Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 8
Jovan berjalan perlahan menuju rumah itu.
Setiap langkah terasa berat. Sesampainya di depan pagar, ia kembali berhenti. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, tetapi berhenti di udara.
Ia menatap kotak mainan di tangannya.
"Semoga kalian mau memaafkan aku..." Jovan menarik napasnya dalam-dalam. "Apapun akan aku lakukan demi bisa menebus kesalahanku."
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukan terdengar pelan.
Di dalam rumah, Serina yang sedang duduk termenung di ruang tamu langsung mengangkat wajahnya. Farel yang berada di sampingnya juga ikut menoleh.
"Bu... siapa?"
Serina mengusap air matanya.
"Entahlah, Nak."
Tok...
Tok...
Ketukan kembali terdengar. Serina bangkit perlahan.
Ia berjalan menuju pintu dengan langkah lemah. Tangannya menyentuh gagang pintu. Namun entah mengapa, jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan.
Perlahan pintu dibuka. Dan dalam sekejap, wajah Serina membeku.bMatanya melebar ketika melihat pria yang berdiri di hadapannya.
Jovan.
Pria yang beberapa hari lalu menjadi penyebab hidupnya berubah menjadi kehancuran. Jovan berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Di tangannya terdapat sebuah kotak mobil mainan remote control.
Serina menatapnya dengan tatapan terluka.
"Kau..."
Jovan menundukkan kepala.
"Serina..."
Suara itu membuat dada Serina kembali sesak.
"Kau datang ke sini untuk apa?"
Jovan menggenggam erat kotak mainan tersebut.
"Aku ingin bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan."
"Serina, tolong..."
"Aku bilang pergi!" Suara Serina meninggi.
Farel yang mendengar suara ibunya segera mendekat.
Namun ketika melihat Jovan, bocah itu justru terdiam.
Jovan menatap Farel. Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu. Hatinya Jovan kembali terasa diremas.
Ia kemudian berlutut agar sejajar dengan Farel.
"Farel..."
Namun Serina langsung berdiri di depan putranya, seolah menjadi pelindung.
"Jangan mendekati anakku!"
Jovan membeku. Ia menundukkan kepala.
"Baik."
Kemudian ia mengulurkan kotak mainan itu dari kejauhan.
"Aku membelikan ini untuk Farel."
Serina menatap benda tersebut.
"Kenapa?"
Jovan menghela napas panjang.
"Karena aku tahu aku tidak bisa menggantikan ayahnya."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku juga tahu mainan ini tidak akan menghapus kesedihannya."
Jovan menatap Farel dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Tapi... aku hanya ingin memberikan sesuatu untuknya."
Serina terdiam. Air matanya kembali mengalir.
"Jangan lakukan ini, Jovan."
"Aku tidak sedang berusaha membeli maaf kalian."
Suara Jovan bergetar. "Aku hanya ingin kalian tahu..."
Ia menatap Serina dalam-dalam. "Aku tidak akan lari."
Serina menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
Jovan kemudian meletakkan kotak mainan itu perlahan di depan pintu.
"Kalau kau tidak mau melihatku, aku akan pergi."
Jovan berdiri. "Tapi aku akan tetap bertanggung jawab atas kehidupan kalian." Serina menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati."
Jovan mengangguk pelan.
"Aku akan membuktikannya." Ia berbalik dan mulai melangkah pergi. Namun dari belakang, suara kecil Farel tiba-tiba terdengar.
"Om..."
Langkah Jovan terhenti. Ia menoleh perlahan.
Farel menunjuk kotak mainan yang diletakkan di depan pintu.
"Mobil itu... buat Farel?"
Jovan tersenyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya."
Farel memandang ibunya.
Serina terdiam.
Dan untuk pertama kalinya, malam itu, Jovan melihat secercah kelembutan di wajah anak kecil tersebut.
Namun di dalam hati Jovan, ia tahu satu hal.
Perjalanan untuk menebus kesalahannya baru saja dimulai. Jovan akhirnya benar-benar berbalik meninggalkan rumah kontrakan itu.
Langkahnya perlahan menjauh dari tempat tinggal Serina dan Farel, tetapi entah mengapa hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Jovan sempat menoleh ke belakang. Dari kejauhan, ia masih dapat melihat pintu rumah yang kini telah tertutup.
Seulas senyum lebar terukir di bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan tragis itu terjadi, Jovan merasakan sedikit kelegaan. Bukan karena Serina telah memaafkannya. Bukan pula karena masalah yang dihadapinya telah selesai.Sama sekali bukan. Justru Jovan sadar, mungkin masih membutuhkan waktu yang sangat panjang sebelum Serina mampu menerima kehadirannya tanpa mengingat kematian Riki.
Namun setidaknya... Farel mau menerima mainan darinya. Bocah kecil itu bahkan sempat bertanya apakah mobil mainan tersebut memang untuk dirinya.
Jovan tersenyum kecil.
"Setidaknya dia nggak begitu membenciku," gumamnya. Ia mengusap wajahnya kasar. "Walaupun mungkin suatu hari nanti dia akan tahu kalau mobil om nya adalah mobil yang merenggut nyawa ayahnya."
Senyumnya perlahan memudar. Bayangan Riki kembali memenuhi pikirannya. Jovan menundukkan kepala.
"Maaf, Mas Riki..." Suara itu nyaris tidak terdengar.
"Aku nggak pernah berniat mengambil hidupmu."
Ia menarik napas panjang. "Kalau saja malam itu aku nggak keluar... kalau saja rem mobilku nggak rusak... kalau saja aku nggak dibuat kehilangan kendali..."
Jovan mengepalkan kedua tangannya. Tetapi semua penyesalan itu tidak akan mengubah kenyataan.
Riki telah pergi. Dan Serina harus menjalani hidup sebagai seorang janda bersama anaknya yang masih begitu kecil.
Jovan kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.Namun sebelum menyalakan mesin, ia mengambil ponselnya. Nama Darren tertera di dalam daftar panggilan. Jovan menatap nama tersebut cukup lama.
"Kak Darren..." Ia kemudian menghela napas."Semoga Kakak berhasil menemukan mereka." Pikirannya kembali tertuju pada hasil penyelidikan Darren.
Ada seseorang yang memasukkan zat psikoaktif ke dalam minumannya. Ada seseorang yang diduga merusak sistem pengereman mobilnya.Dan semuanya terjadi tepat sebelum kecelakaan. Jovan tidak mungkin menganggap semua itu sebagai kebetulan.
Apalagi jika memang ada orang yang sengaja merencanakan semuanya. Ia mengepalkan tangan di atas kemudi.
"Kalau memang ada orang yang melakukan semua ini..."Tatapannya berubah serius. "Jangan biarkan mereka lolos, Kak." Jovan menyalakan mesin.
Namun sebelum menjalankan mobil, ponselnya tiba-tiba berdering.
Darren.
Jovan segera mengangkatnya.
"Halo, Kak?"
"Jovan, kamu di mana?"
Jovan terdiam sesaat. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya baru saja mendatangi rumah Serina.
"Di luar."
Darren menghela napas dari seberang telepon.
"Jangan melakukan tindakan gegabah lagi."
Jovan tersenyum kecil.
"Tenang, Kak. Gue nggak melakukan apa-apa."
"Jovan." Nada suaranya Darren terdengar tegas.
"Aku serius."
Jovan akhirnya mengalah.
"Iya, Kak."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Masih hidup."
"Jangan bercanda."
Jovan tertawa kecil. "Maaf."
Suasana tiba-tiba hening beberapa detik. Kemudian suara Darren terdengar lebih serius.
"Aku menemukan beberapa petunjuk baru." Jovan langsung menegakkan tubuh.
"Petunjuk?"
"Iya."
"Apa itu?"
"Aku belum bisa menjelaskan semuanya lewat telepon. Aku masih harus memastikan beberapa bukti sebelum mengambil tindakan."
Jovan mengangguk meskipun Darren tidak dapat melihatnya.
"Jangan berhenti, Kak."
"Aku tidak akan berhenti."
"Siapa pun pelakunya..." suara Jovan terdengar berat, "...gue ingin mereka ditemukan."
Darren terdiam sejenak.
"Kamu masih menyalahkan dirimu sendiri?"
Jovan menatap jalan di depannya.
"Iya."
"Jovan..."
"Gue tahu gue dijebak, Kak." Ia menghela napas panjang.
"Tapi tetap saja, mobil gue yang menabrak Riki."
Darren tidak langsung menjawab.
"Aku mengerti perasaanmu."
"Makanya gue harus bertanggung jawab kepada Serina dan Farel."
"Jangan mengambil keputusan besar hanya karena rasa bersalah."
Jovan terdiam. Kalimat Darren membuatnya teringat tatapan Serina beberapa saat lalu. Tatapan penuh luka.
Tatapan seorang wanita yang kehilangan suaminya.
"Gue nggak tahu apa Serina akan pernah memaafkan gue."
"Biarkan waktu yang menjawab."Jovan tersenyum getir. "Tapi setidaknya Farel mau menerima mainan dari gue." Darren menghela napas pelan.
"Farel masih kecil, Jovan."
"Gue tahu."
"Jangan jadikan itu alasan untuk memaksakan dirimu masuk ke kehidupan mereka."
"Gue nggak akan memaksa." Jovan menatap lurus ke depan. "Gue cuma ingin ada ketika mereka membutuhkan bantuan."
Darren terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata dengan suara lebih lembut.
"Kalau begitu, buktikan dengan tindakan. Bukan dengan janji."
Jovan mengangguk.
"Iya, Kak."
Sebelum mengakhiri panggilan, Darren kembali berkata,
"Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Percayalah kepadaku."
Jovan tersenyum.
"Gue percaya sama Kakak."
Panggilan berakhir.
Jovan meletakkan ponselnya di dashboard. Tatapannya kembali tertuju pada jalan raya.Di dalam hatinya, ia menggenggam sebuah harapan.
Semoga Darren berhasil menemukan Jesika, Gio, Jenika, dan siapa pun yang berada di balik semua kejadian tersebut.Semoga kebenaran segera terungkap. Bukan semata-mata demi menyelamatkan kariernya sebagai pembalap.Bukan pula demi membersihkan namanya di hadapan publik. Tetapi demi Serina. Demi Farel. Dan demi Riki yang telah kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Jovan menginjak pedal gas perlahan.
"Kalau memang aku tidak bersalah sepenuhnya..."
Tatapannya mengeras."...aku tetap akan bertanggung jawab atas akibatnya." Ia terdiam sejenak. Kemudian senyum tipis kembali muncul di bibirnya ketika teringat wajah Farel.
"Dan kalau suatu hari nanti Farel mau memanggilku lagi..." Jovan terkekeh pelan."Semoga bukan dengan sebutan 'Om pembunuh ayahku'." Senyumnya kembali menghilang. Ia menatap jalanan malam yang terbentang di hadapannya.
"Semoga suatu hari nanti dia bisa mengerti..." Jovan menarik napas dalam-dalam. "...bahwa aku benar-benar menyesal." Mobilnya pun melaju meninggalkan kawasan tersebut. Sementara di dalam rumah sederhana itu, sebuah mobil mainan remote control kini berada di tangan seorang bocah kecil bernama Farel.
Dan tanpa disadari siapa pun, benda sederhana itu menjadi awal dari sebuah hubungan yang kelak akan mengubah kehidupan Jovan dan Serina untuk selamanya.
Bersambung...
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔