Apa jadinya jika masa lalu terus terulang kembali? Saat kamu mencoba melupakan masa lalu dengan menguburnya dalam-dalam dan menguncinya rapat dalam hatimu sehingga tak satupun celah yang bisa dilihat untuk didekati.
Saat itulah seseorang mengetuk pelan pintu itu dan dan dengan bangganya berkata, "Aku akan jadi seperti matahari, yang akan terus menuntun dan menyinarimu."
Matahari memang sangat indah, tapi bukankah akan tersengat panas jika kita mendekatinya?
Saat kamu merasa nyaman dengan cinta nya saat itulah kamu tau bahwa selama ini kamu dicintai karena dianggap sebagai bayangan seseorang. Masihkah kamu tetap bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Huang Vioren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: It's start from us (2)
Auryn tersadar, ia harus bertanya sesuatu. Auryn pun mengejar gadis itu dan sempat memegang pergelangan tangan si gadis.
"Tunggu.." Pinta Auryn, membuat gadis itu mengerem sepedanya menda dak lagi.
"Apaan sih? Lo suka banget ya liat gue jatuh?" Kata gadis itu menatap Auryn, ralat, melotot pada Auryn.
"Mm...itu...," Auryn tergagap karena menatap mata sayu mengerikan itu.
"Nama lo siapa? Kan gak mungkin gue nganter gitar lo tanpa tau nama lo."
Gadis itu terdiam, wajah nya mulai lebih terlihat tenang daripada sebelum nya. Ia menyelipkan sebagian rambut yang tadi menutupi sebelah matanya kebelakang telinga.
Baru terlihat bagi Auryn, ditelinga kanan gadis itu hanya punya satu tindik putih berbentuk bulan.
"Nama gue Rea Whitears." Ucap gadis yang ternyata bernama Rea tersebut.
"Gue anak Light Class, jadi lo anterin nya siang aja." Jelas Rea.
Kemudian, tanpa berbasa-basi lagi, gadis itu pergi meninggalkan Auryn.
Senyum Auryn mengembang lagi.
"Kayaknya anak baik." Gumamnya.
🎼 🎼 🎼
Auryn duduk diam di dalam mobil mewah berwarna hitam itu. Dalam pikiran nya, ia hanya memikirkan kejadian tadi.
Kejadian aneh. Gadis punk bernama Rea itu sebenarnya bermata teduh. Tapi, kenapa bisa Rea melotot semengerikan itu? Dan juga, kenapa dia tidak meringis sedikitpun saat lengan dan lututnya terluka?
Auryn menggeleng-geleng. Ngapain sih dia mikirin Rea? Harusnya, ia memikirkan bagaimana cara memberi tahu bahwa ia ingin membeli sebuah gitar pada Appa-nya. Appa-nya tau bahwa dia tidak terobsesi dengan gitar.
CKIIIIIIIIIIITTTT!!!!!!!
Kepala Auryn terbentur ke jok supir, untung saja ada bantalan di jok-nya. Jika tidak, mungkin kepala nya sudah bocor saat ini.
"Pak, ada apa?" Tanyanya pada supir sambil menggosok-gosok kepalanya.
"Itu....." Pak supir menunjuk kedepan mobil dan terlihatlah seorang gadis yang sedang terbaring dijalanan.
"Oh my God....!" Gumam Auryn.
Tak perlu menunggu lama, Auryn langsung keluar dari mobil dan melihat keadaan gadis berambut ombre abu-abu itu.
Wajahnya ditutupi dengan helaian rambut indahnya, hingga membuat Auryn tak dapat melihat wajah si gadis.
Auryn menggaruk kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa jika begini. Akhirnya Auryn memutuskan untuk menyibak rambut yang menutupi wajah gadis itu untuk mengetahui identitasnya.
Tapi......!
Dari almamater nya, Auryn sepertinya kenal. Oh, tidak..... Dia adalah salah satu siswi dari Libra Academy.
Bagaimana bisa hari ini dia hampir ditabrak oleh salah seorang siswi Libra Academy yang bersepeda dan menabrak seorang siswi Libra Academy pula dalam waktu kurang dari satu jam?
Dengan mengumpulkan segala keberanian nya, Auryn menyibak rambut tersebut dan yang ia temukan adalah sesuatu yang membuat nya tidak dapat bernafas.
Kalian tau apa?
Darah segar yang mengalir diwajah gadis ini? Bukan.
Wajah hancur dan tak dapat dikenali lagi? Tentu saja bukan.
Mata yang terlepas dari kelopak mata? Udah dibilang bukannn!
Tapi, yang Auryn temukan adalah sesuatu yang lebih mengerikan lagi. Yaitu mata hitam barbie gadis itu melotot padanya. Membuat Auryn terlonjak kaget dan berteriak histeris.
"Aaaaa!!"
"Aaaaa!!"
Kedua gadis itu sama-sama berteriak dan terkejut. Gadis berambut ombre abu-abu yang tadinya terkulai diatas jalanan kini terduduk dan matanya semakin melebar dari yang tadi.
Kedua gadis itu memegang dadanya yang bedentum kencang. Setelah detakan jantung mereka mulai normal, wajah mereka pun juga terlihat normal.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Auryn.
"Hah? Emang gue kenapa?" Tanya gadis itu lagi sambil celingak-celinguk melihat lingkungan disekitar nya.
Sebenarnya, apa yang terjadi dengan gadis ini? Apa dia tidak punya tempat tinggal hingga harus tidur ditengah jalan? Menyedihkan sekali!
"Kayanya gue pingsan lagi, deh!" Kata gadis itu.
'Lho? Pingsan ditengah jalan? Gak elit banget.' Auryn membatin.
"Kenapa lo bisa pingsan? mau gue anterin kerumah sakit gak!?" Tanya Auryn.
Gadis itu berdiri dan membersihkan roknya. "Gak apa-apa. Cuma kecapekan aja, kok. Udah biasa." Kata gadis itu enteng.
'Hah? Emang lo udah pingsan dimana aja sangking biasanya?' Kata batinnya lagi.
"Udah jam berapa?" Tanya gadis itu tiba-tiba membuat Auryn melirik arlojinya.
"Jam 10 malam lewat 07 menit." Jawab Auryn
"Duh, telat lagi." Gumam gadis itu.
Ia melirik almamater Auryn. "Lo anak Libra Academy? Kok gue gak pernah liat? Anak baru ya?" Tanya gadis itu
Auryn tersenyum canggung. "Iya." Jawab Auryn seadanya.
"Oh, hai... Nama gue Kim Michellia Nana, panggilnya Nana aja. Gue anak XI-5 Night class." Intro gadis yang ternyata bernama Nana itu tanpa diminta.
Akhirnya tau juga namanya. Capek bilang gadis itu mulu...😅😅#ignore
"Wah, night class? Pantesan aja lo kecapekan". Kagum Auryn.
"Nama gue Jung-Auryn panggil Auryn aja. Gue dari XI-1 Day class." Intro Auryn kembali.
"Marga Korea? Gue juga!! Salam kenal." Ucap Nana-kim menjulurkan tangannya.
Auryn menatap tangan itu sejenak. Ia terbiasa membungkuk, bukan berjabat tangan. Tapi mungkin, tidak ada salahnya juga kan membiasakan diri untuk berjabat tangan?
Tidak mungkin juga ia selalu membungkuk saat meminta maaf atau berkenalan 'kan? Ini London, bukan Korea.'
Auryn membalas uluran tangan Nana.
"Iya." Jawabnya.
Tiba-tiba Auryn teringat. Ini sudah jam 10 dan ia tidak boleh diluar rumah lebih dari jam 12.
"Oh, iya. Gue pulang duluan ya. Soalnya gue harus pulang sebelum tengah malam." Pamit Auryn sambil berjalan ke mobil nya.
Nana mengangguk. Ia menatap mobil itu hingga hilang dari pandangannya.
"Beruntung banget dia. Mobil mewah, trus gak boleh diluar rumah lebih dari jam 12, kaya Cinderella aja. Gue jadi iri...."
Tiba-tiba ia menghentakkan kakinya.
"Harusnya gue terima tawaran dia buat anter gue kerumah sakit. Kan jarang-jarang gue naik mobil mewah. Terus, siapa tau si Auryn itu punya kakak cowok yang mirip pangeran, lalu dikenalin ke gue. Dududududuhhhh.....nyesel gue." Gumamnya lagi, tanpa sadar ia masih di tengah jalan.
TIINNNNN.......!!!!
"Nak! Jangan berdiri di tengah jalan! Bahaya!" Teriak seorang bapak-bapak yang protes atas berdiri nya Nana di tengah jalan.
Bukannya minta maaf tapi ia malah menyengir. Kemudian menunduk dan pergi meninggalkan jalan menuju trotoar.
Gara-gara kebanyakan melamun tuh....!
Bukan melamun tapi menghayal..😒#ignore
Tanpa Nana sadari, Valeny memperhatikan sikapnya dari kejauhan. Valeny menggeleng-geleng kan kepalanya.
'Bagaimana bisa ada insan di dunia ini yang dengan bodohnya pingsan dan menghayal di sembarang tempat?!' Kata batinnya bodoh.
🎼 🎼 🎼
Akhirnya siap juga chapter ini...
Btw jangan lupa vote dan comment yaaa 😄😄😄
See u on next chapter...😆😆
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganss
ditunggu lanjutannya thor 😁