Kendrict Arsenio, laki-laki 29 tahun yang berbakat dengan keahliannya dalam bidang kuliner tersebut mendekati keluarga konglomerat, anak tunggal dari Maheswari family demi membalaskan rasa sakit hati saudaranya yang telah meninggal akibat depresi berat, tidak hanya kehilangan seorang saudara, Ken juga kehilangan ibunya.
Ken menyusun strategi untuk mendapatkan perhatian dari keluarga Maheswari, ia pun berencana akan menikahi Felicia Maheswari dengan berbagai cara. Dan dengan ketampanan juga rasa percaya dirinya yang tinggi, Ken berencana membuat Felicia tergila-gila padanya, kemudian mencampakkan wanita itu begitu saja, seperti yang pernah Felicia lalukan pada saudaranya.
Bagaimana kisah pembalasan dendam ini akan berakhir, apakah Ken bisa menampik kecantikan dan kebaikan Felicia yang tulus?
Silahkan baca kisahnya 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
R&L bab 8
Pagi ini, seperti yang sudah di jadwalkan. Felicia dan Freya datang ke hotel untuk menyambut beberapa rekan sekaligus sahabat sesama investor. Hotel ini, sudah resmi berada di bawah wewenang Felicia, Antonie hanya tinggal duduk manis menunggu setiap perkembangannya.
Masih banyak sekali cabang perusahaan dan bisnis yang di miliki oleh keluarga Maheswari, dari merekrut saudara jauh, keponakan, anak dari sahabat lama, hingga orang-orang yang sangat mereka percayai untuk membantu menjalankan semua aset berharga mereka.
Dan kali ini, Antonie sangat menginginkan Kendrict untuk menggantikan Felicia duduk di kursi pimpinan hotel D'Mahri. Felicia pun turut di kerahkan untuk membujuk agar Ken mau bergabung bersama mereka, melihat profil pendidikan juga semua kemampuan Ken, Antonie yakin jika laki-laki itu sesuai kriterianya.
Acara pertemuan bersama orang-orang penting berjalan mulus, Felicia meminta Freya agar menugaskan Ken langsung untuk memasak hidangan makan siang bagi para tamunya.
Freya pun setuju, ia segera memberikan perintah pada pengelola hotel.
Semua tamu dan rekan kerja di ruangan Felicia sangat menikmati setiap makanan yang terhidang, hampir semuanya memuji setiap menu yang ada di hotel ini.
"Selain menyediakan fasilitas kamar yang nyaman, kami juga sangat memprioritaskan kepuasan perut pelanggan," ucap Felicia dengan sedikit bercanda.
Semua tamu tampak setuju, kebanyakan hotel hanya mengandalkan fasilitas dan pelayanan kamar, sebagian besar dari mereka mengabaikan menu makanan yang bisa hotel sajikan. Padahal, banyak dari pecinta kuliner yang juga suka travelling dan mempertimbangkan setiap menu di tempat yang mereka singgahi.
Semua acara berakhir pukul satu siang, dan kini hanya tinggal Felicia dan Freya yang duduk di sofa panjang sambil membolak balikkan kertas di tangan.
"Suruh orang panggil Ken ke ruanganku, aku perlu bicara padanya," pinta Felicia.
"Soal tawaran paman Antonie?" tanya Freya.
"Ya, papa terobsesi dengannya. Padahal, kenal saja belum satu bulan, tapi papa sangat percaya pada Ken," jawab Felicia.
"Wajar, Kak. Ken memang kelihatannya baik dan bisa di percaya, dia bukan tipe laki-laki yang suka neko-neko."
"Kamu sama aja kayak papa, dasar!"
"Ih, emang bener ,'kan?" goda Freya.
"Freya, cepat panggil dia. Kita masih banyak pekerjaan," keluh Felicia setengah berteriak.
Freya tertawa dan mengambil ponsel dalam tasnya, menelpon seseorang untuk membawa Ken masuk ke ruangan Felicia sesuai permintaan wanita itu.
Hampir lima belas menit menunggu, Felicia hampir kehabisan kesabaran, pukul tiga nanti dia ada pertemuan dengan seorang direktur sebuah perusahaan pakaian dalam wanita, Felicia di tunjuk untuk menjadi model sebagai ajang promosi produk terbaru mereka.
"Freya, susul aja si Ken itu. Lama banget!" keluh Felicia.
Freya mengangguk dan keluar dari ruangan Felicia, menjadi seorang wanita pekerja yang di tuntut untuk multitalent dalam segala hal, Felicia sangat membenci orang-orang yang kurang disiplin.
Belum sampai lima menit Freya meninggalkan ruangan, suara ketukan pintu mengejutkan Felicia, ia mengambil remote kontrol di dekatnya dan memencet satu tombol, hingga pintu terbuka otomatis.
"Ken, aku menunggumu hampir dua puluh menit!"
Belum sempat Ken mengatakan sepatah katapun, bukan sambutan yang ia terima, Felicia sudah mencebik dengan wajah cukup kesal.
"Maaf, Nona. Pekerjaanku sedang sangat sibuk, di jam makan siang aku harus mengutamakan pelanggan yang memesan makanan," jelas Ken.
"Aku ini kan pemilik hotel, harusnya kamu lebih mengutamakan perintahku," ucap Felicia tidak mau kalah. "Hotel ini punya lebih dari sepuluh koki, yang lain pada kemana?" lanjutnya.
"Maaf," ucap Ken lirih, ia menundukkan kepala di depan Felicia.
Menghela nafas panjang, Felicia baru mempersilahkan Ken duduk.
"Ada perlu apa nona memanggilku?" tanya Ken.
"Ini soal permintaan papa, bagaimana menurutmu?"
"Rasanya, aku lebih cocok memasak daripada jadi pimpinan hotel, Nona."
"Cukup panggil aku Felicia, kamu bisa akrab sama Freya tapi sama aku kelihatan takut. Apa wajahku menakutkan?" Entah kenapa percakapan mereka tiba-tiba berubah haluan.
Ken hanya diam, menatap wajah atasannya dengan gemas. Kecantikan wanita itu memang sudah tidak di ragukan lagi, wajah yang putih berseri dengan polesan make up menampakkan kesan dewasanya, Felicia memang sudah berumur, namun sikapnya masih kekanak-kanakan.
Namun saat menyadari bahwa wanita di depannya lah yang membuat dirinya kehilangan banyak hal, pikiran Ken berubah kesal.
"Kalau nggak ada yang lebih penting untuk di bicarakan, aku harus kembali bekerja, Felicia!" ujar Ken.
Felicia membulatkan matanya dengan mulut menganga. "Berani sekali dia bicara seperti itu padaku!" gumam Felicia dalam hati.
"Ken, aku cuma butuh kepastian, tolong jangan membuatku hipertensi," decak Felicia. "Papa memintaku membujukmu untuk menjadi pimpinan perusahaan ini, bukankah bagus untukmu sebagai peningkatan jabatan? lebih baik daripada pekerjaanmu sebagai koki."
"Felicia, aku mencintai pekerjaanku. Maaf, sepertinya kalian salah orang. Aku bukan orang yang gila harta dan bercita-cita menjadi konglomerat!" tegas Ken, ia bangkit dari duduknya dan berniat keluar dari ruangan Felicia.
"Ken! aku belum selesai bicara," ucap Felicia.
"Cepat selesaikan!"
"Kalau kamu menolak jabatan ini sebagai wujud rasa terimakasih keluargaku, apa yang kamu inginkan dari kami?" tanya Felicia, kali ini nada suaranya kembali normal, manis seperti wajahnya.
Sejenak, Ken nampak berpikir, ia melihat Felicia yang berdiri di samping meja kerjanya. Ken menatap Felicia dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Bagaimana kalau aku memintamu menjadi istriku?" tanya Ken, wajahnya cukup serius dengan sedikit senyum di sudut bibirnya.
Felicia terkekeh, ia menggelengkan kepala pelan. "Jangan bercanda, aku bertanya serius."
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" tanya Ken.
Felicia terdiam, menatap penuh arti pada Ken yang berdiri gagah di dekat pintu keluar, pekerjaan laki-laki itu memang hanya sebatas koki bagi Felicia, namun tidak hanya masakannya yang menggugah selera, tatapan dan pesona laki-laki itu pula, mampu membuat debaran aneh di dalam dada Felicia.
"Kak," keduanya berpaling pada seseorang yang tiba-tiba masuk dari pintu di belakang Ken.
"Loh, aku ke dapur hotel mencarimu, Ken. Udah di sini rupanya," ucap Freya, ia menatap Ken dan Felicia bergantian.
"Kalian kenapa?" tanya Freya.
"Aku permisi dulu," ujar Ken tanpa menjawab pertanyaan Freya. Ia mengangguk hormat pada Felicia yang masih berdiri canggung.
Freya bingung, ia membiarkan Ken keluar dan melihat Felicia yang juga tampak aneh.
"Kak, kalian kenapa sih? kenapa gitu mukanya?" tanya Freya, ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi sesaat sebelum kedatangannya.
Menghela nafas cukup panjang, Felicia menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya.
"Freya," ucap Felicia lirih. "Tadi, Ken bilang kalau dia memintaku untuk menjadi istrinya sebagai wujud balas budi keluargaku," lanjutnya.
Entah apa yang lucu, Freya tergelak, ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sekaligus mendengar ucapan Felicia.
"Dia hanya menggodamu, Kak. Dia sedang masa pendekatan pada calon pacarnya, kemungkinan, mereka akan segera jadian."
🖤🖤🖤
kalau begini ingin kubuat feli menderita seumur hidup saja tor biar impas sebagai karma dari felix
freya kenapa keceplosan buka rahasia ken dan feli ke ronall😱
antara feli sama ken pasti ada salah paham, musuh sebenarnya pasti sahabat feli biar feli pisah sama mantannya.... nenurutku gitu