NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Runtuhnya Ilusi dan Pelarian Bidadari yang Terluka

​Waktu di dalam Grand Ballroom Hotel Grand Imperial itu seolah membeku.

​Di bawah sorotan lampu kristal raksasa yang menyilaukan, ribuan pasang mata menatap penuh pemujaan ke arah panggung utama. Di sanalah sang Raja Iblis Korporat, Arga Danendra, berdiri dengan segala kemegahan dan kekuasaannya yang absolut. Pria itu seharusnya melangkah maju, meraih mikrofon, dan menyampaikan pidato kemenangan yang akan mengguncang indeks saham nasional keesokan paginya.

​Namun, langkah Arga terhenti total.

​Suara clang dari nampan perak yang jatuh membentur lantai marmer di sudut ruangan yang remang-remang, entah bagaimana mampu menembus riuhnya tepuk tangan, beresonansi langsung dengan gendang telinga Arga.

​Mata elangnya yang setajam silet mengunci satu titik di balik pilar pualam. Di sana, berjarak puluhan meter dari panggung kemegahannya, berdiri seorang bidadari yang selama satu bulan ini telah menguras habis kewarasan dan air matanya.

​Senja Kirana.

​Gadis itu berdiri membeku dalam balutan seragam pelayan katering yang kebesaran. Wajahnya sepucat mayat. Kedua tangan kecilnya menutupi mulutnya yang bergetar hebat. Dan dari sepasang mata bulat yang biasanya memancarkan kehangatan matahari itu, kini mengalir deras air mata ketidakpercayaan, kebingungan, dan... rasa sakit yang luar biasa.

​Senja... bibir Arga bergerak tanpa suara membentuk nama itu.

​Jantung sang tiran berdegup dengan ritme yang menyakitkan. Bumi tempatnya berpijak seolah amblas. Skenario terburuk yang menjadi mimpi buruknya selama ini telah terjadi. Senja melihatnya. Senja mengetahui identitasnya, bukan dari mulut Arga sendiri, melainkan dari cara yang paling brutal dan merendahkan—sebagai seorang pelayan katering yang menatap majikan miliardernya.

​Di sudut ruangan, otak Senja sedang berperang hebat melawan kewarasannya sendiri.

​Ini pasti mimpi. Ini pasti halusinasi karena ia terlalu kelelahan bekerja.

​Namun, sekuat apa pun Senja menyangkal, bukti-bukti yang selama ini tak kasat mata mulai menyusun diri membentuk kepingan puzzle yang sangat mengerikan di dalam kepalanya.

​Uang tunai tak berseri yang tiba-tiba turun sebagai "bantuan pemerintah" untuk mengganti pintu rumahnya dengan kayu jati mahal. Rentenir buas seperti Bang Jali yang mendadak lenyap tanpa jejak. Obat-obatan penurun panas yang bungkusnya aneh dan ampuh dalam hitungan jam. Dan yang paling menohok... hari di mana Siska menjebaknya. Bagaimana mungkin ada "pemilik baru" perusahaan yang repot-repot meretas CCTV kedai pinggiran hanya untuk membersihkan nama seorang karyawan magang, lalu menyuruh bosnya bersujud minta maaf?

​Semua itu bukan keajaiban. Semua itu bukan hadiah dari Tuhan untuk anak yatim yang sabar.

​Semua itu adalah rekayasa dari pria yang selama ini ia kasihani. Pria yang ia belikan kemeja murah seharga lima puluh ribu rupiah di pasar malam. Pria yang ia suapi mi instan.

​Dia berbohong padaku. Dia tidak amnesia. Dia tidak miskin.

​Sebuah jurang raksasa tak kasat mata tiba-tiba menganga lebar memisahkan sudut pilar tempat Senja berdiri dengan panggung megah tempat Arga bertahta. Kasta, harta, dan kekuasaan. Senja merasa dirinya tidak lebih dari sekadar seekor semut yang tanpa sengaja masuk ke dalam istana, dijadikan mainan penghibur oleh sang raja saat ia bosan dengan kemewahannya.

​Rasa malu, merasa dibodohi, dan rasa sakit karena dikhianati meledak secara bersamaan di dada Senja.

​Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Arga dengan pandangan terluka yang begitu dalam, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar staf katering.

​"Senja!!"

​Teriakan parau itu menggelegar membelah Grand Ballroom.

​Bukan lewat mikrofon, melainkan dari pita suara Arga sendiri yang nyaris robek. Pria yang terkenal dengan ketenangan esnya itu tiba-tiba melempar mikrofon emas di depannya hingga berdebum keras di lantai panggung, menciptakan dengungan feedback (nging) yang memekakkan telinga seluruh tamu VIP.

​Tanpa memedulikan tatapan syok dari dewan direksi, menteri, dan ratusan sosialita, Arga Danendra melompat turun dari panggung setinggi satu meter itu. Setelan jas bespoke miliaran rupiahnya berkibar saat ia berlari menerobos kerumunan layaknya orang gila.

​"Minggir!! Singkirkan meja ini!" raung Arga saat jalurnya terhalang oleh meja bundar para tamu. Ia menendang kursi-kursi mahal itu hingga terguling, mengabaikan jeritan kaget para nyonya besar.

​Raka, yang berdiri di pinggir panggung, menepuk jidatnya dengan keras.

​"Ya Tuhan, Bos sinting!" umpat Raka frustrasi. Namun sebagai tangan kanan yang andal, Raka dengan cepat mengambil alih mikrofon yang terjatuh, menepuknya dua kali, dan memasang senyum karismatiknya.

​"Tuan dan Nyonya, mohon maaf atas sedikit gangguan teknis dan antusiasme CEO kami. Beliau sedang ada urusan medis mendadak. Mari kita lanjutkan perayaan ini dengan bersulang!" Raka berusaha menyelamatkan muka perusahaan, meski dalam hati ia tahu Arga sedang mengejar belahan jiwanya.

​Di sisi lain, Senja terus berlari menyusuri lorong panjang khusus karyawan (service hallway) yang berlantaikan keramik biasa dan berdinding beton. Air mata mengaburkan pandangannya. Napasnya memburu, dadanya sesak. Sepatu pantofel datarnya berderap menciptakan gema yang menyayat hati.

​Ia hanya ingin pergi. Ia ingin pulang ke rumahnya dan bersembunyi di bawah selimut, menyangkal bahwa dunia ini nyata.

​Namun, seberapa cepat pun seorang bidadari berlari, ia tidak akan bisa mengalahkan kecepatan sang predator yang sedang mengejar nyawanya.

​Terdengar langkah kaki yang jauh lebih berat dan panjang dari arah belakang.

​"Senja! Berhenti!"

​Suara bariton yang dulu menjadi lagu pengantar tidurnya kini terdengar menggema di lorong staf yang sepi itu.

​Senja tidak peduli. Ia terus berlari, mengulurkan tangannya menuju pintu darurat (exit door) berwarna merah di ujung lorong. Jika ia berhasil melewati pintu itu, ia akan berada di jalan raya.

​Namun, sebelum jari-jari Senja berhasil menyentuh gagang pintu, sebuah tangan besar yang panas dan kokoh menangkap pergelangan tangannya, menarik tubuh mungil itu ke belakang dengan tenaga yang tak bisa ditolak.

​Tubuh Senja berputar paksa dan membentur dada bidang yang keras. Dada yang berlapis kemeja sutra mahal dan memancarkan aroma parfum maskulin yang sangat mewah—bukan lagi aroma sabun mandi murah yang biasa ia cium di kontrakan.

​"Lepaskan!" jerit Senja histeris, meronta sekuat tenaga memukul dada Arga. "Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!"

​Arga tidak melepaskannya. Ia justru memeluk pinggang gadis itu erat-erat dengan sebelah tangannya, menahan kedua pergelangan tangan Senja dengan tangannya yang lain, mengunci pergerakan gadis yang sedang kalap itu. Dada Arga naik turun, napasnya memburu, matanya memancarkan kepanikan absolut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​"Dengarkan aku! Tolong, Senja, dengarkan aku dulu!" mohon Arga, suaranya parau dan bergetar hebat. Pria yang sepuluh menit lalu dipuja bagai dewa oleh seisi negeri, kini menundukkan kepalanya, memohon pengampunan pada seorang pelayan katering di lorong belakang hotel.

​"Apa yang harus kudengarkan?!" Senja akhirnya berhenti meronta, namun tangisannya pecah tak tertahankan. Tubuhnya merosot, untung saja lengan kuat Arga menahannya agar tidak jatuh ke lantai.

​Senja mendongak, menatap wajah tampan nan arogan yang selama sebulan ini menghiasi mimpi-mimpinya.

​"Kau mau menjelaskan apa, Tuan Arga Danendra?" ucap Senja, mengeja nama itu dengan penekanan yang sangat sinis dan menyakitkan. Formalitas yang tiba-tiba digunakan Senja adalah tembok pemisah terkejam yang pernah menghantam Arga.

​"J-Jangan panggil aku seperti itu," Arga memejamkan mata, kepedihan menyayat hatinya. "Panggil aku Kak Arga, seperti biasa. Aku masih pria yang sama, Senja."

​"Pria yang sama?" Senja tertawa sumbang di sela-sela tangisnya. Tawa yang terdengar sangat hampa. "Pria yang mana? Pria malang yang amnesia, yang tidak punya rumah, yang kedinginan di lantai semenku? Atau pria triliuner yang baru saja keluar dari pintu emas dan disorot lampu kristal?!"

​Senja menatap lurus ke dalam mata elang Arga. Air matanya mengalir membasahi pipinya tanpa henti.

​"Selama ini... selama satu bulan ini, kau pasti sangat menertawakanku, kan?" bisik Senja pilu. "Kau melihatku menyisihkan sisa recehan hanya untuk membelikanmu telur rebus. Kau melihatku kelaparan dan berbagi sebungkus mi instan denganmu. Kau melihatku menjahit kemejamu karena aku pikir kau tidak punya baju ganti... sementara kau bisa membeli pabrik kemeja itu beserta seluruh pekerjanya!"

​"Tidak, Senja! Demi Tuhan, tidak pernah sekalipun aku menertawakanmu!" bantah Arga keras, mencengkeram bahu Senja. Matanya memerah menahan air mata. "Setiap hal yang kau lakukan untukku, setiap suapan makanan yang kau berikan... itu adalah hal paling berharga dalam hidupku!"

​"LALU KENAPA KAU MEMBOHONGIKU?!" jerit Senja, akhirnya meluapkan seluruh emosinya hingga tenggorokannya sakit. "Kenapa kau harus berpura-pura amnesia?! Kenapa kau membuatku menangis setiap malam mengkhawatirkan keadaanmu?! Saat rentenir itu menghancurkan rumahku, kau diam saja berpura-pura lemah! Saat aku diusir dari kedai dan dituduh mencuri, kau membiarkanku menangis mengira aku hancur! Apa kemiskinanku adalah drama televisi yang menyenangkan untuk kau tonton, Tuan?!"

​Deg.

​Tuduhan itu begitu tajam dan menohok, merobek jiwa Arga tak bersisa.

​Gadis ini benar. Apapun alasan Arga, fakta bahwa ia telah berbohong dan membiarkan gadis ini menanggung beban psikologis yang berat adalah sebuah kejahatan. Arga Danendra, yang selalu memiliki ribuan alibi dan argumen tak terbantahkan di meja negosiasi, kini kehabisan kata-kata.

​"Aku... aku menutupi identitasku karena aku diincar pembunuh bayaran malam itu. Jika aku membongkarnya, kau akan ikut terseret bahaya," Arga mencoba menjelaskan dengan suara yang merendah, menyingkirkan segala keangkuhannya.

​"Lalu setelah bahaya itu hilang? Setelah rentenir itu pergi? Kenapa kau tidak pergi?!" potong Senja cepat.

​Arga terdiam. Ia menelan ludah, menatap wajah hancur gadis di depannya ini.

​"Karena aku takut," pengakuan itu akhirnya lolos dari bibir sang Iblis Korporat. Sebuah pengakuan yang paling memalukan bagi seorang raja, namun paling jujur dari seorang pria.

​"Aku takut, Senja. Dulu, aku pernah dihancurkan karena aku tidak punya apa-apa. Wanita yang kucintai meninggalkanku di saat aku miskin. Sejak saat itu, aku berpikir bahwa dunia ini hanya memandangku karena hartaku. Tapi kau... kau berbeda."

​Tangan Arga yang besar dan hangat menangkup pipi Senja yang basah oleh air mata, mengusapnya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan penampilannya yang garang.

​"Kau merawatku saat aku hanyalah gembel berlumuran darah. Kau mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa. Aku takut... sangat takut... jika kau tahu siapa aku sebenarnya, kemurnian itu akan hilang. Aku takut kau akan menatapku seperti ini—menatapku sebagai seorang miliarder asing, bukan lagi Kak Arga yang bisa kau peluk kapan saja. Aku terlalu pengecut untuk kehilangan kehangatan yang kau berikan."

​Penjelasan Arga yang dipenuhi oleh luka trauma masa lalu itu seharusnya menyentuh hati. Dan sejujurnya, sebagian kecil hati Senja memang bergetar mendengarnya. Ia bisa melihat ketakutan dan keputusasaan yang nyata di mata pria raksasa ini.

​Namun, rasa malu dan rendah diri di hati Senja jauh lebih besar menutupi rasa ibanya.

​Bagi Senja, masalah utamanya bukanlah sekadar kebohongan amnesia. Masalah utamanya adalah realita yang kini menampar wajahnya dengan sangat keras. Arga Danendra adalah seorang CEO, triliuner, pewaris tahta bisnis. Sementara dirinya hanyalah pelayan katering yang seragamnya saja hasil pinjaman, seorang anak yatim piatu miskin yang tinggal di rumah bocor.

​Dunia mereka adalah langit dan kerak bumi.

​Jika mereka bersatu, orang-orang akan menganggap Senja sebagai wanita penggoda yang mengejar harta. Senja yang selalu menjunjung tinggi harga diri dan kejujurannya, tidak akan pernah sanggup hidup dalam pandangan merendahkan seperti itu. Kisah Cinderella hanya ada di dongeng; di dunia nyata, kereta labu akan dihancurkan oleh kejamnya mulut masyarakat kelas atas.

​Senja perlahan mengangkat kedua tangannya. Dengan sisa tenaga dan ketegasan yang ia kumpulkan, ia menyingkirkan tangan besar Arga dari pipinya. Ia mendorong dada bidang pria itu mundur selangkah.

​"Ketakutanmu sudah terbukti, Tuan Arga," ucap Senja, suaranya kini terdengar sangat dingin dan hampa, jauh lebih menyakitkan daripada jeritan histeris tadi.

​Arga membeku. Ia merasakan suhu tubuhnya menurun drastis melihat perubahan ekspresi Senja yang tiba-tiba menjadi sangat jauh tak tersentuh.

​"Aku adalah orang miskin. Kami orang miskin mungkin tidak punya uang, tapi kami punya harga diri," lanjut Senja, menatap mata elang Arga tanpa berkedip, meski air matanya terus mengalir. "Kau pikir, setelah aku tahu bahwa kau bisa membeli harga diriku dengan mudah, aku akan tetap memelukmu seperti memeluk pria malang? Tidak. Kau hidup di atas panggung dengan lampu kristal, dan aku hidup menyapu pecahan kaca di lantai berdebu."

​"Senja, jangan bicara seperti itu. Harta tidak ada artinya—"

​"Bagimu tidak! Karena kau sudah memilikinya!" potong Senja tajam. "Tapi bagiku, itu adalah tembok yang tidak akan pernah bisa kudaki. Aku tidak ingin menjadi boneka mainan yang kau simpan di gubuk kumuh saat kau bosan dengan kemewahanmu."

​Gadis itu membalikkan badannya, meraih gagang pintu darurat berwarna merah di belakangnya.

​"Senja! Jangan pergi! Kumohon!" Arga maju selangkah, berniat meraih gadis itu lagi.

​Namun Senja menoleh, menatap Arga dengan pandangan yang membuat langkah sang predator terhenti secara otomatis. Itu adalah tatapan memohon yang sangat menyayat hati.

​"Jika selama satu bulan ini, kau benar-benar memiliki sedikit saja rasa sayang padaku... jika kau benar-benar pernah menghargaiku sebagai seorang manusia..." suara Senja pecah di ujung kalimatnya, "...maka lepaskan aku. Kembalilah ke panggungmu, Tuan Arga. Dan jangan pernah, sampai kapan pun, mencariku lagi ke duniaku yang kotor."

​Pintu darurat itu didorong terbuka. Angin malam ibu kota yang membawa rintik hujan berembus masuk, menyapu wajah Arga.

​Senja Kirana melangkah keluar, menghilang ditelan kegelapan malam dan tirai hujan, meninggalkan sang penguasa dunia bisnis yang berdiri mematung di lorong sepi.

​Arga Danendra, pria yang tidak pernah kalah dalam negosiasi bisnis apa pun, pria yang bisa menjatuhkan perusahaan raksasa hanya dengan satu tanda tangan, kini hancur lebur tanpa sisa. Ia tidak mengejarnya. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena kata-kata terakhir Senja telah melumpuhkan jiwanya.

​Gadis itu tidak meminta uang, tidak menuntut keadilan. Gadis itu hanya meminta harga dirinya dikembalikan dengan cara dilepaskan. Dan bagi Arga, mengabulkan permintaan itu adalah siksaan terberat yang pernah ia terima seumur hidupnya.

​Arga merosot turun. Punggung lebarnya bersandar pada dinding beton lorong yang dingin. Pria berjas bespoke miliaran rupiah itu perlahan merosot hingga ia terduduk di lantai, menekuk kedua lututnya, dan menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya.

​Dalam keheningan lorong staf itu, sayup-sayup terdengar suara tepuk tangan meriah dan musik klasik dari Grand Ballroom di lantai atas—merayakan kesuksesan Sang CEO. Namun ironisnya, di lorong bawah ini, sang CEO tengah menangis dalam diam, menangisi hilangnya satu-satunya cahaya kehidupan yang pernah menghangatkan hatinya yang membeku.

​[Pesan Author:]

(Ada sebuah luka yang sering tidak dipahami oleh mereka yang hidup bergelimang kemewahan. Terkadang, penolakan yang dilakukan oleh seseorang yang miskin terhadap orang yang kaya raya bukanlah bentuk dari rasa tidak cinta, melainkan sebuah bentuk pertahanan diri yang paling putus asa.

​Senja tidak berlari karena ia membenci Arga. Ia berlari karena ia sadar, cinta yang murni saja tidak cukup untuk bertahan di dunia yang kejam ini. Jika ia menerima Arga malam ini, ia harus merelakan harga dirinya diinjak-injak oleh dunia Arga. Ia menolak menjadi cerita 'itik buruk rupa yang diselamatkan pangeran', karena ia tahu, itik buruk rupa akan selalu dipandang rendah oleh kawanan angsa emas. Pemisahan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah metamorfosis yang menyakitkan. Arga harus belajar bahwa cinta tidak bisa dibeli atau dimanipulasi dengan perlindungan semu, dan Senja harus belajar bahwa melarikan diri dari takdir tidak akan pernah menyelesaikan luka di hatinya.)

​Malam itu, hujan mengguyur ibu kota dengan sangat deras.

​Di dalam sebuah angkot kosong yang melaju menembus jalanan basah, Senja Kirana duduk meringkuk di pojokan. Seragam kateringnya basah kuyup. Ia menangis tanpa suara, memeluk kedua lengannya sendiri. Dunia terasa sangat luas dan menakutkan malam ini.

​Gadis itu telah mengembalikan sang raja ke singgasananya. Namun bersamaan dengan itu, ia juga telah mencabut paksa jantungnya sendiri, meninggalkannya di atas lantai pualam hotel berbintang tujuh tersebut.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!