Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di kamar yang di tempati Dion dan Raisa. Kamar yang memiliki walk-in closet, sofa santai, dan kamar mandi dalam yang dilapisi marmer putih.
Raisa selama menempati kamar ini memang tidur bersama dengan Dion, namun untuk Dion sendiri belum pernah menyentuh Raisa. Dion sendiri juga jarang pulang, jika pulang kadang Dion lebih memilih tidur di sofa----dibandingkan tidur satu ranjang dengan sang istri yang begitu di bencinya.
Namun, bagi Raisa kamar ini adalah tempat dimana dirinya bisa terus bersama Dion, agar berperan selayaknya istri. Pagi ini, Raisa mengenakan gaun satin lengan pendek sampai lutut berwarna hijau lime. Tangannya dengan gerakan yang telaten dan tanpa suara, nampak merapikan tempat tidur king size---tangannya menghaluskan sprei putih bersih itu dengan hati-hati.
Seolah jika melakukannya dengan sempurna, keretakan dalam rumah tangganya juga di hapus. Di belakangnya ada sang suami, Dion berdiri di depan cermin besar. Dion Raharja mengenakan kemeja putih bersih dan celana formal navy, sepertinya tengah bersiap pergi ke tempat kliennya.
Tangannya merapikan kancing kemejanya sendiri tanpa bantuan istrinya, dengan gerakan kaku. Mata Dion menatap Raisa yang membelakanginya, tampak menggoda tubuhnya.
"Cantik sih...tapi sayang dulu ngeselin," ucap Dion mencelos dalam hatinya.
Tubuh Raisa mengenakan gaun satin lengan pendek, dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sungguh Dion ingin sekali menyentuh Raisa, namun takut jika dirinya memiliki ikatan dengan Raisa----kehamilan. Tentu Dion tak mau mengakui anak dari kandungan wanita yang sudah membuat masa kecilnya menjadi hina.
Dion tak mau membuat juniornya pagi ini berdiri, jadi fokus utamanya berdiri di depan cermin besar. Dion merapikan kemejanya sendiri dengan gerakan kaku. Raisa sempat melirik dasi merah yang tergeletak di atas kursi kayu tepat di depan Dion.
Jujur saja, dirinya ingin sekali untuk mendekat, memakaikan dasi itu di leher suaminya. Sebuah tindakan sederhana yang dilakukan istri-istri pada umumnya, namun Raisa segera mengurungkan niatnya itu. Raisa tak berani menyentuh baju Dion kecuali di suruh, apalagi memakaikannya dasi. Pengalamannya selama tiga bulan pernikahan mengajarkan bahwa inisiatif kecil darinya sering kali berakhir makian.
"Aku nengok mama ajalah, toh sarapan nanti biar Bi Lis aja," ujarnya dalam hati.
Setelah memastikan kamar rapi, Raisa bermaksud keluar untuk menengok ibu mertuanya. Ibu mertua yang sudah mau menerimanya, dan bahkan memperlakukannya selayaknya anak sendiri. Raisa ingin membersihkan tubuh wanita itu, mengganti pakaiannya, dan menyuapkan makanan sekaligus memberikan obat. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu yang menjulang tinggi.
"Raisa!" panggil Dion masih sibuk menyesuaikan kerah kemejanya di depan cermin.
Suara Dion terdengar berat, mampu menghentikan langkahnya. Raisa menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Menghela napas pendek, seolah siap dirinya kena cacian dan bahkan omelan lagi.
"Ada apa, Mas?" tanya Raisa dengan nada rendah.
Raisa berusaha meredam ketegangan diantara mereka, dan berusaha bersikap baik. Dion akhirnya berbalik menatap Raisa dengan tatapan tajam namun menuntut. Raisa bisa melihat mata Dion berwarna hijau khas orang luar negeri, dan Dion menatap mata Raisa yang hitam.
"Kamu siapkan saya sarapan," pintanya dengan nada rendah.
Tidak ada sapaan hangat, apalagi permintaan maaf atas apa yang terjadi semalam.
"Iya, Mas. Aku siapin dulu," jawab Raisa dengan patuh.
Namun, Dion belum selesai.
"Ingat, harus ada sayuran dan protein yang seimbang. Jadi istri itu yang berguna sedikit! Jangan cuma tahu cara dandan tapi ngurus meja makan aja nggak becus!" titahnya lagi.
Kalimat itu menghujam jantung Raisa.
Meski perih namun Raisa hanya mau kedamaian pagi ini, jadi dirinya hanya mengangguk dan patuh.
Sekaligus tak ingin ada keributan lagi yang bisa terdengar sampai ke kamar ibu mertuanya.
"Iya Mas, akan aku siapkan ya," ujar Raisa.
Dion hanya mendengus, lalu kembali sibuk dengan jam tangan mahalnya. Raisa segera keluar kamar menutup pintu dengan pelan, dirinya akan segera menuruni anak tangga menuju dapur. Setelah kepergian Raisa keluar, Dion langsung terduduk di atas kursi---dirinya tak bisa lagi membayangkan hasrat kepada Raisa.
Saat bercinta setiap malam dengan Chelsea dirinya malah dengan bodohnya menyebut nama Raisa sampai tiga kali. Hal membuat Chelsea kesal, namun Dion belum mau menerima Raisa. Raisa baginya hanyalah trauma masa kecilnya, dirinya pernah di rendahkan oleh Raisa----padahal waktu itu mereka masih kecil.
"Akhhh...Shittt!!" teriak Dion.
Dion meruntuki pikirannya, tangannya mengusap rambutnya yang tipis----seolah dirinya ingin sekali meniduri istrinya. Dan kebetulan semalam, dirinya mendapatkan kabar dari mulut istrinya jika sang ibu mau memiliki cucu. Namun, Dion masih tak sudi menyentuh Raisa.
Dion memang pernah hubungan badan sejak kuliah, dengan teman kampusnya----sementara Raisa masuk jurusan tata Busana, sebagai gadis baik. Hanya saja setelah menikah Dion melarang istrinya untuk berkarir sebagai perancang busana, karena berniat menghancurkan hidup istrinya. Dion membalas dengan menghancurkan impian Raisa yang ingin menjadi perancang busana, dan bahkan menjadikan Raisa---istri rumahan.
"Rancangan kampungan."
"Rancangan nggak guna."
"Kamu itu istri saya, kamu mau pilih rancangan busana! Saya pastikan dengan pengaruh saya, karirmu dalam sekejap hancur!" ancam Dion.
Ucapan-ucapan Dion yang menyakitkan hati, membuat semangat Raisa turun---Raisa sebagai istri seorang pengacara terkenal di Indonesia, harus menelan pil pahit. Sesuai keinginan Dion, dirinya harus menjadi ibu rumah tangga.
Raisa sendiri sudah menuruni anak tangga menuju dapur, wanita ini berjanji pada dirinya sendiri jika akan tetap menjalankan baktinya---kepada suami. Bakti kepada suami dan kepada ibu mertuanya yang sedang sakit Stroke. Raisa sendiri percaya jika kesabaran adalah ibadah paling berat, dan hasilnya pasti akan manis.
Tangan Raisa tengah berkutik di dapur, memasak telur dan sayuran----sesuai keinginan Dion masakan harus ada protein dan sayuran. Raisa tak sadar saat memasak Dion menatapnya, pikiran Dion sudah kotor saja. Melakukan ibadah di dapur, saat menatap tubuh Raisa yang sedang berlenggak-lenggok menyiapkan makanan.
Dion Raharja hanya bisa menelan salivanya, menatap istrinya---untuk meminta saja rasanya gengsi. Sebuah gengsi yang di besarkan, baginya wanita harus berlutut padanya---bukan dirinya yang meminta pada wanita.
*
*
*
*