NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 mual setelah makan

Pertemuan dengan Nyonya Sofia mengakhiri satu kekhawatiran besar dalam hidup Alya. Di luar dugaan, ibu kandung Devan itu justru menjadi sekutu terbesarnya sekarang. Sofia bahkan secara berkala mengirimkan sup herbal, buah-buahan organik langka, hingga pakaian-pakaian hamil berbahan sutra terbaik langsung ke Penthouse Lavender.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa diubah bahkan oleh kekuasaan dan kekayaan keluarga Dirgantara: respons alami tubuh seorang wanita yang sedang hamil muda.

Malam itu, jam digital di dinding ruang makan penthouse menunjukkan pukul delapan malam. Devan baru saja kembali dari kantor, masih mengenakan kemeja formalnya yang kancing atasnya sudah dibuka pelan. Di meja makan, koki pribadi telah menghidangkan menu makan malam super mewah: * Wagyu Steak* dengan tingkat kematangan sempurna, disandingkan dengan saus *truffle* dan sup krim jamur yang aromanya sangat menggugah selera.

Alya, yang mengenakan dress rajut longgar pemberian Sofia, duduk di seberang Devan. Awalnya, perutnya terasa sangat lapar. Aroma daging panggang premium itu sempat membuatnya meneteskan air liur.

"Makan yang banyak," ucap Devan datar, memotong daging steaknya dengan gerakan elegan. "Ibuku meneleponku tiga kali hari ini hanya untuk memastikan berat badanmu tidak turun. Jika kamu kurus, aku yang disalahkan."

Alya mendengus. "Iya, iya. Cerewet sekali."

Alya mengambil garpu, memotong sepotong kecil daging wagyu yang sangat lembut itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa gurih dan lumeran lemak daging berkualitas tinggi langsung memanjakan lidah Alya. Ia tersenyum puas dan menelannya dengan mudah.

> *[Wah, tekstur daging ini luar biasa, Ibu. Nutrisi proteinnya sangat padat. Aku menyukainya!]*

"Enak, kan?" tanya Alya dalam hati pada bayinya. Ia merasa makan malam kali ini akan berjalan lancar. Namun, petaka baru dimulai saat Alya menyendok sup krim jamur yang berada di samping piringnya.

Begitu sendok pertama mendarat di lidahnya, perpaduan rasa krim yang terlalu kental dan aroma jamur yang kuat mendadak memicu reaksi berantai di dalam perut Alya. Rasa gurih yang tadinya menyenangkan, tiba-tiba berubah menjadi rasa enek yang luar biasa dahsyat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isi lambungnya didorong paksa naik ke tenggorokan.

"Ugh..." Alya mendadak menjatuhkan sendoknya hingga berdenting keras di atas piring porselen. Wajahnya yang tadinya merona kemerahan langsung berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak panik.

Devan menghentikan gerakan makannya, alisnya bertaut tajam melihat perubahan drastis pada wajah Alya. "Alya? Ada apa?"

Alya tidak bisa menjawab. Rasa mual yang teramat sangat sudah mencapai pangkal tenggorokannya. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, Alya langsung bangkit dari kursi marmernya dengan tergesa-gesa, setengah berlari menuju kamar mandi terdekat yang terletak di sudut ruang tamu.

*GEBRAK!*

Pintu kamar mandi ditutup dengan kasar. Detik berikutnya, suara Alya yang sedang memuntahkan seluruh isi perutnya terdengar samar-samar dari luar.

Devan terpaku di tempat duduknya. Pria yang biasanya selalu tenang dalam menghadapi krisis bisnis bernilai triliunan rupiah itu, mendadak merasakan secercah kepanikan yang aneh di dalam dadanya. Ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu berdiri dan melangkah cepat menyusul Alya.

Di depan pintu kamar mandi, Devan mengetuk pintu dengan ketukan yang tidak seritmis biasanya. "Alya! Kamu tidak apa-apa? Buka pintunya."

Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara batuk-batuk kecil dan deru air wastafel yang dinyalakan.

Mendengar ketidakberdayaan wanita di dalam sana, Devan mendadak teringat ancaman ibunya—dan yang lebih penting, ia teringat bahwa ada darah dagingnya yang sedang bertumbuh di dalam perut yang sedang tersiksa itu. Mengabaikan privasi, Devan memutar knop pintu yang untungnya tidak dikunci oleh Alya karena gadis itu sudah terlalu lemas.

Begitu pintu terbuka, Devan melihat Alya sedang bertumpu pada pinggiran wastafel marmer. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu, dan air mata hiasan akibat mengejan saat mual mengalir di pipinya. Wajahnya benar-benar putih bersih seperti kertas tanpa darah.

Melihat kondisi Alya yang begitu rapuh, ego dingin Devan mendadak runtuh. Pria yang tidak pernah melayani siapa pun seumur hidupnya ini berjalan mendekat. Dengan gerakan yang canggung namun penuh kelembutan, Devan mengumpulkan rambut panjang Alya yang terurai ke depan, memeganginya dengan satu tangan agar tidak terkena kotoran, sementara tangan kirinya perlahan mulai mengurut tengkuk Alya dengan usapan lembut yang konstan.

"Keluarkan saja semuanya jika masih mual," bisik Devan, suara baritonnya melembut secara alami tanpa ia sadari.

Alya kembali terbatuk dan memuntahkan sisa cairan asam di lambungnya. Rasa hangat dari telapak tangan Devan yang lebar di tengkuknya entah bagaimana memberikan efek menenangkan yang luar biasa. Pijatan konstan pria itu perlahan membuat otot-otot perut Alya yang tegang mulai rileks.

Setelah beberapa menit yang menyiksa, rasa mual itu akhirnya mereda. Alya menyalakan kran, berkumur-kumur membersihkan mulutnya, lalu bersandar lemas pada dada bidang Devan karena kakinya sudah terasa seperti jeli.

Devan tidak menjauhkan tubuhnya. Ia tetap membiarkan Alya bersandar, tangannya beralih mengambil selembar tisu basah dan dengan sangat telaten mengusap sisa air mata dan keringat dingin di dahi serta sekitar bibir Alya.

"Masih mual?" tanya Devan, matanya menatap lurus ke dalam mata Alya yang sayu.

Alya menggeleng lemah. "Sudah agak mendingan... Terima kasih, Tuan Devan."

Tiba-tiba, di tengah keheningan yang intim dan canggung di dalam kamar mandi itu, sebuah suara batin yang lemah namun tetap terdengar sarkastis bergema di kepala Devan.

> *[Uh... ampun, Ayah... kepalaku rasanya berputar-putar. Sup krim jamur tadi benar-benar sebuah bencana kuliner. Tapi... tindakan protektif dan pijatan di tengkuk Ibu tadi... lumayan juga. Aku memberikanmu poin tambahan lima persen karena tidak membiarkan Ibuku menderita sendirian.]*

Devan refleks mendengus pelan mendengar bisikan anaknya. Janin ini benar-benar tidak kehilangan energinya untuk berkomentar bahkan setelah membuat ibunya muntah-muntah hebat. Namun, ada rasa lega yang tak terbendung di hati Devan saat mengetahui calon anaknya baik-baik saja di dalam sana.

Devan perlahan menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut Alya dan tangan kirinya di balik punggung gadis itu. Dalam satu gerakan mulus, ia mengangkat tubuh Alya yang terasa sangat ringan ke dalam gendongan ala *bridal style*.

"Eh?! T-Tuan Devan, apa yang Anda lakukan? Aku bisa berjalan sendiri!" pekik Alya terkejut, wajahnya yang tadinya pucat mendadak merona merah karena kedekatan mereka yang begitu intim.

"Diamlah. Kakimu bahkan gemetar seperti itu," potong Devan dingin, meskipun detak jantungnya sendiri mulai berkhianat, berdegup lebih kencang dari biasanya saat mencium aroma tubuh Alya yang bercampur minyak angin hangat dari dekat.

Devan membawa Alya keluar dari kamar mandi, melintasi ruang tamu, dan membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas kasur empuk kamar utama. Ia menyelimuti tubuh Alya hingga sebatas dada, lalu berbalik menatap Bibi Nunung yang sudah berdiri cemas di dekat pintu kamar.

"Bibi Nunung, singkirkan sup krim jamur itu dari menu makanan rumah ini. Selamanya," perintah Devan tegas tanpa kompromi. "Dan buatkan teh jahe hangat tanpa gula untuk Nona Alya sekarang."

"Baik, Tuan Muda," jawab Bibi Nunung buru-buru melaksanakan perintah.

Devan kembali menatap Alya yang berbaring lemas di kasur. Pria itu duduk di pinggiran ranjang, menatap perut Alya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Mulai besok, kamu tidak boleh melewatkan pemeriksaan dokter kandungan mingguan," ujar Devan, suaranya kembali datar namun ada nada kepedulian yang tersirat jelas. "Aku tidak ingin melihatmu pingsan karena kekurangan nutrisi."

Alya tersenyum tipis, rasa kantuk mulai menyerangnya akibat energi yang terkuras habis setelah muntah. "Iya... Ayah yang cerewet," gumam Alya setengah sadar sebelum matanya perlahan terpejam rapat.

Mendengar kata "Ayah" meluncur dari bibir Alya, Devan tertegun sesaat. Ia memandangi wajah tidur Alya yang damai di bawah temaram lampu kamar. Tangan Devan perlahan bergerak, dengan ujung jarinya ia mengelus lembut perut Alya yang dilapisi selimut.

*Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana, Anak Nakal,* batin Devan tanpa sadar, sebuah senyuman tipis yang sangat langka akhirnya terukir di bibir sang CEO dingin.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!