Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Lahirnya 'Penjahat' Misterius
Angin malam berhembus dingin saat aku menyelinap kembali melalui jendela kamarku di kediaman Pendelton. Begitu kedua kakiku menyentuh lantai kayu, pertahananku runtuh.
Aku terhuyung ke depan, bertumpu pada meja kerja mahoni, dan memuntahkan seteguk darah hitam kental ke atas karpet.
Nafasku tersengal hebat. Dadaku terasa seperti baru saja dimasukkan ke dalam tungku peleburan baja. Pusaran Mana Core hitam di pusat jantungku berdenyut liar, seolah memprotes paksaan yang baru saja kulakukan.
"Terlalu dipaksakan," gumamku sambil mengusap sudut bibirku yang berdarah.
Menyerap mana beracun milik Viper dan menghancurkan inti sihirnya dalam satu serangan memang terlihat keren dan tak terkalahkan dari luar. Tapi kenyataannya, wadah fisikku—tubuh Arthur—masih terlalu lemah untuk menampung aliran sihir kegelapan sekuat itu, bahkan setelah dibersihkan oleh Elixir.
Ibarat memasang mesin jet pada kereta kuda kayu. Jika aku terus menggunakan sihir itu secara brutal tanpa melatih ketahanan fisikku, tubuhku sendiri yang akan hancur sebelum sempat dibunuh oleh orang lain.
Aku menyeret langkahku ke kamar mandi, membersihkan sisa darah, dan mengganti pakaianku yang bau keringat. Setelah menelan dua butir pil pereda nyeri kualitas tinggi dari laci obat keluarga, aku menjatuhkan diri ke atas ranjang sutra.
Malam itu, aku tidur tanpa mimpi. Misi pertamaku berhasil. Leherku aman untuk sementara waktu.
Keesokan paginya, Akademi Sihir Solaria berubah menjadi sarang lebah yang ditusuk.
Keretaku baru saja melewati gerbang utama ketika aku melihat puluhan Ksatria Kekaisaran berseragam zirah perak berpatroli di seluruh penjuru akademi. Bendera berlambang singa emas milik istana berkibar di beberapa titik. Udara dipenuhi ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau.
Aku turun dari kereta dengan wajah datar yang sudah menjadi ciri khasku. Seperti biasa, kehadiranku memancing bisik-bisik, tapi kali ini topik mereka jauh lebih menarik.
"Kalian dengar? Semalam ada pembunuh bayaran masuk ke Hutan Merah!"
"Kudengar targetnya si udik Leon. Dia ditemukan pingsan dengan racun tingkat tinggi di tubuhnya."
"Bukan itu bagian terburuknya! Profesor Aegis menemukan mayat pembunuh itu. Katanya... mayat itu sangat mengerikan. Inti mananya hancur lebur tanpa sisa!"
"Siapa yang melakukannya? Profesor Aegis?"
"Bukan! Profesor Aegis bilang hanya Penyihir Hitam tingkat Master yang bisa menyedot kehidupan seperti itu. Ada monster tak dikenal di akademi kita!"
Aku menarik sudut bibirku tipis, nyaris tak terlihat.
Penyihir Hitam tingkat Master? Pujian yang terlalu berlebihan. Jika mereka tahu bahwa 'monster' itu adalah Tuan Muda Sampah yang baru saja gagal ujian praktik sihir minggu lalu, Profesor Aegis mungkin akan pensiun dini karena malu.
Aku terus melangkah menelusuri koridor marmer menuju kelasku, mengabaikan tatapan curiga dari beberapa Ksatria. Namun, langkahku terhenti ketika sebuah rapier bersarung perak tiba-tiba melintang di depan dadaku, menghalangi jalanku.
Aku mendongak perlahan.
Berdiri di hadapanku adalah seorang gadis dengan rambut pirang platina yang diikat tinggi menyerupai ekor kuda, dan sepasang mata hijau zamrud yang memancarkan otoritas mutlak. Seragam akademinya dilengkapi dengan jubah setengah bahu berwarna biru tua—lambang Ketua Komite Kedisiplinan.
Cecilia von Arnault. Putri tunggal dari Duke Arnault, saingan politik terberat keluargaku.
Dalam novel, Cecilia adalah salah satu pahlawan wanita (heroine) yang nantinya akan jatuh cinta pada Leon karena integritas dan kebaikannya. Ia sangat membenci Arthur yang arogan dan sering menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menjatuhkan keluarga Pendelton.
"Menyingkir dari jalanku, Arnault," ucapku dingin, tanpa repot-repot menyingkirkan rapiernya dengan tanganku.
Mata hijau Cecilia memicing tajam. "Arthur Pendelton. Di mana kau semalam antara pukul sepuluh hingga tengah malam?"
"Itu bukan urusanmu."
"Ini menjadi urusanku ketika ada insiden pembunuhan di wilayah akademi," desis Cecilia, melangkah lebih dekat. Bau lavender yang samar menguar darinya. "Semua murid asrama sudah didata. Tapi kau, sebagai murid komuter, tidak punya alibi. Dan kebetulan sekali, murid yang diserang semalam adalah Leon... orang yang baru saja mempermalukanmu di arena kemarin lusa."
Murid-murid di sekitar kami mulai berkumpul, membentuk lingkaran dengan napas tertahan. Konfrontasi antara dua ahli waris Duke adalah tontonan yang langka.
"Logika yang sangat dangkal, Ketua Kedisiplinan," balasku dengan nada bosan, membalas tatapan tajamnya tanpa berkedip. "Jika aku memang menyewa pembunuh untuk Leon, lalu siapa 'Penyihir Hitam' misterius yang membunuh pembunuh bayaran itu? Apakah aku menyewa pembunuh untuk membunuh pembunuhku sendiri?"
Cecilia terdiam. Rahangnya mengeras karena ia tahu argumennya memiliki celah.
"Atau..." Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke depan, memangkas jarak di antara kami hingga rapier di tangannya terpaksa diturunkan. Aku berbisik tepat di depan wajahnya, "...kau berpikir aku adalah Penyihir Hitam tingkat Master itu?"
Mata Cecilia sedikit melebar, lalu ia mendengus sinis, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini. "Kau? Jangan mimpi. Inti manamu bahkan tidak cukup untuk menyalakan lilin ulang tahun."
Aku menegakkan tubuh kembali, merapikan kerah jasku yang sama sekali tidak berantakan. "Tepat sekali. Kalau begitu, pergilah bermain detektif dengan orang lain. Aku punya kelas yang harus kuhadiri."
Tanpa menunggu jawabannya, aku melangkah melewatinya. Kusenggol bahunya pelan, cukup untuk membuat postur sempurnanya sedikit oleng. Cecilia mematung di tempatnya, menatap punggungku dengan sorot mata yang penuh kebingungan dan... sedikit rasa penasaran. Arthur yang biasanya akan berteriak histeris jika dituduh, kini mematahkan argumennya dengan ketenangan yang mematikan.
Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan gadis itu. Ada urusan yang lebih penting.
Malam ini, berbekal keributan dan penjagaan yang difokuskan pada Hutan Merah, aku berencana menyusup ke Perpustakaan Terlarang di Menara Barat. Di dalam novel, di situlah letak artefak keduaku: Grimoire (Buku Sihir) Kuno yang berisi teknik pernapasan untuk menstabilkan wadah sihir kegelapan.
Leon sang Pahlawan boleh saja dilindungi oleh para Profesor dan Ksatria. Tapi bayangan akan selalu bergerak lebih cepat di tempat yang tak tersentuh cahaya.