NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

#9

Seminggu kemudian, hidup seperti roller coaster bagi Dinda, beberapa hari ia bisa tenang, dan beraktivitas seperti biasa. Tapi kemarin Bagas tiba-tiba datang ke butiknya, mengajaknya berbelanja beberapa kebutuhan dasar untuk rumah. 

Kenapa? 

Karena Eyang Tuti yang sempat melupakan keinginannya, kembali ingat, dan ingin segera menginap di rumah lama Bagas dan Dinda. 

Meski dongkol luar biasa, tapi Dinda tak bisa mengelak sebab ia sendiri yang berjanji pada Eyang Tuti. Maka seperti pasangan yang kompak, Bagas dan Dinda pun pergi berbelanja pernak-pernik kebutuhan rumah sama seperti dulu. 

Untunglah, Bi Sani masih datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah yang sudah lama kosong tanpa penghuni itu. Jadi rumah masih terawat rapi, meski tak pernah ditempati. 

“Silahkan masuk, Eyang.” Dinda menuntun Eyang Tuti dengan hati-hati, sementara Bagas dan Bi Sani sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah sambil mengangkut barang-barang belanjaan, serta koper berisi pakaian Eyang Tuti. 

“Assalamu'alaikum,” ucap Eyang Tuti ketika melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam rumah. 

“Waalaikumsalam,” jawab Bagas yang langsung menggantikan Dinda memapah Eyang Tuti menuju kamarnya. 

Sementara Bagas membantu Eyang Tuti masuk ke kamar, netra Dinda menyapu sekeliling ruangan yang nyaris tak ada perubahan itu. Cat dindingnya, Foto pernikahan, serta beberapa foto Abel ketika baru lahir, masih menghiasi dinding. 

Hati Dinda kembali berdenyut nyeri, mereka bahkan belum sempat foto keluarga, tapi kini Abel entah berada dimana. “Nyonya—” Dinda menoleh ke arah Bi Sani, wajah Bi Sani ikut mendung ketika melihat Dinda terpaku menatap foto Abel yang menempel tak jauh dari foto pernikahan. 

Dengan tangan bergetar, Dinda mengusap air mata yang meluncur tanpa ia sadari. Di tempat ini Dinda pernah merasa sangat bahagia sebagai seorang istri, menyiapkan makanan, mengantar Bagas pergi bekerja, sesekali ia juga ikut turun tangan membersihkan taman. 

Sudut taman itu adalah tempat favorit mereka berdua, biasanya mereka duduk berdua sambil bergenggaman tangan dengan mesra, melihat bintang di malam hari. 

Tapi di tempat ini pula, Dinda merasakan kegagalan sebagai seorang ibu yang lalai menjaga bayinya. 

“Eh, iya, Bi?” sahut Dinda. 

Bi Sani menunjukkan wallpaper di layar ponselnya, yang masih terpasang foto Abel. “Jangan sedih, Nyonya. Saya juga belum mau menyerah mencari Non Abel, saya yakin, suatu saat Nyonya, Tuan, dan Non Abel akan bisa berkumpul kembali.” 

“Amin, terima kasih, Bi.” 

Bagas kembali keluar setelah selesai mengantar Eyang Tuti. “Kamu juga istirahat dulu, nanti kalau Eyang sudah tidur, aku akan mengantarmu pu— lang— kamu menangis?” Bagas urung melanjutkan kalimatnya. 

“Nggak penting. Minggu lalu, Mas hilang mau berterus terang pada Eyang, tapi ternyata?” Dinda meminta penjelasan, ia merasa seperti sedang dipaksa masuk ke dalam jebakan yang sengaja dipasang oleh Bagas dan seluruh keluarga Samudera. 

“Tanya lagi, kan, tadi aku sudah menjawabnya. Tadi ketika Eyang telepon, posisiku sedang rapat, masa iya aku mau menjelaskan di depan para pegawaiku tentang masalah pribadi kita. Kan, nggak mungkin,” elak Bagas lengkap dengan alasannya. 

“Bukan alasan, Mas! Kamu bisa, kan, keluar sejenak dari ruang rapat?” 

“Iya, tapi—” 

“Dinda—” 

Terdengar suara Eyang dari dalam kamar yang ditempatinya. 

Dinda melengos lalu pergi meninggalkan Bagas menghampiri Eyang Tuti, “Ada apa, Bi?” tanya Dinda pada Bu Sani yang baru keluar dari kamar. 

“Eyang gak mau saya temani, Nyonya. Maunya ditemani Nyonya Dinda.” 

Dinda tercengang, kedua matanya terpejam rapat, ingin marah tapi tentu tak bisa sembarangan melampiaskannya pada Eyang Tuti. Maka Bagas-lah yang lagi-lagi jadi pelampiasannya menumpahkan amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Mas!” 

Bagas kembali menelan omelan Dinda bulat-bulat. Pasrah saja, asal kondisi Eyang Tuti baik-baik saja. 

“Ada apa, Eyang?” tanya Dinda dengan suara lembutnya, di mata Bagas, Dinda sudah seperti artis yang pandai memainkan peran. Sebentar marah, dan sebentar kemudian bisa tersenyum lembut seolah tak pernah ada yang bisa menyulut emosinya. 

“Malam ini, tidur sama Eyang, ya. Eyang kangen banget sama kamu,” pinta Eyang Tuti memelas. 

Jebakan baru lagi, itulah yang ada dalam pikiran Dinda. Belum selesai dengan drama menginap, kini berlanjut dengan drama ingin tidur ditemani Dinda. 

Bola mata Dinda melotot menatap Bagas, seolah meminta pertolongan, namun Eyang Tuti menyalah artikan tatapan matanya pada Bagas. “Malam ini, Eyang pinjam istri kamu, ya, Gas?” 

“I-iya, Eyang.” Bagas tak punya pilihan selain menjawab iya. Lalu ia menarik lengan Dinda keluar kamar. 

Dengan kasar Dinda menghempaskan tangan Bagas. “Puas, Mas! Kamu puas sekarang?!” 

Bagas mencoba terus bersabar, sejujurnya ia pun lelah, tapi tak berdaya. “Aku tidak menjebakmu, dan permintaan Eyang diluar kendaliku, Dind,” sanggah Bagas. 

“Aku janji, besok akan mengatakan pada Eyang,” kata Bagas, karena Dinda terlihat tak bergeming setelah mendengar alasannya. “Sekarang sudah malam, lebih baik kamu mandi dan bersiap istirahat. Piyamamu masih ada di lemari,” sambung Bagas masih dengan suara rendah. 

“Mas masih menyimpan pakaianku?!” tanya Dinda cukup kaget. 

“Bukan hanya pakaian, beberapa barangmu pun masih ada di dalam kamar.” 

“Kenapa tak membuangnya saja?” cecar Dinda mencoba menggali alasan Bagas yang sebenarnya. 

“Tak ada alasan apa-apa, aku hanya tak punya waktu. Lagi pula aku tinggal di apartemen lebih dekat bila ingin pergi kerja.” 

Jelas itu bukan alasan yang ingin Dinda dengar, bukankah selama ini ada Bi Sani yang rutin membersihkan rumah, kenapa barang-barangnya tak di buang saja? Ini sudah empat tahun berlalu. Dan Dinda akhirnya kembali ke rumah ini, berpura-pura sebagai istri Bagaspati. Sungguh sandiwara yang luar biasa. 

•••

Setelah berganti dengan piyama lamanya, Dinda kembali bergabung di kamar Eyang Tuti, ternyata Eyang Tuti belum tidur. Wanita itu menunggunya. 

“Kok, belum tidur, Yang?” 

Dinda berbaring lalu menarik selimut guna menutupi tubuhnya. “Nungguin kamu, Eyang kangen banget sama kamu, Dind.” Eyang menggenggam tangan Dinda dengan lembut, mengusap punggung tangan Dinda pelan, penuh kasih. 

“Terima kasih, ya, karena sudah mengizinkan Eyang menginap. Eyang tak bermaksud apa-apa, kok, hanya sekedar kangen kamu,” ungkap Eyang Tuti. 

“Selama ini, Eyang hanya mendengar alasan demi alasan dari Bagas, bahkan Tari dan suaminya tentang kabar kamu. Padahal Eyang pengennya bertemu,” sambung Eyang Tuti, yang terasa seperti tusukan belati di jantung Dinda, karena rasa bersalah telah berburuk sangka pada Eyang Tuti. 

Sesungguhnya Dinda merasa kasihan pada Eyang Tuti, karena menjadi korban kebohongan anak, cucu, dan menantunya. “Eyang nggak akan lama, kok, disini, paling hanya dua bulan saja. Setelah Eyang yakin kamu dan Bagas baik-baik saja, Eyang akan pulang kembali ke rumah.” 

Ringan sekali ucapan Eyang Tuti, seolah dua bulan hanyalah waktu yang singkat. 

1
Bunda Aish
ada apa lagi nih 🤔
Shee_👚
ini Tari kakaknya bagas kan ya🤔
aku lupa nama Kaka nya bagas
Dew666
Tari tuh kakaknya bagas ya
moon: iya kak
total 1 replies
Dew666
Smangat bagas
falea sezi
wahh kenapa
🌷Vnyjkb🌷
gerceppp amattt mass 🤭 takut keduluan yg itu tuuu😜😜
Esther
Sikap Tari mencurigakan, ada apa?
Bunda Idza
ada apa dengan mbak Tari??? readers kepoo ni....☺️
Esther
Semangat Bagas untuk bersaing dengan dokter Angga🤭
Sh
ada apa dengan Tari ? selingkuh ? atau mengekorin suami yang dicurigai selingkuh?
Sh
aku jahat ga kalau aku bilang aku suka Ama Mama Juwita yang nyiksa Bagas😂😂. Aku curiga karena kecelakaan mobil, Dinda ga bisa hamil lagi. itu yang menyebabkan Dinda ga mau nikah lagi. Kalau dengan Angga pakai alasan Dinda selama anaknya belum ketemu, Dinda ga berhak bahagia
Bunda Aish
wah mulai nih persaingan perebutan perhatian dan cinta Dinda 🙄
Bunda Aish
ngeselin juga ya sama tingkah nya Bagas dulu waktu kehilangan Abel
Nar Sih
brati kemungkinan bnr ya kak klau alicia ank nya dinda yg hilang dulu
Nar Sih
setujuuu dan 👍bagas lamar lgi dinda jadikan istri mu lgi dan bareng mencari putri mu yg hilang moga sgra ketemu
Shee_👚
nah betul kata bastian, ngapain kan ya orang bukan eyangnya lagi. jadi ya tolak aja
Shee_👚
yang polisi kan kak??
Sh
ga puas episode ini walau menurut ku lumayan panjang
Dew666
🥰😍
Bunda Idza
next Thor.... ditunggu selalu kelanjutannya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!