Reina mentari seorang gadis pekerja keras, ceria, dan pantang menyerah. Kehidupannya berjalan normal sampai suatu hari ia bertemu dengan Saina putri kecil Revan yang mengubah seluruh alur cerita kehidupannya yang biasa saja.
"Menikah lah denganku" hal itu tentu menjadi kata paling bahagia untuk semua wanita yang ada di dunia, tapi tidak untuk Reina karena Reina tahu Revan tidak mencintainya. Namun demi Saina gadis kecil yang merindukan sosok seorang ibu di hidupnya sehingga mau tidak mau Reina harus menekan sedikit egonya untuk kebahagian Saina.
Perlahan alur kisah Reina mulai berubah, tabir rahasia yang ditutupi orang tuanya selama ini ikut naik kepermukaan meluluhlantahkan hatinya.
Akan kah Reina menerima Revan? Rumah tangga seperti apa yang akan dialami Reina? mampukah Reina melewati segala kesulitannya? ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Iblis tetaplah iblis
" Ini minum lah agar kamu sedikit lebih tenang." Ucap Revan membelah keheningan sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Reina.
...Setelah adegan tarik menarik serta kejar kejaran antara Revan dan Reina, adegan selanjutnya Revan menarik tangan Reina untuk masuk ke dalam mobil, awalnya Reina menolak namun setelah mendapat tatapan tajam dari Revan akhirnya Reina pasrah mengikutinya apalagi Reina sadar bahwa dirinya sudah mulai menjadi pusat tontonan orang orang di sekitar sehingga Reina hanya pasrah mengikuti langkah Revan masuk ke dalam mobil....
" Aku tidak tahu apa yang menimpamu, tapi cobalah untuk tetap berfikir jernih. Apa dengan melakukan hal seperti tadi bisa membuatmu bebas dari masalah." Ucap Revan dengan nada tulus namun bagi Reina ucapan Revan terhadapnya seperti tamparan buat Reina agar sadar bahwa bukan saatnya untuk lemah ia harus memikirkan cara agar orang tuanya selamat.
" Bisa kah kau menolongku." Ucap Reina dalam hati dengan menatap kosong ke arah depan.
" Apa yang bisa kubantu?" Ucap Revan yang sontak membuat Reina langsung menoleh terhadapnya.
" Apa dia bisa mendengar kata hatiku " batin Reina dalam hati.
" Sudahlah jangan bermain tebak kata dengan ku, aku bukan paranormal tentu saja aku tidak tau apa isi hatimu. Katakan apa yang bisa ku bantu." Ucap Revan yang lagi lagi membuat Reina terbengong. Pasalnya apa yang dikatakan Revan selalu tepat sasaran dengan apa yang telah di pikirkannya.
...Pikiran Reina kini sedang bergemelut, ia bingung antara meminta bantuan Revan atau tidak, tapi bukankah tadi Gerald menyebut nama Revan berarti Revan pasti tahu siapa Gerald. ...
" Jika tidak ada, aku akan mengantarmu pulang." Ucap Revan yang tidak sabar menunggu jawaban Reina.
" Bi..... Bisahkah kau menyelamatkan orang tuaku?" Ucap Reina hati hati sambil sesekali melirik Revan menunggu jawaban.
Hening seketika tidak ada jawaban apapun dari Revan, sampai kemudian Revan mengeluarkan suaranya.
" Tentu, tapi harus kau ingat tidak ada yang gratis di dunia ini." Ucap Revan dengan nada tegas tanpa ingin dibantah.
...Reina yang tadinya menganggap Revan sebagai seorang dewa penolong seketika buyar sudah iblis tetap lah iblis tidak akan pernah menjadi malaikat dan Revan tetaplah Revan si tuan angkuh dan datar tidak akan pernah menjadi sosok yang lembut....
" Baiklah " ucap Reina pasrah.
" Wil pergi ke rumah Reina. "
Ucap Revan yang di balas anggukan oleh Wili.
" Tapi tapi aku masih harus bekerja." Ucap Reina.
" Apa kau akan bekerja dengan tampang seperti ini. " Ucap Revan dengan nada mengejek melihat penampilan Reina dari atas hingga bawah dimana mata yang sudah sembap karena habis menangis, rambut acak acakan di tambah dengan bekas kemerahan di area dagu dan pergelangan tangannya.
...Melihat bekas kemerahan di tubuh Reina lantas membuat Revan menyipitkan matanya. Kenapa aku baru sadar, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini? Ucap Revan dalam hati....
" Oleskan itu pada bekas lukamu." Ucap Revan sambil melempar salep ke arah Reina.
...Reina yang mendapat perhatian kecil itu membuat hatinya sedikit tersentuh, namun ia kemudian berusaha sebisa mungkin untuk menepisnya karena Reina tahu apa yang dilakukan Revan hanya atas dasar kemanusiaan tidak lebih bukan saatnya Reina untuk terjatuh ke dalam jerat cinta Revan....
Setelah mengantar Reina pulang Revan langsung pergi kembali ke kantor.
" Selidiki segala hal yang terjadi hari ini, setelah makan siang kamu harus menyerahkan hasilnya padaku." Ucap Revan saat perjalanan kembali ke kantor.
" Apa termasuk hal pribadi nona Reina tuan?" Tanya Wili kepada Revan.
" Apa aku harus menjawabmu Will ? " Tanya Revan dengan nada ketus.
" Baik tuan "
.........
Sementara itu di perusahaan P&R group.
Tok tok tok
" Masuk " ucap Gerald dari balik ruangan tersebut, ya benar Gerald adalah putra dari pemilik perusahaan P&R group yang kini menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut sekaligus lawan bisnis dari MD enterprice.
" Permisi tuan, saya mendapat laporan bahwa tadi pagi setelah anda keluar dari toko nona Reina, nona Reina pulang dan diantar oleh..."
...Belum juga asisten tersebut selesai melapor barang barang di atas meja sudah jatuh berserakan dengan bunyi yang keras menghantam lantai karena ulah Gerald. Gerald yang mempunyai tempramen buruk apapun yang tak sejalan dengan pikirannya akan dilampiaskan dengan kekerasan. Itulah salah satu alasan mengapa Reina sangat ketakutan begitu melihat Gerald datang menemuinya....
"Ternyata kamu menganggapku main main na, baik jika itu yang kamu mau." Ucap Gerald dengan tersenyum smirk.
" Suruh anak buah kita pergi ke Surabya takut takuti orang tua Reina disana." Ucap Gerald lagi yang di balas anggukan oleh asistennya tanda mengerti kemudian pergi melangkah keluar meninggalkan ruangan.
" Dan untukmu Reina aku sudah menyiapkan hadiah sepesial " Ucap Gerald dalam hati.
Kring kring
Suara bunyi telpon Gerald
" Halo ada apa lagi? Apa semua masih kurang?" Tanya Gerald pada si penelpon.
" Tidak baby, aku hanya rindu." Ucapnya dengan sedikit mendesah.
" Berhenti melakukan itu ******, kau hanya ku anggap sebagai penghangat tidak lebih. Jangan coba coba untuk berfikir menjadi Nyonya Permadi, apa otakmu itu sudah tumpul ha?" Bentak Gerald kepada si penelepon dan langsung menutup telponnya.
...............
MD enterprice
Nampak Wili berjalan mendekat kearah Revan.
" Apa sudah kau dapatkan wil?" Tanya Revan begitu melihat Wili masuk keruangan dengan membawa tablet pintar andalanya.
" Ya tuan, Reina Mentari lahir di Bandung 23 April 1997 tidak ada info yang jelas tentang nona Reina saat masih bayi saya hanya menemukan info nona Reina ketika berumur 5 tahun, saya belum mengetahui apa penyebabnya yang jelas informasi tersebut seakan memang sengaja untuk di hilangkan." Ucap Wili menjeda kalimatnya kemudian melanjutkannya kembali.
" Setelah lulus kuliah nona Reina membuka usahanya sendiri dengan mendirikan sebuah toko dengan 5 orang pegawai. Tidak ada yang aneh, kehidupan nona Reina sama seperti remaja umumnya. Namun karena masalah pribadi nona Reina, nona meminta kedua orang tuanya untuk pindah ke Surabaya..." Belum selesai berbicara Revan mengangkat tangannya dan menyela Wili.
" Apa yang terjadi saat masa kuliah? " Ucap Revan yang menyela pembicaraan Wili.
" Tidak ada yang terjadi hanya saja pada waktu itu nona Reina sedang menjalin hubungan dengan Gerald Permadi, hubungan mereka tampak seperti pasangan kekasih pada umumnya namun ada sesuatu yang aneh, ketika nona Reina menjalin hubungan dengan Gerald nona Reina seperti menjaga jarak dengan teman temannya terutama laki laki. Tidak hanya itu jika nona Reina ketahuan berbicara dengan seorang pria keesokan harinya nona akan datang mengenakan pakaian yang panjang dan tertutup, tidak ada yang aneh dari pakaiannya namun itu terasa ganjal." Ucap Wili melanjutkan laporannya namun kembali terhenti dengan gerakan tangan Revan.
" Baik aku mengerti taruh saja berkasnya di meja." Ucap Revan yang kemudian menyuruh Wili pergi dengan gerakan tangan.
" Sepertinya aku tahu inti masalahnya." Ucap Revan dalam hati sambil mengetuk ketukan jari tangannya ke meja berulang kali.