Raka Adijaya Prasetya adalah seorang pengusaha muda yang sukses terpaksa harus menikahi Rea Anastasya gadis cantik dan manja. Bukan perjodohan yang memaksa mereka harus menikah tapi kesalah pahaman diantara keduanya yang mengharuskan Raka menikahi Rea.
Hingga akhirnya hari pernikahan itu tiba, Rea dan Raka membuat satu perjanjian diawal pernikahan mereka.
Setelah satu tahun ternyata mereka menjadi saling mencintai.
Saat Rea hamil Lisa mantan kekasihnya Raka mendorong Rea ke jurang yang menyebabkan Rea keguguran dan harus kehilangan rahimnya.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Apakah Raka akan meninggalkan Rea karena Rea tak bisa memberinya keturunan dan Raka akan kembali kepada sang mantan kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lena Laiha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Melihat rumah baru
"Ini bukan jalan pulang. Kakak mau bawa aku kemana?" ucapan Rea ketus.
"Kita mau lihat-lihat rumah baru," sahut Raka sembari terus fokus berkendara.
"Rumah? kakak mau beli rumah?" tanya Rea.
"Iya," sahut Raka singkat.
"Katanya disini cuma sementara, ngapain beli rumah?" tanya Rea penasaran.
"Kakak gak betah tidur sekamar sama kamu, bikin gelisah tahu," ucapan Raka.
"Gelisah kenapa? tidur tinggal merem aja kok susah," ketus Rea.
"Kamu gak ngerti perasaan aku. Dah lah dijelasin juga kamu gak bakalan ngerti. Lagian anggap aja rumah yang kakak beli sekarang ini sebagai investasi," jelas Raka.
"Terserah," ucap Rea menutup obrolan diantara keduanya.
Tepat di depan rumah besar dengan taman didepannya Raka memarkirkan mobilnya.
"Ayo turun kita sudah sampai," ucap Raka sembari membuka pintu mobilnya.
"Disini?" ucap Rea.
"Iya. Semoga kamu suka dengan rumah ini biar kakak gak harus cari-cari lagi," ucap Raka.
Rea tersenyum lalu segera turun dari mobil Raka!
Rea dan Raka memasuki rumah itu dengan ditemani oleh sang pemilik rumah besar itu.
"Silahkan lihat-lihat saja dulu," ucap pemilik rumah.
Rea dan Raka tersenyum ramah lalu mulai berkeliling di rumah tersebut!
"Waw rumah yang luas," ucap Rea sembari mengedarkan pandangannya.
"Kamu suka?" tanya Raka.
"Aku suka dan aku yakin aku pasti nyaman tinggal disini," sahut Rea.
"Kalau gitu, kakak beli rumah ini aja," ucap Raka sambil menatap Rea yang terpesona dengan kemewahan rumah tersebut.
"Beli yang bikin kakak nyaman, jangan ikutin kemauan aku. Ini kan rumah kakak dan lagi rumah tangga kita hanya akan berjalan selama satu tahun setelah itu aku akan pergi dari rumah kakak," ucap Rea.
Raka tersenyum lalu meraih tangan Rea!
"Walaupun nantinya kita akan berpisah tapi bukan berarti aku tidak memperdulikan dirimu. Rumah ini akan jadi milikmu, anggap saja kenang-jenangan dari pernikahan diatas kertas ini," jelas Raka sembari mengelus punggung tangan Rea.
"Benarkah?" tanya Rea tak percaya.
"Ya, tentu saja," sahut Raka dengan senyum manisnya.
"Terimakasih!" ucap Rea kegirangan.
Tak terasa Rea memeluk Raka untuk pertama kalinya.
Tak ada rasa cinta saat keduanya berpelukan, hanya ada rasa sayang sebagai adik dan kakak saja tidak lebih dari itu.
"Kamu pernah pelukan sama pacar kamu?" tanya Raka sembari menatap Rea.
Rea melepaskan pelukannya lalu menggelengkan kepalanya. "Belum," ucapnya.
"Kenapa barusan meluk kakak?" tanya Raka lagi.
"Maaf. Aku sudah menganggap kakak sebagai kakakku sendiri jadi aku ... ." (Rea)
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Berapa lama kamu pacaran sama dia?" tanya Raka penasaran.
"Tiga bulan," sahut Rea singkat.
Raka tak berucap lagi, ia hanya menanggapi ucapan Rea dengan senyuman.
"Sebenarnya Riko sering meminta ini dan itu, tapi aku gak kasih," ucap Rea jujur.
Raka menarik tangan Rea membawanya ke balkon rumah itu!
"Maksudnya ini dan itu apa?" tanya Raka.
Rasa penasaran yang begitu besar membuat Raka terus bertanya kepada istri kecilnya itu.
"Peluk dan cium. Aku gak berani melakukan hal itu mungkin karena ini pertama kalinya aku berpacaran," ucap Rea dengan begitu polosnya.
Raka tersenyum lagi lalu menangkup kedua belah pipi Rea!
"Gadis yang baik. Laki-laki yang mencintai dengan tulus tidak mungkin meminta hal itu karena hal itu dapat merusak gadisnya. Ingat jangan pernah berikan sesuatu yang berharga dalam dirimu kepada laki-laki yang hanya bersetatus sebagai pacar karena laki-laki yang sudah mendapatkan apa yang dia mau dia akan pergi dan menikah dengan wanita yang belum pernah dia nikmati," jelas Raka.
Raka yang terbilang sudah cukup dewasa itu mencoba memberi pengertian kepada Rea yang usianya lebih muda darinya.
"Aku tahu itu," ucap Rea.
"Baguslah kalau sudah tahu," sahut Raka.
"Jangan harap aku mau melakukannya sama kakak. Kakak kan cuma suami sementara," ucap Rea lagi.
"Kakak tidak memintanya bukan?" ucap Raka.
"Iya memang tidak. Aku hanya mengingatkan," ucap Rea.
"Sudahlah jangan teruskan pembicaraan ini. Ayo kita pulang," ucap Raka.
"Kakak jadi beli rumah ini?" tanya Rea.
"Jadi. Kita akan pindah kesini dalam beberapa hari kedepan," sahut Raka.
Rea tak berucap lagi, ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu!
"Bagaimana, apakah anda cocok dengan rumah ini?" tanya pemilik rumah kepada Raka saat Raka tiba di ruang utama.
"Saya suka dengan rumah ini. Saya akan membeli rumah ini," ucap Raka.
"Kalau begitu sertifikatnya akan saya berikan kepada anda setelah anda membayarnya," ucap pemilik rumah itu.
"Akan saya transfer besok pagi ya, Pak," ucap Raka.
"Baiklah, saya tunggu," ucap sang pemilik rumah.
Raka dan orang itupun berjabat tangan setelah sang pemilik rumah menyerahkan kunci rumah itu kepada Raka.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah mewah itu dalam keadaan kosong tanpa penghuninya.
"Rumah ini sudah jadi milik kita," ucap Raka setelah penjual rumah itu pergi.
"Belum dibayar juga," ucap Rea.
"Tapi kuncinya sudah ada di tangan kakak," sahut Raka lalu mulai melajukan kendaraannya.
Bersambung