Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Senyap Tangan Darah
Malam berlanjut di Kota Logam Hitam dengan rintik hujan asam yang membasahi pipa-pipa baja eksternal pabrik. Di perimeter luar, lampu-lampu sorot dari menara pengawas terus menyapu area lembah, memotong kegelapan malam dengan berkas cahaya putih kebiruan. Di sela-sela bayangan menara, beberapa pasang mata merah darah bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar.
ZUT.
Tiga bayangan hitam berkelebat melewati pagar kawat sensor elektromagnetik. Anehnya, alarm siber pusat milik Ethan tidak berdering. Mereka menggunakan jimat penyembunyi aura tingkat tinggi yang dikombinasikan dengan teknik Shadow Meld khas Organisasi Pembunuh Tangan Darah. Bagi sistem tingkat rendah, mereka hanya terdeteksi sebagai distorsi partikel debu biasa.
"Target pertama berada di ruang kendali utama benteng. Jangan sentuh gadis es itu sampai bocah asing itu berhasil dilumpuhkan," bisik pemimpin bayangan melalui transmisi suara rahasia. Ia adalah seorang pembunuh bayaran Ranah Inti Emas Tahap Menengah yang telah mengeksekusi puluhan target di Wilayah Pusat.
Mereka bergerak merayap melalui pipa ventilasi udara, menghindari jalur patroli Korps Bayangan Siber yang membawa senapan Gauss. Target mereka jelas: melumpuhkan Ethan, merebut teknologi pembuat senjata yang mengguncang Langit Kedua, dan membawa mereka berdua kembali ke Wilayah Pusat demi seratus ribu batu spiritual tingkat tinggi.
Namun, yang tidak mereka sadari adalah, meskipun sistem sensor perimeter bisa dikelabui, ada satu variabel tak terduga yang mendeteksi kehadiran mereka.
Di dalam ruang kendali, Pedang Es Surgawi milik Mu Rong yang diletakkan di atas meja logam mendadak bergetar halus. Hawa es tipis mulai mengkristal di permukaan gagangnya, bereaksi terhadap niat membunuh yang pekat yang mendekat ke arah ruangan tersebut.
Mu Rong, yang sedang menyeduh teh spiritual di sudut ruangan, langsung menghentikan gerakannya. Matanya yang indah menyipit tajam. Sebagai seorang kultivator yang terbiasa hidup dalam bahaya sejak dari alam bawah, insting bertarungnya terhadap bahaya sangatlah peka.
"Ethan," panggil Mu Rong dengan suara yang sangat rendah, hampir berbisik. Tangannya perlahan bergerak mendekati gagang pedangnya. "Ada aura kotor yang mendekat. Jumlahnya tiga... tidak, empat orang. Mereka menyembunyikan riak Qi mereka dengan sangat baik."
Ethan yang sedang duduk di kursi mekanisnya tidak membalikkan badan, namun jari-jarinya langsung mengetik dengan kecepatan tinggi di atas papan ketik holografik.
[ Memindai Ulang Kepadatan Udara Ruang Ventilasi... ]
[ Ditemukan: Anomali Termal dan Fluktuasi Bio-Energi Asing. ]
[ Mengunci Koordinat Target. ]
"Jimat penyembunyi aura tingkat tinggi dari Wilayah Pusat," ucap Ethan dingin. Kacamata sibernya merefleksikan tiga titik merah yang merayap di langit-langit lorong luar, tepat di atas langit-langit ruang kendali mereka. "Mereka bergerak di jalur ventilasi sektor C-3. Waktu kontak: 15 detik."
Ethan menggeser tuas kursi rodanya, memposisikan dirinya di belakang meja logam berlapis baja karbon. Meskipun meridiannya belum sepenuhnya pulih untuk melakukan kontak fisik jarak dekat, otaknya yang terhubung dengan sistem pertahanan internal ruangan bekerja dengan efisiensi seratus persen.
"Rong'er, sudut potong tiga puluh derajat ke arah langit-langit sebelah kananmu. Sekarang."
SHIING!
Tanpa ragu sedikit pun terhadap kalkulasi Ethan, Mu Rong menarik Pedang Es Surgawi-nya. Kilatan cahaya biru sedingin es meledak dari bilahnya saat ia melompat dan menikamkan pedangnya lurus ke atas, menembus langit-langit logam dengan presisi yang mengerikan.
SPRAKK!
"Ahkk!" Sebuah teriakan tertahan terdengar dari balik langit-langit saat salah satu pembunuh Tangan Darah tertusuk tepat di bagian dada oleh pedang es Mu Rong. Tubuhnya seketika membeku menjadi patung es sebelum akhirnya jatuh menjebol langit-langit, hancur berkeping-keping begitu menghantam lantai besi.
Dua pembunuh lainnya yang menyadari penyamaran mereka telah terbongkar langsung menjebol sisa langit-langit dengan ledakan *Qi* hitam yang korosif. Mereka mendarat dengan posisi siap menerkam, memegang belati kembar yang berlumuran racun darah.
"Bocah-bocah pelarian alam bawah, berani-beraninya kalian melawan!" Pemimpin pembunuh berteriak, mengayunkan belatinya ke arah leher Ethan dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Namun, Ethan hanya menatap serangan itu dengan pandangan datar. Tepat sebelum belati itu menyentuh pelindung wajah sibernya, ia menekan satu tombol darurat di mejanya.
BZZZZZZT!
Sebuah dinding pembatas transparan berupa Medan Gaya Elektro-Magnetik V2 muncul seketika di antara Ethan dan sang pembunuh. Belati beracun itu menghantam medan gaya dengan keras, memercikkan ribuan bunga api listrik yang langsung menyengat lengan sang pembunuh hingga hangus dan mati rasa.
"Apa?! Perisai pelindung tanpa fluktuasi mantra?!" Pembunuh itu terbelalak syok, menatap dinding transparan yang sama sekali tidak masuk dalam logika dunia kultivasi yang ia ketahui.
Di saat yang sama, Mu Rong telah mendarat kembali di samping Ethan. Dengan gerakan anggun namun mematikan, ia memutar pedangnya, menciptakan badai kristal es yang tajam yang langsung mengunci pergerakan pembunuh kedua.