NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Karsa di Balik Batas Waktu

Suara debur ombak malam terdengar berirama konstan, memecah kesunyian di pekarangan rumah kayu kecil yang berdiri di garis pantai. Mesin mobil SUV hitam milik Mahija baru saja mati sempurna di depan pagar. Lampu utama mobil yang tadinya menyorot jalanan kini padam, menyisakan temaram lampu teras yang kekuningan.

Mahika turun dari mobil dengan hati-hati. Di pelukannya, buket bunga mawar putih berukuran sangat besar masih mendekap erat, berpadu dengan kotak kado elegan di tangan kirinya. Aromanya yang harum memenuhi indra penciuman, seakan mengusir sisa-sisa penat yang sempat menggelayuti harinya.

Mahija bergerak cepat memutari mobil. Pria berseragam PDU lengkap itu membuka pintu bagasi, lalu mengambil tas belanja kecil berisi perlengkapan kuliah dan buku catatan yang sempat ia sebutkan tadi. Dengan langkah tegap namun penuh kehati-hatian, ia menghampiri Mahika yang berdiri kikuk di dekat pintu pagar.

"Biar saya bantu bawa ke dalam," kata Mahija ramah.

"Eh, tidak usah, Mahija. Saya bisa sendiri. Nanti repot," cegah Mahika cepat, pipinya kembali merona hangat karena merasa tak enak diperlakukan sedemikian rupa oleh seorang perwira tinggi.

Mahija tidak mendengarkan penolakan itu. Ia tersenyum tipis, lalu mengambil alih kotak kado serta tas belanja dari tangan Mahika dengan sebelah tangannya yang bebas.

"Jangan membantah, Mahika. Tugas seorang perwira bukan cuma mengamankan wilayah negara, tapi juga memastikan barang bawaan wanitanya sampai dengan selamat di dalam rumah."

Mahika mendengus kecil, menahan senyum yang nyaris terbit di sudut bibirnya. "Alasan saja."

Mereka berjalan berdampingan memasuki halaman kecil berpagar kayu itu. Mahika mengeluarkan kunci rumah, membuka gembok, lalu mendorong pintu kayu yang berderit pelan. Suasana di dalam rumah terasa begitu sejuk dan familiar—menjadi saksi bisu tempat pelarian Mahika selama bertahun-tahun dari dunia luar yang melelahkan.

Mahija melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang rapi, minimalis, namun hangat. Ia meletakkan kotak kado dan tas belanja di atas meja kayu di dekat ruang tamu, lalu meletakkan buket bunga mawar raksasa itu dengan sangat hati-hati di atas sofa kecil. Mahika berdiri di ambang pintu, merapikan pasmina navy-nya yang sedikit berantakan.

"Silakan duduk dulu kalau mau minum air putih. Tapi maaf, rumah saya tidak ada kopi mahal atau teh premium."

Mahija berbalik, menatap Mahika dengan senyuman hangat yang membentang di wajah tegasnya. Pria itu menggeleng pelan.

"Tidak usah repot-repot, Mahika. Ini sudah malam. Anggota piket di pangkalan pasti sudah mencurigai komandannya yang menghilang terlalu lama."

Mendengar kata-kata itu, Mahika merasakan kelegaan bercampur rasa aneh di dadanya ada sedikit rasa kehilangan yang menyelinap saat menyadari pria itu harus segera pergi.

Mahija melangkah mendekat. Jarak di antara mereka perlahan menyusut hingga hanya tinggal beberapa jengkal saja. Aroma maskulin yang berpadu dengan wangi khas seragam dinas militer seketika menguar, membuat detak jantung Mahika kembali berpacu lebih cepat.

"Saya harus pamit pulang sekarang," ucap Mahija lembut, menatap lurus ke dalam manik mata Mahika. "Terima kasih untuk hari yang luar biasa ini. Hari di mana saya berhasil menjebak dan membuat benteng pertahanan seorang Mahika Avisa Zalana goyah sepenuhnya."

Mahika menggigit bibir bawahnya, menunduk malu. "Kamu ini ya... hobi sekali bikin orang salah tingkah."

Mahija terkekeh pelan. Suara tawa renyah itu menggetarkan udara malam di dalam rumah kecil tersebut. Tanpa diduga, pria itu mengangkat tangan kanannya dengan penuh kesantunan.

Sebelum Mahika sempat merespons, Mahija mendaratkan ciuman yang sangat lembut dan penuh rasa hormat tepat di puncak kepala Mahika yang terbalut hijab navy. Gerakan itu begitu khidmat, sarat akan ketulusan, perlindungan, dan janji tak terucap bahwa ia akan selalu menjaga gadis itu.

Napas Mahika tertahan seketika. Tubuhnya menegang kaku, sementara sekujur wajahnya mendadak membakar panas luar biasa. Sentuhan bibir Mahija di kepalanya terasa begitu suci dan menghanyutkan, meruntuhkan seluruh sisa pertahanan batin yang tersisa.

"Saya pulang ya, Mahika," bisik Mahija tepat di dekat telinganya dengan suara bariton yang amat lembut. "Tunggu saya di kencan akhir pekan kita nanti."

Selepas itu, Mahija melangkah mundur perlahan, melempar senyuman manis terakhirnya sebelum memutar tubuh dan berjalan keluar rumah. Suara pintu yang ditutup pelan mengiringi kepergian sang perwira, disusul deru mesin mobil SUV yang perlahan menjauh, meninggalkan pekarangan rumah yang kembali senyap ditemani deburan ombak.

[POV Mahika]

Kini aku berdiri sendirian di tengah ruangan tamu yang terasa mendadak begitu luas dan lengang. Mataku menatap lurus ke arah buket bunga mawar putih raksasa yang bertengger indah di atas sofa, berdampingan dengan kotak kado berbalut pita navy dan tas belanja perlengkapan kuliah.

Aku menyentuh perlahan puncak kepalaku sendiri, tempat di mana bibir Mahija baru saja meninggalkan jejak kehangatan yang tak kasat mata. Jantungku masih berdegup liar, dan pipiku rasanya masih panas membara.

Ya Tuhan... apa yang sudah dilakukan pria itu padaku?

Dulu, aku adalah Mahika yang sangat membenci keramaian, sangat antipati pada komitmen, dan bersumpah akan menghabiskan sisa hidup sendirian di tempat terpencil ini demi menghindari rasa sakit akibat keluarga yang hancur. Aku adalah wanita workaholic yang menganggap hidup hanyalah soal bertahan dari satu hari ke hari berikutnya tanpa ada harapan yang muluk-muluk. Namun lihat diriku sekarang. Berdiri terpaku di depan buket bunga dari seorang perwira TNI AU yang begitu gigih, keras kepala, dan tak kenal lelah meruntuhkan benteng pertahanan hatiku.

Aku menghela napas panjang, lalu melangkah gontai menuju meja belajar di sudut ruangan. Di atas meja itu, berserakan setumpuk buku tebal, lembar revisi, dan draf skripsi yang sudah berbulan-bulan mangkrak karena kelelahan mental yang mendera.

Ya... saat ini aku bukan lagi gadis belasan tahun yang lari dari rumah pada Mei 1999 silam. Waktu terus berputar tanpa bisa dihentikan. Tanpa terasa, di usia dan perjalanan hidupku yang penuh liku ini, aku mendapati diriku sudah berada di semester 12.

Semester akhir. Batas masa studi yang sudah berada di ujung tanduk, tempat di mana banyak mahasiswa mulai merasa panik, frustrasi, dan ingin menyerah. Beban akademis itu sempat membuatku ingin menutup diri selamanya dari dunia luar. Aku merasa tertinggal jauh dari teman-teman sebayaku.

Namun anehnya, malam ini, di tengah rasa salting brutal dan debaran jantung yang belum reda akibat ulah Mahija, ada secercah energi baru yang menyusup ke dalam dadaku. Aku meraih buku catatan persiapan kuliah yang diberikan oleh Mahija tadi. Saat kubuka sampul depannya, sebuah catatan kecil tertulis rapi dengan tinta hitam di halaman pertama:

"Semangat mengejar mimpimu, Mahika. Kamu tidak sendiri lagi. Ada aku yang siap jadi barisan terdepan mendukungmu sampai lulus wisuda. Selamat berjuang, calon istriku."

Air mata hangatku kembali tumpah, namun kali ini bukan karena kesedihan atau rasa lelah. Itu adalah air mata kelegaan dan kebahagiaan yang teramat sangat.

Mahija benar-benar memegang janjinya. Ia tidak hanya datang untuk mengisi hatinya yang kosong, tapi juga menyalakan kembali bara semangat dalam hidupku yang nyaris padam. Di ambang semester akhir perkuliahanku ini, di saat aku hampir menyerah pada masa depan, semesta justru mengirimkan seorang perwira tegap untuk menjadikanku alasan terkuatnya bertahan.

Aku tersenyum tipis, menghapus air mata di pipiku, lalu meraih pena di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku menatap lembar skripsiku dengan keyakinan penuh, siap menatap hari esok—dan tentu saja, bersiap menghadapi kencan pertama yang sudah dijanjikan oleh sang perwira kepala batu itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!