NovelToon NovelToon
The Failed Playboy

The Failed Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:204.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: Nureti

Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.

Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.

Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Anak-anak nenek yang perempuan lagi pada kumpul di rumah nenek. Aku yang baru pulang dari sekolah menyalami mereka satu persatu dan berbincang-bincang sejenak. Setelah itu pergi ke kamar untuk merebahkan diri dan menenangkan hati soal kejadian tadi siang di taman sekolah.

Aku membuka handpone untuk mengabari salah satu sahabatku.

"Lagi sibuk tidak Na?" tanyaku lewat pesan yang dikirim ke Viana.

Tidak butuh waktu lama Viana membalas pesan dariku.

"Tidak Nin, emang kenapa?" balasnya.

"Gue lagi bosan di rumah, jalan yuk!" ajakku.

"Wah kebetulan, gue juga sumpek di kamar terus. Iya sudah gue ke rumah nenek iya." balasnya.

"Ok gue tunggu, tapi habis ashar saja Na biar tidak panas di jalan." balasku.

"Ok siap." balasnya.

Hari ini memang cuacanya lagi terik banget, sama halnya dengan hatiku yang lagi terbakar asmara.

Viana sudah sampai di depan rumah sesuai janji tadi di chatt, dia jemput aku sekitar pukul 16.00 WIB.

Cuaca sudah lumayan tidak terlalu terik lagi.

"Nek, tan, aku keluar dulu sama teman." ucapku ke semua yang lagi asik ngobrol sambil jagain jualan.

"Iya nak, iya sudah hati-hati." kata nenek.

"Mau kemana sih Nin?" tanya anak nenek ketiga.

"Jalan-jalan saja tan, bosan di rumah." kataku seadanya.

"Mau ketemuan sama pacarnya kali." goda anak nenek terakhir.

"Mana ada yang mau teh sama aku." kataku.

Anak nenek yang terakhir memang masih sedikit muda, jadi aku manggilnya teteh.

"Iya sudah pulangnya jangan malam-malam, itu sana kasian temannya sudah nungguin." kata anak nenek pertama.

"Oh iya, iya sudah aku berangkat dulu, assalamualaikum." kataku menyium tangan mereka.

"Waalaikumsalam." kata mereka bersamaan.

Aku menghampiri Viana yang sudah nungguin aku di motornya.

"Ayo Na!" ucapku yang sudah duduk di belakang.

Akhirnya kita pergi menuju taman kota. Karena jam-jam segini disana sudah ramai anak-anak muda nongkrong di tepian taman. Jajanan-jajanan berjejeran di tepi jalan.

Di rumah nenek. Setelah aku pergi, mereka ngobrolin tentang aku.

"Nina anak yang cantik, baik, nurut sama orang tua, tidak neko-neko orangnya." ucap tante Lusi. Anak nenek nomor tiga.

"Iya dia juga suka menabung, kalau saya lagi tidak ada uang kadang suka minjemnya ke Nina." ucap tante Tia. Anak nenek pertama.

"Tapi sayang dia selalu di tinggal sama orang tuanya. Sejak dia masih bayi memang suka di titipin ke Ibu (nenek)." ucap teh Yuni. Anak nenek terakhir.

"Iwan dan Niah ngelakuin itu semua juga untuk masa depan Nina anaknya." ucap nenek.

Iwan dan Niah adalah nama dari orang tuaku. Memang dari waktu aku bayi, aku kadang dititipin ke nenek karena ayah adalah kepercayaan almarhum kakek. Jadi yang ngurus usaha keluarga itu ayah karena anak-anak kakek yang cowok, ayah yang bisa di andalkan. Anak kakek cowok nomor empat dan lima waktu itu masih remaja jadi tidak bisa mengatur usaha keluarga. Dari waktu kakek masih hidup usaha yang dia tekuni adalah jasa penyewaan bajaj. Meski di zaman sekarang transportasi seperti bajaj sudah kurang di minati dikarenakan sudah banyak transportasi online dan KRL di jakarta, tetapi hanya itu warisan usaha kakek. Jadi sekarang ayah dan ibu ada di jakarta, Mereka pulang kalau ada acara keluarga atau lebaran saja.

"Iya, bapak (kakek) kan sudah mempercayakan Iwan." kata tante Tia. Dan semua mengiyakan ucapan tante Tia.

"Waktu Nina sering main ke rumah, ada satu cowok yang naksir Nina." kata tante Lusi.

"Siapa kak?" tanya teh Yuni.

"Itu bank harian langganan kakak." kata tante Lusi.

"Oh Budi itu, haha..." kata tante Tia mengingatnya.

"Iya haha..." kata tante Lusi.

Flashback On.

Waktu kelas satu SMP aku sering main ke rumahnya tante Lusi naik sepeda. Lumayan sih jaraknya buat sepedaan.

Waktu di rumah tante Lusi, tiba-tiba ada bank harian yang mampir ke rumah tante Lusi.

"Bu, itu siapa?" tanya pria itu

Pria itu adalah Budi, bank harian langganannya tante Lusi. Usianya sekitar 20 tahunan. Dengan postur tubuh yang tinggi, putih, dan berisi.

"Oh itu keponakan saya, kenapa?" tanya tante Lusi.

"Cantik iya Bu, rajin lagi!" kata Budi.

Saat itu aku lagi cuci piring di sumur yang berada di samping rumahnya tante Lusi.

"Iyalah, cantiknya turunan dari saya haha..." kata tante Lusi.

Memang anak-anak dari nenek semua punya karisma tersendiri. Tante Lusi yang postur tubuhnya tinggi, putih, langsing dan berambut panjang.

"Iya saja lah sama calon besan." ucap Budi.

"Siapa bu namanya?" tanya Budi.

"Elina Nina Az-Zahra, biasa di panggil Nina." kata tante Lusi.

Iya itu nama lengkapku.

"Hai Nina cantik." ucap Budi melambaikan tangannya.

"Siapa dia? kok bisa tahu nama aku." batinku melirik pria itu.

Aku yang mengabaikannya dan melanjutkan cuci piring.

"Yah si ganteng di cuekin." kata tante Lusi menyindirnya.

"Tidak apa-apa bu masih proses usaha." katanya.

Dia pergi meninggalkan pelataran rumah tante Lusi.

Hari mulai sore aku berniat pulang ke rumah.

"Tan, aku pulang dulu sudah sore." kataku pamit.

"Oh iya neng, ini ada makanan buat nenek." katanya memberikan bingkisan makanan.

"Terimakasih tan, assalamualaikum." ucapku pamit keluar rumah.

"Waalaikumsalam neng hati-hati. Sepedaannya ditepi jalan saja!" katanya mengingatkan.

"Syiap." kataku membalikan badan hormat.

Aku menaruh bingkisan makanannya di keranjang sepeda, setelah itu aku mengayuh sepeda arah pulang.

Di jalan menuju pulang tiba-tiba ada motor mengagetkanku tepat di sampingku.

"Aduh... " kataku kaget dan hampir terjatuh dari sepeda karena kurang keseimbangan.

Tapi tiba-tiba tangan pengendara motor itu memegang stang sepeda sehingga aku tidak jadi jatuh. Dia tersenyum melihatku.

"Anda?" kataku.

"Iya aku Budi, boleh minta nomor handponenya?" katanya.

"Maaf saya tidak punya handpone." kataku berbohong.

"Ahh bohong, iya sudah aku duluan. Bye cantik." katanya.

"Dasar orang aneh!" ucapku sambil terus mengayuh sepeda.

Aku sudah sampai di rumah dan bingkisan makanan yang dari tante Lusi itu aku berikan ke nenek, karena pada saat aku sampai rumah, nenek lagi menyapu halaman depan.

Aku bergegas mandi karena tubuhku sudah lengket sama keringat. Selesai mandi aku berbaring dulu di tempat tidur. Tiba-tiba handponeku berdering menandakan ada orang telpon, aku langsung melihat siapa yang telpon dan ternyata nomor baru.

"Hallo..." ucapku.

"Katanya tidak punya handpone?" ucapnya.

"Maaf ini siapa?" tanyaku yang tidak mengenali suaranya.

"Ini aku Budi." ucapnya.

"Mau ngapain lagi sih ini orang?." batinku.

"Hallo, apa masih ada orang?" katanya.

Aku langsung matiin telpon.

"Dasar kurang kerjaan!" batinku.

Hari-hari berikutnya dia selalu godain aku misal kita ketemu, tapi aku selalu mengabaikannya.

Flashback Off.

"Sekarang juga, Nina lagi disukai sama Rani." ucap nenek.

"Rani siapa bu?" tanya tante Lusi.

"Itu Rani penjual plastik yang tokonya di bawah jembatan itu." kata nenek.

"Oh Rani itu." kata tante Tia.

"Iya, dia bilang mau dikenalin sama anaknya yang lagi kerja di jakarta." kata nenek.

"Iya setahu saya sih anaknya di jakarta terus tidak pernah terlihat batang hidungnya." kata tante Tia.

"Terus si Nina nya jawab apa bu?" tanya teh Yuni.

"Iya gitu, kayak tidak tahu anak itu saja, masih pengen fokus sekolah dulu katanya." kata nenek.

"Baguslah bu, berarti anaknya emang punya pemikiran ke depan! bukan ngikutin kayak zaman sekarang masih pada muda sudah nyandang status janda." kata tante Lusi.

"Iya benar." kata tante Tia.

Akhirnya ibu-ibu itu berlanjut gibah soal zaman sekarang.

...****************...

1
June
semangat terus kak
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
Bryan Sbasthiant Pernandez
bacanya pusing
minding baca komik bobo
Jhie Abhy
ini tentang dafa ataw tentang nina... bikin pusing.. 🙈
Puan Harahap
mampir nih 10 like ya thor
Puan Harahap
salken thor, pria idola, mampir ya
Bahrudin Udin
anak rajin dan sholeha
Keii68
like buat cerita kakak, semangat selalu ya.

salam dari Barryneald :))
xiaoyu
yuuuhuuu aku mampir yak,, semangat buat karya karya baru lgi thorr 😘
Valerie Grachia
Hallo Kak salam kenal, mampir juga yuk ke novelku "Mengejar Cinta Rangga" siapa tahu suka, makasih
#Izin Thor
kh!@#g fu sh3=g
60 like hadir, semangat thor. salken"jangan panggil aku monster"
Agus Irawan
Yah kok End
HIATUS
Hai thor 👐
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Agus Irawan
Season 2 nya gak ada yah
Agus Irawan
kenapa belum Up
Dea Amira 🍁
ada nma ku tini 🤣🤣🤣smngt trus thor...
Dea Amira 🍁
aq mmpir thor...
Dream Sky
"Sayap Pelindungmu" Telah mampir nih! Dan memberi Like and Komen. Selalu semangat ya kakak! Dan di tunggu FeedBack kakak. Ayo kita sebagai penulis, saling support 😊.
Terima-kasih banyak.
Titin
semangat thor
Titin
like thor
Radin Zakiyah Musbich
aq hadir kembali 🥯🥯🥯

jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇

kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️

tinggalkan like and comment ya 🥭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!