NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Autobase Menfess

Lima hari setelah hasil seleksi diumumkan, suasana kampus terlihat normal.

Keira menghabiskan Sabtu sore di perpustakaan BINUS untuk merapikan catatan. Di seberang meja, dua mahasiswa berbisik tentang rencana liburan. Pendingin udara berdengung, halaman buku berdesir, dan ponselnya diletakkan dalam mode senyap.

Reynard berada di asrama menyelesaikan tugas kelompok. Mereka berjanji makan malam lewat video setelah Keira pulang.

Menjelang pukul delapan, layar ponsel Keira menyala berkali-kali.

Nana: KEI!

Nana: Buka @AnggrekFess sekarang!

Nana: Jangan baca komentar sendirian. Telepon aku.

Jantung Keira langsung berdebar. Ia membuka akun autobase kampus dan menemukan unggahan yang baru terbit setengah jam lalu.

MENFESS. Mau tanya, seleksi Program Magang Penerjemahan benar-benar adil atau sudah diatur? Ada mahasiswa baru yang tiba-tiba jadi peringkat satu karena dekat dengan kakak tingkat tertentu. Katanya kakak tingkat ini punya hubungan dengan orang dalam proyek. Foto lengkap ada di bawah. Kampus harus transparan!

Di bawah tulisan itu ada puluhan foto.

Keira mengenali dirinya dalam gambar dari lapangan basket, kegiatan Nexera, lorong kampus, dan PKKMB. Beberapa foto memperlihatkan Vincent dan Eric. Ada pula tangkapan layar Reynard menunggu di dekat kelasnya serta potongan gambar saat mereka pulang bersama.

Sebagian foto diambil dari akun terbuka teman-teman mereka. Namun beberapa gambar jelas dipotret dari jarak jauh. Ada foto Keira menyerahkan kantong perlengkapan kepada Reynard saat PKKMB dan foto Reynard menunggu di luar gedung Sastra Inggris. Sudutnya berbeda-beda, seolah seseorang mengumpulkannya selama berminggu-minggu.

Salah satu gambar berasal dari unggahan Kevin di acara Nexera. Keterangan aslinya sudah dipotong sehingga hanya tersisa Reynard yang menatap ke arah Keira. Foto lain menampilkan Eric berdiri bersama mereka, lalu diberi lingkaran merah dan tulisan kemungkinan penghubung orang dalam.

Keira memperbesar setiap gambar. Tidak ada foto mesra. Tidak ada bukti tentang seleksi. Namun susunan dan keterangannya sengaja memaksa pembaca menarik kesimpulan yang sudah disiapkan pengirim.

Tidak satu pun membuktikan kecurangan. Namun jika disusun tanpa konteks, semuanya membentuk cerita yang buruk.

Komentar bergerak cepat.

Bukannya itu Keira Halim dari Sastra Inggris?

Cowok satunya Vincent, adik kandungnya. Jadi satu keluarga masuk jaringan proyek?

Pantas anak baru bisa nomor satu.

Jangan asal tuduh. Reynard pemenang Nexera, mungkin memang mampu.

Kalau bersih, kenapa fotonya banyak dengan senior panitia?

Keira menggulir dengan jari dingin. Nama lengkapnya muncul semakin sering. Seseorang mengambil foto profil media sosialnya dan menambahkan kalimat yang menghina. Orang lain menuduhnya menggunakan hubungan pribadi untuk membantu pacar muda.

Kata pacar membuat napasnya berhenti. Hubungan yang ingin ia lindungi kini dilempar ke ruang publik sebagai alat untuk merendahkan kemampuan Reynard dan harga dirinya sendiri.

Notifikasi dari akun pribadinya ikut bermunculan. Permintaan mengikuti bertambah puluhan. Orang asing meninggalkan komentar di foto kelulusan sekolahnya, bahkan di unggahan ulang tahun Mama. Keira buru-buru mengubah akun menjadi privat, lalu menyadari tangkapan layar sudah menyebar.

Satu akun menulis bahwa perempuan seperti dirinya pasti sengaja mendekati mahasiswa berprestasi agar terlihat berkuasa. Akun lain menghina perbedaan usia mereka tanpa tahu angka sebenarnya. Setiap komentar menciptakan versi Keira yang tidak ia kenali, lalu orang-orang lain marah kepada versi palsu itu.

Ia mencoba bernapas seperti yang pernah diajarkan konselor kampus. Tarik empat hitungan, tahan, buang perlahan. Getaran ponsel mematahkan hitungannya sebelum selesai.

Nana menelepon. Keira mengangkat, tetapi tidak bisa langsung bicara.

"Kei, kamu di mana?"

"Perpustakaan."

"Jangan pulang sendiri. Aku ke sana."

"Siapa yang punya foto sebanyak ini?"

"Aku nggak tahu. Sudah laporkan unggahannya. Fely juga sedang kumpulkan tangkapan layar."

Keira menekan pelipis. "Mereka bilang aku mengatur nilai. Aku bahkan nggak ikut memeriksa tesnya."

"Orang-orang berkomentar sebelum berpikir. Jangan jawab sekarang."

Namun komentar sudah memasuki grup kelas. Ponsel Keira menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, menanyakan berapa harga yang harus dibayar untuk membeli nilai. Tangan Keira gemetar begitu hebat hingga ponselnya hampir jatuh.

Ia memblokir nomor itu, tetapi pesan lain datang.

Di sisi lain kota, Denis menatap unggahan yang terus naik. Beberapa hari sebelumnya, ia hanya menulis keluhan di lingkaran pertemanan. Sebuah akun perempuan kemudian menghubunginya lewat WA, mengatakan ada bukti bahwa hasil seleksi telah diatur.

Perempuan itu mengirim foto satu demi satu. Ia tidak menyebut sumbernya, hanya mengatakan Keira dekat dengan panitia dan Reynard mendapat keuntungan. Denis yang marah karena gagal tidak banyak bertanya. Ia menyusun narasi, mengirimkannya ke autobase, lalu merasa puas ketika menekan tombol kirim.

Kini jumlah balasan melewati lima ratus. Rasa puasnya mulai berubah menjadi takut.

Pesan dari perempuan itu muncul.

Tenang saja. Akunmu anonim. Kalau nanti ada seleksi susulan, aku bantu bicara kepada orang yang kukenal.

Denis menatap kalimat tersebut, lalu menyimpan ponsel tanpa menjawab.

Di perpustakaan, Keira mencoba menutup aplikasi. Dua mahasiswa yang duduk di seberang meja tiba-tiba melirik wajahnya, lalu layar ponsel mereka. Salah satunya berbisik terlalu keras.

"Itu orangnya, kan?"

Keira mengemasi buku. Tangannya salah memasukkan kabel tiga kali. Ketika berdiri, kursinya menggesek lantai dan semua orang menoleh.

Ia berpindah ke sudut dekat rak referensi, berharap terlindung dari pandangan. Namun internet mengikuti ke mana pun ia pergi.

Sebuah unggahan baru mengklaim Vincent juga mendapat perlakuan khusus karena berteman dengan Reynard. Orang lain menggambar garis-garis di antara foto mereka seperti sedang membongkar jaringan kriminal. Nama Eric ikut disebut tanpa konteks.

Keira mengetik bantahan, lalu menghapusnya. Setiap kalimat terdengar defensif. Ia ingin menjelaskan bahwa nilai Reynard tidak ada hubungannya dengan dirinya, tetapi harus menjawab apa tentang hubungan mereka?

Jika menyangkal Reynard sebagai pacar, ia akan melukai laki-laki itu.

Jika mengakui, orang-orang mungkin menganggap tuduhan lain benar.

Ponselnya bergetar. Reynard mengirim foto tugas dengan pesan makan malam apa, sandi mereka untuk rindu.

Air mata Keira akhirnya jatuh.

Ia menekan tombol panggil.

"Ci Kei?" Suara Reynard terdengar ringan. "Aku baru mau bilang tugasnya selesai."

"Rey..."

Kegembiraan di ujung telepon lenyap. "Kenapa?"

"Buka autobase. @AnggrekFess."

Hening beberapa detik. Keira mendengar suara ketikan cepat, lalu tarikan napas yang berhenti mendadak.

"Kamu di mana?" tanya Reynard.

Nada suaranya berubah rendah dan dingin.

"Perpustakaan."

"Sendirian?"

"Nana sedang ke sini."

"Jangan bergerak. Aku datang sekarang."

"Rey, asrama sudah hampir jam malam."

"Aku urus. Jangan balas siapa pun dan jangan hapus pesan. Simpan semua tangkapan layar."

Keira mendengar kursi bergeser keras di seberang. Reynard memanggil Vincent untuk meminjam kunci motor, lalu kembali ke telepon.

"Tetap bicara denganku sampai Nana datang."

"Mereka membawa namamu. Nilai itu hasil usahamu, tapi sekarang semua orang bilang..."

"Dengarkan aku." Suara Reynard tegas, tetapi tidak keras. "Aku tahu bagaimana mendapatkan nilai itu. Kamu juga tahu. Tuduhan mereka nggak mengubah kenyataan."

"Foto-fotonya..."

"Nggak ada satu pun foto yang membuktikan kecurangan. Kita akan membuktikannya."

"Bagaimana dengan kita?"

Pertanyaan itu membuat telepon sunyi sesaat.

"Aku nggak akan membiarkanmu menyangkal dirimu atau hubungan kita hanya untuk memuaskan mereka," kata Reynard. "Tapi malam ini kita fokus pada keselamatanmu dan bukti."

Nana tiba dengan napas terengah. Ia duduk di samping Keira dan memeluk bahunya. Reynard tetap berada di telepon sampai yakin Keira tidak sendirian.

"Aku bawa air," kata Nana setelah panggilan selesai. "Minum dulu."

Keira menerima botol, tetapi tutupnya sulit dibuka karena jemarinya gemetar. Nana membukakannya dan memindahkan kursi agar tubuh Keira terlindung dari pandangan ruangan.

"Fely sudah melaporkan akun yang menyebarkan alamat," ujar Nana. "Aku juga minta petugas perpustakaan mengantar kita ke lobi nanti."

"Aku takut pulang."

Pengakuan itu keluar sangat kecil. Nana menggenggam tangannya. "Kamu nggak pulang sendiri. Reynard datang, aku juga ikut kalau perlu."

"Aku benci mereka membuatku takut pada rumahku sendiri."

"Rasa takutmu bukan berarti mereka menang. Sekarang kita kumpulkan bukti. Besok kita lawan dengan kepala dingin."

Keira mengangguk, meski tubuhnya belum berhenti gemetar. Ia membuka folder baru dan memberi nama Bukti AnggrekFess. Tindakan kecil itu menjadi usaha pertamanya mengambil kembali kendali.

"Aku segera sampai," katanya.

Panggilan berakhir.

Keira mencoba mengikuti instruksinya. Ia mengambil tangkapan layar unggahan, waktu publikasi, komentar fitnah, dan pesan nomor asing. Fely mengirim salinan foto sebelum ada yang dihapus.

Namun angka di layar bergerak lebih cepat daripada kemampuan mereka menyimpan.

Enam ratus balasan.

Tujuh ratus.

Unggahan dibagikan ke grup fakultas lain. Satu akun membuat potongan video dari foto-foto itu dengan musik mengejek. Wajah Keira kini menjadi bahan hiburan orang yang bahkan tidak mengenalnya.

"Jangan baca," kata Nana sambil berusaha mengambil ponsel.

Keira menggenggamnya erat. "Aku harus tahu apa yang mereka sebarkan."

"Kita sudah punya bukti."

"Tapi kalau ada yang percaya? Kalau Profesor Adrian melihat? Kalau Lingua Prima membatalkan proyek karena namaku?"

"Kei, lihat aku. Kamu nggak melakukan apa-apa."

Keira mencoba menatap Nana, tetapi bisik-bisik kembali terdengar dari meja lain. Matanya jatuh ke layar. Angka komentar melonjak lagi. Notifikasi datang tanpa henti, membuat ponsel bergetar di telapak tangannya seperti benda hidup.

Satu komentar baru menyebut alamat Apartemen Meranti Park.

Darah Keira seakan berhenti mengalir.

Ia menyegarkan halaman sekali lagi. Jumlah bagikan naik puluhan dalam beberapa detik. Jarinya gemetar di atas layar, bibirnya terbuka, tetapi tidak satu kata pun berhasil keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!