Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.
Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.
Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.
Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.
Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.
Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.
Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Jawabannya
Bella
Matahari sudah terbit.
Aku membuka mata perlahan dan bangkit hati-hati agar tidak membangunkan Fiorella, yang masih tertidur di sampingku. Aku berjalan ke jendela dan menyibak tirai. Di luar, semuanya tampak persis sama. Masih ada beberapa fotografer mengintai.
Orang-orang menjalani rutinitasnya, mobil-mobil lewat di jalan, dunia terus berputar... seakan hidupku tidak sedang akan berubah selamanya.
Kupejamkan mata sesaat dan mengulang rencanaku sekali lagi. Setiap detail. Setiap langkah. Aku tak boleh ragu sekarang.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aku mengenali langkah Mama sejak kecil.
Dia mendekat dalam diam dan membelai wajahku dengan lembut.
"Bellaku... cantik sekali... tapi keras kepala sekali..."
Aku tersenyum kecil, yang nyaris langsung hilang.
"Papamu sudah cerita soal kemarin."
Aku menunduk.
"Tidak salah kalau aku ingin membuat pilihanku sendiri, Mama."
Dia diam beberapa detik dan, di luar dugaanku, mengangguk pelan.
"Tidak, sayang... tidak salah. Tapi bersabarlah sedikit pada Papamu."
Aku hanya mengangguk.
Tak ada gunanya menjelaskan. Dia tidak tahu aku sudah mengambil keputusan.
Kupeluk Mama sekuat tenagaku, seolah bisa menyimpan momen itu selamanya.
Aku akan merindukanmu...
Kulepaskan pelukan dengan cepat, menyembunyikan sakit yang menekan dadaku.
Dia sama sekali tak tahu bahwa setelah hari ini, tak ada lagi yang sama.
"Mama harus berangkat kerja."
Aku memberi isyarat setuju.
Saat dia sudah dekat pintu, aku memberanikan diri.
"Mama... boleh aku pindah penjara? Boleh aku tinggal di rumah Tante Giulia... bersama Fiore?"
Dia tersenyum miring.
"Boleh, kok."
Dia kembali berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, suaraku membuatnya berhenti.
"Aku sayang Mama."
Dia menoleh padaku dengan mata penuh kasih.
"Mama lebih sayang kamu, putriku."
Aku tersenyum, berusaha mengabadikan saat itu di ingatan.
Mungkin itu terakhir kalinya aku mendengar kata-kata itu sambil tinggal di bawah satu atap.
Aku menunggu orang tuaku berangkat kerja. Kuamati dari jendela sampai mobil menghilang di jalan. Baru setelah itu aku bisa bernapas agak lega.
Aku berlari ke kamar mandi, mandi cepat, berusaha membasuh bukan hanya tubuhku tetapi juga segala yang terjadi semalam.
Ketika keluar sambil buru-buru mengeringkan rambut, Fiorella sudah bangun, duduk di tempat tidur.
Begitu melihatku, ia tersenyum tipis.
"Selamat pagi, Bella."
Kubalas sapaan itu dengan senyum lemah, lalu berbalik mengambil gaun. Saat itu kusadari dia terdiam. Aku mengikuti tatapan Fiorella ke lenganku.
Bekas kemerahan jari-jari Papa masih ada di sana, jelas terlihat.
"Bella... itu apa?" tanyanya, ketakutan.
Spontan kutarik gaun menutupi tubuh dan secepat mungkin mengenakan jaket, mencoba menyembunyikan bekas itu.
"Aku baik-baik saja, Fiorella."
Bahkan aku sendiri tak percaya dengan kebohongan itu.
Matanya penuh air mata. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berdiri dan memelukku erat, seolah ingin melindungiku dari segalanya.
Beberapa detik aku hanya diam, membalas pelukannya dengan anggukan, tak sanggup menemukan tenaga untuk mengatakan hal lain.
Fiorella mandi sementara aku mengamati kamar dalam diam. Mataku menjelajahi setiap detailnya, seakan sedang berpamitan pada tempat ini. Dadaku sesak, tapi kusingkirkan setiap keraguan.
Aku tidak akan mundur, kataku pada diri sendiri.
Ketika Fiore selesai bersiap, dia menoleh padaku.
"Siap?"
Aku hanya mengangguk.
Dia mendekat dan menggenggam tanganku.
"Waktumu sedikit. Begitu sampai di Palazzo del Quirinale, cobalah segera menemui presiden. Papaku akan sadar ada yang tidak beres dan memberi tahu ayahmu. Bella, waktumu tidak banyak."
Aku menelan ludah.
"Aku tahu."
Kami keluar kamar bergandengan. Di dalam mobil, Fiorella mencondongkan badan ke depan.
"Bisa lewat Palazzo del Quirinale dulu? Aku harus mengambil dokumen untuk magang."
Sopir hanya mengangguk.
Aku menatapnya dan berbisik:
"Terima kasih."
Dia meremas tanganku sebagai jawaban.
Begitu mobil berhenti di depan istana, aku memeluknya erat, seakan itu bisa jadi pelukan terakhir kami.
"Semuanya akan baik-baik saja," gumamnya.
Aku menarik napas dalam, turun dari mobil, dan memasuki istana nyaris berlari.
Palazzo itu luar biasa luas. Koridornya seakan tak berujung. Jantungku berdebar di setiap langkah.
Akhirnya aku menemukan resepsi yang elegan. Seorang perempuan paruh baya menyambutku dengan senyum sopan.
"Nona sudah membuat janji?"
"Belum."
"Ada janji temu dengan presiden?"
"Juga belum."
Dia menggeleng penuh sesal.
"Maaf, tapi tanpa janji saya tidak bisa mengizinkan Nona masuk."
Keputusasaan menguasaiku. Mataku mulai perih.
Aku tak akan pernah bisa bicara dengannya begini...
Aku hampir menyerah dan kembali ketika kukenali wajah yang tak asing melintasi lobi.
Itu penasihat presiden.
Aku berlari ke arahnya.
Para pengawal langsung mencegatku, mencengkeram lenganku.
"Tuan, kumohon!" pintaku. "Aku harus bicara dengan Riccardo!"
Pria itu menoleh mendengar suaraku. Begitu melihatku, matanya membelalak.
"Lepaskan dia."
Para pengawal melepasku.
Dia mendekat dengan senyum penuh hormat.
"Nona Lombardi... suatu kehormatan bisa bertemu lagi."
Aku lega.
"Tolong... aku harus bicara dengan Riccardo. Ini mendesak."
Tanpa bertanya lagi, ia mengulurkan tangannya.
"Ikut saya."
Aku masuk lift di sampingnya.
Selama naik, ia mengamatiku lekat-lekat.
"Nona baik-baik saja?"
Kupaksakan senyum, menyembunyikan ketakutan yang nyaris tumpah.
"Sangat baik."
Ketika lift berhenti di lantai kepresidenan, aku mengembuskan napas pelan, seperti baru menahan napas selama perjalanan. Jantungku masih berdebar, tapi setidaknya aku tak perlu lagi menghadapi hening yang mencekik di dalam kabin itu.
Pria di sampingku memberi isyarat agar aku mengikutinya. Kami menyusuri koridor menuju pintu ruang kerja presiden. Setiap langkah terasa lebih berat dari yang sebelumnya, seolah kakiku sendiri berusaha membujukku kembali.
Dia mengetuk sekali sebelum membuka pintu.
"Pak Presiden, Nona Lombardi datang berkunjung."
Aku masuk perlahan. Penasihat itu ikut masuk di belakangku.
Riccardo duduk di balik meja, begitu fokus pada laptopnya. Dia baru mengangkat mata ketika mendengar suara pria itu. Begitu pandangan kami bertemu, ia menutup komputernya dan raut seriusnya berganti dengan keterkejutan yang tersamar.
"Tinggalkan kami."
Penasihat itu hanya mengangguk kecil dan keluar, menutup pintu. Bunyi klik kunci menggema di ruang kerja, menyisakan kami berdua.
"Selamat pagi, Bella."
Suaranya tenang, nyaris lembut.
Dia menunjuk kursi di depannya.
"Silakan duduk."
Tanganku dingin. Jantungku berdebar sekeras itu sampai kupikir dia bisa mendengarnya. Aku menelan ludah, berjalan ke kursi, dan duduk, berusaha menenangkan gemetar kakiku.
Aku menarik napas dalam sekali.
Kalau terlalu banyak berpikir, aku akan menyerah.
Maka, sebelum keberanianku lenyap, kulepaskan kata-kata itu sekaligus.
"Aku menerima tawaran pernikahan Anda."
Begitu selesai bicara, keheningan menguasai ruangan.
Sekarang tak ada jalan kembali.