Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengulik Kisah
"Kesimpulan yang aku bisa dapatkan adalah, kau sebenarnya tidak memiliki sixth sense, tapi ... Apa kau memiliki saudara kembar?" tanya Al ke Arindita, Arindita kaget dengan pertanyaan yang Al berikan.
"Apa Kakak melihatnya?" tanya Arindita, tatapannya ke Al penuh harap, berharap Al bisa memberikan jawaban yang selama ini ingin ia dengar.
"Hm ... Dia dibelakang mu saat ini, tapi dia lebih cantik dari mu dan juga ...." Al menghentikan ucapannya.
"Juga?" tanya Dewa penasaran, Dewa memang tidak memiliki sixth sense tapi Dewa percaya atas apa yang dimiliki oleh para sahabatnya ini, walau terkadang apa yang ia dengar di luar logikanya.
"Abaikan saja, dia tidak mengizinkan ku untuk membicarakannya." ujar Al sambil matanya menatap ke arah belakang Arindita. Ya, sosok yang Al lihat adalah seorang wanita dengan rambut panjangnya yang lurus dan indah, berpakaian putih, dress sleeveless yang ia kenakan seperti menunjukkan bahwa ia dari kalangan yang bagus, wajahnya memang lebih cantik dari Arindita, wanita itu kini melototi Al saat Al mencoba menjabarkan sosoknya ke Arindita.
"Ya Tuhan ...." ucap Arindita sambil menutup mulutnya yang menganga. Arindita tidak percaya bahwa apa yang Al jabarkan saat ini sama persis dengan apa yang di ceritakan oleh neneknya yang belum lama ini tiada.
"Ternyata itu semua benar adanya?" tanya Arindita, kini Arindita sendiri yang meremas tangan Dewa menahan rasa takutnya. Pandangan Dewa pun beralih ke tangan mereka berdua yang saling menggenggam satu sama lain. Sadar jika Arindita sedang ketakutan, Dewa pun mengelus tangan Arindita dengan tangannya yang lain.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku Arindita, apa kau punya saudara kembar?" tanya Al penasaran. Arindita pun akhirnya menjawab pertanyaan Al.
"Tidak, aku tidak punya saudara kembar, tapi nenek ku pernah bilang bahwa leluhur kami adalah keluarga turunan ningrat, ia lebih memilih untuk menikah dengan lelaki pilihannya sendiri bukan dari marga yang sama derajatnya dengan mereka, karena keluarga besar menentang pernikahan mereka, mereka pun pergi ke desa lain dan hidup tenang, hingga datang hari dimana ketenangan itu direnggut oleh orang tuanya sendiri. Suami dan anaknya dibunuh begitu kejam di depan matanya sendiri. Wanita itu diberikan pilihan untuk mau kembali pulang atau mau tetap disini dalam keadaan mati, karena rasa cintanya dengan sang suami akhirnya ia lebih memilih untuk tetap tinggal, dan berjanji bahwa dia akan selalu menjaga semua keluarganya dari hal-hal jahat hingga hari akhir. Begitulah kisah yang aku dengar dari nenek ku." kata Arindita, ada rasa lega di hatinya saat ia menceritakan kisah ini sekarang.
"Dia sendiri yang memilih mu, dia sedang mencoba menjalankan janjinya sendiri saat ini, prediksi ku karena ada kemiripan di dirimu dengan anaknya. Apa yang kau lihat dalam mimpi selama ini adalah bentuk peringatannya padamu jika kau akan terlibat dalam suatu hal yang tidak baik. Kau tidak perlu khawatir dia tidak berniat jahat padamu, yang aku lihat saat ini, jika kau senang wajahnya terlihat semakin cantik, tapi jika kau bersedih wajahnya berubah seram. Jadi Arindita, kau harus bisa mengontrol perasaan mu, untuk keselamatan mu dan keselamatan orang-orang yang tidak sengaja atau sengaja menyakitimu, kita tidak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa." balas Al ke Arindita, Arindita kini sedikit lebih tenang saat mendengar bahwa wanita yang diinfokan neneknya hanya murni ingin melindunginya bukan menyakitinya atau menyakiti orang-orang terdekat.
"Wah ... Kau menakjubkan Al." celetuk Dewa sambil menggeleng-geleng kan kepalanya. Dewa mencoba mencairkan suasana yang sedikit awkward diantara mereka. Tiba-tiba suara chat dari ponsel Haura berbunyi memecah kesunyian yang ada.
"Kau dimana? Kita berdua mau jemput mu, kebetulan kelas hari ini cancel karena dosen berhalangan hadir. Kirim saja alamatnya." begitulah isi pesan Ocha ke Haura. Haura pun membalas dan mengirim share loc ke Ocha untuk mempermudahnya. Ocha yang sudah menerimanya langsung pergi menuju lokasi yang Haura kirim.
"Si Kembar mau kesini menjemput ku, apa boleh?" tanya Haura ke Ari, Haura merasa tak enak hati karena Ari yang mengajaknya kesini.
"Tidak apa, mereka pasti mengkhawatirkan mu." balas Ari.
"Ya Tuhan, gadis ini benar-benar mirip dengan Anita, aku bisa gila jika terus begini. Baru saja aku bisa melepas mu, tapi kau hadir dengan raga mu yang lain. Kau ada tapi tak bisa ku sentuh, itu sangat menyiksa ku." kata Aldi dalam hatinya saat ia melihat Haura tersenyum ke Ari.
***
"Cha, Haura sudah kirim lokasinya ni, Evening story? Sepertinya kita pernah kesitu tapi kapan ya Cha?" tanya Ochi sambil berfikir kapan mereka mengunjungi tempat itu.
"Ah entahlah aku lupa." ucap Ochi yang putus asa.
Mereka menelusuri perjalan menuju cafe Evening story di sekitaran Dago, Bandung. Jalanan sedikit padat saat itu, Ochi pun mencoba membuka obrolan dengan kembarannya.
"Cha?" panggil Ochi tanpa melihat ke Ocha.
"Hm ...." balas Ocha singkat, masih memandangi jalanan yang begitu ramai.
"Apa kau tidak curiga ke Kak Ari? Aku sedikit merasa malam itu bukan Kak Ari yang biasa kita tahu selama ini, aku melihat Ari yang berbeda Cha, bahkan aku baru ini melihat sosok itu dari dekat, dan lagi kenapa Kak Ari begitu khawatir dengan Rara? Mereka berdua saja baru bertemu, aku sangat tidak yakin jika hanya sebuah kebetulan." ujar Ochi yang terus mengoceh tak karuan.
"Ya, apa yang kau fikirkan aku pun merasakannya, yang pasti saat ini Kak Ari yang kita tahu hanya cangkang luarnya saja. Aku yakin Kak Ari sama seperti kita, punya dunia yang sama seperti kita, dunia yang susah untuk di terima akal sehat dan logika orang biasa. Untuk masalah kenapa begitu mengkhawatirkan Rara, aku pun masih belum tahu jawabannya, tapi aku yakin tak lama kita akan segera mengetahuinya." jelas Ocha.
"Ah, itu cafenya, belok kiri Cha." ucap Ochi mengarahkan jalan ke Ocha.
Mobil mereka pun terparkir dengan sempurna, mereka pun masuk ke dalam cafe tanpa butuh waktu lama mereka berdua dengan mudahnya menemukan sosok Haura dalam kerumunan pengunjung.
"Bukankah itu saudara mu?" ucap Ari sambil menengok ke arah si kembar yang sedang berjalan menghampiri mereka. Haura pun ikut menoleh dan melambaikan tangannya ke kedua kakaknya.
"Kak, sini ...." kata Haura dengan senyum sumringahnya. Si kembar pun mulai menghampiri Haura beserta orang-orang yang sedang bersamanya.
"Hai Kak, maaf kami ingin menjemput Haura." ucap Ocha ke Ari dan Al, mereka merasa canggung karena belum mengenal banyak orang dalam tokrongan itu.
"Hallo Ocha Ochi, mau kemana si buru-buru, duduk dulu lah sini. Kenalin ni teman-teman ku dan Ari, lagian ini baru jam tiga sore, kalian pasti belum makan kan? Makan dulu baru pulang." ujar Al sambil menyuguhkan kursi dan buku menu untuk si kembar. Mereka pun tidak punya pilihan selain menerima ajakan Al yang kini sudah duduk kembali ke tempatnya.
"Thank you Kak." ucap si kembar secara bersamaan. Al dan Ari pun tertawa melihat kekompakan si kembar bersaudara ini.
"Apa kembar selalu kompak dalam hal apapun?" tanya Aldi penasaran.
"Tidak!" jawab si kembar lagi-lagi bersamaan. Aldi pun terkekeh melihat keduanya.
"Kalian ternyata kompak juga dalam berbohong ya." ujar Aldi sambil menyesap rokoknya.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...