NovelToon NovelToon
Istri Satu Miliar

Istri Satu Miliar

Status: tamat
Genre:Contest / Nikahkontrak / Nikah Kontrak / Obsesi / One Night Stand / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.6
Nama Author: Eka Pradita

"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."

Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.

Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.

Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?

Follow Instagram Author : ekapradita_87

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa Geram

Selamat membaca!

Setelah menyelesaikan makan bersama, kini semuanya berpindah tempat dari ruang makan ke ruang santai keluarga, agar lebih leluasa untuk berbincang-bincang membahas mengenai rencana pernikahan Melani dan Revan.

Sebuah ruang keluarga yang luas dengan beberapa sofa yang mengelilinginya, sebagai kepala rumah tangga, Rangga memang sengaja menginginkan desain ruang keluarga sedemikian rupa karena mengingat di rumahnya bukan hanya ditempati oleh dirinya, tapi keempat anaknya yang lain juga pasangan mereka.

Lagi dan lagi Melani dibuat kagum dengan semua tempat yang berada di rumah kediaman Revan karena selain luas dan megah, semua furniture yang memenuhi seisi rumah sangat dapat memanjakan mata siapapun yang melihatnya.

Kini semua sofa di ruang keluarga sudah terisi penuh dengan seluruh anggota keluarga Revan, mulai dari ketiga kakak-kakaknya juga pasangan mereka masing-masing, belum lagi keponakan Revan yang berjumlah 6 orang, membuat suasana kala itu kian terdengar ramai.

Saat ini Melani dan Revan sudah duduk saling bersebelahan dengan jarak yang lumayan renggang. Ada perasaan gugup yang dirasakan oleh keduanya. Terlebih mereka harus melakoni sandiwara di depan seluruh keluarga besar Revan yang jumlah bisa katakan seperti satu tim sepakbola. Namun, mereka mencoba untuk tetap tenang dan rileks, walaupun harus dengan susah payah.

"Kamu bisa Mel, harus tenang. Anggap saja ini seperti shooting film, Mel," gumam wanita itu yang sedang merasakan debaran jantungnya berdegup tak karuan saat ini.

Setelah lama hening, kini Rangga pun mulai membuka percakapan mengenai rencana pernikahan Revan dan Melani.

"Revan, jadi kapan kamu dan Melani akan menikah?" tanya pria paruh baya yang masih tampak gagah itu, menanyakan kepastian dari putra bungsunya.

Revan mengusap tengkuknya dan mulai menghirup napas panjang. "Dad, aku dan Melani belum terpikirkan untuk menikah karena kami masih ingin fokus dengan karir masing-masing. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk kita membicarakan masalah ini."

Saat suasana terasa mulai dingin, kakak-kakak Revan berusaha untuk tidak ikut campur dan fokus pada anak mereka masing-masing. Sedangkan Tamara tampak canggung, hingga dirinya hanya mampu memilin jemarinya yang entah kenapa terasa mulai dingin.

"Itu bukan jawaban yang tepat, Revan. Bukankah Daddy menyuruhmu untuk membawa calon istri pilihanmu sendiri, agar pernikahanmu dengan Marion yang telah kami rencanakan batal terjadi? Sekarang apalagi yang kamu tunggu sampai kamu harus menunda pernikahanmu lagi?" tanya Rangga dengan sorot mata yang tajam saat menatap wajah Revan penuh raut ketidaksukaan.

"Dad, aku masih butuh waktu untuk mengenal Melani lebih jauh lagi, begitupun dengan Melani yang ingin mengenal aku lebih dalam. Kita berdua tidak ingin tergesa-gesa untuk menikah, kalau suatu hari nanti kami cekcok karena berselisih paham atau tidak sependapat juga sepemahaman dan ujung-ujungnya rumah tangga kami hancur berantakan, apa Daddy ingin itu terjadi?" Revan terus memutar otak agar dapat memberikan jawaban yang terdengar masuk akal.

"Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk waktu pengenalan kamu dan Melani. Kalau kamu tidak bisa memutuskan tanggal yang baik untuk hari pernikahan kalian, biar Daddy yang memutuskan. Satu bulan lagi kalian akan menikah!"

Revan tampak geram setelah mendengar perintah Rangga yang semaunya sendiri, tanpa memikirkan keinginannya. Ia pun menyugar rambutnya dengan kasar untuk mengusir keresahan dalam dirinya yang kian membuncah. Saat ini pria itu seolah terjebak dengan sandiwaranya sendiri dan terlihat bingung untuk menemukan cara, agar dapat lolos dari rencana sang ayah yang sudah menentukan tenggat waktu pernikahannya dengan Melani.

"Sial, aku tidak mungkin menikahi Melani. Bagaimana dengan Jessika kalau pernikahan itu sampai terjadi. Aku harus bisa mengulur waktu yang Daddy berikan, setidaknya sampai Jessika kembali pulang dua bulan lagi!" batin Revan dengan kedua tangan yang terlihat mengepal erat.

"Dad, satu bulan itu waktu yang terlalu cepat untuk aku dan Melani menikah. Bagaimana kalau dua bulan lagi? Aku mohon berikan waktu yang masuk akal, agar kita berdua bisa mempersiapkan segala sesuatunya secara matang!" pinta Revan dengan raut memohon.

Rangga mendesah kasar mendengar permintaan yang terlontar dari mulut putra bungsunya itu. "Apa kamu bisa memegang perkataanmu, Revan? Dua bulan tidak akan mundur lagi!" tanya pria paruh baya itu penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.

Revan mengangguk patuh. "Iya Dad, aku akan memegang perkataanku kali ini."

"Baiklah kalau begitu. Dua hari lagi Mommy dan Daddy akan datang ke rumah Melani untuk bertemu orang tuanya dan membicarakan soal pernikahan kalian yang akan berlangsung dua bulan lagi."

Perkataan Rangga sontak membuat Revan begitu terkejut, begitu pun dengan Melani yang saat ini tak menyangka dan bingung harus menjelaskan apa kepada sang ibu tentang sandiwara yang tengah dijalaninya saat ini.

"Kenapa secepat itu, Dad? Apa tidak bisa diundur satu bulan lagi?" tanya Revan mencoba kembali mengajukan penawaran.

"Memang semuanya harus dilakukan dengan cepat karena Daddy tahu seperti apa sifatmu yang sering berubah pikiran, walau sudah mengambil keputusan. Daddy melakukan semua ini, agar kamu tidak berani macam-macam di luar sana dan tetap setia pada satu wanita, yaitu Melani. Daddy ingin kamu mencontoh Daddy dan Kakak-kakak kamu yang bisa setia hanya pada satu pasangan. Lihat Ricky dan Tristan, mereka belum terlalu lama mengenal pasangan mereka dan sudah memutuskan untuk menikah tanpa menunda-nunda seperti kamu, tapi lihatlah pernikahan mereka sampai detik ini selalu harmonis karena Ricky dan Tristan tidak pernah nakal di luar sana, hati mereka hanya untuk pasangan mereka."

Tamara tampak mengusap lengan suaminya dengan penuh kelembutan. "Dad, cukup. Jangan bahas soal itu ya," pintanya dengan setengah berbisik di depan telinga Rangga.

Perkataan sang ayah membuat Revan jadi bersungut kesal karena sang ayah sering kali membanding-bandingkan dirinya dengan kedua kakak laki-lakinya.

"Cukup ya, Dad. Ini yang buat aku malas untuk tinggal di rumah Daddy karena keberadaanku di sini selalu dibandingkan dengan Ricky dan Tristan. Jadi terus saja membanggakan mereka dan menyudutkan aku. Lama-lama aku malas untuk datang ke rumah ini lagi!"

Revan pun bangkit dari posisi duduknya dengan emosi yang kini sedang meletup-letup karena dibalut amarah yang saat ini telah memuncak dalam dirinya.

Ricky yang melihat Revan hendak melangkah pergi dari posisinya, segera coba menahannya. "Van, duduk! Daddy belum selesai bicara sama kamu!" titahnya yang tak beranjak dari tempatnya duduk.

"Buat apa lagi aku mendengarkan Daddy yang terus membanggakanmu! Telingaku panas lama-lama ada di rumah ini, lebih baik aku balik ke apartemen dan istirahat dengan tenang di sana!" ucap Revan yang tak dapat lagi menahan emosinya.

"Ayo, Mel. Aku antar kamu pulang!" ucap Revan dengan segera menarik lengan Melani yang masih duduk di posisinya secara kasar.

Melani sempat mengaduh kesakitan, hingga membuat Rangga bangkit dari posisi duduknya. "Jangan kamu lampiaskan amarahmu pada Melani, Revan!"

Revan tak ingin menanggapi perkataan Rangga yang telah membangkitkan amarahnya. Ia terus menghiraukan sang ayah dan segera mengajak Melani untuk ikut dengannya keluar dari rumah yang terasa seperti neraka baginya.

"Semuanya, aku pamit pulang dulu. Maaf atas kejadian ini." Melani menyempatkan diri untuk meminta maaf pada keluarga Revan, walau tahu ini semua bukanlah kesalahannya.

Tak ingin terlibat dengan pertengkaran yang sedang memanas antara Rangga dan Revan, semua yang berada di ruang keluarga hanya mampu geleng-geleng kepala melihat sikap arogan Revan yang sangat jauh berbeda dari Rangga, Tristan dan juga Ricky. Pria itu memang keras kepala yang tidak suka diperintah, mata hatinya saat ini masih tertutup karena sudah salah pergaulan selama bertahun-tahun lamanya terbiasa hidup jauh dari keluarga.

"Ya Tuhan, kenapa Revan begitu mudah tersulut emosi, sekalipun itu di hadapan wanita yang dia cintai. Sekarang aku sangat takut dia khilaf dan malah menyakiti Melani yang tidak bersalah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Tamara bertanya-tanya dalam hati.

Saat Tamara ikut bangkit dari posisinya dan hendak beranjak pergi untuk menyusul Revan, tiba-tiba saja Rangga menahan langkahnya dengan menggenggam tangannya erat.

"Mom, tidak perlu mengejar Revan ya, tetaplah duduk di sini. Biarkan Melani yang meredakan emosinya saat ini!" titah Rangga dengan suaranya yang halus, ditambah sentuhan lembut pada lengan istrinya yang diminta, agar kembali duduk pada posisinya semula.

Tamara menghela napas berat dan akhirnya ia kembali duduk, walau dengan perasaannya yang cemas.

"Ya Tuhan, lembutkanlah hati Revan saat ini. Semoga keberadaan Melani di sampingnya mampu membuat Revan berubah secara perlahan karena aku yakin Melani wanita baik dan yang mampu memberikan energi positif untuk anakku," batin wanita paruh baya itu berdoa dalam hati.

🌸🌸🌸

Bersambung✍️

Berikan komentar positif kalian ya.

Terima kasih banyak.

1
Aisyah Ajamu
ada videonya gak
ira
bgs Daddy selidiki sampe akar² nya trs jg nnti selidiki jg Jessica
ira
licik kali lah si Revan ini ternyata itu semua ulahnya aku sumpahin kamu Revan bucin akut kepada Melani 😁😁
ira
aku sih berharapnya Revan duluan yang Bucin kepada Melani 😁😁
ira
aman Bu uangnya Melani banyak jadi ibu puas mau belanja apa aja 😁😁
ira
sebenarnya apa yang membuat Revan bersikap dingin seperti itu kepada daddynya sendiri 🤔🤔 setelah dirimu mengetahui perselingkuhannya Jessica apakah rasa cintamu masih ada untuk wanita jalang itu
ira
hayo lo Revan ketahuan kan diintrogasi itu sama Daddy
ira
betul sekali Daddy selidiki dengan segera Revan itu cuman bersandiwara saja visualnya Daddy ganteng kali😆😆
ira
semoga pas ke Paris perselingkuhannya Jessica diketahui oleh Revan 😁😁😁bagus sekali acara pernikahannya dimajukan
ira
betul banget tuh daddy harus diselidiki terutama kelakuannya Jessica
ira
semoga sandiwara mereka jadi kenyataan
ira
justru itu Mel kmu hrs buat Revan jth cinta kpd mu
ira
doa kn ya mah supaya Revan berjodoh dgn Melani🤭
ira
itu berarti kamu masih mempunyai rasa kan kepada Melani, al
ira
kamu tuh nggak sadar aja Revan sebenarnya udah ada rasa kan kepada Melani
ira
bukan main 16 m terus pajaknya setahun berapa itu 😆😆😆
ira
semoga kebusukan Jessica segera terungkap agar Revan merasakan yang namanya sakit dikhianati ya anggap saja itu sebagai balasan dari dia telah menyakiti Melani 🤣🤣🤣
ira
lbh cantik visualnya Melani🤭🤭 heh Revan kekasih tersayangmu malah bercinta di luar negeri sana dan kau Dengan bodohnya percaya dia setia 😆🤣🤣
ira
manfaatkan waktumu Melani buat Revan jatuh cinta kepadamu sampai bucin akut supaya pernikahanmu makin lancar
ira
aamiin mah semoga doa² mu terkabulkan dn Revan jdi bucin bngt KPD melani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!