NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa dia?

Pagi itu, mobil mewah keluarga Wirasena melaju membelah jalanan kota menuju kampus universitas ternama yang telah lama menjadi incaran Bagas untuk putranya.

Di dalam kabin yang sejuk, suasana terasa begitu canggung dan kaku, jauh berbeda dari obrolan hangat yang biasa terjadi di keluarga-keluarga lain menjelang hari penting semacam ini.

"Kamu harusnya bersyukur, Papa masih mau repot-repot nganterin kamu daftar sendiri," ucap Bagas, matanya tetap fokus ke jalan raya, nada suaranya datar penuh wibawa. "Papa udah atur semuanya, kamu tinggal jalanin aja."

Reynan hanya menatap kosong ke luar jendela, dagunya bertumpu pada tangannya, sama sekali tak menunjukkan antusiasme sedikit pun. "Iya Pah," jawabnya singkat, nada suaranya terdengar begitu datar dan terpaksa.

Sebenarnya, jika bukan karena permintaan ibunya semalam... yang dengan lembut membujuknya agar tak lagi berdebat dengan sang ayah, demi menjaga keharmonisan rumah yang sudah cukup tegang belakangan ini.Reynan pasti sudah menolak mentah-mentah ajakan ini.

Namun demi Larasati, satu-satunya sosok yang selalu memahami dan membelanya diam-diam, ia memilih untuk mengalah, meski hatinya sama sekali tak sejalan dengan keputusan sepihak ayahnya.

"Ingat," Bagas kembali bersuara, kali ini nadanya lebih tegas, "di sana nanti, jaga sikap kamu baik-baik. Jangan bikin ulah, jangan ngomong sembarangan. Kita ini keluarga terpandang, Reynan. Sekali aja kamu bikin malu nama keluarga, Papa nggak akan segan-segan."

"Iya Pah, ngerti," jawab Reynan malas, meski dalam hati ia merasa begitu muak dengan segala aturan dan tekanan yang terus-menerus dibebankan padanya sejak kecil. Seolah hidupnya hanya ada untuk menjaga citra keluarga, bukan untuk dirinya sendiri.

Sesampainya di kampus, mobil mewah itu langsung menarik perhatian banyak mahasiswa dan calon mahasiswa baru yang sedang berlalu-lalang di area parkir. Begitu Reynan melangkah keluar dari mobil, bisik-bisik kagum langsung terdengar dari berbagai penjuru.

"Itu anaknya Pak Bagas Wirasena, kan? Yang punya perusahaan gede itu?" bisik salah seorang mahasiswi kepada temannya.

"Ya ampun, tampan banget ya," sahut yang lain, matanya tak berkedip menatap sosok Reynan yang melangkah dengan wajah datar tanpa ekspresi. Mengenakan kemeja putih rapi yang semakin menonjolkan parasnya yang memang begitu tampan... rahang tegas, mata tajam, hidung mancung sempurna, warisan genetik yang begitu kentara dari keluarga terpandang itu.

Namun di balik ketampanan yang begitu memukau itu, tersimpan aura dingin yang seolah telah mendarah daging sejak kecil. Sebuah tembok tebal yang ia bangun sendiri sebagai perlindungan dari tekanan yang terus-menerus menghimpitnya. Sorot matanya terlihat begitu datar, nyaris tanpa emosi, membuat siapa pun yang menatapnya merasa segan untuk mendekat lebih jauh.

Reynan berjalan mengikuti ayahnya menuju gedung administrasi, sama sekali tak menghiraukan bisik-bisik kagum yang terus mengikuti setiap langkahnya. Baginya, semua pujian tentang ketampanan itu tak lebih dari kebisingan yang tak berarti. Tak sebanding dengan kekosongan yang terus ia rasakan setiap kali dipaksa menjalani kehidupan yang bukan pilihannya sendiri.

"Reynan sini, isi ini," perintah Bagas begitu mereka tiba di meja pendaftaran, menyodorkan setumpuk formulir yang harus segera dilengkapi.

Reynan mengambil pena yang disodorkan petugas, mengisi setiap kolom dengan gerakan mekanis tanpa semangat, sesekali menjawab pertanyaan petugas dengan nada seadanya.

Bagas berdiri di sampingnya, mengawasi setiap detail dengan teliti, memastikan tak ada satu pun kesalahan yang bisa mencoreng nama besar keluarga mereka.

---

Di sisi lain kota, suasana yang jauh berbeda tengah dirasakan oleh seorang gadis lain yang juga baru saja tiba di kampus yang sama, membawa semangat yang begitu berbeda dari kekosongan yang dirasakan Reynan.

Pagi itu, Haruna sudah bersiap sejak subuh, mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, hatinya dipenuhi campuran antara gugup dan kebahagiaan yang meluap-luap. Namun baru saja ia hendak berangkat, ponselnya berdering, menampilkan nama Pak Broto di layar.

"Halo, Pak?" jawab Haruna cepat.

"Haruna maaf banget, Bapak nggak bisa nemenin kamu daftar hari ini. Anak Bapak tiba-tiba masuk rumah sakit, harus dirawat," suara Pak Broto terdengar begitu menyesal di seberang telepon.

"Ya ampun Pak, nggak apa-apa. Semoga anaknya cepat sembuh, ya Pak," jawab Haruna tulus, meski sedikit kecewa karena harus menghadapi hari besar ini tanpa pendampingan yang selama ini begitu ia andalkan.

Namun baru saja ia memutuskan untuk berangkat sendirian. Terdengar suara klakson motor dari depan rumah sewanya, disusul teriakan riang yang begitu familiar.

"Haruna! Ayo, Kakak anterin!"

Haruna menoleh, mendapati Kirana berdiri di depan motor matic miliknya, tersenyum lebar penuh semangat. "Kak Kirana? Kok tahu Haruna mau berangkat sekarang?"

"Insting sahabat, dong," jawab Kirana bangga, tertawa kecil. "Ayo, udah siap kan? Kakak anterin sampai kampus, sekalian bantuin daftar."

Wajah Haruna langsung berbinar bahagia, rasa gugupnya sedikit mereda dengan kehadiran sahabat setianya itu. "Makasih banyak, Kak!"

Perjalanan menuju kampus terasa begitu menyenangkan. Diselingi obrolan ringan dan tawa kecil yang membuat kegugupan Haruna berangsur menghilang.

Sesampainya di kampus, Kirana dengan sigap membantu Haruna mengurus setiap tahapan pendaftaran, mulai dari mengisi formulir hingga verifikasi berkas.

"Nih, udah selesai semua," ucap Kirana lega setelah menyerahkan berkas terakhir kepada petugas. "Tinggal nunggu pengumuman aja sekarang."

"Makasih banget Kak, Haruna nggak akan bisa selesai secepat ini tanpa bantuan Kakak," ucap Haruna haru, memeluk sahabatnya erat.

Belum sempat kebahagiaan itu berlangsung lama, ponsel Kirana tiba-tiba berdering nyaring. Ia meraihnya cepat, wajahnya berubah sedikit panik begitu membaca pesan yang masuk.

"Aduh Har, maaf banget, Kakak harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak sama temen Kakak," ucap Kirana, wajahnya menyiratkan penyesalan. "Ayo ikut Kakak aja, nanti Kakak anter pulang habis urusan selesai."

Haruna menggeleng pelan, tersenyum menenangkan. "Nggak usah Kak, pergi aja duluan. Haruna mau keliling-keliling kampus dulu, sekalian lihat-lihat suasana di sini."

"Yakin nggak apa-apa sendirian?" tanya Kirana khawatir.

"Yakin, Kak. Haruna baik-baik aja, kok," jawab Haruna meyakinkan.

Dengan sedikit ragu, Kirana akhirnya mengangguk, meski tetap memberikan pesan tegas sebelum benar-benar pergi. "Ya udah, tapi Haruna tunggu Kakak di sini aja, ya. Jangan ke mana-mana, biar gampang nyarinya nanti."

"Siap, Kak!" jawab Haruna riang, melambaikan tangan begitu Kirana bergegas pergi menaiki motornya, menghilang di balik gerbang kampus.

Setelah kepergian sahabatnya. Haruna mulai berjalan tertatih menyusuri area kampus yang begitu luas dan megah. Matanya berbinar kagum menatap setiap sudut bangunan yang dulu hanya bisa ia bayangkan.

Gedung-gedung tinggi menjulang, taman-taman hijau yang tertata rapi, mahasiswa-mahasiswa yang berlalu lalang dengan penuh percaya diri... semua itu terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Ia berhenti sejenak di sebuah taman kecil di tengah kampus, duduk di bangku kayu yang teduh di bawah pohon rindang. Matanya menerawang jauh, membayangkan dirinya beberapa bulan lagi, mengenakan jaket almamater, berjalan di antara mahasiswa lain dengan penuh kebanggaan.

"Nenek, Haruna akhirnya sampai di sini," gumamnya pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. Mengingat kembali janji yang telah ia ucapkan di hadapan makam wanita yang begitu ia sayangi. "Haruna akan buktikan, Haruna bisa jadi mahasiswa di sini."

Sementara itu, tak jauh dari lokasi yang sama, Reynan mulai merasa begitu bosan dan sesak dengan segala formalitas yang harus ia jalani bersama ayahnya.

Setiap kali ada kesempatan, ayahnya selalu memperkenalkannya kepada berbagai pejabat kampus dengan bangga. Memamerkan status keluarga mereka yang begitu terhormat, sesuatu yang membuat Reynan semakin muak.

Melihat ayahnya sedang sibuk berbincang serius dengan Dekan fakultas, Reynan memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Melangkah pergi diam-diam tanpa sepengetahuan sang ayah, mencari sedikit ruang untuk menghirup udara bebas dari segala tekanan yang terus membebani pundaknya.

Ia berjalan tanpa arah yang jelas, menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh calon mahasiswa baru. Hingga akhirnya, kakinya membawanya menuju sebuah taman kecil yang tampak lebih sepi dari area lainnya.

Dan di sanalah, di bawah naungan pohon rindang, matanya tertumbuk pada sesosok gadis yang duduk sendirian di bangku taman. Wajahnya menengadah menatap langit dengan senyum tipis yang begitu tulus, seolah sedang menikmati momen kebahagiaan yang begitu sederhana namun berarti.

Langkah Reynan seketika terhenti. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang dipenuhi kemewahan dan dikelilingi wanita-wanita cantik yang selalu berusaha menarik perhatiannya. Hatinya justru berdegup begitu kencang hanya karena menatap sosok gadis asing yang tak dikenalnya sama sekali.

Sinar matahari yang menembus celah dedaunan menerpa wajah gadis itu, menciptakan pantulan cahaya yang membuat parasnya tampak begitu bersinar. kulitnya yang putih bersih, rambutnya yang tergerai panjang, dan senyum tulus yang terpancar begitu alami tanpa dibuat-buat.

Reynan berdiri mematung beberapa saat, matanya tak mampu berpaling dari pemandangan itu. Ia sudah sering bertemu wanita-wanita cantik yang berusaha mendekatinya karena status dan ketampanannya.

Namun tak pernah sekalipun ada yang berhasil menggetarkan hatinya seperti ini. Hanya dengan sebuah tatapan sekilas, tanpa gadis itu bahkan menyadari kehadirannya.

"Siapa dia?" gumam Reynan pelan pada dirinya sendiri. Tanpa sadar melangkah semakin mendekat, terpesona oleh aura sederhana namun begitu memikat yang terpancar dari sosok gadis asing yang duduk sendirian di taman kampus itu.

1
Muft Smoker
aq cuma bisa kasih semangat buat Haruna ,, kekurangan mu gx bakal jd penghalang kesuksesan mu ,,
Ilfa Yarni
sedih aku bacany hiks klo Haruna kemakam sedih banget
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!