NovelToon NovelToon
Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Spiritual / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mel Rezki

Apa yang menyebabkan mereka melakukan perbuatan laknat itu? Hingga Anisa hamil di luar nikah, padahal mereka dikenal pribadi yang soleh dan solekha.

Naas menimpa Faisal Mubarak tunangan sekaligus lelaki yang telah menghamilinya meninggal dunia karena tersengat listrik. Hingga kondisi yang begitu mendesak bunda Rosmawati ibu dari Faisal memutuskan untuk menikahkan Panji Alam Darmawan dengan Anisa.

Sebagai bentuk bakti kepada ibunda, Panji menerima keputusan ibunda untuk menikah dengan calon adik iparnya. Walaupun dengan berat hati dan terpaksa pernikahan itu berlangsung.

Akankah ada benih cinta di antara mereka? Karena Panji juga memiliki kekasih hati yang juga luar biasa baiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel Rezki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Cabe-cabean dan Ayang Beb

"Ingat! Besok setelah makan siang langsung telepon aku!" titah Panji.

"Sekalian saja telepon BPBN Badan Penanggulangan Bencana Negara nanti aku buat laporan, ada seorang gadis kelaparan di dalam rumah mewah."

Panji menatap tajam ke arah Anisa, bentuk protes dari yang dia ucapkan.

"Bagaimana mau telepon, nomor hp Kakak tidak punya," lirih Anisa dengan menundukkan pandangan sebagai jawaban dari tatapan tajam Panji.

"Mana ponsel kamu," pinta Panji dengan menengadah tangan.

Anisa memberikan ponselnya.

"Ponsel kamu bagus juga," ucap Panji menelisik ponsel milik Anisa.

"Pemberian almarhum mas Faisal," gumam Anisa.

"Sudah kuduga dan kamu menerima ini dengan senang hati?"

"Pamali nolak rejeki," sanggah Anisa.

"Gadis sekarang dibilang matre tidak mau tapi kalau diiming-imingi barang mewah mata langsung bulat."

"Susah ngomong sama orang pelit. Bilang saja tidak mau ngluarain duit pakai ceramah ngatain gadis matre padahal si laki yang tak mau bermodal," sanggah Anisa.

Panji mendengus kesal, tangannya memencet 12 digit nomor kemudian menghubungi nomor ponselnya.

"Nih." Panji menyodorkan ponsel milik Anisa.

Tangan Anisa memencet ponselnya dan menyimpan nomor yang masuk draft panggilan keluar dengan nama 'Ayang Beb'. Anisa langsung menunjukkan ke Panji.

"Terserah kamu," ucap Panji setelah melirik dan membaca nomor ponselnya ditulis dengan nama tersebut.

"Aku coba lihat punyaku," ucap Anisa dengan paksa mengambil ponsel Panji.

"Kakak! Kenapa diberi nama 'cabe-cabean'!" geram Anisa dengan memanyunkan bibirnya.

Panji hanya menyunggingkan bibir tanpa mengeluarkan kata sebagai alasan atas penamaan itu.

"Aku lihat ponsel kamu ada aplikasi dompet digital?" tanya Panji.

"Ya kenapa? Mau kasih uang," todong Anisa.

Panji memencet ponselnya.

"Buat jajan kamu," ucap Panji dengan dagu menunjuk ke arah ponsel Anisa.

Anisa membuka aplikasi dompet digitalnya. Dilihatlah satu top up berhasil masuk dengan nominal 1 juta rupiah.

Anisa menatap tajam ke arah Panji dengan memanyunkan bibirnya, "Dasar pelit, ngasih 1 juta saja belagunya minta ampun," gumam Anisa kemudian merebahkan tubuhnya.

"Issst...ni bocah," geram Panji sambil mengempaskan napas perlahan menahan amarah.

Masih dengan posisi yang sama Anisa memperlihatkan top up yang pernah masuk ke aplikasi dompet digitalnya.

"Benar-benar gadis matre," cibir Panji melihat nominal masuk sejumlah 10 juta.

"Uang jajan yang dikasih almarhum mas Faisal. Tapi maaf dimaaf ya Kak, dia yang kasih segitu nggak pernah sombong. Situ yang ngasih segini? Ck ck...," Anisa mengelus dadanya sambil geleng kepala.

"sombongnya..., ampun dech," sambung Anisa.

Skakmat untuk Panji, gadis yang ada di sampingnya ternyata punya penalaran yang logis.

"Ok, aku kalah dengan dia. Gadis matre," ucap Panji dengan menekan kata gadis matre.

Anisa hanya tersenyum menang kemudian memiringkan tubuhnya membelakangi posisi Panji dan matanya mulai dipejamkan sambil mengucap sekelumit doa.

"Jangan lupa berdoa dulu Kak, biar paginya arwah Kakak pulang kembali ke raga Kakak," ujar Anisa tanpa membuka mata.

Panji hanya mendengus kesal mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Anisa.

"Semoga Allah memaafkan segala dosa kita mas. Semoga Allah menempatkanmu di surga Allah, see you next time mas Faisal. Aku sangat rindu padamu," batin Anisa berucap karena tiba-tiba rindu itu datang setelah sedikit menyinggung nama Faisal. Dibiarkannya air mata berlinang di dua pipi hingga tabir labirin telah menyelimutinya dalam malam.

...****************...

"Apa! Dia calon istri adiknya!?" Oma Sartika mendengar tak percaya.

"Kamu kirim semua file datanya. Nanti kuhubungi kembali," titah oma setelah itu memutus panggilannya.

Tidak butuh lama file data tentang Anisa telah diterima oma Sartika dari orang suruhannya.

"Gadis desa yang ingin naik kasta. Dia beraninya memaksa Panji atas nama menggantikan adiknya! Ok dengan paksa pula kamu akan turun kasta secara nista!" geram oma Sartika membaca file yang masuk di ponsel.

Kakinya kemudian turun melangkah ke kantor sang cucu, kantor yang dibilang jauh dari kata mewah. Sederhana namun cukup nyaman. Dia langsung masuk dan ke ruang kerja manajer.

Betapa kaget sang manajer dengan kedatangan wanita itu.

"Oma?" sapa Tiwi.

Oma tersenyum tipis membalas sapa dari Tiwi.

Sementara, Panji yang sudah masuk ke kamar, tengah mendapati sang istri yang sedang menunaikan salat Zuhur. Dia tetap berdiri di ambang pintu menunggu Anisa mengakhiri salatnya dengan dua salam.

"Loh... Kakak kok pulang?" terkejut Anisa mendengar suara pintu kamar tertutup dan mendapati sesosok lelaki tegap, tampan tanpa celah mengulum senyum padanya.

"Takut barangkali ada anggota BPBN yang datang ke rumah ini," jawab Panji yang di tanggapi dengan senyum dari Anisa.

Anisa membuka mukenanya, meraih kerudung yang dia letakkan di tepi ranjang.

Sejenak Panji menatap tanpa kedip sosok gadis yang biasanya mengenakan hijab kini polos tanpa hijab. Rambutnya panjang lurus dia kuncir dengan tali rambut beraksen boneka kecil. Tangannya bergerak menarik tali rambut itu, merapikan rambut dengan jemari tangannya kemudian mengikatnya kembali hingga jenjang lehernya yang mulus nampak karena semua rambutnya dia gulung ke atas.

Anisa baru sadar lelaki di hadapannya menatap dengan tajam, dia segera merapikan kerudungnya.

"Dasar bocah," gumam Panji dengan senyum melihat Anisa gugup mengenakan hijabnya.

"Sudah makan?" tanya Panji kakinya mendekat ke arah Anisa yang sedang melipat mukena.

"Ini mau turun ke bawah," jawab Anisa. Namun, lagi-lagi indera penciumannya yang kini menjadi sangat sensitif menyesap aroma wangi luar biasa dari tubuh Panji. Wangi parfum yang yang sama ketika Panji berangkat kerja tapi semakin siang aroma ini semakin wangi bagi Anisa.

Tanpa sadar Anisa mendengus dengan mata terpejam hingga menempel di pakaian yang Panji kenakan.

deg

Detak jantung Panji terpompa secara tidak normal, ritme itu semakin tidak normal mana kala tangan Anisa meraba pada dadanya. Satu telunjuk jari menempel di dahi Anisa. Mendorong kepalanya menjauh dari jangkauan Panji.

Anisa meringis malu, baru tersadar dari perbuatan memalukannya. Bagi pasangan normal, hal ini pasti wajar, malah menambah keromantisan. Namun mereka? pasangan yang sudah berikrar untuk menjalani bukan semestinya sebuah pasangan.

"Maaf," lirih Anisa menangkupkan kedua tangan dengan senyum kecil dan kakinya memutar melangkah keluar kamar menuruni anak tangga.

"Aku ini kenapa! Selalu deh dibuatbtidak sadar kalau menyesap aroma wangi tubuh Kak Panji!" umpat Anisa pada diri sendiri dengan memukul dahinya selagi dia jalan ke ruang makan.

Mbok Asih sibuk menata makanan di meja makan. Anisa nampak bersemangat melihat menu makanan yang sudah tersaji di meja makan.

"Kakak yang meminta mbok Asih menyiapkan ini semua?" girang Anisa kemudian duduk dan langsung mengambil nasi ke piring.

"Aku ambil sendiri," cekat Panji begitu Anisa mengisi piring yang ada di hadapan Panji.

"Aku sedang baik hati Kak jadi sekalian ku ambilkan," sergah Anisa.

"Kakak kok tahu, aku kangen sekali masakan ini, masakan ibu di kampung. Sayur asam, sambal, lalap timun, dan ikan asin," oceh Anisa dengan memasukkan semua menu lauk itu ke piring.

Dua tangan Anisa menengadah untuk berdoa. Selesai itu langsung memasukkan makanan ke mulutnya.

"Kakak jangan lupa berdoa dulu," sela Anisa ketika Panji akan memasukkan makanan ke mulut. Panji langsung berhenti karena memang dia belum mengucapkan doa.

"Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma baariklanaa fiima rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar. Barang kali Kakak lupa, doanya seperti itu ya," ucap Anisa di sela makan.

"Hmmm," dengung Panji karena faktanya dia benar-benar lupa melafalkan doa makan.

Panji tersenyum ketika menatap piring yang ada di depan Anisa kosong, semua isinya pindah ke perut gadis itu. Tidak sia-sia tadi pagi Panji menanyakan ke bunda menu makan favorit Anisa.

"Kakak langsung ke kantor?" tanya Anisa yang kini berjalan mengekor Panji.

"Hmmmm," dengung Panji mengiyakan pertanyaan Anisa.

deg

Langkah Panji langsung terhenti ketika memasuki ruang tamu. Di situ baru saja duduk sang Oma dengan seorang wanita yang sangat tak asing baginya.

"Tiwi," lirihnya dengan ekspresi terkejut luar biasa.

Hai akak🤗 menjelang tengah malam menyapa nih...

jangan lupa selalu dukung dengan like, komen, komen komen, vote ,hadiah juga mau kebangetan 🥰😘🤭🙏

1
Nhimasera Sera Sera
Luar biasa
Mel Rezki: terima kasih Kak 🙏
lanjut novel Kak Mel lainnya 😍😘
total 1 replies
arzetti azra
Kecewa
arzetti azra
Buruk
Marhainun Tanjung
bagus banget cerita nya.
Mel Rezki: terima kasih Kak, lanjut novel lainnya kak Mel , karena ustadz aku cacat
total 1 replies
Lismawati Salam
Luar biasa
nesya
knp Nisa hrs ninggalin anak nya sih. hrs nya kan dia tetap bersama anak nya, berjuang demi anak nya, Krn itu adalah harta yg paling berharga yg di tinggalkan oleh Faisal sbg tanda cinta mrk, meskipun kehadirannya mgkin akibat dr ketidak sengajaan.
nesya
akhirnya kebaikan, ketulusan dan keceriaan Nisa mampu merobohkan dinding keegoisan nenek panji.
nesya
di hati panji itu sdh tumbuh benih-benih cinta utk Nisa, tp dia masih blm menyadari itu, makanya dia sll berusaha menyangkal kl perasaan gelisah di hatinya itu cm di karenakan rasa kepedulian aja.
nesya
sdh mulai tumbuh benih-benih kebucinan dlm hati panji buat Anisa. sm spt kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu bs tumbuh lantaran terbiasa bersama.
nesya
jd serba salah buat panji. tp Panji bnr" laki-laki yg baik dan tulus, meskipun dia nikah terpaksa, tetap sj sikapnya terhadap Anisa sgt bertanggung jawab sbg seorang suami. dia begitu perhatian dan melindungi Anisa. mgkin kesalahan panji dlm hal ini cm satu, wkt dia sampai di rmh nya, knp dia tdk langsung menemui Tiwi utk menjelaskan masalah yg sebenarnya, hingga tak sampai timbul kesalah fahaman diantara mereka berdua. tp siapa yg tahu dgn rencana author, mgkin sj pd akhirnya panji mmg lah jodoh anisa., dan bkn Tiwi.
Medy Jmb
Mau nikahin Tiwi yg penyakitan, nyerein Nisa? cuma di dunia novel
Medy Jmb
menghempaskan Thor bukan mengempaskan
yoona
udah jadian aja bah/Facepalm/
Sumi Ati
masih menyimak.
Elvira Juned
Gk adil bagi Panji menikah dgn Anisa utk menutup aib sama aja mereka sekeluarga menipu semua org, dan memakaikan BIN atau BINTI utk anaknya Faisal dan Anisa kelak
Mmh Astri
👍👍👍👍👍👍👍👍🥰🥰🙏
Mel Rezki: lanjut baca novel kak Mel yang lainnya 🙏
total 1 replies
Mmh Astri
👍💪
Mmh Astri
💪💪💪💪👍🙏🥰
Indah Safitri
Luar biasa
MIZI ZESHIKUMEZI
owo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!