"Aku ingetin, jangan sampek kamu jatuh cinta! Aku nikahin kamu karena terpaksa!"
"Sorry, pria seperti kamu bukan tipeku!" cetus Dea pada pria yang berdiri di depannya dengan sombong dan angkuh.
"Kamu yang bukan tipeku!" Daniel tidak mau kalah. Sebab Dea benar-benar gadis di bawah standard. Untuk nilai, bagai pria sesukses dirinya, Dea memiliki nilai F.
Yuk kenalan sama penulis, Instagram :
Sept_September2020
Baca juga karya Sept yang sudah Tamat
Rahim Bayaran
Istri Gelap Presdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merayu Daniel
Dea I Love You - Bagian 9 (18+)
Oleh Sept
Sekretaris Kim menoleh, pria tiga puluh tahun itu kemudian berbalik dan berjalan mendekati atasannya. "Tugas apa gerangan? Tugas negara, perusahaan atau jangan-jangan wanita? Ish," batin Kim, si pria jangkung dengan rambut klimis dan setelan jas rapi.
Sebelum Kim bertanya, Daniel langsung mengatakan apa yang akan ia tugaskan pada sekretarisnya itu.
"Cari tahu pria mana saja yang sedang dekat dengan Dea," ucap Daniel tanpa jeda.
Kim mengerutkan dahi, ia menatap heran. Kok Dea? Setahu Kim, bosnya itu tidak tertarik sama sekali dengan gadis dua puluh tahun tersebut. Mereka menikah karena perjodohan yang dicetuskan kedua orang tuanya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Kim.
"Jangan buat aku mengatakan untuk yang kedua kali Kim! Kalau kau cerewet, bonus tahunanmu aku potong!" ancam Daniel.
Kim menelan ludah. "Baik, Tuan!" pria tersebut sedikit membungkukkan badan, ia melakukan penghormatan ala-ala orang Jepang. Pria itu membungkuk sembari menyembunyikan senyum di wajahnya. Ia sedang menertawakan atasan sekaligus temannya itu.
Karena tidak ada perintah lagi, Kim pun keluar ruangan Daniel.
Selepas kepergian sekretaris Kim, Daniel nampak melamun. Jarinya mengetuk-mengetuk meja, ia sepertinya memikirkan sesuatu.
***
Kampus biru, setelah kelas pertama usai, Dea terlihat sedang berdiskusi dengan teman-temanya.
"Lo ikut kan, Dea?" tanya Metty sahabat baik Dea.
Dea memutar bola matanya, bagaimana ini? Teman-temanya lagi ngajak camping. Mau langsung mengiyakan, tapi kira-kira suaminya kasih ijin nggak?
"Jangan bilang kamu nggak ikut?" potong Vino, si pria kece badai di kalangan kampus. Teman akrab dan teman main Dea dari club basket.
Dea galau, hatinya ingin tapi belum ijin. Kalau sehari dua hari ia sih oke-oke saja. Akan tetapi ini tiga hari tiga malam, kira-kira boleh nggak ya? "Gue tanya Ayah dulu ya!" kelit Dea.
"Nanti gue bantu ijin ke Om, dah ... pokoknya harus ikut!" ucap Metty dengan nada memaksa.
"Mati aku!" batin Dea. Ayahnya selama ini nggak pernah ngelarang Dea. Yang ia khawatirkan adalah, suami barunya itu. Dea galau bin bingung. Masalahnya ia menyembunyikan statusnya pada semua orang. Pada sahabat-sahabatnya juga Dea menyembunyikan hubungannya dengan Daniel. Mereka tidak ada yang tahu kalau Dea sudah menikah.
"Nggak usah, gue ikut deh!"
"Nah gitu dong! Nggak ada loe, nggak rame!"
Semua terlihat senang dan puas karena ketua geng mereka akhirnya ikut juga. Yang paling rame selama ini kan Dea, masa kepala suku malah nggak ikut, nggak asik lah.
***
Sore harinya, di apartemen Daniel. Dea sudah pulang, ia tadi pulang naik taksi. Sampai di apartemen, Dea mulai memikirkan jalan keluar. Bagaimana caranya agar Daniel tidak mempersulit dirinya, ia harap-harap cemas. Takut suaminya tak memberikan ijin.
Pukul lima sore, saat langit sudah berwarna jingga merata. Hari mulai gelap tapi Daniel tak kunjung datang. Sejak tadi Dea melirik pintu serta jam, ke mana suaminya tak pulang-pulang?
Klek
Begitu suara pintu terbuka, Dea langsung berjalan ke arah pintu.
"Sudah pulang?" Sebuah senyum mengandung banyak gula Dea lempar tepat ke arah suaminya itu. Dea sedang melancarkan aksinya.
Ingat yang tadi pagi, meski diberi senyuman termanis. Wajah Daniel malah masam. "Apa? Senyum-senyum tak jelas. Minum obat sana!" cibir Daniel.
"Ish!" Dea langsung mengertakkan gigi-giginya. Rahangnya pun mulai mengeras. Sepertinya tidak mudah merayu pria sombong itu.
"Sini aku bawakan!" Dea langsung mengambil paksa tas yang dibawa Daniel.
"Ada apa ini? Aku mengendus sesuatu yang tidak beres!" batin Daniel yang curiga berat.
"Aku siapain air hangat buat mandi ya?" Masih dengan wajah cerah ceria.
"Dea! Kamu sedang melakukan kesalahan ya? Apa kamu mengadu ke Mama?" tuduh Daniel, lama-lama sikap manis Dea sangat membuatnya curiga.
"Apa sih, tenang ... semua masih aman kok. Hehehe!" Gadis itu giginya mungkin sebentar lagi kering karena sejak tadi nyengir.
Karena tubuhnya terasa gerah, Daniel tidak lagi menangapi Dea. Pria itu lantas masuk ke kamarnya, mau mandi.
Beberapa saat kemudian, Dea mengetuk pintu kamar Daniel.
Tok tok tok
"Apalagi tuh bocah!" Daniel yang sudah berpakaian santai dan bau wangi, berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu kamar dan wajah Dea menyembul di balik papan tebal itu.
"Apa?" tanya Daniel ketus.
"Mau aku bikinin kopi?"
"Nggak usah!"
Karena Dea hanya nawarin kopi, Daniel pun menutup pintunya lagi.
Tok tok tok
"Apalagi Dea? Aku capek ... mau istirahat."
"Em ... itu!"
"Jangan berbelit-belit, katakan langsung!"
"Ada acara camping di kampus."
"Terus?"
"Boleh ya ... aku mau ikut." Dea memasang wajah penuh harap.
"Tidak!" Daniel langsung menutup pintu kamar. Terdengar dari luar, pria itu mengunci kamarnya.
Dea masih shock, "Ih ... pria yang menyebalkan!" ucap Dea sambil menendang pintu.
"Aduh!" Kakinya malah terasa sakit.
***
Pagi harinya, sebelum berangkat ke kampus. Dea masih mencoba membujuk Daniel. Kali ini dia membuat sarapan untuk pria tersebut. Nasi goreng andalan, hanya itu menu yang bisa Dea buat.
"Ada angin apa? Biasanya juga beli!" cibir Daniel.
Dea yang semula akan tersenyum, langsung menelan kembali senyumnya itu. Daniel memang jago dalam sindir menyindir. Benar-benar pria nyinyir, pantes dan cocok jadi CEO lambe turah-turah.
"Jangan harap nasi goreng ini bisa mengubah keputusanku!"
"Sial!" gumam Dea. Rasanya susah sekali mengelabuhi Daniel.
Selesai sarapan, Daniel langsung ke kantor. Ia tidak mengantar Dea, karena istrinya itu berangkat sendiri pakai mobil yang diberi oleh Mama Rosie.
Begitu sampai di ruang kerjanya, Daniel langsung menghubungi Kim.
"Bagaimana? Kerjamu lamban sekali, Kim!" ucap Daniel saat bicara di ponsel.
"Saya sedang berada di depan kampus Nona Dea, seperti perintah Tuan."
"Bagus! Awasi terus, dan laporkan kalau ada sesuatu yang aneh."
"Aneh bagaimana, Tuan?"
"KIMMM!"
Sekretaris Kim langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, suara Daniel bisa saja merobek gendang telinga. Setelah sambungan telpon terputus, Kim menghela napas panjang. Dilihatnya Dea sedang bersenda gurau dengan seorang pria.
"Nona Dea, tolong jangan mengali kubur untukku!" gumam sekretaris Kim. Bersambung.
happy ending, senang bacanya 😍😍