NovelToon NovelToon
Rumah Di Samping Kuburan

Rumah Di Samping Kuburan

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:273.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosa_Nanda

Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.

Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.

Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.

Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.

Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Gigi yang Aneh

Sudah hampir satu bulan, Kang Dedi, menderita sakit gigi.

Awalnya dia mengira, itu sakit gigi biasa.

Namun, setelah dia di tengok oleh Saudaranya, barulah dia merasa ada yang aneh, dengan sakit giginya itu.

"Sudah hampir satu bulan, kamu tidak jualan kang." Deni, adiknya Dedi, bertanya keheranan.

"Iya Den! Aku juga heran." Sahut Dedi, dengan wajah yang meringis menahan sakit.

"Itu... Lho! Ipar, yang jadi heran, sakitnya itu... Datangnya, dua jam sebelum mau berangkat jualan. Sampai jam delapan malam lah. Kakakmu itu kan, jualannya sore hari." Mbak Ani ikut nimbrung. Sambil meletakan cangkir yang berisi air teh hangat, dan kue untuk teman minumnya.

"Maksudnya... Bagaimana Mbak?" Wajah Deni nampak keheranan.

" Iya... Sakitnya itu lho? Dari pagi tidak terasa apa-apa, walau pipinya kelihatan bengkak. Tapi, di saat mendekati berangkat... Waduuh... Itu sakitnya, bikin melas Aku melihatnya." Ujar Mbak Ani lagi.

"Kalau sekarang, berarti tidak sakit?..." Deni bertanya lagi.

"Tanya aja sendiri." Ujar Mbak Ani.

"Sekarang kan masih siang, ya Enggak sakit. Biasanya, nanti... Mulai jam dua sampai jam delapan malam, waduuh... Itu sakitnya minta ampun!" Kang Dedi menjelaskan perihal sakitnya itu.

"Sakitnya itu... Serasa semua gigi ini di copotin. Terasa di tarik-tarik pake tang. Ngilunya... Enggak kuat Saya nahan sakitnya itu." Lanjutnya lagi.

"Melihat waktu sakitnya, tepat! Saat Akang bersiap-siap mau jualan kan?... Seperti yang mencegah supaya Kang Dedi, tidak jualan ya. Kok! Penyakit, bisa seperti itu ya?... Aneh, tak masuk akal!"

Deni berujar, sambil mengernyitkan keningnya.

Dia, nampak berpikir keras.

"Sudah di obati kemana saja Kang?..." Tanyanya lagi, sepertinya penasaran.

"Ya... Ke dokter gigi lah!" Sahutnya.

"Bolak-balik ke dokter gigi. Selama sebulan, lumayan lah, bikin tabungan habis. Mana Enggak bisa usaha lagi. Sekarang, Enggak nyiapin bahan buat jualan lagi. Sayang-sayang uang. Kalau waktu pertama sakit, selama seminggu, Saya tiap hari nyiapin bahan-bahan untuk jualan. Sudah siap-siap, eeh... Gigiku sakit banget! Akhirnya... Ya rugi lah." Ujar Kang Dedi.

"Sudah ke dokter bolak-balik, pake obat herbal, pake ini, itu. Satupun Enggak ada yang mempan, Heran." Lanjutnya lagi.

"Aduuuh.... " Tiba-tiba, Kang Dedi berteriak, mengaduh kesakitan.

Pipinya memerah...

Bengkaknya makin membesar.

Kang Dedi nampak begitu tersiksa. Dia mengaduh kesakitan.

"Bagaimana ini Mbak?..." Deni kebingungan.

"Gigiku... Hu... Wuaduuuh...Sakiiiit...!" Teriaknya, sungguh! Sangat kesakitan nampaknya.

Sakit yang di deritanya, nampak lebih parah dari biasanya.

Dia berguling kesana-kemari.

Tak beraturan.

"Ada apa ini?..." Bu Heni datang dengan tergopoh-gopoh.

Rupanya, suara teriakan Kang Dedi, sampai ke telinganya Bu Heni.

"Ya Allah...! Kang Dedi kenapa?..." Ujarnya keheranan.

"Sakit gigi, Bu." Sahut Mbak Ani.

"Kenapa bisa begini?..." Bu Heni Khawatir dan ketakutan nampaknya. Dia mundur beberapa langkah.

"Kita ke dokter aja Mbak! Kasihan kang Dedi." Deni merasa Khawatir dengan keadaan kakaknya, yang tak henti mengaduh kesakitan.

Merekapun berangkat ke dokter, untuk kesekian kalinya, gigi Kang Dedi di periksa kembali.

"Ini Saya kasih resep, untuk meringankan rasa sakitnya. Tapi, harganya lumayan lebih mahal daripada obat yang kemarin. Semoga, obat ini cocok ya Bu ya." Ujar dokter, sambil memberikan resep obat, untuk mengobati sakit gigi Suaminya.

Sebelum pulang ke rumah, mereka mampir dulu ke Apotek, untuk menebus obat.

"Semuanya jadi, Dua juta tujuh ratus delapan puluh ribu rupiah." Ujar petugas Apotek.

"Apa Mbak?... Dua juta, tujuh ratus delapan puluh ribu?..."

Mbak Ani dan Deni terperanjat kaget, mendengar harga obat yang fantastis itu.

Menurut Mereka, memang harga segitu sangatlah mahal. Mungkin tidak bagi orang lain.

"Kenapa Mbak?..."

Mbak Ani bergumam pelan "Uangnya kurang... Aku hanya punya segini..." Di sodorkannya uang yang ada di tangannya.

Hanya enam ratus ribu rupiah. Masih banyak kekurangannya.

"Saya punya segini Mbak, buat nambah-nambah." Deni memberikan uangnya sebesar tigaratus ribu.

Tangan Deni, di singkirkan nya.

Dia tidak mau merepotkan Adik iparnya.

"Enggak usah.. Terimakasih."

"Enggak apa-apa Mbak... Saya ikhlas." Sahutnya.

"Enggak usah..." Mbak Ani menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mau merepotkan Adiknya.

Dia lepaskan kalung emas yang dipakainya. Perhiasan satu-satunya, yang masih tersisa.

Gelang, dan cin-cin nya, sudah lama di jualnya. Waktu Kang Dedi, baru beberapa hari kena penyakit aneh itu.

"Mudah-mudahan, uang dari hasil penjualan kalung ini, cukup untuk membeli obatnya Kang Dedi."

"Saya nitip Suamiku, Sebentar. Saya mau menjual ini dulu." Ujar Mbak Ani.

"Saya anterin ya Mbak. Takut ada apa-apa. Kang Dedi, biar kita titipin ke suster saja. Bagaimana?..." Deni memberikan usulan.

Mbak Ani menganggukan kepalanya, dia setuju dengan usulan adik iparnya itu." Baiklah."

Ternyata...

Uang hasil penjualan kalung itu, belum mencukupi.

Hanya ada Satu juta, dua ratus lima puluh ribu rupiah saja. Karena, tiap gramnya kena potongan.

"Masih banyak kekurangannya..." Gumamnya sedih.

"Bagaimana, kalau kita tebus

obatnya separonya saja?..."

Deni menyarankan.

"Iya ya... ! Benar itu. Ayo!" Mbak Ani merasa senang, karena, mendapatkan jalan keluarnya.

Bergegas mereka menuju ke Apotek, untuk menebus obat.

*****

seminggu sudah berlalu, tapi, tidak ada perubahan sama sekali, pada penyakitnya Dedi. Obatnya sudah habis. Tapi, penyakitnya masih saja betah, bersarang di sana.

Entah harus di obati pakai obat apa lagi.

Tabungan dan seluruh perhiasan yang ia punya, sudah habis tak bersisa...

Semuanya di pakai untuk pengobatan suaminya.

Tapi, sedikitpun penyakitnya itu berkurang. Tak ada perubahan sama sekali.

Penyakitnya Dedi, makin berat saja. Sampai dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Penyakitnya semakin parah.

Mereka sudah tak tahu lagi, harus di obati pakai apa?... Dan, di obati kemana?...

Harta yang berharga satu-satunya, tinggal sepeda motornya.

Itupun, mungkin tidak akan lama lagi, pasti akan di jualnya juga.

Untuk kebutuhan sehari-hari, untuk pengobatan Suaminya, juga untuk membayar Kontrakannya.

Benar saja!

Saking sudah tidak punya apa-apa lagi, akhirnya...

Motor pun terpaksa di jualnya.

Menempati rumah kontrakan itu, hanya dalam beberapa bulan saja, sudah meludeskan seluruh harta bendanya.

Usahanya hancur, tak berjalan sama sekali.

"Sebaiknya... Kita pindah rumah saja pak. Sudah tidak ada harapan lagi untuk terus menempati rumah ini. Uang kita sdah habis." Mbak Ani, sudah tidak punya pilihan lain lagi, kecuali pindah rumah.

Sambil menahan sakit yang semakin menjadi, Kang Dedi Hanya menganggukkan kepalanya.

Airmata, nampak menetes di kedua pipinya. Karena, rasa sakit yang sudah tidak dapat di tolerir lagi.

Diapun merasa sudah tidak sanggup lagi untuk terus tinggal di rumah itu.

Penyesalan terukir di wajahnya.

1
Ira Noviana
ada bagian yg typo
Rosananda: iya, kak ma'af🙏 maklum baru belajar hehe.
Makasih kak sudah mampir, dan makasih pula komennya.
Salam kenal
total 1 replies
Siti Arbainah
trus si Bu Mar jdi bikin usahanya Bunga dan Angga bermasalah gak thor
Siti Arbainah: iya kak😊
total 5 replies
Siti Arbainah
boleh gak sih curiga sama si Eyang Kurdi itu kan dia pernah bilang klo penghuni pohon beringin itu minta tumbal jangan" itu cma rencana dia aja dan skarang rumah itu bnyak teror jga gara" dia lgi
Irka NaArra
nurustunjung aki aki teh,,
Irka NaArra
semangat,,next bikin cerita horror lgi y,
Rosananda: InsyaAllah, terimakasih sudah mampir... dan makasih juga jejaknya.
total 1 replies
Rosananda
makasih sudah mampir
Kak Ya
sukurin kurdi
Kak Ya
jgn d ksh bu 🤭😁
Kak Ya
hindun nya cengeng bgt thorr .. takut dikit nangis. balapan nangis ma anak nya kalo lg ketakutan.
Alief As Syaikh
kok namanya ganti ganti lurr
Jhulie
wah suka nih ma novel horor, aq masukin rak dulu
Rosananda: makasih sudah mampir.
total 1 replies
Bayu Ridwan
mudah"an si kurdi kecebur got kepalanya dulu
Putri Handayani
aku mampir di sini ya kak, semangat upnya 💪💪💪
Edi yuzzardy
action nya kurang...jdi bnyak d skip n males baca lagi,banyak obrolan2 yg gk ke inti cerita...
Rosananda: ma'af kak 🙏 bukannya nyeleweng ke cerita majalah hidayah, tapi itu kan salah satu tokoh yang pernah menempati rumah di samping kuburan itu, dan meninggalnya dengan cara seperti itu. Begitu ceritanya kaka... Terimakasih sudah mampir.
total 2 replies
Edi yuzzardy
jadi nyeleweng ke cerita majalah hidayah ya wkwkwkw..pdhal tema rmh smping kuburan..apa hubungannya...ni jdul nya jgn rmh samping kuburan tp yg lain aza seauai cerita di mjlh hidayah,eyang kurdi susah di kubut hahahahaa....anehhh....jdi gk penting ke isi cerita
Nova Marlina
maaf thor nma ustadz ny soleh apa sulaiman ?
Rosananda: ma'af salah nulis.
total 1 replies
Yuzu💕
semangat thor..

salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
Rosananda: makasih sudah mampir.
Salam kembali 🙏
total 1 replies
Dhina ♑
maaf 🙏🙏

"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.

itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔
Dhina ♑: semangat berkarya, pantang menyerah
total 2 replies
Nova Marlina
ini nama suaminya anjar ap angga sih ?☺️
Rosananda: terimakasih koreksinya 🙏
total 2 replies
Nova Marlina
suka deh ceritanya..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!