NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 12- Adik kecil itu siapa?

Ep. 12- Adik kecil itu siapa?

Mobil melaju membelah hawa panas siang yang semakin menyengat. Di dalam kabin kendaraan yang meluncur perlahan menuju komplek perumahan, suasana terasa hening.

Kirana duduk menyandar pada sandaran kursi belakang dan membiarkan tubuhnya pasrah pada setiap goncangan mobil yang menggoyangkan tubuhnya. Matanya yang sembap menatap kosong pada pemandangan jalanan di balik kaca jendela yang buram oleh debu.

Di sampingnya, Keisya menyandarkan kepala kecilnya tepat di atas dada Kirana. Jemari mungil gadis berumur empat tahun itu meremas kuat lipatan baju hitam sang ibu, seolah takut jika Kirana juga akan mendadak hilang seperti papanya.

"Mama..." panggil Keisya dengan suara parau yang amat pelan. Isakannya yang tadi membuncah di area pemakaman kini menyusut menjadi bisikan kecil yang rapuh.

Kirana menunduk sedikit, lalu mengusap helai-helai rambut Keisya yang lepek oleh keringat. "Iya, Sayang?"

Keisya mendongak dengan perlahan. Mata bulatnya yang merah menatap Kirana dengan polos dan memancarkan rasa ingin tau yang memilukan. "Kapan Keisya ketemu Papa lagi, Ma?"

Pertanyaan sederhana itu membuat jantung Kirana terasa berhenti untuk sepersekian detik. Rasa sesak kembali merayap hatinya dan menghimpit salur pernapasan di tenggorokannya.

Kirana meremas jemari Keisya dan berusaha sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak kembali menetas di hadapan putri kecilnya itu.

"Kita... pada nantinya akan ketemu Papa lagi," jawab Kirana. Ia lalu menyapu bekas air mata yang mengering di pipi Keisya dengan ibu jarinya. "Tapi untuk sekarang... Papa harus tinggal di tempat yang baru. Tempat yang sangat indah. Keisya cukup doain Papa aja dulu ya, Sayang? Biar Papa bahagia di sana..."

Keisya mengangguk dengan pelan, walau binar matanya memperlihatkan bahwa ia tak sepenuhnya mengerti makna "tempat yang baru".

Gadis kecil itu kembali merebahkan kepalanya di dada Kirana dan menyimak detak jantung ibunya yang menjadi satu-satunya penghibur di tengah dunia mereka yang mendadak runtuh.

Beberapa saat kemudian, roda mobil melindas kerikil di halaman rumah duka. Rombongan kecil itu akhirnya tiba kembali di rumah.

Kursi-kursi plastik berwarna hijau yang tadi pagi berjejer rapi di halaman kini sudah ditumpuk di sudut garasi. Terpal dan kain batik penyekat sudah dirapikan oleh para pengurus RT.

Rumah yang beberapa jam lalu bising oleh lantunan Yasin dan bisikan para pelayat itu kini telah sepi.

Namun, keheningan di rumah besar itu mendadak buyar oleh suara jeritan histeris seorang balita yang membumbung tinggi dari arah teras depan.

"Owaaa...! Ibuuu...! Owaaa...!"

Suara tangisan Aura melengking nyaring dengan nada keputusasaan anak balita yang mencari pelukan ibunya.

Di teras depan, seorang ART muda tampak kewalahan membujuk Aura. Ia menggendong balita itu sambil mengayun-ayunkannya ke kiri dan ke kanan, mengusap punggungnya, hingga mencoba menunjuk burung di dahan pohon, namun Aura terus meronta-ronta.

Kedua tangan kecil Aura menggapai-gapai udara, matanya sembap luar biasa dengan pipi merah yang belepotan air mata.

"Owaaa.. hwaaa"

Mobil akhirnya berhenti dan mematikan mesinnya. Kirana membukakan pintu untuk Keisya, lalu melangkah turun dari mobil. Saat kakinya memijak lantai teras, pandangan Kirana secara refleks beradu dengan Aura yang berada di dalam pangkuan art.

Aura yang melihat kehadiran Kirana mendadak menghentikan jeritannya sejenak. Dengan mata bulatnya yang penuh air mata, balita dua tahun itu mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Kirana, dan mengira wanita anggun berpakaian hitam itu akan merengkuhnya seperti yang dilakukan di UGD rumah sakit tadi malam.

"Ibuuu... gendong... Hwaaa...!" jerit Aura lagi, suaranya makin serak dan terdengar memilukan.

Namun, Kirana langsung mengalihkan pandangannya. Ada rasa penolakan yang muncul di hatinya. Suara tangisan Aura tidak hanya memekikkan telinga, tetapi juga seperti palu yang menghantam luka pengkhianatan Rendra.

Kirana membuang muka dan meraih jemari Keisya, lalu melangkah cepat melewati art dan Aura tanpa mengumbar sepatah kata pun.

Ia berjalan masuk menembus pintu utama rumah duka dan membiarkan art mengekor di belakangnya sambil terus menggendong Aura yang masih menangis sejadi-jadinya.

"Owaaa... Ibuuu...!"

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, suara tangisan Aura memantul di dinding-dinding tembok yang tinggi dan terasa kian bising hingga menusuk indra pendengaran Kirana.

Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Rasa lelah secara fisik setelah tak tidur semalaman, bercampur dengan trauma kematian Rendra dan desakan rumor para tetangga, berkumpul menjadi satu kejenuhan yang membakar emosinya.

Kirana kini menghentikan langkahnya di depan sofa. Ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil memegangi dadanya yang kian sesak.

"Mbok Darmi..." panggil Kirana dengan suara yang ditahan agar tidak meledak, namun terdengar putus asa.

"Iya, Bu?"

"Tolong... bawa Aura sedikit menjauh," pinta Kirana seraya memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut.

Wajahnya pucat pasi dan matanya terpejam kaku. "Bawa dia ke kamar belakang atau ke halaman belakang, Mbok. Tolong... aku sangat lelah. Kepala aku rasanya mau pecah..."

Mbok Darmi menatap Kirana dengan tatapan yang iba. Ia paham betul betapa beratnya beban yang sedang dihantamkan ke atas pundak majikannya ini.

Tanpa bertanya atau membantah, Mbok Darmi mengangguk dengan sigap. Ia membalikkan badan dan menghampiri art tadi yang masih kepayahan menenangkan Aura.

"Iyem, mari kemari. Bawa Aura ke kamar sebelah dapur dulu. Kita beri minum susu hangat atau makanan pelan-pelan," bisik Mbok Darmi seraya mengarahkan Tukiyem untuk membawa Aura menjauh dari ruang keluarga.

Perlahan-lahan, suara jeritan dan tangisan Aura mulai menjauh dan memudar saat pintu lorong bagian belakang ditutup rapat oleh Mbok Darmi.

Ruang keluarga pun kembali tenang. Kirana menghembuskan napasnya dan membiarkan tubuhnya merosot dan duduk terhenyak di atas sofa empuk yang berwarna krem.

Kedua tangannya terangkat, jari-jarinya memijat pelipis dan dahi dengan tekanan yang kuat untuk mengusir rasa pening yang terus menggerogoti jiwanya.

Sementara di samping sofa, Keisya berdiri mematung. Gadis kecil itu memperhatikan gerak-gerik ibunya dengan raut wajah yang polos dan kebingungan.

Pandangan Keisya sesekali beralih ke arah lorong belakang tempat suara tangisan balita tadi perlahan menghilang, lalu kembali menatap ibunya yang tampak begitu menderita.

"Mama..." panggil Keisya pelan sambil mendekat dan menyentuh lutut Kirana.

Kirana langsung menghentikan pijatan tangannya dna membuka mata secara perlahan, lalu menatap wajah polos Keisya yang berada tepat di hadapannya.

"Iya, Sayang?" sahut Kirana dengan suara yang sangat lesu.

Keisya memiringkan kepalanya dengan mata yang berkedip-kedip. "Mama... adik kecil yang digendong Mbak Iyem tadi itu siapa? Kenapa dia nangis terus manggil 'Ibu'? Kenapa dia dibawa ke rumah kita, Ma?"

DEG.

Tubuh Kirana seketika menegak kaku. Pijatan tangannya terhenti sepenuhnya. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya seolah menguap dalam sekejap, tergantikan oleh ketegangan yang membakar darahnya.

Wajahnya yang pucat nampak begitu bingung, panik, dan terguncang oleh pertanyaan sederhana namun menghantam tepat pada inti rahasia terbesar keluarga mereka.

"Bagaimana... bagaimana aku harus menjelaskan ini pada Keisya?" batin Kirana bergejolak hebat. Matanya bergerak liar menatap wajah putrinya.

Haruskah ia mengatakan bahwa balita di kamar belakang adalah adik tiri Keisya? Haruskah ia membeberkan bahwa ayahnya yang baru saja dikuburkan telah membagi kasih sayang dan memiliki keluarga lain di luar sana?

Tidak! Keisya masih terlalu kecil. Jiwa gadis itu baru saja dihantam kenyataan pahit bahwa papanya telah meninggal dunia. Kirana tidak sanggup jika harus menghancurkan figur papa yang begitu dipuja dan dibanggakan oleh Keisya selama ini.

Mulut Kirana terkatup rapat. Tenggorokannya terasa begitu kering bagaikan padang pasir. Rasa bingung dan cemas terpancar jelas dari raut wajahnya yang lelah.

Keisya yang melihat ibunya hanya diam membisu makin menatap Kirana dengan pandangan yang menuntut jawaban. "Ma...? Kok Mama diam aja?"

Kirana membasahi bibirnya yang pecah-pecah dengan lidah. Ia mencoba menguasai jiwanya, merengkuh kedua bahu kecil Keisya, lalu menatap mata putrinya dengan tatapan yang meminta pengertian.

"Sayang..." panggil Kirana, dengan suara yang terbata-bata. "Mama... hari ini sangat lelah. Kepala Mama sangat sakit... Nanti... nanti kita bicara lagi soal ini, ya? Nanti Mama jelaskan semuanya kalau Mama sudah agak sehatan. Gak apa-apa, 'kan, Sayang?"

Keisya menatap wajah ibunya yang memucat dan lingkaran hitam di bawah mata Kirana. Walau ia masih penasaran, tapi kebiasaan Keisya sebagai anak yang patuh membuat gadis kecil itu akhirnya mengangguk dengan pelan.

"Iya, Ma... Gak apa-apa," bisik Keisya. "Mama istirahat ya..."

Di saat yang bersamaan, seorang baby sitter yang khusus mengasuh Keisya bernama Suster Rina, melangkah mendekati sofa dari arah koridor kamar sambil membungkuk lembut ke arah Kirana.

"Ibu Kirana... mari biar Non Keisya saya bawa ke kamar untuk ganti baju, makan siang, dan istirahat," ucap Suster Rina ramah.

Kirana pun mengangguk lega dan melemparkan senyum tipis yang sarat akan rasa terima kasih. "Iya, Suster. Tolong temani Keisya di kamarnya ya."

Keisya meraih jemari Suster Rina, lalu membalikkan badan dan berjalan perlahan menuju kamar tidurnya di lantai dua.

Sebelum membelok di tangga, Keisya sempat menoleh kembali ke arah Kirana dan memperhatikan ibunya yang kembali menyandarkan kepala pada sofa sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

"Mama sakit ya, Sus?"

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Aurora: entahlah... othor belum kepikiran jodo buat Kirana 🤭
total 1 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!