Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Apa ini...ancaman?
Seorang wanita berjalan menyusuri trotoar yang lengang.
Langit telah sepenuhnya gelap. Lampu jalan menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti setiap langkahnya. Hujan turun tipis, gerimis yang jatuh lembut di atas payung hitam yang ia genggam erat. Tetesannya memantul ke aspal, memecah keheningan malam.
Napasnya terdengar berat. Teratur, namun dipaksakan. Tangannya mengepal di sekitar gagang payung, buku-buku jarinya memucat.
Saat ia membelok ke sebuah gang sempit menuju area pemukiman, langkahnya terhenti.
Seseorang berdiri di hadapannya.
Postur itu tinggi, tegap. Jas hitam panjang melekat rapi di tubuhnya. Rambut panjang tergerai hingga pinggang, basah oleh hujan karena ia tidak menggunakan payung. Sosok itu membelakangi Diana, diam seperti bayangan yang sengaja menunggu.
Jantung Diana berdetak lebih cepat.
“Permisi…” ucapnya ragu.
Sosok itu bergerak. Ia berbalik perlahan.
Cahaya lampu jalan jatuh tepat ke wajahnya, dan Diana tertegun.
Matanya membelalak.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tenang namun tak sepenuhnya ramah.
“Sepertinya kita bertemu lagi,” katanya lembut.
“Diana Hale.”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Diana menegang seketika. Langkahnya mundur setengah tapak. Payungnya sedikit terangkat tanpa sadar, seolah menjadi penghalang terakhir.
“Kau…” suaranya tercekat. “Siapa kamu?”
Wanita itu melangkah maju satu langkah. Sepatu haknya menyentuh genangan air kecil, menimbulkan bunyi lirih. Ia berhenti tepat di hadapan Diana, cukup dekat hingga Diana bisa melihat tatapan matanya dengan jelas.
Tenang. Terlalu tenang.
“Aku Blair,” ujarnya. “Hakim Blair.”
Ia memiringkan kepala sedikit, hujan membasahi sisi wajahnya tanpa ia pedulikan.
“Hakim yang akan memimpin persidanganmu besok.”
Wajah Blair kini sepenuhnya berada dalam cahaya lampu jalan. Dan ingatan Diana menghantamnya sekaligus.
Gereja.
Aula yang sunyi.
Kertas yang ia tinggalkan.
“Itu kamu…” bisiknya tanpa sadar.
Diana mundur satu langkah lagi. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.
“Apa yang membuat hakim sepertimu mendatangiku?” tanyanya tajam, meski suaranya bergetar. “Apa ini… ancaman?”
Blair mengangkat satu alis.
“Kalau aku ingin mengancammu,” katanya ringan, “aku tidak akan memilih gang sempit di tengah hujan.”
Ia melirik sekeliling sekilas, lalu kembali menatap Diana.
“Aku hanya ingin berbicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan,” bantah Diana cepat. “Semua sudah ada di pengadilan.”
Blair tersenyum samar.
“Justru karena itu,” balasnya pelan, “aku ingin...mendengarmu di luar ruangan sidang.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya merendah.
“Kertas yang kau tinggalkan di gereja…”
“Apa aku sudah melakukannya dengan benar?"
Diana tersentak. “Itu bukan urusanmu.”
“Besok,” lanjut Blair tanpa menggubris, “kau akan ditanya apa yang kau alami, apa yang kau tahan, dan apa yang akhirnya membuatmu melapor.”
Ia berdiri tegak kembali.
“Tapi malam ini,” katanya, “aku ingin tahu satu hal.”
Tatapan Blair menajam, menusuk langsung ke mata Diana.
“Apakah kau benar-benar yakin dengan keputusanmu?”
Blair berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, “atau… kau meragukannya?”
Hujan turun sedikit lebih deras.
Diana menegang. Genggaman tangannya pada gagang payung menguat hingga jemarinya terasa kaku. Ia mengerutkan kening, menatap Blair dengan waspada.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Alis Blair terangkat tipis. Ia memiringkan kepala, meneliti ekspresi Diana seolah sedang membaca sesuatu yang tak terucap. Sesaat kemudian, ia membuka suara.
“Aku menerima laporan,” katanya tenang, “bahwa kau berniat mencabut gugatanmu.”
Diana terdiam.
Blair melanjutkan, suaranya tetap datar namun menekan,
“Padahal kau tahu persidangan akan berlangsung besok.”
Ia melangkah setengah langkah mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit. Hujan yang turun mengenai bahunya tak ia pedulikan. Suaranya kini lebih rendah, hampir seperti bisikan.
“Keputusan ini…” katanya pelan,
“ada hubungannya dengan kertas yang kau bakar setengah di gereja, bukan?”