NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindahan

Sementara itu di kediaman Bu Inggit, ia sedang membujuk anaknya untuk setuju. 

“Aku tidak ikut campur kalau ada masalah aneh-aneh nanti, ini semua ide Mama.”

“Iya, iya. Mama jamin dia anak yang baik. Kamunya juga harus mulai coba buka hati, memangnya mau jadi bujang lapuk yang masa tuanya sendirian?” Bu Inggit meminjam istilah bujang lapuk yang disebut-sebut Melisa kemarin. 

“Tidak masalah.” Dharma memang tidak pernah mengindahkan permintaan mamanya untuk mencari ibu pengganti untuk Dayu, ia merasa mampu membesarkan anak itu sendirian. 

“Kamu mah ga ada masalah. Dayu? Dia butuh ibu, Dharma. Butuh sosok Perempuan dewasa untuk teman berkeluh kesah. Memangnya dia pernah tanya-tanya soal menstruasi sama kamu? Engga, kan?” Bu Inggit terus mencecarnya dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa Dharma sanggah.

“Kan bisa tanya dokter pribadi kita.”

“Nah, itu dia Dharma. Yang seperti itu tidak sesederhana pemikiranmu. Kamu laki-laki, punya ayah ibu yang lengkap di usia Dayu sekarang, jadi kamu tidak paham bagaimana perasaan anak itu.”

Benar juga. Dharma memang tidak cukup banyak tahu tentang kehidupan Dayu. Ia hanya menanyai tentang apa yang ingin Dayu miliki saja, tidak tentang kebutuhan mental dan emosionalnya. Ia mengabaikan itu selama ini.

“Jadi, besok Mama harap kamu bisa berpura-pura setuju dengan ini semua. Minimal jalani dulu satu tahun, kalau dalam waktu satu tahun itu kamu masih belum bisa menemukan kecocokan dengan perempuan yang Mama pilihkan, Mama sendiri yang akan bicara sama dia.” Seperti biasa, Bu Inggit tidak mau akhir pembicaraan yang menggantung. Ia selalu menawarkan kemungkinan A dan B, juga konsekuensi untuk keduanya.

“Terserah Mama saja.”

“Oke, itu Mama anggap persetujuan ya. Jadi kamu harus bisa bekerja sama dengan baik dalam misi ini. Jangan memikirkan diri sendiri Dharma, ada Dayu yang harus kamu pikirkan sebagai tanggung jawabmu juga.” 

Kalau sudah membahas Dayu, Dharma tidak bisa berkutik. Anak itu satu-satunya kenangan yang ia miliki Bersama mantan istrinya. 

…

Akhirnya Melisa sampai di kediaman Bu Inggit. Ia dijemput pagi-pagi sekali tadi. Jadi, belum sempat sarapan.

Supir keluarga dan Maya membantunya menurunkan barang bawaan, tidak banyak karena memang ia sering pindah kos, jadi barang-barangnya hanya sedikit untuk memudahkan kalau sewaktu-waktu ia harus pindah tempat.

“Makasih, Pak.” Supir itu berpamitan pada mereka berdua setelah membantu menurunkan barang bawaan, jadi Melisa sekalian berterima kasih padanya.

”Kamu juga ya, May. Makasih banyak.” Ia mencoba kembali ramah pada Maya. Setidaknya dengan mengenal Maya ia jadi tidak terlalu sendirian dan asing di rumah sebesar ini nanti.

“Rumah Bu Inggit besar juga, ya,” gumamnya penuh takjub. 

Melisa pikir ia hanya bergumam pelan, tapi kalimat itu terdengar oleh Maya. 

“Ini rumah Pak Dharma, Mel. Calon suami kamu. Kalau rumah Bu Inggit beda lagi, tapi tidak jauh dari sini kok. Nanti juga aku mungkin akan sering-sering berkunjung ke sini untuk memantau pekerjaan para ART dan juga kebutuhan Dayu.”

“Siapa itu Dayu?” Melisa mengernyitkan dahinya. Siapa lagi itu Dayu, ia khawatir ini adalah tokoh yang tidak-tidak dalam keluarga besar Bu Inggit.

“Anak perempuan Pak Dharma, ia tetap diminta tinggal di sini meskipun sebelum meninggal kabarnya mantan istri Pak Dharma pergi bersama cinta pertamanya entah ke mana.”

Hah? Selain tua bangka ternyata pria yang akan dijodohkan dengannya ini adalah seorang duda beranak satu. Melisa menggerutu dalam hati, Tuhan, sebenarnya apa kesalahanku di masa lalu sampai harus menerima nasib seperti ini? Astaga, ini double kill.

“Jadi, si Pak Dharma itu duda beranak satu, May?” Melisa tidak sengaja berteriak dengan suara pura-pura menangis seperti dalam drama-drama menyedihkan yang biasa ia tonton di platform penampil film. 

Ia tidak menyangka suaranya sekeras itu sampai Bu Inggit dan Dharma di ruang tamu mendengar kehebohannya. 

“Itu mereka datang. Ayo kita ke depan.”

Dharma beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Setelah sekian lama hidupnya damai tanpa ada drama keluarga, ternyata hari ini sampai juga ia pada episode harus memaklumi mood seorang perempuan lagi begitu calon yang disebutkan oleh mamanya itu resmi menjadi pendampingnya besok.

“Selamat datang di rumah, Mel. Ayo, ayo. Silakan masuk dulu.” 

Raut kebahagiaan di wajah Bu Inggit tidak bisa lagi disembunyikan. Melihat itu Dharma jadi tidak berani terlalu keras menolak, bagaimanapun perempuan itu membesarkan dirinya susah payah sendirian sejak ayahnya meninggal dulu.

Bukannya masuk, Melisa malah diam mematung di tengah pintu begitu melihat Dharma datang bersama Bu Inggit. “Yang seperti ini dibilang bujang lapuk tua bangka? Siapa itu kemarin yang bilang begitu, jahat sekali. Ini mah jelmaan dewa,” ceramahnya dalam hati. 

Maya mengikuti Bu Inggit masuk ke dalam rumah, ia sengaja membiarkan Melisa terjebak dalam kekagumannya sendiri. Sudah Maya sangka, Melisa akan terpesona. Sejauh ini belum ada yang bisa menolak pesona seorang Dharma.

“Kamu yang diajak Mama ke sini, kan?” 

Wah, suaranya. Ini sepertinya Melisa bakalan batal berbuat aneh-aneh sampai diceraikan, kalau saja ia dikenalkan pada orang ini sejak awal sepertinya tidak akan ada adegan penolakan, merasa terjebak, dan rencana berbuat kekacauan sampai diceraikan. Melisa pasti langsung mau dan berusaha keras untuk membuat pria ini jatuh cinta.

Eh, tapi itu kan hanya wajahnya yang tampak dari luar. Siapa tahu pria ini memang menyebalkan dan bikin mual, makanya mantan istrinya pergi dari rumah dan ibunya sampai harus mencarikan penggantinya dengan melakukan penjebakan murahan. Apalagi lima tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk percobaan ini.

Baru melihat Dharma sekali saja sudah membuat Melisa bergelut dengan pikirannya sendiri. 

“Hei, permisi. Kamu Melisa itu, kan?” Dharma melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Melisa. 

“Eh, iya, iya. Saya Melisa.” Ia menjawabnya dengan gugup. Baru kali ini berdiri dekat sekali dengan duda ganteng. Melisa memperingati dirinya agar tidak mudah terpengaruh pada pesona Dharma dan melakukan hal yang membuatnya tampak seperti perempuan murahan. Ia akan berusaha jual mahal dan menunjukkan sikap menyesal karena masuk dalam jebakan Bu Inggit.

“Ayo, masuk dulu. Mama sama Maya sudah menunggu di dalam, sepertinya masih ada banyak yang perlu dibahas.” Dharma hendak berlalu meninggalkan Melisa, tapi ia berbalik. Mereka hampir bertabrakan.

“Barang kamu cuma ini?” tanyanya. 

Melisa mengangguk.

“Nanti biar dibawakan. Belum ada yang tahu kamu diminta menempati kamar yang mana.”

“Apa? Belum tahu akan tinggal di kamar mana? Sungguh tidak masuk akal, seorang istri itu bukannya akan tinggal di kamar suaminya ya?” batin Melisa. 

Ia belum berani terlalu bertingkah, apalagi membantah dan banyak tanya. Sebelum tahu apa yang ada dalam rumah ini, ia harus menciptakan kesan pertemuan pertama yang baik pada semua orang.

“Oke.” Sementara semua diokekan saja dulu. 

…

“Hah? Sebanyak ini harus dihafal?” 

Kan, ada ada saja gebrakan yang membuatnya harus terkejut berkali-kali. Keluarga ini memang special, atau ia yang terlalu berasal dari kalangan yang tidak setara dengan mereka. Belum apa-apa Melisa sudah ingin menangis dan berteriak.  

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Anonim: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!