Di dunia ini, kenapa selalu wanita yang di anggap mandul jika tak kunjung memiliki anak. Apakah laki-laki tak bisa mandul?
" Cantik saja tak cukup kalau tidak bisa memberikan keturunan!"
" Percuma cantik kalau kenyataannya Mandul!"
Begitu banyak Makian yang sering Ayyara Nisaka terima hanya karena ia tak kunjung hamil di usia pernikahannya yang menginjak empat tahun. Usia pernikahan yang tak terbilang lama atau sebentar.
Selama empat tahun menikah, begitu banyak luka yang Ayyara dapatkan, tetapi Ia selalu berusaha untuk mempertahankannya. Ayyara juga terus berusaha melakukan banyak cara agar bisa hamil. Namun, ketika berhasil hamil ia justru mengalami keguguran akibat pertengkaran bersama suaminya.
Bagaimana kisah kehidupan pernikahan Ayyara Nisaka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Kecemasan seorang istri
Sesuai janjinya pada Argi, di kala hari mulai menjelang sore dan pekerjaan juga sudah selesai semua. Ayyara mencoba memutuskan untuk berpamitan pada emaknya. Awalnya Ayyara tak tega untuk membangunkan emaknya yang tidur begitu pulas. Tapi, jika tak pamit Emaknya pasti akan marah-marah.
Lagipula, tidur setelah ashar itu juga tak baik untuk kesehatan. Jadi, Ayyara terpaksa membangunkan emaknya.
" Mak ... Bangun, Ayyara pamit pulang," pamit Ayyara seraya menggoyangkan lengan emanya yang masih tertidur.
Untungnya, Mak Artanti bukanlah tipe orang yang susah bangun. Jadi, tak butuh waktu yang lama untuk membuatnya terbangun.
"Loh, kok sudah mau pulang? Kamu gak nginep?" tanya Mak Tanti seraya memulihkan kesadarannya.
" Enggak, Mak lain kali saja. Soalnya, Ayyara sudah janji untuk pulang," ucap Ayyara yang tak mengatakan bahwa Argi membolehkan ia datang asal sore sudah pulang.
Mak Tanti terlihat menghembuskan nafas panjangnya, seakan ada rasa sesak yang coba ia tahan di dalam sana.
" Pasti Argi yang tidak membolehkan kamu menginap 'kan? "tebak Mak Artanti yang tepat sasaran.
" Em, bukan kok Mak. Yara hanya ada__"
" Sudah, tidak usah bohong! Mak itu sudah hafal betul bagaimana sifat suamimu itu," potong Mak Tanti.
" Maaf ya, Mak," lirih Ayyara yang merasa tak enak dengan emaknya sendiri. Seorang ibu yang telah mengandungnya, menyusui, serta merawatnya sampai besar. Namun, tak lagi mempunyai wewenang akan dirinya semenjak menikah.
" Sudah gapapa, kalau suamimu memang tidak mengizinkan. Kalau begitu, pulanglah sebelum dia marah," ucap Mak Tanti dengan perasaan yang masih cukup berat.
Padahal, jarak rumah mereka tak jauh tapi ia jarang bisa bersama dengan putrinya yang seakan di kurung oleh suaminya untuk tidak boleh pergi kemana-mana tanpa izinnya.
" Kalau begitu, Ayyara pamit pulang," ucap Ayyara seraya mencium tangan emaknya.
Sebelum pergi, Ayyara memeluk emaknya sebentar. Hal seperti ini, justru membuat Mak Tanti jadi ingin menangis, tapi ia coba untuk menahan karena tak mau membuat putrinya semakin sedih dan merasa bersalah.
" Ra ..." panggil Mak Tanti ketika Ayyara akan keluar dari kamarnya.
" Kamu pulangnya di jemput apa nggak?" tanya Mak Tanti.
Ayyara menggeleng karena Argi memang tak datang menjemput.
" Kalau begitu, suruh adikmu untuk mengantar pulang."
Ayyara mengangguk.
Setelahnya, Ia benar-benar pergi dari rumah orang tuanya diantar oleh adik bungsunya Dirga.
Selama perjalanan, Ayyara lebih banyak diam. Pikirannya seakan penuh dengan perkataan emaknya tadi soal pekerjaan.
" Apa aku coba izin untuk bekerja lagi, ya sama Mas Argi? Siapa tahu kali ini dia menyetujui," gumam Ayyara dalam hati.
" Mbak ...," panggil Dirga pada kakak sulungnya. Namun, panggilannya tak di tanggapi oleh Ayyara yang masih larut dalam lamunannya.
" Mbak Ayyara, "panggil Dirga lagi dengan suara yang lebih keras, dan akhirnya dapat membuat Ayyara tersadar dari lamunannya.
" Iya, ada apa, Dek? "tanya Ayyara.
" Mbak ngelamun, ya? "tebak Dirga.
" Nggak kok, emangnya kenapa? "
" Gapapa, Dirga hanya merasa aneh soalnya dari tadi mbak diam saja seperti sedang naik ojek pengkolan saja! " sindir Dirga yang langsung mendapatkan tonyolan dari Ayyara.
" Kamu nih, bisa aja! "
" Oh, ya dek. Mampir ke atm sebentar, "pinta Ayyara ketika mereka akan melewati mesin atm.
Dirga pun menuruti perintah kakaknya. Tanpa berlama-lama, Ayyara langsung turun dari motor butut adiknya lalu berjalan menuju mesin atm yang kebetulan sepi.
Ayyara menarik beberapa lembar uang dari atm itu sebagai ganti uang di dompetnya yang sudah habis. Selesai menarik uang, Ayyara memberikan beberapa lembar uang pada adiknya.
" Banyak sekali Mbak, buat apa?"tanya Dirga yang bingung kenapa Kakaknya tiba-tiba memberikan uang padanya.
" Buat beli sepatu kamu sama Gilang yang sudah rusak! "
" Gak usah mbak, "tolak Dirga yang sudah mendapatkan peringatan dari emaknya untuk tidak meminta uang pada kakaknya seperti dulu.
Ayyara menghembuskan nafas panjangnya, lalu menarik tangan Dirga dan memberikan uang itu.
" Ambil, dan belikan sepatu. Lagian pamali menolak rezeki," tukas Ayyara yang membuat Dirga merasa bingung bercampur terharu.
Ayyara berbuat seperti ini karena tadi ia melihat sepatu Dirga dan Gilang yang memang sudah penuh dengan lem agar tetap bisa di pakai.
Menjadi anak yang berasal dari kalangan bawah, memang harus tetap kuat mental meski zaman sudah jarang anak-anak muda masih memakai sepatu seperti itu. Pasalnya, teman-temannya kebanyakan memiliki sepatu lebih dari sepasang. Sedangkan Gilang dan Dirga harus melakukan pekerjaan sampingan jika ingin membeli sesuatu di luar kebutuhan sekolah karena akhir-akhir ini, ekonomi keluarganya memang sedang berada pada masa kesulitan.
" Makasih ya, mbak," ucap Dirga seraya memeluk kakaknya.
" Sama-sama."
Setelahnya, Dirga melanjutkan mengantarkan Ayyara untuk pulang ke rumah mertuanya.
...***...
Ketika akan mengambil air wudhu, Mak Artanti cukup terkejut saat melihat dapurnya sudah bersih, makanan sudah siap serta setrikaan loundry juga sudah selesai. Genangan yang sejak tadi ia tahan agar tak jatuh, akhirnya meleleh juga.
Dikarenakan terlalu capek sampai membuat Mak Artanti tertidur seusai sholat dzuhur, dan ketika bangun semuanya sudah rapi. Beginilah kondisi rumah jika Ayyara datang, sangat bersih dan rapi.
Putrinya itu, adalah putri yang sangat baik dan pengertian. Tanpa di suruh pun, Ia akan melakukan apapun yang menurutnya bisa ia lakukan.
Di saat bu Artanti berjalan mendekati keranjang pakaian, Ia melihat sebuah amplop putih diatasnya. Mak Artanti pun mengambil amplop itu dan membukanya.
Betapa terkejutnya bu Artanti saat melihat isi dari Amplop itu.
📨 [Mak, uang ini mungkin tak cukup untuk melunasi uang sekolah Gilang dan Dirga, tapi setidaknya bisa sedikit membantu. Maaf jika Yara belum bisa membantu banyak. Mak jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek-capek juga biar tidak sakit. Yara sayang Emak.]
Buliran bening itu semakin deras jatuh membasahi pipinya yang sudah terdapat kerutan halus. Ia benar-benar tak menyangka jika Ayyara tetap memberikan uang itu padanya.
" Makasih ya, Ra. Kamu benar-benar putri emak yang baik, semoga Allah selalu menjagamu dan mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik." Doa Mak Tanti untuk putri satu-satunya.
...***...
Di sebuah ruang tamu, terlihat seorang wanita yang tengah mondar - mandir tengah menunggu suami yang tak kunjung pulang-pulang. Padahal, seharusnya Argi sudah pulang sejak jam lima sore tapi sampai jam sembilan malam ia tak kunjung pulang.
" Mas Argi kemana sih? Apa jangan-jangan lembur? Tapi kok gak kasih kabar? Di telepon juga gak aktif!" gumam Ayyara yang merasa sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada suaminya.
" Ra, apa Argi belum pulang?" tanya Pak Dermawan.
" Belum, Pak," jawab Ayyara dengan wajah cemas.
" Sudah kamu telefon? " Pak Dermawan kembali bertanya.
" Sudah, tapi nomornya tidak aktif, Pak. "
" Kemana anak itu?" gumam Pak Dermawan yang masih terdengar oleh Ayyara.
" Bapak tidak tidur? Ini sudah malam loh," ujar Ayyara mengingatkan.
" Ini tadi rencananya mau tidur, tapi lihat kamu masih mondar-mandir Bapak jadi ke sini. "
" Oh, kalau bapak mau tidur. Tidur saja duluan, Ayyara masih mau menunggu Mas Argi pulang."
" Yasudah, kalau begitu bapak tidur dulu. Jangan lupa pintunya di kunci kalau kamu sudah mengantuk tapi Argi belum pulang juga, kamu tinggal tidur saja. Siapa suruh pulang terlalu malam, " pesan Pak Dermawan sebelum pergi.
Ayyara hanya tersenyum.
Jarum jam terus berputar tanpa henti, hingga sudah berada di angka sepuluh. Sepasang mata Ayyara pun juga sudah terlihat begitu lelah, tapi ia masih tetap menunggu kedatangan suaminya. Sampai suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.
Ayyara terjingkat bangun dari tempat duduknya, lalu membuka pintu yang tadi sempat ia kunci.
" Mas kok baru pulang? Habis darimana? " tanya Ayyara saat Argi akan memasuki rumah.
" Ra, bisa gak sih kalau suami pulang itu jangan di sambut dengan pertanyaan seperti itu. Pulang cepat salah, pulang malam salah! Kamu itu kenal aku bukan hanya sehari dua hari, jadi seharusnya kamu hafal dong aku kenapa bisa pulang selarut ini!" tukas Argi dengan wajah penuh kekesalan.
" Maaf, Mas. Yara 'kan hanya ingin tahu, soalnya Mas tidak memberikan kabar terlebih dahulu kalau lembur, "terang Ayyara.
" Ponselku mati! "tandas Argi yang berlalu pergi!"
Yara pun segera menutup pintu dan berjalan mengikuti Argi masuk ke dalam kamar mereka. Sesampainya di kamar, Argi sudah pergi ke kamar mandi. Sementara pakaian kotornya berserakan seperti biasanya. Ayyara pun segera memungutinya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat noda lipstik dan aroma parfum wanita yang menempel pada kemeja suaminya.
Deg
Jantung Ayyara seakan berhenti sejenak, pikiran buruk pun tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
" Gak, nggak mungkin 'kan Mas Argi selingkuh," lirih Ayyara dengan dada yang bergemuruh.
...****************...