Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Diaz memalingkan wajahnya perlahan dari jendela.
Di bawah temaram cahaya fajar yang menyelinap masuk, ia melihat Ganda yang masih bersimpuh di lantai marmer yang dingin.
Pria yang kemarin berdiri begitu gagah dengan wibawa seorang anak kiai, kini tampak begitu luluh dan rapuh di samping ranjangnya.
Jasnya yang berantakan, rambut yang kusut, serta gurat kecemasan yang mendalam di wajah tampan itu menunjukkan bahwa ia benar-benar berada di titik terendahnya.
Melihat keras kepalanya Ganda yang menolak melepaskannya, Diaz menarik napas pendek yang terasa sesak di dada.
Ia tahu, kabur lagi dalam kondisi fisik yang ambruk seperti ini hanya akan sia-sia.
Jika Ganda meminta persyaratan agar pernikahan ini tetap tegak, maka Diaz yang akan mendikte aturannya sendiri.
Akhirnya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia meminta Ganda untuk bangkit dan mendengarkan syarat mutlak darinya.
"Bangun, Ganda. Duduklah. Aku akan berikan syaratnya," ucap Diaz, suaranya sedingin es, tanpa ada riak emosi sedikit pun.
Ganda perlahan bangkit dari simpuhnya dan duduk di kursi dengan tatapan yang sepenuhnya terfokus pada Diaz, siap menerima apa pun konsekuensinya.
Diaz menatap lurus ke dalam manik mata Ganda, lalu mengucapkan kalimat yang seketika membuat atmosfer kamar VVIP itu kembali membeku.
"Jangan sentuh aku. Aku tidak mau berhubungan intim dengan kamu," pinta Diaz dengan nada yang datar namun mutlak tanpa bantahan.
"Pernikahan ini hanya akan ada di atas kertas. Jangan pernah meminta hakmu sebagai suami di atas ranjang, karena ragaku tidak akan pernah bisa menerimanya."
Ganda tertegun sejenak. Kalimat itu menghantam ego kelaki-lakiannya, namun ingatan akan diagnosis dokter dan kalimat keputusasaan Diaz semalam membuat Ganda cepat menguasai keadaan.
Baginya saat ini, menjaga keselamatan dan keberadaan Diaz di sampingnya jauh lebih penting dari apa pun.
Ganda mengembukan napas panjang, lalu mengangguk dengan tegas.
"Baik, Diaz. Aku akan melakukannya," jawab Ganda, suaranya berat dan sarat akan komitmen.
"Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu. Tapi, ada satu syarat dariku yang juga harus kamu penuhi: kamu harus patuh dengan aku sebagai suamimu. Jangan pernah pergi atau melarikan diri lagi tanpa izin."
Ganda memajukan tubuhnya, menatap Diaz dengan tatapan tegas yang tidak bisa diganggu gugat.
"Aku akan memberikan nafkah yang lain; semua kebutuhan fisikmu, pengobatanmu, tempat tinggalmu, bahkan urusan utang perusahaan peninggalan almarhum ayahmu akan aku penuhi seluruhnya. Dan, satu hal yang harus kamu ingat..."
Ganda meraih ujung selimut Diaz, merapikannya dengan sangat hati-hati tanpa menyentuh kulit istrinya. "...kamu tetap menjadi istri pertamaku. Posisi itu tidak akan pernah berubah, baik di depan hukum, di depan Abah, maupun di hadapan Laura."
Diaz kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, membiarkan keheningan pagi meresapi perjanjian sunyi yang baru saja mereka sepakati.
Sebuah pernikahan kontrak tanpa sentuhan fisik, yang kini resmi dimulai di tengah badai poligami yang siap menanti mereka di luar sana.
Ceklek.
Pintu kamar VVIP mendadak bergeser terbuka, memutus keheningan setelah perjanjian sunyi antara Ganda dan Diaz.
Ganda langsung menegakkan punggungnya, sementara Diaz refleks menarik selimutnya lebih tinggi.
Mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Abah, Umi Maryam, dan Laura yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
Atmosfer kamar yang tadinya tenang seketika berubah tegang.
Umi Maryam melangkah dengan dagu terangkat, sedangkan Laura berjalan di belakang Abah dengan mata yang sembap dan wajah bersungut-sungut.
Begitu sampai di dekat ranjang, Laura tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
Ia menatap Ganda dengan pandangan menuntut. "Mas, acara di pondok sudah selesai dari semalam. Harusnya hari ini kita menjumpai keluarga besarku yang masih menginap," ucap Laura, suaranya bergetar manja sekaligus mendesak.
"Aku minta agar kamu adil, Mas. Hari ini kamu harus pulang ke pondok bersamaku. Ini hari pertama kita!"
Ganda berdiri dari kursinya. Penampilannya yang kusut kontras dengan ketegasan yang terpancar dari tatapannya.
Ia melirik Diaz yang memilih memejamkan mata, enggan terlibat.
"Maaf, Laura. Istri pertamaku masih sakit dan kondisinya belum stabil," jawab Ganda tenang namun dingin, menolak mentah-mentah permintaan itu.
"Aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit hari ini."
"Tapi, Mas—"
"Laura," potong Abah. Suara berat nan berwibawa milik pemimpin pondok itu seketika menghentikan rengekan Laura.
Abah melangkah maju, berdiri di antara Ganda dan Laura.
Beliau memandang putra dan menantu keduanya bergantian, lalu mengembuskan napas panjang.
Beliau merasa perlu meluruskan arti keadilan yang sesungguhnya di dalam pernikahan poligami.
"Laura, apa yang dikatakan suamimu itu benar," ucap Abah dengan nada kebapakan yang teduh namun sarat akan ketegasan ilmu agama.
"Dalam Islam, adil kepada istri-istri itu bukan berarti membagi waktu secara kaku menggunakan hitungan matematika di saat ada salah satu yang sedang tertimpa musibah. Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya."
Abah menepuk bahu Ganda sekilas sebelum melanjutkan.
"Saat ini Diaz sedang sakit parah, kondisinya kritis. Memenuhi hak perawatan untuk istri yang sedang sakit dan membutuhkan perlindungan adalah prioritas utama seorang suami. Jika Ganda meninggalkan Diaz dalam kondisi seperti ini demi bersenang-senang di hari pertamamu, justru di situlah Ganda berbuat zalim dan tidak adil. Kamu harus bisa berlapang dada menerima takdir ini, Laura."
Umi Maryam yang sejak tadi menahan diri, langsung maju setapak dengan wajah masam.
"Tapi Abah, mosok Ganda harus telantarkan Laura yang jelas-jelas—"
"Maryam."
Abah memotong ucapan istrinya dengan satu panggilan pelan.
Beliau tidak menaikkan nada suaranya, namun kilat mata sepuh Abah yang menatap tajam ke arah Umi Maryam mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.
Umi Maryam yang biasanya dominan, seketika terdiam seribu bahasa dan melangkah mundur dengan bibir terkatup rapat. Suasana kamar menjadi senyap.
Tok! Tok!
Ketegangan itu sedikit mencair saat seorang perawat masuk dengan senyum ramah, membawa nampan berisi menu sarapan khusus dari instalasi gizi rumah sakit.
Di atas nampan itu, tersaji semangkuk bubur soto ayam hangat yang harum, lengkap dengan segelas susu kedelai hangat untuk memulihkan energi Diaz.
Melihat makanan sudah datang, Abah kembali menatap Ganda.
"Ya sudah, Ganda. Jaga istrimu baik-baik. Pastikan dia makan dan meminum obatnya."
Abah kemudian berbalik, memandang istri dan menantu keduanya.
"Ayo, Umi, Laura, kita pulang ke pondok. Biarkan Ganda menyelesaikan kewajibannya di sini."
Mendengar keputusan mutlak dari Abah, Laura hanya bisa mengerucutkan bibirnya jengkel. Ia menghentakkan kakinya pelan di lantai, menatap Diaz dengan pandangan penuh dendam sebelum akhirnya terpaksa membalikkan badan mengekor di belakang Abah dan Umi Maryam yang berjalan keluar dari kamar VVIP.
Pintu bergeser menutup rapat, menyisakan aroma bubur soto yang mengepul hangat di tengah sunyinya kamar rawat Diaz.
Ganda membawa nampan sarapan itu ke dekat ranjang.
Aroma gurih kaldu soto ayam yang mengepul hangat perlahan memenuhi ruangan, mencoba mencairkan atmosfer dingin yang membekukan mereka berdua sejak tadi.
"Diaz, ayo makan dulu," ucap Ganda lembut, menyendok sedikit bubur soto dengan sangat hati-hati.
"Biar tubuhmu cepat pulih, dan kita bisa langsung pulang dari sini."
Diaz membuka matanya perlahan. Ia tidak menatap sendok yang disodorkan Ganda, melainkan menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan senyum getir yang tersungging di bibir pucatnya.
"Langsung pulang..." desis Diaz lirih, suaranya terdengar sarkas. "...atau kamu sebenarnya cuma sudah tidak tahan ingin menghabiskan malam pertamamu yang tertunda dengan Laura?"
Deg.
Tangan Ganda yang memegang sendok sempat bergetar.
Kalimat tajam Diaz menghantam dada pria itu, menguji batas kesabarannya yang sudah terkuras sejak semalam.
Namun, Ganda menolak untuk terpancing emosi. Ia menurunkan sendoknya perlahan ke mangkuk, lalu menatap Diaz dengan tatapan yang teramat dalam dan serius.
"Astaghfirullah, Diaz..." Ganda mengembuskan napas panjang, menahan gemuruh di dadanya.
"Tolong jangan berpikiran seburuk itu tentang suamimu."
Pria itu memajukan tubuhnya, mengunci pandangan Diaz demi menunjukkan bahwa ia tidak sedang bermain-main dengan komitmennya.
"Dengarkan aku baik-baik, Diaz. Jika kamu menutup diri dan tidak memberikanku hakmu sebagai suami di atas ranjang. Maka demi Allah, aku juga tidak akan melakukan hubungan intim dengan Laura selama kondisi di rumah kita belum membaik. Aku memegang janjiku."
Diaz tertegun. Untuk pertama kalinya, gurat keyakinan dan ketegasan mutlak dari seorang Ganda berhasil membuat dinding pertahanan Diaz sedikit goyang.
Ada kesungguhan yang teramat nyata di mata sang anak kiai, menunjukkan bahwa ia rela mengorbankan egonya demi menjaga perasaan istri pertamanya.
Melihat Diaz yang terdiam, Ganda kembali mengangkat sendok bubur soto yang masih hangat itu ke depan bibir Diaz.
Sorot matanya melunak, berganti menjadi sebuah permohonan yang tulus.
"Sekarang makan dulu, ya? Aku mohon, Dik.." bisik Ganda lirih.
Diaz menatap sendok itu, lalu beralih menatap wajah kusut Ganda yang sudah mengabaikan tidurnya demi menjaganya semalaman.
Rasa lapar yang tertahan dan tubuhnya yang sudah terlampau lemas akhirnya membuat Diaz menyerah pada keegoisannya sendiri.
Perlahan, Diaz membuka mulutnya, menerima suapan pertama dari pria yang kini resmi menjadi pelindungnya di tengah badai yang baru saja dimulai.
Setelah suapan terakhir bubur soto itu tandas, Ganda meletakkan mangkuk kosong ke atas nampan.
Ia mengambil segelas air putih hangat dan meraih bungkusan obat dari atas meja nakas.
Dengan telaten, Ganda mengeluarkan sebutir obat tablet penurun stres dan vitamin dari kemasannya, lalu menyodorkannya ke hadapan Diaz.
"Minum obatnya dulu, Diaz," ucap Ganda lembut.
Diaz menerima obat tersebut tanpa bantahan. Ia menelannya perlahan, lalu meneguk air hangat yang diberikan Ganda hingga tandas.
Setelah meletakkan kembali gelasnya, keheningan kembali merayap di antara mereka. Ganda tampak menimbang sesuatu di dalam kepalanya, menatap sisa-sisa kesedihan di wajah istrinya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
"Diaz, kalau kondisi fisikmu sudah enakan, apakah aku boleh tanya sesuatu?" Ganda menjeda kalimatnya sebentar, menatap Diaz dengan penuh kehati-hatian.
"Ini tentang pesan-pesan semalam. Tentang ibumu yang sepertinya bersikap tidak seperti ibu pada umumnya."
Diaz terdiam sejenak. Matanya menatap kosong ke arah selimut putih yang menutupi kakinya.
Alih-alih marah karena privasinya diusik, bibir pucat Diaz justru menyunggingkan senyum getir yang teramat menyakitkan.
"Dia bukan ibu kandungku, Ganda," lirih Diaz, suaranya mendadak tercekat.
Ganda tersentak. Ia tidak menduga jawaban itu yang akan keluar dari bibir istrinya.
"Ibu kandungku sudah meninggal sejak aku masih kecil sekali," lanjut Diaz, dan detik itu juga, pertahanannya runtuh.
Setitik air mata lolos, disusul dengan tangisan yang perlahan pecah.
"Perempuan yang mengirim pesan-pesan kejam itu... dia ibu tiriku," ucap Diaz di sela-sela tangisnya yang mulai sesenggukan.
Bahunya berguncang hebat, meluapkan seluruh rasa sakit yang selama ini ia pendam sendiri tanpa teman berbagi.
"Selama Ayah hidup, dia bersikap sangat manis. Tapi setelah Ayah meninggal dunia akibat komplikasi dan perusahaan mulai goyang, sifat aslinya keluar. Dia, tidak peduli padaku, Ganda! Bagi dia, aku ini cuma aset, cuma barang dagangan yang bisa ditukar dengan uang!"
Diaz menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar.
Tangisnya semakin menjadi-jadi, menyuarakan luka batin seorang anak yang kehilangan pelindung tunggalnya.
"Dia yang menjodohkanku dengan Bramasta demi menutup utang-utang gaya hidupnya sendiri, bukan demi perusahaan Ayah! Dia mengancam akan membuang semua peninggalan Ayah kalau aku menolak. Aku tertekan, Ganda. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini setelah Ayah pergi..."
Melihat Diaz yang menangis sesenggukan hingga dadanya kembang kempis karena sesak, hati Ganda rasanya seperti disayat sembilu.
Rasa iba dan dorongan insting sebagai seorang suami seketika menguasai tubuhnya.
Secara refleks, Ganda memajukan tubuhnya dan mengulurkan kedua lengannya, berniat untuk merengkuh tubuh ringkih Diaz ke dalam pelukannya, memberikan dada bidangnya sebagai tempat bersandar bagi tangis gadis itu.
Namun, baru saja ujung jarinya hampir menyentuh bahu Diaz, gerakan Ganda mendadak terkunci di udara.
Kalimat Diaz beberapa jam lalu mendadak terngiang dengan sangat keras di telinganya:
“Jangan sentuh aku. Aku tidak mau berhubungan intim dengan kamu. Pernikahan ini hanya akan ada di atas kertas.”
Ganda menahan napasnya. Ego dan akal sehatnya berbenturan keras. Pria itu sadar, meski niatnya murni untuk menenangkan, ia harus menghormati garis batas dan persyaratan mutlak yang telah disepakatinya sendiri.
Ia tidak boleh memanfaatkan kerapuhan Diaz untuk melanggar janji.
Dengan berat hati dan perasaan campur aduk, Ganda perlahan menarik kembali kedua lengannya.
Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mengurungkan niat untuk memeluk istrinya.
Sebagai gantinya, Ganda hanya bisa duduk bergeming di kursi, menatap Diaz yang masih terisak pilu dengan pandangan mata yang sarat akan pelindung dan kesetiaan yang sunyi.
"Menangislah, Diaz. Habiskan semua air matamu di sini. Tapi ingat, sekarang kamu tidak sendirian lagi. Biar aku yang jadi tembok pertahananmu dari mereka."
Diaz menganggukkan kepalanya dan setelah itu ia memejamkan matanya yang kembali mengantuk karena obat yang barusan ia minum.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡