Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Jadi, Kamu Nggak Mau Rujuk?
Orang yang tidak lagi punya hubungan dengannya memang tidak perlu tinggal di dalam hidupnya.
Keputusan itu terdengar tegas dalam kepala Arya.
Namun dalam kamar yang gelap, suara Anindya datang pelan dari atas ranjang.
"Mas Arya belum tidur?"
Arya membuka mata. Cahaya tipis dari taman masuk melalui celah tirai, memotong lantai beberapa sentimeter dari kasur tipisnya.
"Belum."
"Kasurnya nggak nyaman?"
"Cukup."
"Kalau punggungmu sakit, naik saja. Kasurnya besar. Aku bisa taruh guling di tengah."
"Aku baik-baik saja, Anindya."
Sunyi kembali turun.
Arya mendengar kain selimut bergesek. Anindya berbalik menghadap sisi tempat Arya berbaring, meski dalam gelap ia hanya dapat melihat garis samar wajahnya.
"Boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Kamu benar-benar nggak mau rujuk sama Karina?"
Arya tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu bukan hal baru. Karina mengatakannya dengan keyakinan. Pengacara mereka menganggap perceraian ini sebagai bagian dari pengaturan. Bahkan staf KUA mungkin menduga pernikahan keduanya berlangsung karena kebutuhan tertentu.
Namun dari suara Anindya, Arya mendengar sesuatu yang lain.
Kecemasan.
"Tidak," jawabnya.
Anindya bergerak sedikit. "Walaupun dia minta maaf?"
"Tidak."
"Walaupun dua bulan selesai?"
"Tidak."
"Walaupun—"
"Cerai ya cerai," potong Arya. "Aku sudah mengatakannya kepada Karina. Aku mengatakannya kepadamu sekarang supaya tidak ada salah paham. Aku tidak akan rujuk dengannya."
Anindya diam begitu lama hingga Arya bertanya, "Kamu masih bangun?"
"Masih."
Suaranya terdengar aneh. Seperti seseorang yang menahan tawa sekaligus air mata.
"Kenapa bertanya?"
"Aku takut."
Arya menoleh ke arah ranjang. "Takut apa?"
Anindya duduk perlahan. Bayangannya bersandar pada kepala ranjang. "Takut aku merusak pernikahan orang lain."
"Kamu tidak merusaknya."
"Aku yang menawarkan kesepakatan itu kepada Karina. Kalau aku tidak datang membawa soal wasiat dan uang dua miliar, mungkin kalian masih menikah."
Arya bangun dan duduk di kasur tipis. Punggungnya bersandar pada sisi ranjang.
"Anindya, dengarkan aku."
Perempuan itu menunduk. "Aku mendengarkan."
"Pernikahanku sudah rusak jauh sebelum kamu datang. Kamu hanya menyalakan lampu sehingga aku bisa melihat kerusakannya."
"Tapi uangku membuat Karina memilih cerai."
"Tidak." Arya menatap garis cahaya di lantai. "Keserakahannya yang membuat dia memilih. Uangmu hanya menunjukkan harganya."
Jari Anindya meremas ujung selimut.
Arya melanjutkan, "Selama tiga tahun, aku mengira kalau aku bekerja lebih keras, menyerahkan lebih banyak uang, dan berhenti menuntut apa pun, rumah tangga kami akan membaik. Ternyata aku hanya membuat Karina percaya bahwa aku akan menerima perlakuan apa saja."
"Dia nggak pantas mendapatkanmu."
Kalimat itu keluar begitu cepat dan penuh emosi.
Arya mendongak. "Kamu yakin sekali."
Anindya membeku, lalu memperhalus suaranya. "Maksudku, siapa pun yang memperlakukan pasangan seperti barang jelas tidak pantas."
"Mungkin. Tapi aku juga bersalah membiarkannya terlalu lama."
"Bersikap sabar bukan kesalahan."
"Kalau kesabaran membuat orang kehilangan dirinya sendiri, itu bukan kebaikan lagi. Itu ketakutan. Aku takut gagal menikah. Takut orang tuaku kecewa setelah mereka berutang untuk membantuku. Takut memulai lagi."
Arya menyentuh pergelangan tangan tempat jam mahal itu terpasang. Dalam gelap, logamnya terasa dingin.
"Lalu tadi pagi aku melihat namaku di kartu. Namaku di dokumen mobil. Kamu memberiku pilihan tanpa meminta aku merendahkan diri. Itu membuatku sadar betapa lama aku hidup seperti tamu dalam hidupku sendiri."
Anindya turun dari ranjang.
Kakinya menyentuh karpet. Ia duduk di lantai di sisi lain kasur tipis, berhadapan dengan Arya. Jarak di antara mereka kurang dari satu lengan.
"Mas Arya tidak perlu menjadi tamu di sini."
"Aku tahu ini rumahmu."
"Rumah kita," koreksinya lagi.
Arya hampir membantah dengan kalimat dua bulan, tetapi memilih diam.
Anindya menarik napas. "Kalau begitu, kenapa kamu berterima kasih kepadaku tadi? Karena membantumu melihat Karina?"
"Ya."
"Kamu nggak membenciku karena kesepakatan ini?"
"Aku membenci cara Karina memperlakukanku. Tapi kamu tidak pernah memaksaku menandatangani apa pun. Bahkan pembagian uangnya kamu buat supaya dia tidak mengambil semuanya."
"Aku seharusnya bisa mencari cara lain."
"Mungkin." Arya menatapnya. "Tapi kita sudah di sini. Aku tidak mau menghabiskan dua bulan menyalahkanmu atas keputusan mantan istriku."
Kata mantan membuat bahu Anindya turun. Beban yang menekannya sejak akad seolah berkurang sedikit.
"Terima kasih," bisiknya.
Arya tersenyum tipis. "Kamu baru saja melarangku terlalu sering berterima kasih, sekarang kamu sendiri melakukannya."
"Aturannya hanya berlaku untuk Mas Arya."
"Aturan yang tidak adil."
"Pemilik rumah berhak membuat aturan."
"Katamu rumah kita."
Anindya terdiam, lalu tertawa tertahan. "Mas Arya cepat belajar."
Ketegangan di kamar melonggar.
Namun Anindya belum bangkit dari lantai. Ia mengamati wajah Arya dalam cahaya samar, seolah ingin memastikan jawabannya tidak akan berubah ketika pagi datang.
"Aku masih merasa bersalah," katanya.
"Itu perasaanmu. Aku tidak bisa melarang."
"Kalau begitu izinkan aku menebusnya."
"Menebus dengan mobil delapan belas miliar?"
"Bukan cuma dengan uang."
"Lalu apa?"
Anindya hampir menjawab dengan seluruh hidupku.
Kata-kata itu sudah berada di ujung lidah. Namun ia menelannya. Arya baru saja mengakui betapa lelahnya hidup di bawah tuntutan orang lain. Menyerahkan cinta tujuh belas tahun malam ini mungkin hanya mengganti satu beban dengan beban lain.
"Dengan memastikan dua bulan ini tidak menjadi masa yang buruk bagimu," jawabnya. "Aku akan memperlakukanmu seribu kali lebih baik daripada perlakuan yang kamu terima sebelumnya."
Arya memandangnya beberapa detik. "Tidak perlu seribu kali."
"Aku suka angka besar."
"Aku sudah menyadarinya."
"Jadi aku boleh mencoba?"
"Selama kamu tidak membeli mobil setiap hari."
"Tidak janji."
Arya menghela napas, tetapi kali ini ada tawa kecil di dalamnya.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Arya bangkit dan membukanya. Pak Darto berdiri di lorong dengan nampan berisi dua cangkir susu hangat.
"Maaf mengganggu, Den Arya. Saya hanya ingin memastikan kamar ini nyaman."
Pandangan pria tua itu turun sekilas ke kasur tipis, lalu kembali ke wajah Arya tanpa komentar.
"Semuanya baik, Pak," jawab Arya. "Terima kasih."
Pak Darto menyerahkan nampan. "Kalau Den Arya membutuhkan sesuatu, tekan tombol di samping ranjang. Rumah ini besar, tetapi jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian."
Kalimat itu sederhana. Arya tetap memegang nampan beberapa detik setelah Pak Darto pergi.
Di tempat lama, sakit sekalipun ia harus bangun sendiri untuk mengambil air. Di sini, bahkan orang yang baru mengenalnya memikirkan apakah ia bisa tidur nyaman.
Anindya menerima satu cangkir. "Pak Darto biasanya nggak mengantar minuman sendiri."
"Mungkin dia sedang mengawasiku."
"Mungkin dia mulai menyukaimu."
Arya menyesap susu hangat. "Terlalu cepat."
"Aku juga suka hal yang cepat."
Arya menatapnya.
Anindya buru-buru minum, menyembunyikan wajah di balik cangkir.
Anindya kembali naik ke ranjang. Sebelum berbaring, ia menunduk ke arah Arya.
"Mas Arya."
"Apa lagi?"
"Aku senang kamu nggak mau rujuk."
Arya mengira ia akan merasa terganggu mendengarnya.
Anehnya, ia tidak.
"Tidurlah, Anindya."
"Selamat malam, suamiku."
"Selamat malam."
Lampu taman di luar padam otomatis beberapa menit kemudian. Kamar menjadi sepenuhnya gelap.
Arya akhirnya tertidur tanpa memikirkan Karina.
Di atas ranjang, Anindya memandang kegelapan dengan mata terbuka dan senyum yang tidak bisa hilang.
Penghalang di antara dirinya dan Arya memang telah runtuh.
Sekarang ia hanya perlu membuat pria itu memilih tinggal ketika dua bulan berakhir.