Malam itu adalah malam gila. Reani melewati garis akal sehat pikirannya dan menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak ia kenal disebuah penginapan karena Reani sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya dan mabuk. Hingga dua bulan kemudian ia menyadari dirinya hamil dan tidak tahu siapa yang bersamanya malam itu. Disaat ia sudah melupakan luka masa lalu dan kembali menyusun hidupnya, seorang pria muncul tepat di saat Reani kehilangan seseorang yang berharga. Terlebih pria itu mengaku sebagai pria yang menghabiskan malam dan sebagai ayah dari putra Reani.
Lantas, benarkah pria itu? kenapa ia muncul ketika Reani sedang berada di dalam duka?
Meski demikian, apa Reani dan anaknya dapat hidup normal tanpa ada masalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeojawriting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Bunyi pecahan gelas langsung mengisi ruangan pribadi ratu Regina ketika seorang pelayan kepercayaannya memberitahukan kegagalan dari orang suruhan Roselle untuk menculik Reani.
“Bagaimana bisa membawa seorang wanita biasa pun tidak bisa dilakukan?! Berikan hukuman mati untuk dua orang itu.” perintah ratu Regina kejam pada dua orang yang membuat wajahnya merah padam akibat emosi yang kian memuncak.
Ratu Regina nampak menarik napas dalam dan kembali mengambil gelas anggur yang baru dari pelayannya sembari menatap pemandangan luar istana dari ruangannya yang megah itu.
“Nampaknya gerakan kita akhir-akhir ini terlalu jelas.” timpal seorang pria muda yang duduk di salah satu sofa mewah milik ratu. Pria muda itu tak lain adalah putra kandung ratu Regina yaitu Coragiosso.
Ratu Regina mendengarnya sembari memutar telunjuk kanannya di bibir gelas dan memperhatikan para pelayan muda yang sedang membersihkan taman di depan ruangan pribadi ratu.
“Kita lengah kali ini. Anak itu ternyata masih punya simpati untuk melindungi orang lain dan membuat kita tidak melakukan kehendak kita leluasa seperti biasa.” ucap sang ratu.
“Tapi, apa Dominic benar-benar simpati?” tanya Coragiosso.
Ratu Regina mengalihkan pandangannya dan menatap putranya bingung.
“Apa maksudmu?” tanya ratu.
Coragiosso menyeringai, seolah memikirkan sesuatu yang ada diluar perkiraan ibunya.
“Kita tidak tahu bagaimana dalamnya hubungan mereka. Jika wanita itu memiliki pemikiran yang dangkal akan sangat mudah memanfaatkannya dan bisa menjadi bumerang bagi laki-laki itu.”
Ratu Regina diam sejenak memikirkan ucapan Coragiosso barusan dan kemudian tersenyum licik seolah ucapan putranya merupakan angin segar baginya.
“Kamu benar, jika kita bisa memperbudaki wanita itu, tidak perlu terburu-buru. Kadang sesuatu yang dilakukan secara perlahan lebih membuahkan sesuatu yang baik.” Timpal ratu Regina.
“Baiklah, nampaknya tidak akan seru jika aku tidak turun tangan.” Coragiosso bangkit berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan ratu Regina.
“Coragiosso, jangan terlalu berlarut dalam permainan dan fokus saja dengan persiapanmu untuk naik takhta. Masalah ini, ibu bisa membereskannya.”
Coragiosso hanya tersenyum santai dan melambai kemudian pergi dari ruangan pribadi ibunya itu.
Sementara itu di ruangan raja, nampaknya raja Redel menerima seorang tamu yang merupakan utusannya untuk mengamati kehidupan Dominic. Tentu saja apa yang dialami Dominic akhir-akhir ini juga sampai ke telinga raja Redel.
“Nampaknya hidup anak itu penuh dengan lika-liku cerita.”
“Anda tidak perlu khawatir karena tindakannya akan tetap di awasi oleh Duke Sicurezza.”
Raja Redel tampak mengerti dan menatap keluar jendela ruang kerjanya yang berada di tingkat paling atas istana hingga menampakkan hampir seluruh pemandangan kota Acqua.
“Daripada itu aku lebih mengasihani wanita yang bersamanya. Menghadapi Dominic yang sudah kehilangan ibunya sejak kecil tidak akan mudah. Meski Duke sudah merawatnya dengan sangat baik, pasti tetap ada dalam hatinya menyimpan kemarahan.” ucap raja Redel.
“Ketika orang yang paling menyayanginya diambil saat ia belum mengerti apa-apa, tentu saja pasti akan menjadi pertanyaan besar dalam hidupnya tentang kenapa ia harus hidup sampai saat ini.” mata senja raja Redel mengingat bagaimana kabar kematian salah satu selirnya yang dibunuh dengan keji oleh orang-orang yang tidak dikenal. Raja Redel tidak bisa menuduh sembarangan orang di dalam istana karena mereka memiliki kekuatannya masing-masing dan bisa menjadi awal dari kehancuran pemerintahan Elemento itu sendiri.
*
*
*
Baru kali ini seumur hidupnya Reani melihat ada rumah yang mana pagar dan pintu masuk rumah sangat jauh jaraknya. Tanpa menunggu lama setelah kejadian yang menimpa Felix, Reani sepakat untuk pindah ke kediaman Venigais. Selain karena syarat Dominic akan menjelaskan seluruh asal-usul masalah, juga karena keselamatan Felix itu sendiri yang terutama.
“Ibu apa kita akan tinggal di hutan?” tanya Felix polos ketika mereka mulai masuk ke dalam pagar rumah Dominic dimana sepanjang jalan hanya hutan belantara dan satu jalan saja.
“Ibu rasa ada rumah di ujung jalan ini. Kita tunggu dan lihat saja.” jawab Reani.
“Apa benar rumah?” tanya Felix masih penasaran.
Kini Reani dan Felix kompak menatap sang pemilik tanah yang duduk di samping kursi kemudi.
“Apa kalian berdua sedang meremehkanku?” tanya Dominic sedikit dongkol.
Bagaimana mungkin ada orang yang memiliki pagar kokoh namun tidak memiliki isi di dalam pagar itu. Dominic jadi bertanya-tanya tentang apa yang di ekspetasikan oleh Felix dan Reani. Juga heran dengan kekompakan kedua ibu-anak itu.
“Dari pada itu, apa masuk akal seorang manusia tinggal di tempat seperti ini?” tanya Reani masih betah mengomentari tempat tinggal Dominic.
“Juga apa aman untuk Felix? Aku justru khawatir Felix akan tersesat di hutan ini.” tanggapan Reani saat melihat pepohonan rimbun disepanjang jalan.
“Bukankah itu bagus untuk menambah ketangkasan?” timpal Dominic spontan.
Seorang anak laki-laki haruslah kuat, begitulah tanggapan Dominic tentang pertanyaan Reani tentang keamanan.
Sementara Truppe yang menyetir hanya terdiam mendengar percakapan orang-orang yang ada dalam mobil ini. Padahal di sepanjang hutan, setahu Truppe banyak sekali ranjau dan jebakan yang bisa membunuh orang dewasa dalam sekejap.
Jika Reani tahu akan hal itu, Truppe tidak tahu apa yang akan Reani perbuat pada tuannya.
*
*
*
“Ayo masuk.” ajak Dominic ketika mereka tiba di sebuah kediaman yang berada di ujung jalan dan di tengah hutan itu. Meski berada di tengah belantara ternyata tidak sekecil yang dibayangkan melainkan cukup megah dan Reani sendiri sudah beranggapan bahwa kediaman Venigais merupakan salah satu yang terbesar yang pernah Reani lihat.
“Kenapa diam? Apa tidak sesuai dengan ekspetasi kalian?” tanya Dominic pada duo ibu-anak itu.
“Ibu, pasti lelah membersihkan rumah ini sendirian.” timpal Felix cukup kagum dengan apa yang ia lihat.
Ucapan Felix membuat Reani terkekeh dan beberapa orang yang bekerja di bawah Dominic juga ikut tersenyum karena kepolosan anak itu dalam menanggapi sesuatu yang baru ia lihat.
“Hehehe, kehadiran Felix merupakan angin segar bagi kediaman ini. Biarkan aku yang akan mengantar Felix ke kamarnya. Aku rasa kalian berdua pasti ingin berbicara sesuatu.” Michael langsung maju dan meraih tangan Felix lalu menatap Reani dan Dominic secara bergantian.
“Kamu benar, ada yang berhutang penjelasan padaku disini.” Reani langsung mengalihkan pandangannya pada sang pemilik rumah.
Pria dengan garis wajah tajam itu langsung melangkah lebih dulu masuk dan tanpa kata-kata, Reani mengikuti langkah Dominic menuju ke ruangannya.
“Baiklah, kamu bisa menjelaskannya padaku.” ucap Reani saat keduanya sudah masuk ke dalam ruangan Dominic.
Dominic memutar tubuhnya menghadap Reani yang masih berdiri di dekat pintu.
“Dari pada aku yang bercerita, aku lebih nyaman jika kamu bertanya lebih dulu aku akan menjawab sesuai dengan informasi yang kamu butuhkan.”
Reani maju mendekati Dominic namun masih menjaga jarak aman. Reani menatap Dominic mulai dari ujung kakinya secara perlahan naik hingga ke ujung surai hitam dengan potongan rapi di sisi kanan-kirinya.
“Bagaimana bisa pria ini adalah ayah dari putraku yang imut.” Bukannya bertanya Reani malah mengomentari penampilan Dominic.
“Juga!! Aku belum sepenuhnya percaya denganmu yang mengaku ayah dari Felix.” Tak sempat mulut Dominic mengeluarkan protes, lanjutan ucapan Reani menyerobos lebih cepat.
“Apa perlu kita mereka ulang adegan 6 tahun yang lalu?” tanya Dominic sembari membuka satu kancing paling atas kemeja berwarna hitam yang ia kenakan.
“Ouh! Tidak, tidak, dari pada itu, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Reani mulai melangkah menyusuri ruang kerja Dominic yang penuh dengan buku-buku, miniatur berbagai macam bentuk, hingga peta kerajaan Elemento yang terbingkai dengan elegan di salah satu sisi ruangan.
Wanita itu mudah mengalihkan pembicaraan, pikir Dominic.
“Ini ruang kerjaku, aku melakukan pekerjaanku mulai dari sini selain pergi ke lapangan.” jawab Dominic yang mana tatapannya mengikuti gerak-gerik Reani yang masih mengitari ruangan dan berhenti di lemari buku koleksi milik Dominic.
“Venigais, apa itu nama tempatmu bekerja?” tanya Reani saat melihat sebuah plakat bertuliskan Venigais di atas meja kerja Dominic.
“Lebih tepatnya sebuah organisasi.”
“Organisasi? Aku tidak pernah mendengarnya.” timpal Reani heran karena setahunya tidak ada organisasi besar bernama Venigais. Reani juga tidak berpikir bahwa Dominic adalah orang yang bekerja di organisasi kecil atau perusahaan kecil karena ia tahu sendiri dari tempat pria ini tinggal.
“Itu merupakan organisasi dunia bawah.” jawab Dominic sembari duduk di sofa dan matanya masih mengikuti gerak-gerik Reani.
“Organisasi dunia bawah?” Reani menghentikan pengamatannya dan berbalik menatap pria yang sedang bersantai di sofa sembari memejamkan matanya.
Perasaan Reani sudah tidak merasa beres.
“Maksudmu, kalian yang melakukan pekerjaan kotor itu bukan? Seperti penyeludupan, penjualan manusia, dan pencucian uang, bukan begitu?” tanya Reani resah.
Dominic membuka matanya dan menatap langit-langit ruangan. Organisasi gelap memang selalu berkaitan dengan hal-hal jahat, jadi Dominic sudah tidak heran dengan pandangan Reani yang seperti itu.
“Tidak semua pekerjaan aku ambil, aku cukup cerewet memilih pekerjaan.” timpal Dominic santai.
Organisasi yang Dominic pimpin bukan melakukan hal-hal yang diduga oleh Reani. Umumnya memang selalu seperti itu citra organisasi dunia bawah, namun apa yang Dominic lakukan adalah kebalikannya. Tugas dari organisasi Venigais adalah menekan maraknya kegiatan gelap tersebut dengan penguasaan pasar dan pembatasan pasokan barang. Dominic tidak bisa melakukannya semena-mena karena mata pengawasan Coragiosso lebih tajam dari dugaan.
Seperti yang Dominic beritahu barusan bahwa ia merupakan orang yang pilih-pilih dalam pekerjaan.
“Nampaknya aku dan Felix tidak dapat tinggal disini.” ucap Reani setelah mendengar segala informasi yang ia ingin ketahui.
Dominic langsung beranjak dari duduknya. Kali ini apa lagi yang ada di kepala wanita itu sampai membuat keputusan untuk pergi dari kediaman.
“Aku tidak bisa membiarkan Felix tumbuh di lingkungan berbahaya ini.” ucap Reani menjelaskan alasannya sembari menyusuri rumah mencari keberadaan Felix untuk ia bawa pergi dari kediaman Venigais.
“Tunggu dulu! Aku bahkan belum menjelaskan rincian pekerjaanku!” tidak lupa dengan Dominic yang mengejar langkah Reani.
*
*
*
Dor!
Tembakan Felix tidak meleset dan melesat sempurnah mengenai titik targetnya.
“Paman! Aku berhasil! Aku mengenai titik tengahnya!” seru Felix pada Michael yang berdiri di samping Felix dan cukup kagum dengan cara Felix mengunci target.
“Coba dengan yang ini.” Michael menunjuk seperangkat pistol yang sama seperti yang ada di tangan Felix, namun masih belum terangkai membentuk sebuah pistol yang bisa menembakkan peluru.
Felix langsung meletakkan pistol yang ia pegang.
“Ia seperti yang kamu pegang, tapi paman ingin lihat bagaimana kamu menyusunnya persis yang seperti paman lakukan barusan.” Michael menjelaskan sembari merakit senjata api itu di depan mata Felix dengan santai.
Tanpa menunggu lama, Felix meraih satu persatu komponen dan merakitnya sesuai dengan apa yang ia lihat dari Michael beberapa detik yang lalu dan tanpa menunggu lama tangan kecilnya berhasil menjadi pistol yang siap menembakkan peluru.
“Coba Felix tembakkan pada titik target disana.” ucap Michael lalu memasang kembali penutup telinga untuk Felix agar telinganya tidak terlalu sakit mendengar suara tembakan.
Felix yang menuruti saja pun memusatkan seluruh fokusnya pada target berupa titik yang tergambar pada papan lalu menarik pelatuk dan ‘dor!’.
Michael tersenyum bangga ketika target yang tertembak tidak meleset sama sekali.
Reani berhenti ketika mendengar suara seruan Felix dari arah taman samping kediaman. Saat Reani pergi ke sisi rumah itu betapa terkejutnya ketika melihat Felix sedang diajari Michael bagaimana menggunakan pistol dan menembak target sejauh 50 meter.
“A-apa!? Reani, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!” ucap Dominic ketika melihat wajah Reani yang kehilangan kata-kata melihat putranya sedang asik latihan menembak bersama Michael dan mengeluarkan gelak tawa karena dipuji kehebatannya oleh Michael.
“Tapi ia hebat, jika salah menyusun komponen, pistol itu akan meledak.” lanjut Dominic.
Reani langsung memutar tubuhnya menghadap Dominic yang berada di belakangnya lalu menarik kuat kerah kemeja Dominic.
“Mau kamu jadikan apa anakku hah??” mode ibu beruang dari Reani muncul lagi dan jika Dominic tidak menjawab sesuai keinginan Reani, bisa saja pria itu ditelan Reani saat ini juga.
Namun kali ini, Dominic cukup serius menanggapi dan langsung melepas cengkraman tangan Reani di kerah bajunya.
“Dari pada itu, apa kamu mau kehilangan Felix untuk kedua kalinya?” tanya Dominic.
“Aku tidak memaksa Felix untuk melakukan sesuatu dirumah ini atau mungkin kamu lebih ingin menjadi mangsa musuhku diluar pagar rumah ini?” lanjut Dominic lalu pergi dari hadapan Reani.
“Tapi belajar menembak pada hari pertamanya di rumah ini, apa itu bisa aku terima??”
To Be Continued.