Floryn menemukan suaminya selingkuh di rumah mereka sendiri. Rasa sakit hati membuatnya ingin meninggalkan laki-laki itu dengan segera. Sayang, Floryn terlalu takut untuk kehilangan kenyamanan hidup yang selama ini diberikan oleh sang suami. Apalagi, satu-satunya anak yang mereka miliki masih kecil dan memerlukan figur lengkap orang tuanya.
Floryn memang bisa bertahan di dalam pernikahan itu demi Alvin—sang buah hati—meski tidak lama. Pada akhirnya ia menyerah. Floryn memutuskan untuk menceraikan Enrik dan mendapatkan hidup yang lebih baik.
Sayangnya, untuk mencapai kebebasan itu, Floryn menghadapi banyak hal yang membuatnya terpuruk berkali-kali. Belum lagi dengan Enrik yang pandai memutarbalikkan fakta. Akankah semua berjalan dengan baik?
Note: Tulisan ini tidak mewakili individu atau instansi manapun. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan lain-lain, hal itu bukan suatu kesengajaan. Semua hal di dalam tulisan ini bersifat fiktif, murni hasil halu penulis saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayanov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjilat atau Menggoda?
Floryn mengutuk dirinya sendiri karena telah menuruti permintaan Enrik. Ia tidak tahu, sejak kapan suaminya itu menjadi begitu banyak mengetahui masalah ranjang. Padahal, jika dulu bersama dirinya, Enrik hanya akan melakukan hubungan yang seperti biasa.
Saat ini Floryn sudah duduk di belakang meja kerjanya. Masih hari Jumat dan ia sudah sangat lelah.
"Pagi, Bu!" sapa Widuri yang merupakan salah satu karyawan Floryn.
"Pagi."
"Ini buat Ibu," katanya sembari meletakkan sebuah kotak berwarna putih di atas meja Floryn.
Floryn terlihat bingung. "Apa ini?" tanya Floryn bingung.
"Itu kue jualan abang saya. Kebetulan abang bikin lebih, katanya buat Ibu Floryn," ungkap Widuri dengan senyum mengembang.
Floryn tersenyum. Seingat Floryn, abang dari Widuri itu sempat bertemu dengannya saat mengantarkan Widuri di hari pertamanya resmi bekerja. Kalau tidak salah ingat, sekitar tiga bulan yang lalu.
"Sampaikan terima kasih saya kepada abangmu. Saya baru tahu kalau ia menjual kue ...," kata Floryn.
"Abang saya jago banget, Bu. Dia pernah ikut Master Chef walaupun hanya bertahan hingga beberapa minggu," jelas Widuri dengan senyuman yang begitu lepas.
Entah kenapa, tiba-tiba saja ia teringat dengan Ambar beberapa tahun silam. Sama. Keceriaan yang terlihat begitu mirip. Dari situlah Floryn merasa takut. Ia takut jika kebaikannya dibalas dengan penghianatan.
"Oke. Nanti saya coba. Mungkin anak saya juga akan suka. Sekarang, sebaiknya kamu kembali bekerja," terang Floryn yang kembali mencoba untuk serius.
Widuri mengangguk dan meninggalkan Floryn dengan pekerjaannya. Ruangan HRD yang letaknya agak terpisah dari ruangan divisi lain, membuat karyawannya lebih leluasa mondar-mandir tanpa takut kena tegur. Apalagi Floryn tidak terlalu mempermaslahkan hal itu, asalkan pekerjaan mereka selalu beres tepat waktu.
Sepeninggal Widuri dari ruangannya, Floryn menarik kotak itu mendekat. Dengan sangat penasaran, ia membuka sedikit kotak itu dan mengintip isinya.
Sayang sekali Floryn tidak bisa melihat isinya karena terhalang selembar kertas. Karena terlanjur penasaran, Floryn membukanya lebih lebar. Di sana terdapat sebuah kertas berisiknya tulisan tangan seseorang.
Kening Floryn berkerut. Ia mengambil lembaran kertas itu dan membaca isinya.
"Apa maksud tulisan ini? Dia menggombal? Bukankah cukup jelas kalau aku sudah bersuami?" tanya Floryn pada kertas di hadapannya. Namun, ada sedikit senyum tersungging di bibir.
Pengirim kertas dan kue itu adalah Zoel. Abang dari Widuri. Usianya masih jauh di bawah Floryn, tapi pemuda itu terus mencoba untuk menarik perhatiannya. Apalagi dengan tulisan 'Hai, Cantik!' yang baru saja ia terima.
Sebenarnya Floryn tidak pernah mau menanggapi, tapi entah kenapa hari ini ia merasa tergelitik untuk mengenal pemuda itu sedikit lebih jauh.
Jika apa yang Floryn pikirkan benar, ia akan menemukan deretan nomor HP di belakang kertas itu.
Dengan agak ragu, Floryn membalik kertas tersebut. Dan benar saja, ia menemukan apa yang ia duga.
Ada banyak campuran rasa yang ia rasakan sekarang. Bangga, tidak percaya, malu, sedikit marah, dan beberapa lainnya.
Floryn memutuskan untuk memanggil Widuri kembali. Ia ingin tahu apa yang diinginkan abangnya. Apakah Widuri juga tahu tentang pesan di dalam kotak itu atau tidak.
Floryn menghubungi Widuri langsung dari telepon di atas meja kerjanya.
“Iya, Bu?” sapa Widuri saat mengetahui jika panggilan itu berasal dari Floryn.
“Coba kamu ke sini sebentar. Ada yang ingin saya tanyakan,” perintah Floryn. “Sekalian kamu bawakan berkas titipan Pak Jaka yang ada di meja Ilham,” tambahnya.
“Oke, baik, Bu.”
Panggilan itu diakhiri oleh Floryn. Ia menyandarkan tubuhnya lebih ke belakang. Sejak tadi, Floryn merasa kakinya sedikit sakit setelah apa yang dilakukan Enrik tadi pagi. Menaikkan kakinya dan diam pada posisi itu cukup lama .... sial. Pikirannya kembali pada kejadian itu ....
Tok tok tok.
Sebuah ketukan membawa pikiran Floryn kembali ke kenyataan. “Masuk.”
Pintu ruang kerja Floryn terbuka sedikit. Dari sana muncul sosok Widuri dengan beberapa tumpuk map di tangannya.
“Permisi, Bu …,” kata Widuri memberi salam.
“Ya. Bawa ke sini."
Widuri meletakkan tumpukan berkas itu di atas meja kerja Floryn. Lalu ia berdiri di sana menunggu perintah Floryn selanjutnya.
“Duduk dulu.” Kata-kata Floryn adalah perintah yang terdengar biasa saja. Namun seluruh karyawannya di kantor—terutama karyawan yang ia bawahi langsung—memahami jika perkataan Floryn itu adalah perintah yang tidak boleh diabaikan.
“Iya, Bu.”
Floryn melipat kedua tangannya di depan dada. Bahkan, ia tidak menyentuh berkas yang tadi Widuri antarkan.
“Apa maksunya ini?” tanya Floryn menunjuk kotak yang tadi dibawa Widuri dengan pandangannya saja.
“Ma-maksudnya, Bu? Saya hanya membawakan titipan abang saya. Saya juga membawa satu kotak lagi untuk teman-teman di luar …,” ungkap Widuri dengan air muka yang kebingungan.
Florin melepaskan tautan tangannya di depan dada dan membuka penutup kotak itu. Ia mengambil selembar kertas yang terletak di dalam sana.
“Ini?” tanya Floryn memastikan.
Kening Widuri bertaut. Ia menerima selembar kertas yang diberikan padanya, lalu membaca apa yang tertera di sana.
“Hai, Cantik? Ini … tu-tulisan abang saya. Saya bersumpah, saya tidak tahu apa-apa, Bu!” terang Widuri sedikit panik.
“Apa yang abangmu inginkan dari saya? Apa yang dia harapkan? Apa dia sedang menjilat atau menggoda saya? Bukankah kalian semua sudah tahu kalau saya sudah punya suami? Tidak mungkin abangmu yang dulu kerap mengantarmu datang ke kantor, tidak mengetahuinya juga,” tuntut Floryn dengan berbagai pertanyaan.
Di depannya, Widuri hanya bisa tertunduk. Untuk beberapa saat lamanya, ia hanya bisa terdiam.
“Jawab, Widuri … atau kamu mau kehilangan pekerjaanmu?” ancam Floryn. Di dalam hatinya, ia sedang berusaha menahan tawa. Ternyata mengintimidasi seseorang itu terasa mengerikan. Namun kenapa ia malah ingin tertawa?
“Mu-mungkin … abang saya nge-fans sama Ibu … maafkan saya, Bu!”
Bersambung.