untuk cerita kali ini aku akan menceritakan kisah cinta Lardo Devhan Sanjaya
buat yang belum paham kalian bisa baca dulu novel turun menurunnya.
1. CEO JATUH CINTA
2.ALVARO SANJAYA
semoga kalian suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Ferdina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
peringatan Lardo
kejadian di kantin sudah tersebar di seluruh kantor, bahkan ke telinga Lardo dan Juan.
segera Risa masuk keruangan Lardo karena perintah atasannya itu. dan ternyata di ruangan Ceo bukan hanya ada Lardo, namun ada Juan, Oliv, Lisa dan Gio.
Risa yang memang pergi ke kamar mandi tidak melihat mereka masuk ruangan Ceo, dan pasti disini akan membahas masalah di kantin, pikir Risa.
"maaf pak, ada apa?" tanya Risa
"tidak perlu bertanya lagi, kamu pasti sudah tau kenapa saya kumpulkan disini, dan buat kalian juga pasti tau maksud saya" tegas Lardo, menatap satu persatu makhluk di depannya.
semua menunduk melihat wajah marah Lardo, apalagi Lisa, karena dia yang membuat masalah di kantin.
"tolong salah satu dari kalian, ceritakan masalah yang terjadi di kantin" ucap Juan dengan wajah datar
"saya yang akan menjelaskan pak.." ucap Gio
"saya saja pak, karena dia tidak tau pasti seperti apa kejadian yang sebenarnya" sahut Oliv melirik sinis ke arah Gio.
Gio tak bisa berkutik jika sudah Oliv yang melawannya.
"oke.. ceritakan sekarang" perintah Lardo
Oliv dengan amarah menggebu gebu menceritakan kejadian Lisa yang sengaja menjatuhkan minuman ke kepala Risa. lalu Oliv juga menceritakan bahwa Lisa tidak suka dengan Risa selama ini. mereka tidak tau alasan kenapa bisa begitu.
sampai akhirnya Lisa yang tidak terima di sudutkan oleh Oliv, langsung saja membela diri dengan menangis seolah dia sedang di fitnah.
"saya tidak sengaja pak, semua di katakan Oliv tidak benar, saya merasa di fitnah" ucap Lisa
"benar pak, Lisa tidak sengaja, saya ada disana sebagai saksi Lisa" sambung Gio kekeh membela Lisa
"kalau benar tidak sengaja, kenapa tidak mau meminta maaf, bahkan dia mengaku kalau memang sengaja... jangan melindungi orang yang salah, semua juga tau jika Lisa sengaja, apa lagi dia sempat mengaku tadi" sahut Oliv semakin emosi
"begini saja pak, saya dari awal tidak terlalu kenal dengan Lisa, bahkan kami sangat jarang saling menyapa. saya juga tidak tau kenapa Lisa begitu tidak menyukai saya, di kantin dia mengaku jika sengaja menumpahkan minuman itu, bahkan saksinya sangat banyak, jika bapak tidak percaya.. silakan cek cctv yang berada di kantin kantor" ucap Risa
"nah iya pak, cek cctv deh, biar semuanya cepat clear"
"Lisa... sekarang saya tanya sama kamu, apa benar yang dikatakan Risa dan Oliv...saya tidak suka karyawan yang berbohong" ucap Juan mewakilkan Lardo
"sa...saya" Lisa tak bisa berkutik, karena semua bukti sudah mengarah padanya. bahkan menangis pun percuma.
"saya sebagai pacar Lisa mohon maaf pak, lain kali tidak akan terulang lagi" sahut Gio
ck... sok jadi pahlawan kesiangan. /Lisa
"kenapa lo yang minta maaf, harusnya dia" ketus Oliv menatap tak suka pada Gio yang terlalu melindungi Lisa.
"karena anda bersalah nona Lisa, sebaiknya anda meminta maaf pada nona Risa" perintah Juan
namun Lisa enggan untuk mengucapkan kata maaf tersebut, tangannya terkepal, menatap tajam Risa dan juga Oliv, harga dirinya seperti di jatuhkan di depan Lardo.
"minta maaf..." ucap suara tegas Lardo yang sedari tadi hanya menyimak.
"ta...tapi mereka fit...fitnah saya pak" kekeh Lisa tidak mau meminta maaf lebih dulu.
Lardo tersenyum, namun senyuman itu sangatlah mengerikan bagi Lisa.
"anda pikir, saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi? sebelum saya memanggilkan anda kemari, saya lebih dulu mencari tau... anda paham? sudah sering saya mendengar kejelekan anda di kantor ini, anda pilih meminta maaf atau keluar dari kantor saya secara tidak hormat" ucap Lardo secara tegas dengan suara menahan emosi.
Lisa sangat kecewa pada bosnya, orang yang di cintai sejak pandangan pertama, ternyata tega berkata seperti itu.
"maaf..." ucap Lisa dengan lirih
Oliv sangat gembira melihat wajah Lisa yang ingin menangis sekaligus ingin marah.
apa lagi wajah Gio yang menunduk malu.
"maaf kurang keras" ucap Oliv tersenyum smirk menatap Lisa
Lisa yang mendengar itu, langsung menatap benci pada Oliv dan Risa.
"MAAF.." ucap Lisa lagi dengan keras.
Gio yang melihat Lisa sudah berkaca kaca menggenggam tangan kekasih hatinya itu. namun Lisa justru menghempaskan kasar tangan Gio dan berlari keluar ruangan.
"permisi pak..." pamit Gio ingin menyusul Lisa
"dasar gak sopan" ujar Oliv
Juan yang melihat tingkah Oliv hanya menggelengkan kepala, yang mempunyai masalah adalah Risa, tapi yang banyak bicara justru Olivia.
"apa kamu sudah maafin dia?"tanya Lardo pada Risa yang hanya diam.
gak salah denger kan gue? pak Lardo bicara lembut sama Risa.../Oliv
"nona Risa, pak Lardo bertanya denganmu" ucap Juan namun sama halnya tidak ada respon.
"Ris... lo jangan bengong, itu pak pak Lardo ngajak ngomong.. astaga" bisik Oliv sambil menyikut lengan Risa.
"hah... iya kenapa pak?" tanya Risa yang sudah mulai tersadar.
"kamu sakit?" tanya Lardo merasa khawatir dengan Risa
Lardo beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati Risa, di periksa kening gadis itu namun tidak panas.
Juan dan Oliv melongo melihat perlakuan bos mereka pada Risa, orang yang terkenal dingin dan bermuka datar itu sekarang menghawatirkan Risa.
"duduklah dulu, baju kamu belum kering, aku akan menyuruh seseorang beli baju buat kamu" ucap Lardo
"Juan lo suruh siapapun buat beli baju untuk Risa, sekarang" perintah Lardo yang tidak dapat di bantah sama sekali.
"baik pak.." jawab Juan segera keluar ruangan.
Oliv mengucek matanya beberapa kali, tidak salah lihat dan memang itu bosnya.
aku? kamu?... sejak kapan Risa sama pak Lardo.../Oliv
"Ris, lo gak apa apa kan?" tanya Oliv
Lardo sangat terkejut, ternyata masih ada orang lain selain Juan. sangat lupa jika Oliv sahabat Risa masih berada di ruangannya.
"kamu ngapain berdiri di sana?" tanya Lardo
"biarin dia disini, dia sahabat saya pak" ucap Risa
"sudah berapa kali aku bing, jangan formal jika berdua" Lardo menatap tajam Risa
Glek...
Risa menelan saliva, sementara Oliv sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"berarti saya gak boleh sungkan ke bapak ya?" tanya Risa
"iya..."
"ya udah, gue mau keluar dari sini boleh kan?" tanya Risa
Oliv melototkan matanya, Risa benar benar berani pakai kata lo gue dengan pak Lardo pikirnya.
tatapan tajam Lardo membuat Risa salah tingkah. bukannya tadi sudah diizinkan, kenapa masih dengan tatapan begitu.
"aku kamu, bukan gue, lo"
"sepertinya saya keluar saja pak, titip sahabat saya ya pak.. permisi" Oliv merasa menjadi obat nyamuk di sana, sehingga memilih untuk kembali ke ruang kerja.