TAHAP REVISI🙏
***
Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.
Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.
***
Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.
@dwisuci.mn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di dalam kamarnya, Riza terdiam dengan pandangan lurus ke arah jam yang terus berdetak, dia mencoba menghitung sudah berapa lama dirinya di sini, dan berapa banyak masalah yang sudah terjadi karenanya.
'Coba aja, hadapi masalah dengan tenang. Jangan panik, itu nggak bakal ngatasin masalah kamu.'
'Tugas kita berusaha Vin, berusaha memperbaiki yang rusak. Bukan membiarkannya dan membuatnya hancur lebih parah. Sulit memang, tapi patut dicoba.'
'Nggak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan kamu menghindarinya. Sejauh apapun kamu pergi, selama apapun waktu kamu mengulurnya. Tetap, kamu akan berhadapan lagi dengan masalahmu itu. Jadi, kalo bisa sekarang, kenapa nunggu nanti.'
Kata-kata itu terngiang dengan jelas hingga membuat ia frustasi dan menjambak rambutnya dengan kencang. “****”
***
Keesokan harinya, seperti biasa, Riza sudah ada di sekolah, tentu dengan murid yang lain juga.
“Pengumuman, bagi setiap ketua kelas dan sekretaris kelas dimohon segera berkumpul di ruang OSIS! Terima kasih.”
“Za, ayo! Kita ke sana!” ajak Melin dengan semangat.
“Gia, lo aja!” ucap Riza tanpa mengalihkan pandangan dari buku di depannya.
“Nggak mau! Kamu ketuanya,” tolak Gia seperti biasa, dengan santai.
“Lo wakil ketua, kan, Gia. Jadi, bisa, dong, gantiin gue.”
“Kamu ketuanya, kan, Calvin. Jadi, buat apa aku wakilin kalo ketuanya juga ada.”
Riza berdecak, dia bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan kelas, juga dengan Melin yang melangkah cepat mengikutinya.
“Riza, jangan cepet-cepet, dong!” rengek Melin sedikit berteriak.
“Cepet,” tukas Riza datar.
“Bentar, Za. Susah, nih, pake rok,” ucap Melin, lagi.
“Nggak usah manja, Gia juga pake rok, tapi dia bisa jalan cepet,” ungkap Riza tanpa sadar.
***
Di kelasnya, Nela menggantikan posisi Riza dengan duduk di samping Gia.
“Gi, pulang sekolah main, yuk!” ajak Nela.
“Main ke mana?” tanya Gia sambil mencatat sesuatu di bukunya.
“Ks mana aja, yang penting main gitu,” ucap Nela memelas.
“Sampe segitunya mau main?” tanya Gia terkekeh.
“Ya, kita udah lama nggak main bareng, loh, Gi.”
“Hmm, nanti kita main, ya.”
“Pulang sekolah, ya.”
“Hmmm, ke toko buku.”
“What? Nggak mau kalo ke sana. Itu, sih, enak buat lo doang.”
“Habis, mau ke mana lagi?” tanya Gia.
“Cafe gitu, atau ke mana, kek,” pinta Nela.
“Ya udah, nanti ke Cafe. Mampir toko buku dulu tapi,” jawab Gia final.
“Okelah, eh, Riza, tuh. Gue balik ke meja gue, ya.” Nela beranjak.
“Gia,” panggil Riza setelah duduk di kursi miliknya.
“Ya, gimana?” jawab Gia masih dengan mencatat di buku.
“Gimana apanya?” tanya Riza tak paham.
“Ngomongin apa tadi?” tanya Gia.
“Oh, classmeet!” jawab Riza singkat.
Gia menutup buku yang sedari tadi menyibukkannya, dia menatap Riza. “Lomba?”
“Iya, dan kita harus urus itu,” ucap Riza.
“Kita? Bukannya yang ikut rapat tadi kamu sama Melin?” jawab Gia santai.
“Gue nggak mau berurusan sama dia!”
“Ya, terus?” tanya Gia.
“Lo yang harus urus!” ucap Riza santai.
“Enak aja, dipikir aku pembantu?” balas Gia tak terima.
“Loh, kan, lo wakil gue,” ujar Riza.
“Wakil ketua kelas, bukan asisten pribadi!” jelas Gua penuh penekanan.
“Iya, tapi, kan, lo juga bantu, dong!”
“Nggak ada yang nolak bantu kamu, kok.”
“Serah lo mau ngomong apa,” kesal Riza.
Gua terkekeh, “Ya udah, sih.”
“Oyyy ... tolongin!”
Teriakan itu terdengar dari arah belakang kelas, mereka melihat ke belakang dan mendapati dua orang yang sedang berkelahi dengan saling adu jotos.
“Heh ... pisahin itu, Calvin. Minggir!” Gia mendorong Riza dan segera mendekat ke arah dua orang itu.
“Heyy stopp, berhenti. Kalian apaan, sih, tolong pisahin, dong!” geram Gia yang melihat anak-anak lain hanya menontonnya saja.
“Minggir lo, nggak usah ikut campur!” ucap salah satu anak yang berkelahi itu, Fadil.
“Kalian jangan ribut di sini, dong! Ini kelas, bukan ring.” Gia menatap kedua teman satu kelasnya itu dengan tajam.
“Lo cewek, mending awas, deh. Ini bukan urusan lo!” ucap satunya lagi, Ridwan.
Kedua anak itu kembali berkelahi dengan anak-anak lain yang menyoraki mereka. Riza? Dia hanya melihat dari jarak yang tak terlalu jauh membuat Gia geram dengan hal itu.
“Calvin, pisahin mereka!” teriak Gia menatap tajam Riza.
“Itu bukan urusan kita,” acuh Riza.
“Calvin, kamu ketua kelas! Itu tanggung jawab kamu pisahin mereka,” ucap Gia lantang di hadapan Riza.
“Itu bukan urusan kita, Gia. Nggak usah ikut campur!” balas Riza berteriak.
“Lo kalo nggak bisa tanggung jawab, nggak usah nanggung jabatan itu, beg*!”
Riza dan semua yang mendengar itu tersentak seketika, Bahkan, Fadil dan Ridwan sampai berhenti dari perkelahian mereka.
Nela, Bagas, dan Dafa yang baru saja masuk kelas bergegas menghampiri Gia yang napasnya sudah naik turun mengendalikan emosi, juga Riza yang masih terpaku dengan teriakan Gia tadi.
Nela memegang pundak Gia. “Gi?”
Hening, semua masih diam di tempatnya dengan keterkejutan mereka. Satu Minggu mereka mengenal seorang Gia Annatasya Putri, dan untuk pertama kalinya, mereka melihat sisi lain dari Gia.
Perlahan, Gia mengendalikan emosinya, napasnya mulai stabil dan dia menundukkan wajahnya yang masih sedikit merah karena marah.
“Kalian apa-apa an ini?” teriak seseorang dari luar kelas mengagetkan mereka semua.
Bu Fatin, wali kelas mereka yang awalnya ingin masuk ke kelas sebelah jadi berbelok arah karena mendengar keributan dari kelas anak didiknya.
Semua kembali ke tempat duduknya saat Bu Fatin masuk dan duduk di meja guru.
“Siapa yang bisa jelasin ini semua?” tanya Bu Fatin mengakhiri kesunyian.
“Riza?”
“Gia?” panggil Bu Fatin.
“Maaf, Bu,” lirih Gia dengan kepala masih menunduk.
“Bagas, jelaskan!” pinta Bu Fatin menatap Bagas yang berada di belakang.
“Eh ... tadi, Fadil sama Ridwan berantem, Bu,” jawab Bagas hati-hati.
“Terus?”
“Gia sama Riza juga ikut ribut, Bu.”
“Fadil, Ridwan, ikut ibu, dan buat Gia sama Riza, ibu tunggu pulang sekolah nanti di ruang guru!” ucap Bu Fatin tegas, beliau keluar dengan diikuti Fadil dan Ridwan di belakangnya.
***
Bersambung..
see u next chpt. 🖤
Mohon maaf masih banyak kekurangan. 🙏
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
salken, kak....
Jd terkenang masa SMA ku😁😁