodorkan paksa kertas-kertas yang dipegangnya dari tadi kepada Endro. "Permisi.." Pamitnya sambil berdiri hendak meninggalkan Endro.
"Tapi, Nona... Saya sungguh tertarik kepada Nona.." Ujar Endro sedikit mengejar Desri.
"Kenapa Nona mengembalikannya? Saya pikir Nona menyukai surat-surat ini..." Ujar Endro sedikit menyejajarkan badannya dengan Desri dan mencoba menghentikan langkah Desri.
Desri hanya diam tak menggubris apa pun yang diucapkan Endro.
"Nona, tunggu..." Panggil Endro lagi.
Tetapi Desri tetap saja tidak mau menghentikan langkahnya. Jelas sekali guratan kekecewaan terlukis di wajahnya itu.
Tetapi tanpa dia sadari, Endro yang sudah berhenti mengejarnya itu tersenyum.
Aneh, bukan? Orang kalau ditolak itu akan kecewa, sedih, kalau perlu nangis sedikit banyaknya. Tapi Endro malah tersenyum.
.
.
.
.
dulu iparku anemia , bukan amnesia biasa ada jenisnya jg , selalu operasi melahirkan anaknya ... Alhamdulillah selamat .
semoga ada keajaiban untuk Desri .
kasihan klo Desrinya metong .
perempuan utama baik begitu.
sementara ayah arkhan bisa aja sengaja di celakai jg , sama halnya seperti arkhan.
jodoh Yuni siapa ya .
rival atau Endro
kasihan jg si Endro .
apa maksudnya dengan mentari yang sama?🤔
enakan melawak aja ndro jangan ganti profesi🤭😁
kakak ipar idaman
menantu idaman.