Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu di mana?
Pov Gio
Cukup lama, aku tidak berdiri di sini. Di gedung perusahaan ayahku. Sejak putri keduanya lahir, dia resmi menjadi warga negara di sini karena Papa ku menikah dengan Lastri, WNI asli.
Sedangkan aku, tetap memilih kembali ke Roma untuk menyelesaikan bisnis – bisnis gelapku dan terutama Mama ku. Setelah bercerai dengan ayah, Mama ku depresi. Dia sering hilang kendali dan menjadi alkoholik. Akibat kebiasaan buruknya itu, paru – parunya bocor dan ginjalnya mengalami disfungsi stadium empat. Aku merawatnya hingga ke Milan, hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Saat itu, aku memilih Mama dibanding Fiona. Padahal, aku sudah menyukainya sejak pandangan pertama. Bahkan, karena terinspirasi olehnya aku mengubah bisnis – bisnis ku menjadi legal semua.
Tetapi, saat itu aku berjanji pada diriku sendiri. Jika, aku bertemu dengannya lagi, maka tidak akan ku lepaskan lagi. Dan, kami bertemu lagi. Lagi – lagi, dalam keadaan aku yang membutuhkannya. Sama seperti waktu itu.
Sembari bersandar pada mobilku yang berwarna hitam, aku tersenyum mengingat pertemuan – pertemuanku kemarin bersama Fiona. Lagi – lagi, aku ditolak. Pernyataanku untuk menikahinya pun dianggap candaan.
“Bos, Anda di minta untuk langsung ke ruangan.”
Aku mengangguk. Kebul asap r0k0k yang aku hisap sebelumnya langsung aku matikan dan segera mengikuti langkah kaki asisten Papa yang bernama Edgar.
“Sejak kapan anda tiba?”
“Sudah lama.”
“Oh, maaf. saya tidak tahu.”
“it’s oke,” jawabku. “Papa juga tidak tahu kalau aku sudah satu minggu di sini.”
Asisten Papa yang terlihat seusia denganku itu mengangguk patuh.
“Anda sendiri? Tidak ditemani Craig?”
Edgar tahu betul asistenku. Sebelumnya, mereka pernah bertemu.
“Tidak. Sebenarnya, aku hanya ingin liburan, tapi malah dapat pekerjaan.”
Edgar tertawa. “Itulah bedanya anda dengan saya. Saya harus bekerja dulu untuk liburan. Sementara anda, liburan saja dapat pekerjaan.”
Aku ikut tertawa. Dulu, ayah Edgar adalah kepercayaan Papa dan sekarang setelah dia meninggal dunia, Edgar pun menggantikannya. Aku cukup mengenal Edgar, meski dia hanya kaki tangan Papa di sini, tapi tiap kali aku ke sini, keluarganya selalu menyambut kami dan aku bermain dengannya.
“Oh ya, apa kabar si intel cantik?” tanyanya lagi.
Lagi – lagi, aku tertawa. Kepalaku langsung membayangkan wajah Fiona yang cemberut dan menggemaskan.
“Aku bertemu dengannya.”
“Oh ya?” Edgar antusias.
“Ya, di rumah sakit. Dia sudah tidak menjadi intel.”
“Oh ya. Aku dengar dia dokter.”
Aku mengangguk. “Ya.”
“Luar biasa.”
Tring
Pintu lift yang kami naiki terbuka, lalu kami keluar. Di sana, aku melihat pemandangan tak biasa. Papa dengan istri dan putrinya, adikku yang baru berusia tiga tahun. Usianya sama dengan usia anak Jihan dan Keanu.
Bahagia, bersahaja, dan kaya, itu yang aku lihat dari Papa sekarang. Dia memiliki keluarga yang harmonis tanpa ada raut kecemasan sama sekali sepetti yang terjad saat aku kecil. Semua tampak lepas.
“Gio!”
Papa memanggilku saat menoleh. Aku tersenyum. Kakiku mendekat. Lastri, memang istri Papa yang terbaik. Dia tersenyum dan memelukku.
“Kenapa ke Jakarta tidak kasih kabar?”
“Sorry, Bu. Sebenarnya, saya di sini hanya sebentar.” Jawabku pada ibu tiriku dan langsung teralihkan oleh putri kecil Papa. “Nicky …”
Gadis mungil yang cantik itu langsung berlari ke arahku dan meminta digendong. Aku segera mengangkatnya.
“Gio.”
“Nicky! Panggil kakak,” protes Lastri pada sang putri.
“No, He is my uncle.” Gadis kecil itu tetap mengira Gio adalah pamannya, sama seperti anak Jihan dan Keanu yang memanggilnya Uncle.
“Tidak, Sayang. Ini Ini Brother bukan uncle.” Lastri memberi penjelasan.
Namun, Nicky tetap memanggilku Paman. Rasanya, aku sudah tua sekali. Aku juga ingin seperti mereka yang memiliki istri dan seorang putri.
“Uncle, let’s play!”
“Oke.”
Aku mengikuti keinginan Nicky hingga tak terasa aku mengikuti Papa sampai ke rumahnya dan menikmati malam malam bersama mereka.
“Gio, Papa turut berduka cita.”
Setelah menikmati makan malam, aku berbincang santai dengan Papa di taman. Perkataannya, membuatku mengalihkan pemandangan yang sangat menenangkan. Taman ini tampak hidup dan terawat dengan penerangan yang tak menerawangan sehingga dapat dinikmati dengan jelas.
“Terima kasih.”
“justru, Papa yang harusnya berterima kasih padamu. Karena kamu mau merawat ibumu.”
Aku tertawa. “Sudah semestinya begitu. Aku anaknya. Sedangkan Papa, sudah bukan suaminya lagi. Jihan bilang, tidak ada mantan anak kalau mantan suami atau istri, banyak.”
Papa tertawa. Papaku, Wiliam Abraham yang dulu ditakuti banyak orang di Itali, kini menjadi pengusaha biasa di negeri ini. Dia meninggalkan semua kejahatannya demi satu wanita yaitu Lastri. Dan, sepertinya aku mengikuti jejaknya.
“Lalu, bagaimana denganmu? Sudah tidak ada pengiriman barang haram lagi ka?”
Au menggeleng.
“Perdagangan orang?”
Kepalaku kembali menggeleng.
“Good.”
“Tidak mudah untuk berhenti, Pa,” ucapku padanya. “Gomes masih mencariku. Belum lagi, orang – orang penting di sini yang dulu memiliki kerjasama denganku. Aku masih tidak aman.”
“Kalau begitu, mengapa datang sendiri? Kamu tidak ditemani Craig?”
“Justru, kalau aku ditemani Craig, aku akan semakin tidak aman. Mereka lebih mengenal Craig dibanding aku.”
Papa mengerti. Kepalanya mengangguk. Dulu, semua transaksi di sini tidak langsung melalui tanganku. Selalu melalui asistenku, Craig.
“Hati – hati. Negeri ini tidak aman. Ada banyak pejabat yang bermain sendiri dan menjebak.”
“Ya.” Aku setuju. Apalagi, saat ini aku mulai bergabung dengan keluarga anggota dewan yang konon akan ditunjuk menjadi menteri.
“Oh ya, lalu bagaimana dengan perempuan itu?”
Aku mengernyit. “Perempuan?”
Papa tertawa. “Halah, jangan pura – pura tidak tahu. Papa Tau.”
“Papa tau apa?”
“Papa tahu kalau waktu itu kamu pergi karena bukan tidak menginginkannya, tapi karena kamu memilih untuk merawat Mama mu. Tapi sekarang, dia akan menikah dengan orang lain.”
“Papa tahu?” tanyaku tak percaya.
“Jelas tau. Kejar dia dan lindungi dia. Fiona membutuhkanmu.” Kemudian, Papa mendekatiku dan menepuk bahuku. “Percayalah. Tidak ada perempuan yang kuat. Sejatinya, mereka lemah dan hanya berpura – pura kuat.”
Aku diam dan menelaah setiap ucapan Papa. Seketika, tanganku merogoh ponsel dan melihat nama yang tertera di layarnya.
Fiona
Sejak dia menolakku, aku tak lagi menghubunginya. Aku juga tidak memberi pesan padanya. Aku selah menghilang dan entah apa yang ingin dibuktikan.
“Hubungi dia! Kalian sudah tidak berkomunikasi beberapa hari ini kan?”
Aku menatap Papa. Ternyata, insting seorang ayah begitu besar. Bahkan, dia tahu apa yang terjadi antara aku dan Fiona akhir – akhir ini.
Jegur
Hujan turun. Sejak tadi, taman yang indah ini memang sedang basah diguyur hujan. Hujannya cukup deras, diiringi suara petir beberapa kali.
Tut
Tut
Aku mendial nomor Fio. Hingga, sebuah suara isak tangis terdengar lemah di telingaku.
“Gio, kamu benar. Gala dan Vania punya hubungan. Vania bukan sepupunya.”
“Fio!” panggilku panik. “Kamu di mana?”
Tut
Tut
Tut
Tiba – tiba, sambungan telepon terputus.