Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu juga murahan
"Apa aku tidak salah dengar kamu berkata seperti itu?." Adam yang terus menatap wajah Safa di depannya.
"Tidak.. mas tidak salah dengar." jawab Safa.
"Bukankah kita saling mencintai, kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?." Adam yang tidak percaya dengan ucapan Safa.
"Setelah aku berfikir beribu kali, mas itu tidak sungguh-sungguh mencintaiku, coba saja jika kak Rara tidak menceraikan mas, tidak mungkin mas akan menikahiku."
"Bagaimana kamu bisa tau jika aku dan kakakmu akan bercerai?."
"Kalau mas tidak akan bercerai dengan kaka Rara, tidak mungkin mas akan datang ke rumah ini, dan mengajakku untuk menikah, bukan kah begitu?."
"Ohh.. ternyata kamu licik ya?." Adam yang menatap Safa dengan wajah meyeringit. "Apakah ini cara mu agar rumah tanggaku bersama kakakmu hancur?."
"Maksut mas?." Safa yang tidak mengerti dengan ucapan Adam.
"Kalau kamu tidak ingin menikah denganku, kenapa kamu selalu menggodaku, dan selalu memberikan harapan kepadaku?."
"Aku tidak pernah menggoda mas, kita sama-sama saling mau, dan awalnya aku benar-benar mencintai mas, tapi setelah mendengar mas menutupi hubungan kita, aku sama sekali tidak percaya lagi kepada mas."
"Saf.. hubungan kita sudah sangat jauh, lihat lah bahkan rumah tanggaku bersama kakakmu sudah di ujung tanduk karena kesalahan kita berdua, bagaimana bisa kamu seperti ini kepadaku? ini adalah bukti bahwa aku memilihmu dari pada Rara kakakmu." Adam yang terus menyakinkan Safa.
"Sudah lah mas.. lupakan hubungan kita ini, anggap saja tidak pernah terjadi." ucap Safa.
"Maksut kamu, hubungan kita berakhir?." tanya Adam.
"Hem." jawab Safa singkat menatap ke arah lain.
"Tidak.. aku tidak terima kamu mengambil keputusan dengan kehendakmu sendiri."
"Terserah, aku anggap hubungan kita sudah selesai." Safa yang melangkahkan kakinya meninggalkan Adam.
"Saf.. aku sangat mencintaimu, aku sudah tidak mencintai Rara, hubungan kita sudah sangat jauh saf, aku mohon menikahlah denganku." Adam yang berjalan mengikuti Safa, namun Safa sama sekali tidak meresponnya.
"Aku mohon menikahlah dengan mas, mas tau mas tidak se kaya orang tuamu, mungkin kamu juga sudah tidak membutuhkan uang dari mas, tapi mas mempunyai cinta yang tulus saf, mas benar-benar menyayangimu." Adam yang terus membujuk Safa.
Safa terus berjalan tanpa mengindahkan ucapan Adam, Safa benar-benar sudah tidak mau mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Adam.
"Aku tidak terima kamu mencampakanku seperti ini!." Adam yang seketika langsung menarik tangan Safa dengan kencang.
"Auu.. sakit mas, lepaskan tanganku." Safa yang meringis kesakitan.
"Enak sekali kamu berkata lupakan saja hubungan kita, setelah membuat rumah tanggaku hancur bersama kakakmu!." Adam yang semakin mencengkram tangan Safa.
"Lepaskan tanganku! bukan hanya aku yang terlibat dalam hubungan ini, mas duluan yang berani bermain api di antara rumah tangga mas dan aku." Safa yang tidak mau di salahkan. "Mas yang dulu selalu memintaku untuk menemani mas di rumah saat kak Rara pergi keluar kota, lalu mas tiba-tiba menggodaku dan selalu menyentuh-nyentuh tubuhku, apakah itu hanya salahku?." Safa yang menatap wajah Adam.
"Saat aku menyentuh tubuhmu, kau juga mau, dan menikmatinya, bukankah kau juga murahan mau di sentuh oleh lelaki kakakmu sendiri." Adam yang seketika tersenyum sinis. "Aku tau saf kau masih mencintaiku, dan tidak bisa melupakan mantan kekasihmu ini, jadi kau tidak bisa menolak tawaran tidur bersamaku."
"Omong kosong!." Safa yang mencoba melepaskan tangannya namun lagi-lagi tidak bisa karena Adam begitu erat mencengkram tangannya.
"Kita sudah tidur bersama berkali-kali Safa, apa kau akan meninggalkan mas mu ini begitu saja." Adam yang terus mencoba merayu Safa.
"Hentikan, dan lepaskan tanganku!." Safa yang seketika memberontak lalu berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Adam.
"Sampai kapan pun, aku tidak mau menikah dengan lalaki pembohong sepertimu!." ucap Safa sambil menginjak kaki Adam dengan keras, lalu berlari masuk ke dalam mobil.
"Auuu.. Safa tunggu!" teriak Adam sambil mengangkat kaki yang barusan di injak oleh Safa.
Mobil yang di kendarai Safa pun sudah melaju dengan kencang meninggalkan rumah besar miliknya, sedangkan Adam yang berlari pelan sambil terpincang-pincang pun sudah tidak bisa mengejar Safa.
"Brengsekkk! Safa benar-benar kurang ajar, Rara sudah membuang ku karena selingkuh dengan dia, namun sekarang Safa juga membuang ku juga, benar-benar brengsekkk!." Adam yang menendang-nendang mobilnya sendiri karena marah.
"Jalan satu-satunya, aku harus kembali menyakinkan Rara, agar tidak menceraikanku, kalau aku tidak bisa mendapatkan di antara mereka berdua, aku bisa-bisa jatuh miskin." ucap Adam, lalu masuk ke dalam mobilnya, untuk pergi menemui Noora.
Adam langsung melajukan mobilnya untuk keluar dari kediaman Safa dan Noora, hari ini Adam akan pergi ke studio tempat Noora bekerja, yaitu studio di mana para modeling berkumpul untuk meeting bersama, Adam sudah mengetahui jika Noora tidak pergi keluar kota, pasti dia hanya berada di studio tempatnya bekerja tersebut.
Waktu sudah menunjukan pukul 13:00 siang, Noora baru saja selesai meeting bersama para rekan-rekan sesama model, hari ini Noora mempunyai janji akan bertemu dengan Safa adiknya, Noora terus berjalan-jalan menikmati taman di area studio, karena area studio cukup besar, sambil menikmati es Copi latee di tangannya. Saat Noora masih melihat pemandangan di sekitarnya, tiba-tiba ponsel bergetar di atas meja santai yang tidak jauh darinya.
Noora yang mendengar ponselnya bergetar pun mencoba untuk melihatnya, di layar ponsel terdapat notifikasi pesan dari nomor tanpa nama, Noora pun segera membukanya.
"Hay ra, ini aku Devan." pesan yang sudah Noora baca, dan Noora pun segera membalasnya.
"Hay van, apa mobilmu sudah selesai, ucapakan saja biaya yang harus aku ganti berapa, aku akan mentransfernya." balas Noora.
"Kling." pesan baru lagi masuk.
"Apa malam ini kamu sibuk? kalau tidak mari bertemu di caffe Lecii, aku ingin membicarakan biaya mobilku di sana." pesan dari Devan.
"Baiklah.. nanti malam, aku akan menemui mu di sana." Balas Noora, Noora pun menyetujui bertemu dengan Devan, karena ini adalah tanggung jawabnya, lagi pula Noora juga free tidak ada kesibukan apapun.
"Oke.. selamat berjumpa nanti malam." balas Devan lagi, dan Noora pun hanya membacanya saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
❤Yuk-yuk biar author semakin semangat, jangan lupa, tinggalkan jejak kalian para orang-orang baik, seperti like, comment, dan vote. terimakasih.
biasanya cerita begini pemain nya pasti tegas dan pintar
katanya Dirut kan seharusnya pada pinter bukan bego semua