Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai kamar Julian, membawa sisa-sisa hawa dingin sisa hujan badai tadi malam. Pria itu terbangun dengan kepala yang terasa berat dan mata yang menyisakan lelah.
Julian mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Pikirannya langsung berputar pada satu beban berat yang sejak semalam menghimpit dadanya: Claire.
Pernikahan itu tinggal menghitung bulan. Undangan, persiapan, dan seluruh ekspektasi keluarga sudah mulai berjalan di belakang layar.
Sebagai pria yang menjunjung tinggi komitmen terlebih mengingat statusnya yang telah mengambil keperawanan Claire Julian tahu ia tidak bisa terus-menerus menutup mata. Ia harus jujur pada Elena, dan hari ini terasa seperti batas waktu psikologis yang paling mendesak.
Ia tidak ingin Elena mendengar kabar pernikahan itu dari mulut orang lain atau dari gosip kalangan pertemanan mereka. Elena harus menjadi orang pertama yang mendengarnya langsung dari Julian.
Namun, gagasan itu justru memicu teror yang luar biasa di dalam diri Julian.
Rasa takut mendadak merayap dan mencengkeram ulu hatinya. Bukan takut pada kemarahan Claire, bukan pula takut pada sanksi sosial.
Ketakutan terbesar Julian jauh lebih sederhana namun mematikan: takut melihat air mata kekecewaan di mata Elena, takut gadis itu marah, membencinya, dan yang paling mengerikan dari semuanya memilih untuk menjauh.
Bayangan hidup di dunia di mana ia menjadi sosok asing bagi Elena, di mana ia tidak bisa lagi menyentuh, mendekap, atau sekadar melihat senyum gadis itu setiap hari, terasa seperti hukuman mati baginya. Selama belasan tahun, poros hidup Julian terbiasa berputar dengan Elena di sisinya.
Kehilangan status sebagai "tempat bersandar" wanita itu adalah ketakutan terbesar yang tak sanggup ia bayangkan.
Julian mengusap wajahnya dengan kasar, menarik napas dalam-dalam lalu menghempaskannya perlahan.
Dilema itu menghimpit dadanya tanpa celah: maju berarti menghancurkan dunianya dengan risiko kehilangan Elena selamanya, namun diam berarti hidup dalam kebohongan busuk yang cepat atau lambat akan meledak dan menghancurkan mereka berdua dari dalam.
Julian memutus alur pemikiran yang kian kalut itu, bangkit dari ranjang, dan melangkah cepat menuju kamar mandi. Air dingin yang membasahi tubuhnya membantu menyegarkan pikiran dan mengurai sisa-sisa kantuk, meski beban emosional di dadanya masih terasa sama beratnya.
Sebagai seorang profesional, ia tetap harus menuntaskan pekerjaan kantornya hari ini meski secara remote dari laptopnya.
Usai memoles penampilannya dengan pakaian kasual namun rapi, Julian langsung menyambar ponsel di atas nakas. Tanpa menunda lagi, jemarinya mengusap layar dan mendial nomor Elena.
Panggilan itu tersambung dalam hitungan detik.
"Pagi, princess," sapa Julian dengan suara bernada hangat, secara alami menyembunyikan kecemasan gila yang sempat menghantui pikirannya beberapa saat lalu. "Gimana tidurnya? Nyenyak, kan?"
Di ujung telepon, suara Elena terdengar masih sedikit serak khas orang baru bangun tidur, namun jauh lebih tenang dibandingkan kondisi histerisnya saat diterjang badai tadi malam.
"Makan pagi dulu ya, El. Jangan lupa minum air hangat," lanjut Julian lembut, sembari melirik jam di pergelangan tangannya.
"Dua jam lagi aku sampai di rumah kamu. Kita tuntasin janji aku semalam—bebas mau jalan ke mana aja dan beli apa aja yang kamu mau hari ini. Siap-siap ya."
Mendengar suara hangat Julian di seberang telepon, senyum tipis mengembang di bibir Elena. Rasa lelah dan bayang-bayang kelam tadi malam seolah terangkat sebagian. Ia melirik jam dinding, menyadari waktu dua jam yang diberikan Julian tidak boleh disia-siakan.
"Iya, Jules... Aku bersiap-siap sekarang. Hati-hati di jalan ya," jawab Elena lembut sebelum menutup panggilan.
Tanpa menunda lagi, Elena langsung beranjak dari ranjang. Ia melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Rasa dingin air pagi itu seketika membasahi kulitnya, mengusir sisa-sisa kantuk dan duka yang sempat mengendap.
Usai membersihkan diri, Elena berdiri di depan lemari pakaian. Ia memilih gaun kasual berwarna lembut yang nyaman dipadukan dengan kardigan rajut—pilihan simpel namun tetap manis.
Dengan cermat, ia memoleskan sedikit pelembap dan lip tint tipis di bibirnya, memanfaatkan beberapa produk kosmetik yang baru saja dibelikan Julian semalam. Wajahnya yang sempat pucat kini memancarkan kembali rona segar.
Jemarinya menyapu pelan gelang emas yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Kilau halus emas itu memantulkan cahaya pagi, menghadirkan kehangatan aneh yang merayap ke dadanya.
Tepat saat Elena sedang merapikan tas kecilnya, suara klakson khas mobil Lexus milik Julian terdengar dari luar pagar rumah. Elena tersenyum simpul, merapikan rambutnya sekali lagi di depan cermin, lalu bergegas melangkah turun untuk menyambut pria yang selalu siap menjadi pelindungnya itu.
ayo tor lanjutin update nya