SYAH OFFICIAL
Karena perjodohan, seorang gadis mengelabui pemuda untuk menjadi suaminya untuk sementara.
Dipaksa menikah dengan gadis cantik? Tentu saja pemuda itu tidak menolaknya.
Hanya saja, dengan identitasnya saat ini dia diremehkan oleh Istrinya karena dia menjadi seorang menantu yang ikut ke pihak istri.
Mereka belum mengetahui identitas asli dari pemuda yang mereka remehkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OFFICIAL SYAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Tidak kembali ke mall, Syah langsung pergi meninggalkan Mall Imperial, melupakan gajinya satu hari itu.
Kembali melihat ponselnya, Syah baru ingat jika tadi saat dia baru saja dipecat, dia mendapatkan sebuah notifikasi dari platform ojek online yang dia daftar.
Setelah membuka aplikasi ojek online itu, Syah senang karena melihat sebuah label khusus yang memberikan kata 'Selamat' kepada Syah atas pendaftaran dirinya yang tentunya diterima oleh pihak platform.
Syah melihat ketentuan-ketentuan yang ada disana, ternyata dia harus membayar uang untuk membeli jaket dan helm ojek online yang dimana dia akan bekerja nantinya.
Hanya masalah uang, yang sebelumnya Syah khawatir dia menjadi tidak khawatir setelah ingat bahwa di tangannya ada satu kartu hitam miliknya.
Di negara ini, kartu hitam ini hanya tersedia lima puluh buah kartu di negara ini dan salah satunya kini berada di tangan Syah.
Pemilik kartu hitam diantaranya hanyalah orang-orang kaya maupun orang yang berpangkat, seperti presiden atau gubernur dan sebagainya.
Syah akan membayar uang untuk membeli jaket untuk ojek onlinenya, hanya saja kartu hitam itu belum teraktifasi.
Karena belum teraktifasi, Syah mengendarai motornya pergi menuju ke suatu bank terdekat.
Baru sampai di depan bank, Syah memarkirkan motornya terlebih dahulu sebelum akan masuk ke dalam Bank.
"Hn... Lihat pakaian itu! Begitu terlihat murahan, sepertinya dia kemari untuk meminjam uang?" tanya salah seorang wanita setelah dia melihat penampilan Syah.
"Tidak mungkin! Orang miskin sepertinya punya jaminan apa untuk meminjam uang?" ucap salah satunya mengatai Syah bahwa dia adalah seorang pria miskin.
Syah tersenyum, "Aku kemari akan mengaktifkan kartuku karena sudah tiga tahun aku tidak memakainya!" kata Syah.
Kedua wanita yang tadi membicarakan Syah sedikit terkejut karena Syah mendengar ucapan mereka.
"Untuk apa Kamu mengobrol dengan Kami? Maaf! Kamu tidak layak!" seru salah seorang wanita itu agak menunjukkan ekspresi jijiknya.
"Terserah Kamu saja dan seharusnya aku yang berkata bahwa Kamulah yang tidak layak!" ucap Syah dengan nada dinginnya dan dia berlalu pergi meninggalkan kedua wanita tadi untuk segera pergi ke resepsionis.
"Cuih! Hanya orang miskin lagaknya besar sekali!" ketus wanita tadi.
Saat berada di depan meja resepsionis, Syah langsung mengeluarkan kartu hitam miliknya.
"Aku mau mengaktifkan kartuku!" seru Syah dengan memperlihatkan kartu hitam miliknya.
Para pengunjung yang melihatnya sontak terkejut, mereka baru kali ini melihat sebuah kartu hitam dengan mirip seperti kartu rekening mereka hanya saja, desain kartu milik Syah lebih spesial.
Kartu hitam dengan ukiran emas tribal yang berkilap menambahkan kesan keagungan dari kartu hitam itu.
"Aku belum pernah melihat kartu itu! Kamu mau menipu ya?" ketus resepsionis itu menuduh Syah menipu.
"Itu benar! Lihat saja pakaian itu, dia pasti datang kemari untuk menipu! Apa-apaan kartu hitam? Aku tidak pernah mendengarnya!" seru wanita yang tadi mendekat setelah melihat kartu hitam yang dikeluarkan oleh Syah.
Kartu hitam merupakan salah satu kartu yang jarang diketahui oleh orang biasa, karena mereka belum pernah melihat kartu hitam.
"Satpam! Segera keluarkan penipu ini!" teriak wanita resepsionis itu dengan memanggil seorang satpam.
Syah terkejut karena perlakuan dari resepsionis itu, "Hei! Bukankah Kamu harus bertanya pada atasanmu terlebih dahulu?" tanya Syah dengan nada yang sangat dingin.
Salah seorang gadis resepsionis di meja lain menghampiri Syah dengan segera.
"Maaf Tuan? Apa Tuan tidak menipu?" tanyanya sopan.
"Tentu saja! Aku bukanlah seorang penipu!" ketus Syah kesal.
"Memang benar, kartu hitam Kami semua mengetahuinya, jadi apa boleh kamu ikut aku ke mejaku saja, Tuan?" ucapnya dan langsung berniat mengajak Syah untuk menyelesaikan permasalahannya di meja resepsionisnya sendiri.
"Mimi! Kartu hitam hanya ada lima puluh buah! Dan aku tahu, kartu hitam itu hanyalah orang kalangan atas di kota S yang memilikinya!" seru wanita resepsionis tadi memperjelas prasangkanya.
"Tapi... " lirih Mimi agak takut.
"Ayo ke mejamu!" ucap Syah dengan sedikit tenang karena Mimi akan membantunya.
"Lihat saja pakaian itu! Memangnya orang miskin sepertinya bisa memiliki kartu hitam? Di pasti penipu! Segera keluarkan dia dari sini Pak Satpam!" perintah dari wanita resepsionis itu dengan tegas.
"DIAM!" teriak Mimi juga ikut kesal.
"Hei? Kamu sudah berani berteriak di depan seniormu? Kamu ingin aku pecat?" tanya senior itu mengancam Mimi.
"Aku, aku... Tuan mari ikut ke mejaku!" yang sebelumnya akan menjawab pertanyaan langsung mengganti topik dan mengajak Syah untuk pergi ke mejanya.
Wanita itu kesal, dengan marah dia meminta satpam itu untuk segera menyeret Syah, si penipu ini.
Tangan ditangkap, ditarik dan akan dibawa pergi oleh satpam itu. Karena tidak nyaman dengan itu, Syah menarik dan melepaskan dirinya dari si satpam.
"Beginikah cara kalian memperlakukan seorang tamu?" tanya Syah yang sangat kesal.
"Nona, lebih baik panggil satpam yang lain untuk segera mengusirnya pergi jika tidak aku akan menjadi seorang nasabah di bank lain!" seru wanita yang tadi mengatai Syah saat baru saja memasuki bank.
"Petugas keamanan! Segera kemari!" teriak wanita resepsionis itu mengamuk kesal.
Lima orang petugas keamanan lainnya datang, mereka melihat seorang pria muda yang sedang dipelototi oleh wanita yang memerintahkan mereka.
Dengan sebuah isyarat tangan, para petugas keamanan itu langsung segera menghampiri Syah.
"Ada apa ini?" tanya salah seorang pria gemuk yang baru saja keluar dari sebuah ruangan karena mendengar ada suara keributan disana.
"Manager! Tuan ini tadi—" ucap Mimi yang langsung dipotong oleh wanita resepsionis tadi.
"Sayang! Dia adalah seorang penipu! Dia ingin menipu disini jadi aku berniat mengusirnya pergi keluar!" seru wanita itu menjawab seorang pria dengan kata panggilan 'Sayang' yang menandakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
"Benar begitu Hellen?" tanya pria itu yang menyebutkan nama dari wanita resepsionis.
"Tidak! Manager! Tuan ini akan mengaktifkan kartu hitamnya, tadi katanya!" teriak Mimi yang tidak membiarkan Hellen untuk berbicara lagi.
"Mimi! Kamu mau dipecat? Sudah kukatakan dia adalah penipu, Sayang!" ancam Hellen keukeh.
"Oh Manager disini rupanya, baguslah! Segera aktifkan kartuku dan pecat pekerja payahmu itu!" kata Syah dengan sangat dinginnya.
"Memangnya siapa Kamu?" tanya Manager itu kesal juga.
"Baiklah! Aku ingin memindahkan saldo rekeningku ke bank lainnya! Aku tidak perlu menjadi nasabah kalian lagi?" tanya Syah mengancam.
"Terserahmu! Ya sudah, Mimi urus orang ini!" perintah dari manager kepada Mimi.
Syah langsung pergi ke meja resepsionis Mimi dan langsung menyerahkan kartu hitamnya itu kepada Mimi.
Setelah melihat keaslian kartu, Mimi memasukkan kartu tersebut untuk melihat apakah kartu itu berfungsi atau tidak.
Setelah dimasukkan olehnya, Mimi mengarahkan Syah untuk mengisi pin terlebih dahulu.
Setelah pin kunci dari kartu rekening Syah terbuka, Mimi segera melihat jumlah saldonya.
"Astaga!" teriak Mimi terkejut.