NovelToon NovelToon
Jagoan Di Tanah Sunda

Jagoan Di Tanah Sunda

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Panel Bola

Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Darman dan lebih di kenal dengan nama si rawing, dia adalah anak dari seorang jawara silat, tapi sayang bapaknya meninggal akibat serangan kelompok perampok yang datang ke desanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panel Bola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nenek Iswari Vs si Bewok

"hehehe, akang tidak bisa membohongi diri akang sendiri, kamu juga pasti suka sama laki-laki yang gagah dan juga tampan, tapi menurut guru akang, wanita itu jangan hanya cantik rupanya saja, tapi juga hatinya, kalau tidak seperti itu, nanti bisa mencelakakan diri sendiri, begitu kata guru akang sambil menguap menyandarkan tubuhnya di pohon kelapa, hehehe"

"ahhh, akang kalau bicara suka bercanda seperti itu. Kang Rawing untuk mengisi waktu hari ini bagaimana kalau kita lomba lari ke atas bukit itu."

"ayo, tapi akang tidak mau kalau tidak ada hadiahnya."

"akang mau hadiah apa kalau memang?"

"kalau akang menang, nyai meluk Akang sampai sore hari, kalau akang kalah, akang yang akan memeluk nyai sampai sore, bagaimana adil tidak? Hehe"

"kalau seperti itu tidak ada bedanya kang, itu cuma enak buat akang saja."

Saat mereka asik mengobrol, nenek Iswari keluar dari dalam rumah, lalu menghampiri mereka sambil berbicara, "hehe, bagus itu nyai, kalau kamu pergi ke atas bukit, itu sangat bagus buat melatih pernafasan kamu, jadi jang Rawing sangat berguna ada disini, jadi bisa membantu nenek membing-bing Kartika, apalagi kalau kamu juga melatih ilmu silat Ulin Karuhunan kepada Kartika, itu akan sangat bagus."

"kalau itu tidak bisa nek, sebab aku sudah berjanji kepada guru untuk tidak menurunkan ilmu silat kepada orang lain, terus latihannya juga sangat berat, Kartika belum tentu kuat nek, terus sayang juga sama tangan Kartika yang putih dan mulus ini harus berubah jadi hitam seperti habis terbakar seperti tangan Rawing nek."

"betul juga apa yang di katakan oleh jang Rawing, tapi yang paling penting jang Rawing bisa menemani Kartika agar lebih semangat saat berlatih, kalau begitu nenek tidak akan menggangu kalian lagi, kalau kaian mau lomba lari ke atas bukit."

tanpa aba-aba, Kartika langsung melompat terus lari sekuat tenaga ke arah bukit, sedang Si Rawing masih duduk santai di teras rumah sambil melihat ke arah Kartika yang berlari.

Setelah cukup jauh, Si Rawing melihat ke arah nenek Iswari, "nah sekarang sudah waktunya untuk menyusul Kartika nek, aku pamit dulu nek."

Setelah berpamitan kepada nenek Iswari, Si Rawing langsung melompat, gerakan Si Rawing sangat cepat tidak jauh beda seperti bayangan.

Dalam waktu sekejap, Si Rawing bisa menyusul Kartika, bahkan dia sudah sampai lebih dulu di atas bukit.

Sedangkan nenek Iswari yang melihat kepergian kedua orang itu tersenyum lalu berbicara dalam hatinya, "kalau memang benar Si Rawing berjodoh dengan Kartika murid aku, aku akan sangat bahagia, aku bisa melihat kalau hari demi hari, Kartika jadi semakin lengket dengan Si Rawing"

Si Rawing sudah sampai di atas bukit, dia sedang menunggu kedatangan Kartika.

Setelah beberapa saat, akhirnya Kartika sampai di atas bukit dengan napas terengah-engah, bisa terlihat keringat membasahi wajah dan lehernya.

"kang Rawing curang, seharusnya kang Rawing mengalah sama aku."

Kartika memang baru pertama kali melakukan latihan seperti ini, tidak aneh kalau dia merasakan cape seperti ini.

Si Rawing merebahkan tubuhnya di atas rumput, Kedua tangannya di jadikan bantal, lalu bersenandung.

Di halaman rumah nenek Iswari.

Tidak jauh dari tempat nenek Iswari berdiri, di balik pepohonan yang rimbun, ada dua orang yang memperhatikan ke arah nenek Iswari.

Mereka berdua adalah si Bewok dan si gendut, keduanya ternyata sudah ada di sana cukup lama, mereka sudah melihat keadaan Si Rawing dan Kartika.

"benar apa yang kamu katakan, Si Rawing ternyata masih hidup, kalau seperti ini, aku harus memberi pelajaran kepada nenek Iswari karena telah menerima si Kartika menjadi muridnya."

"jadi sekarang aku harus bagaimana bah?"

"sekarang kamu keluar temui nenek Iswari. Aku tidak menyangka kalau Si Rawing bisa selamat, dia benar-benar hebat."

"tapi bah, jangan meremehkan keadaan nenek Iswari yang peot dan bungkuk seperti itu, dia juga memiliki ilmu silat yang hebat. Terus di Kartika bagaimana bah, apa kita tidak akan membawa dia sekarang bah?"

"kita biarkan saja dulu, aku sudah punya rencana untuk hal itu, jadi kamu sekarang keluar dan hadapi nenek Iswari."

"ehh itu bah."

"apa? Kamu takut melawan nenek peot itu?"

"iya bah, bagaimanapun juga, pukulan tongkat nenek Iswari masih terasa sakit sampai saat ini bah."

Meskipun mereka berdua berbicara dengan suara yang pelan, tapi pendengaran nenek Iswari sudah terlatih, dia bisa mengetahui ada dua orang yang bersembunyi di balik pepohonan.

"kalau kalian berdua memang laki-laki, keluar dari tempat persembunyian lalu hadapi aku, aku tahu kalian berdua ada disini."

Si gendut melihat ke arah si Bewok, "benarkan bah, nenek Iswari itu bukan orang sembarangan, buktinya dia sudah mengetahui keberadaan kita yang sedang bersembunyi disini, jadi sekarang Abah saja yang turun tangan untuk menghadapi nenek Iswari."

"hemm, sekarang kamu perhatikan dengan baik. Hia."

Si Bewok langsung melompat keluar dari tempat persembunyian dan berdiri tegak tepat di depan nenek Iswari.

Hati nenek Iswari bergetar saat adu tatapan dengan si Bewok.

"siapa kamu, aku baru pertama kali melihat kamu disini?"

"haha, kalau kamu ingin tahu, aku ini adalah si Bewok ketua dari kelompok Macan Liar, aku datang kesini karena kamu sudah lancang menjadikan Kartika sebagai murid kamu."

"ohh, jadi kamu orang yang bernama si Bewok yang memaksa Kartika untuk menjadikan Kartika sebagai istri, hehe jangankan Kartika, aku saja yang sudah peot seperti ini, tidak mau kalau harus menikah sama kamu, apalagi Kartika yang masih muda dan cantik."

Si Bewok melotot ke arah nenek Iswari, perkataan nenek Iswari barusan telah memancing amarahnya.

"hei, peot, karena kamu sudah bersikap lancang, sekarang kamu harus terima akibatnya."

Si Bewok lalu mengeluarkan golok pusakanya yaitu golok si sambernyawa.

Si Bewok memasang kuda-kuda, dia berniat menggunakan jurus golok Tiga Sepapas.

Nenek Iswari juga memasang kuda-kudanya, dia menatap ke arah si Bewok dengan penuh waspada, nenek Iswari tidak bisa menganggap enteng musuhnya, dia sudah mengetahui kemampuan si Bewok dari Si Rawing.

Si Bewok bergerak menyerang lebih dulu.

Nenek Iswari mengimbangi serangannya si Bewok menggunakan tongkat hitam di tangannya.

kedu senjata itu saling beradu, saat beberapa pukulan, kedua orang itu mundur secara berbarengan.

Nenek Iswari mundur empat langkah.

Sedangkan si Bewok hanya mundur dua langkah.

Dari benturan barusan, si Bewok bisa mengetahui kalau dia lebih kuat dari nenek Iswari.

"haha, kekuatan seperti ini ingin melawan aku, haha tidak ada sejarahnya aku harus kalah dari nenek peot seperti kamu Iswari, sebentar lagi kamu akan merasakan ketajaman golok si sambernyawa."

1
Simoncelli
mantap
anggita
ok👌thor, terus berkarya tulis moga novelnya lancar.
anggita
klo Sunda 'Emang, nek Jowo 'Pak Lik' klo Batak Tulang atau Amang😁🙏.
anggita
ikut dukung ng👍like aja.,👆👆2iklan buat novel laga lokal.
Zan zan: terimakasih kak
total 1 replies
anggita
awalnya Macan Liar... tapi biasanya nanti bisa jadi macan jinak🤭.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!