Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad
Aiza menunduk, manik matanya bergerak melirik ke samping, tepat dimana tubuh gagah Akhmar duduk dengan memakai baju warna senada. Jantung Aiza deg- degan.
Couple A mengenakan baju cople- an. serasi. Banyak yang memuji. Namun banyak pula yang mencibir, bahwa Aiza telah mengkhianati calon suaminya dan memilih tidur dengan pria lain sehingga terjadilah pernikahan pengganti.
Aiza terpaku di tempat. Jantung rasanya tak karuan. Antara berdebar dan deg- degan membaur jadi satu. Perasaan sulit dijabarkan. Bahagia, namun juga merasa tersudut. Iya, Aiza tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Tuhan sudah menjadikan pria yang dia cintai sebagai orang yang mengucap ikrar suci qobul, namun disaat yang sama ia juga harus disudutkan oleh pandangan miring orang- orang yang beranggapan kalau dia sudah berkhianat pada calon suami yang sah. Ini menyakitkan.
Akhmar tidak duduk di kursi pengantin yang sudah disediakan, kursi yang dirias dengan indah, yang tadi diduduki oleh Aldan itu teronggok di sisi Akhmar. Justru Akhmar menduduki kursi yang seharusnya diduduki oleh tamu. Sepertinya Akhmar sengaja menyingkirkan kursi pengantin dan menggantinya dengan kursi biasa.
Ismail membisikkan sesuatu ke telinga penghulu, ia menjelaskan bahwa nama pengantin diganti dengan nama Akhmar Adhyasta. Kepala penghulu hanya mengangguk- angguk saja.
Kemudian penghulu mengucapkan sederet kalimat kabul untuk mengajari Akhmar.
Seperti sedang menjalani gladi resik paduan suara, Akhmar mengikuti kalimat yang diucapkan oleh pak penghulu, menghafal nama- nama yang seharusnya diturutkan dalam kabul.
Tangan Akhmar kini sudah menjabat tangan Ismail dengan posisi duduk. Jabatan tangan itu sangat erat dan kuat.
Akhmar tetap tampak tenang, menatap pria yang menjabat tangannya itu dengan bersahaja. Lalu sederet kalimat yang ditunggu- tunggu pun akhirnya diluncurkan, menggema melalui speaker.
"Saudara Akhmar Adhyasta!" sebut Ismail lantang dan sorot mata yang tajam.
"Ya," dijawab dengan lantang pula oleh Akhmar.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Akhmar Adhyasta bin Adam Al Qomar dengan saudari Aiza Hulya binti Ismail dengan maskawinnya berupa cincin, Tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aiza Hulya binti Singa dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”
Loh? Kok singa? Aiza kaget seiring dengan gemuruh suara orang- orang berbisik yang bersahut- sahutan, terdengar pula gemuruh tawa dari arah sudut yang dihuni para anak muda.
Muka Ismail sudah memerah, tangan gatal ingin menonjok muka Akhmar. Enak aja ngatain singa.
Penghulu senyam senyum, menganggap Akhmar sedang grogi sehingga salah sebut nama calon mertua, bisa- bisanya mertua dikatain singa.
Ini gimana abah nggak makin ngamuk? Akhmar sedang aji mumpung kali ya, mau cari waktu yang tepat untuk bisa ngata- ngatain abah. Kapan lagi bisa ngatain abah kalau bukan saat seperti ini? Semua orang akan beranggapan bahwa Akhmar sedang grogi sehingga salah sebut nama. Pikir Aiza geleng- geleng kepala.
"Gugup?" tanya penghulu dengan senyum simpul. "Ini calon mertua kamu loh, masak malah disebut singa?" Penghulu melirik Ismail dengan senyum yang masih lebar, tak sadar muka Ismail sejak tadi sudah memerah menahan amarah.
"Loh, salah ya? Memangnya tadi saya sebut apa?" tanya Akhmar seperti baru sadar dari mimpi.
"Bukan binti Singa, tapi binti Ismail," ucap penghulu mengingatkan.
"Baik," jawab Akhmar dengan sangat tenang. Tak sedikit pun merasa bersalah.
Ijab qabul diulang, penghulu mulai mengucap sederet kalimat yang perlu dia ucapkan.
Saat itu berlangsung, muka Ismail kembali menegang, harap- harap cemas, takut diejek lagi sama calon mantu. Mau ngamuk dan menimpuk hidung mancung Akhmar juga nggak mungkin, soalnya di depan keramaian, bisa hancur reputasinya sebagai kyai kalau kepergok ngamuk- ngamuk di depan umum. Harus jaga image.
Aiza pun hanya bisa menunduk, berharap kalimat yang diucapkan Akhmar kali ini benar, tidak meleset lagi.
Bersambung