Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
Happy reading,
💕💕💕💕💕
Ben menepuk dahinya. "Astaga, aku lupa soal itu. Bagaimana kalau kita beli kacamata baru untukmu."
"Tidak usah Kak, aku masih bisa melihat walaupun sedikit buram, tapi nanti akan terbiasa juga. Sudah, Kak Ben pulang saja. Aku mau masuk."
"Kau yakin?" tatap Ben ragu.
"Hm," angguk Melodi. Dia mulai berjalan lagi, tapi kali ini tubuhnya membentur tembok.
Dengan cemas Ben mendekatinya. "Sudahlah Mel, kita beli kacamata baru, aku yang belikan. Ini terjadi karena kesalahanku, biarkan aku bertanggung jawab padamu." Menarik tangan Melodi.
"Tidak usah Kak, aku baik-baik aja," tolak Melodi halus.
"Tidak, aku tidak percaya padamu." Sudah menarik tangan Melodi kembali.
"Kak Ben gak usah," kekeh Melodi.
"Tidak Mel, aku tetap pada keputusanku. Ayolah, ini demi kebaikanmu. Tanpa memakai kacamata bagaimana kau akan ke kampus besok?"
Melodi tampak menimang, yang Ben katakan memang benar. Tanpa kacamata bagaimana dia akan berangkat ke kampus dan mengikuti materi kuliah.
"Tapi Kak, aku sedang tidak pegang uang sekarang," ucap Melodi polos yang memunculkan binar kecil di dalam manik legam milik Ben.
"Sudah kubilang itu tanggung jawabku. Ini terjadi gara-gara ulahku."
"Tidak Kak, ini salahku. Aku yang menduduki kacamata itu hingga patah. Kau tidak pantas membelikannya untukku."
"Tapi aku ingin membelikannya untukmu," kukuh Ben.
"Tidak Kak, aku tidak bisa menerimanya kalau begitu." Melodi tak kalah kukuh.
"Jadi, besok kau akan ke kampus tanpa kacamata? Emang bisa?"
"Memang tidak, tapi aku juga tidak bisa menerima pemberian cuma-cuma dari orang lain."
Ben menghela napas panjang. "Hm, baiklah, anggap saja pemberianku ini adalah pinjaman. Kau bisa menggantinya nanti, bagaimana?"
Setelah berpikir untuk beberapa saat akhirnya Melodi mengangguk.
"Nah, begitu kek dari tadi, 'kan cepet. Ayo kita berangkat!" Sudah melangkah mendekati motornya.
"Tapi Kak," cegah Melodi.
"Apa lagi sih Mel," geram Ben.
"Aku mau ganti pakaian dulu." Menunjuk pakaian yang dikenakannya melalui sorot matanya. Membuat Ben tersadar kalau Melodi masih memakai celana kebesaran pemberiannya. Sangat tidak mungkin 'kan mereka ke tempat umum dengan pakaian Melodi yang seperti itu.
Ben tertawa jenaka. "Hah, aku lupa, kalau begitu ayo cepat ganti pakaianmu." Menarik tangan Melodi dan menggenggamnya erat saat menuju basement.
"Sudah jangan protes, memangnya kau bisa menemukan kamarmu kalau jalan sendirian," omel Ben saat Melodi ingin berontak karena tangannya digenggam.
Melodi tersenyum tipis mendengar omelan Ben. "Nah, gitu dong senyum. Kau itu manis kalo tersenyum," goda Ben yang membuat Melodi memanas. Dia yakin wajahnya pasti sudah semerah apel sekarang.
"Katakan liftnya di sebelah mana?" tanya Ben saat mereka sudah memasuki basement.
"Sebelah sana." Melodi menunjuk pintu paling ujung. Dia lalu menuntun Ben menuju lift dengan langkah terseok-seok.
"Kenapa jalanmu seperti itu?" tanya Ben yang baru menyadari cara berjalan Melodi.
"Entahlah, kakiku rasanya tidak nyaman. Bisa kita berhenti sebentar?" Tanpa menunggu jawaban dari Ben, Melodi duduk di kursi panjang yang ada basement. Kursi itu memang sengaja diletakkan di sana sebagai tempat para penghuni rumah susun itu yang ingin ngerumpi di sore hari sembari menikmati angin sepoi-sepoi.
"Kakimu lecet Mel," tukas Ben begitu Melodi membuka kaos kakinya.
"Iya, pantas saja rasanya perih."
"Sebaiknya kau lepas saja sepatumu daripada lukanya tambah lebar."
"Tapi aku tidak membawa sandal."
"Itu masalah gampang." Ben tersenyum sebelum menggendong Melodi ala bridal style.
"Eh," pekik Melodi yang kaget karena tindakan impulsif Ben.
"Ssssttt, aku tidak ingin melihatmu berjalan tanpa alas kaki."
"Tapi ...."
"Rumahmu lantai berapa?" Mencoba menekan tombol lift. "Sepertinya liftnya macet," gumam Ben karena sudah menekan tombol beberapa kali, tetapi pintu lift belum juga terbuka. "Apa tidak ada lift lainnya?" Menatap Melodi yang sama bingungnya dengan dirinya.
"Tidak ada Kak," sahut Melodi dengan raut bersalah.
"Oke tidak masalah, kita bisa lewat tangga." Ben mengerling ke arah Melodi yang masih berada dalam gendongannya.
"Tidak Kak, rumahku di lantai delapan." Melodi terlihat panik.
"Memangnya kenapa kalau di lantai delapan?"
"Turunkan aku dulu, kau akan kelelahan kalau menaiki tangga sambil menggendongku."
"Hahaha, kau meragukan kemampuanku?"
"Maksudmu?"
"Jangankan cuma lantai delapan, sampai lantai dua puluh pun aku sanggup menggendongmu." Ben membusungkan dadanya, membuat Melodi terkekeh geli.
"Kenapa? Kau tidak percaya, mau aku buktikan?" tantangnya.
"Ah tidak, aku percaya padamu," jawab Melodi dengan tersenyum kagum.
"Baguslah." Ben menghela napas lega.
Baguslah kau tidak benar-benar memintaku untuk membuktikannya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Wkkwkwkk beruntung ya Ben, Melodi itu polos 🙄kalau othor yang jadi Melodi udah tak suruh gendong sampai lantai 25🤣🤣🤣
Yuk, jangan lupa tinggalkan jempol kalian di sini😘😘😘
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊