Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Razan memegang bahu Nadia, namun langsung di tepis oleh gadis tersebut. "Jangan pegang pegang, saya tidak kenal dengan anda," ucap Nadia.
"Ini aku nad, aku Razan," ucap Razan.
Nadia terlihat tampak berpikir, setelah itu ia menggelengkan kepalannya. "Enggak tau, Razan siapa ya? Saya tidak kenal dengan anda," ucap Nadia.
"Masa kamu enggak kenal, ak-------,"
"Ah, ya saya baru Inget, kamu cowok yang satu sekolah dengan saya kan?. Ah, akhirnya bisa inget juga," ucap Nadia.
Razan tersenyum manis saat Nadia mengingat dirinya. "Akhirnya kamu Inget nad, sudah lam------,"
"Kakak ayo pulang," rengek Nadia ke Darren.
Nadia benar benar sudah tidak tahan lagi, kepalannya terasa sangat sakit setelah meminum alkohol. Darren pun menganggukkan kepalannya dan memegang tubuh Nadia agar tidak oleng.
"Gue duluan ya bro," ucap Darren.
Darren dan Nadia langsung keluar dari gedung. Dimas tidak bisa diam, pria itu menyusul sang istri yang tengah bersama Darren. Saat susah tiba di tempat parkir, Darren pun membuka pintu mobil dan saat Nadia akan masuk. Dimas datang dan menarik gadis tersebut.
"Biar gue yang bawa dia pulang," ucap Dimas.
"Lo mau ninggalin Jessica? Nanti dia marah, Lo yang pusing," ucap Darren.
Dimas sempat terdiam, beberapa detik kemudian dia menggendong Nadia ala bridal style. "Masalah Jessica biar gue yang urus, lo pulang aja sendirian, atau Lo mau masuk ke dalam lagi, silakan," ucap Dimas.
Dimas membawa sang istri masuk ke dalam mobil miliknya. Darren? Pria itu memilih untuk pulang ke rumah, ingin bergabung dengan yang lain, ia sudah merasa sangat malas. Akhirnya kedua mobil itu pun menjauh dari gedung pesta. Razan berlari ke tempat parkir dan langsung menendang mobil seseorang.
"Aish sialan, cepat banget sih Darren. Gue mau tanya dimana Nadia tinggal, sial emang," gumam Razan.
Razan kesal dan mengacak rambutnya, gadis yang ia cari selama ini sudah ada di depan matanya. Namun, ia terlambat menanyakan tempat tinggal Nadia. "Besok gue harus tau dimana Nadia tinggal," gumam Razan.
*******
Di dalam mobil. Nadia tertidur lelap di samping Dimas yang tengah menyetir. Dimas terus saja melirik Nadia dan membenarkan rambut gadis tersebut yang yang hampir mengenai mata. Nadia menepis tangan Dimas dan membuka kedua matanya. Ia menatap Dimas dengan tatapan sayu dan langsung menangkap wajah Dimas. Melihat reaksi sang istri, Dimas langsung menepikan mobilnya di tepi jalan yang kosong.
"Kak Dimas kok ada disini? Kak Darren kemana?," ucap Nadia.
"Dia udah pulang, katanya dia buru buru mau pulang ke rumah. Ada yang harus ia selesaikan," ucap Dimas.
Nadia menatap sang suami dan langsung menjauhkan tangannya dari wajah Dimas. "Oh," ucap Nadia.
Hanya kata tersebut yang di katakan Nadia. Nadia memanyunkan bibirnya dan kembali menatap Dimas, namun bukan wajah Dimas yang ia lihat melainkan bibir pria itu.
"Kapan aku bisa mendapatkan ciuman tulus dari bibir ini? Kenapa bibir ini selalu saja di dapatkan oleh Jessica? Kenapa bukan aku? Padahal aku istri sah kak dimas, tapi malah Jessica yang mendapatkannya. Aku juga pengen tau, apalagi mendapatkan cinta kak Dimas. Kenapa sulit sekali mendapatkan kak Dimas sepenuhnya ya? Kenapa?," ucap Nadia.
Dimas hanya diam mendengarkan keluhan dari sang istri. Setelah itu Nadia menatap ke arah depan dan memejamkan kedua matanya.
"Sepertinya aku benar benar kalah oleh Jessica yang cantik dan body nya bagus. Aku cuman gadis jelek yang mendambakan cinta yang tulus dari seorang pangeran. Tanpa aku berpikir, bahwa seorang pangeran pasti akan memberikan cintanya pada seorang putri yang cantik pula. Apa aku menyerah saja ya? Soalnya, sepertinya tidak mungkin aku mendapatkan cinta pria yang mencintai wanita lain. Apa lagi kak Dimas membutuhkan Jessica, apa aku mundur saja ya?," ucap Nadia.
Dimas terkejut saat mendengar ucapan dari sang istri. Saat pria itu akan mengeluarkan suara, tiba tiba saja Nadia duduk di pangkuan Dimas dan mencium bibir pria tersebut. Nadia melumat bibir Dimas dan membuat dimas terkejut bukan main. Ia tidak menyangka ternyata Nadia sangat jago dalam berciuman. Dimas tersenyum dan membalas lumayan tersebut.
Sepasang suami istri tersebut hanyut dalam ciuman mereka. Reflek Dimas membuka baju sang istri dan terlihat sudah bra gadis itu. Nadia? Gadis itu melepaskan ikat pinggang sang suami dan kancing celana Dimas. Saat mereka akan melakukan hubungan yang lebih dalam, Nadia langsung melepaskan ciuman mereka. Setelah itu Nadia langsung duduk kembali di bangku penumpang yang ada di samping Dimas dan memejamkan kedua matanya.
"What?!," ucap Dimas.
Dimas benar benar terkejut melihat tindakan sang istri. Pria itu tertawa kecil dan memasang kancing celananya kembali. "Ternyata kalau dia mabuk, bahaya juga ini. Enggak bisa di biarkan pergi bersama Darren lagi kalau gini," gumam Dimas.
Dimas langsung menghidupkan mobilnya dan menuju rumahnya. Setelah 2 jam di perjalanan, mobil berhenti di halaman rumah. Dimas turun terlebih dahulu dan menggendong sang istri. Satpam yang melihat majikannya langsung masuk ke dalam mobil dan membawa mobil itu ke garasi mobil.
Dimas membawa sang istri masuk ke dalam kamar. Ia menidurkan Nadia ke tempat tidur dengan hati hati. Stelah itu ia menatap wajah sang istri.
"Udah mancing duluan, eh malah enggak jadi. Dasar Nadia," gumam Dimas.
Pria itu tersenyum kecil dan membenarkan kancing baju sang istri. Nadia tertidur lelap karena jujur kepalannya terasa sangat sakit. Dimas masuk ke dalam kamar mandi dan memilih untuk membersihkan dirinya.
*******
Pukul 01.00 WIB. Nadia bangun dari tidurnya, dan ia pun langsung memegang kepalannya yang terasa sangat sakit. Dimas yang tadinya sudah tertidur langsung bangun saat merasakan pergerakan dari sang istri.
"Kenapa?," ucap Dimas.
Nadia menatap suaminya. "Enggak papa kak, cuman sakit kepala aja kok," ucap Nadia.
"Gue ambilin minum du------,"
"Eh enggak perlu kak, aku bisa ambil sendiri kok," ucap Nadia.
Nadia berdiri dan berjalan keluar kamarnya menuju dapur. Tanpa ia sadari, Dimas mengikutinya dari belakang. Nadia mengambil minum dan meminumnya setelah ia duduk di bangku yang ada di meja makan.
"Mau gue pijitin?," ucap Dimas.
Nadia terkejut dan langsung menatap Dimas yang sudah duduk di sampingnya. "Enggak perlu kak, paling bentar lagi sakit kepalanya hilang," ucap Nadia.
"Makanya kalau enggak bisa minum, jangan minum lah. Cari penyakit aja," ucap Dimas.
Nadia hanya diam, Dimas menghela nafas dengan pelan dan langsung memijat kepala sang istri. Saat merasakan pijatan tersebut, Nadia langsung meletakkan kepalanya di atas meja makan.
"Masuk kamar aja, nanti gue pijitin lagi," ucap Dimas.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya pasrah, akhirnya sepasang suami istri tersebut masuk ke dalam kamar. Dimas duduk di atas kasur dan menyuruh Nadia untuk merebahkan kepalanya di paha milik Dimas. Nadia pasrah dan merebahkan kepalanya di paha sang suami. Dan Dimas pun mulai memijat kepala sang istri.
"Besok besok jangan minum lagi," ucap dimas.
Nadia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. "Lo kenal Razan dari mana?," ucap Dimas.
Nadia menatap suaminya. "Razan? Siapa Razan kak?," ucap Nadia.
"Lo lupa dengan pria yang Lo liat di pesta tadi?," ucap dimas.
Nadia mengerutkan dahinya. "Pria siapa kak? Bukannya tadi aku sama kak Darren ya?," ucap Nadia.
Dimas menghela nafas dengan pelan. "Sudah lupakan saja, mending Lo tidur biar sakit kepalanya hilang," ucap Dimas.
Nadia menganggukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Dimas menatap wajah sang istri yang begitu cantik, ia merasa bersalah kepada Nadia karena tidak bisa membalas cinta sang istri. Tapi, saat mendengar Nadia akan menyerah, Dimas merasa sakit di dadanya. Ia tidak ingin melepaskan Nadia, dan dia tidak bisa melepaskan Jessica. Dimas bisa di sebut pria egois, yang hanya mementingkan dirinya sendiri.