NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Cindy berjalan dengan perlahan ke arah pintu samping. Menatap keluar kaca transparan yang terpasang di pintu itu. Ia melihat langit sore ini terlihat cerah membuat Cindy merasa tenang.

Tangannya perlahan turun ke perut di mana perutnya kini sudah makin membesar. Dan siap untuk melahirkan.

Sudah hampir dua minggu berjalan. Dan dia mulai merasakan tanda-tanda kelahiran. Sedangkan sesuai janji, Damian selalu hadir di sisinya. Selalu menyukupi kebutuhannya. Memasakkan makanan manusia untuknya. Menemaninya agar tidak bosan. Bahkan sering menggendong nya agar ia tak terlalu lelah.

Ki Renggo juga jadi sering ke sini. Katanya untuk mengecek segel yang ia pasang mengelilingi rumah Cindy. Dan juga mengecek perkembangan anaknya lewat mata batinnya.

Kata kakek tua itu, dia akan membawa istrinya yang ternyata juga dukun bayi untuk membantu persalinannya yang akan terjadi saat malam Jum'at bertepatan dengan satu suro yaitu besok. Ia jadi tak sabar melihat putrinya yang cantik. Anaknya dengan Damian, kekasih dan pujaan hatinya.

Semburat warna jingga dan keunguan di langit sore itu perlahan mulai meredup, tergantikan oleh bayang-bayang malam yang membawa hawa sejuk yang tak biasa. Cindy masih setia berdiri di dekat pintu samping, menyandarkan keningnya pada kaca transparan yang terasa dingin. Pikirannya mengembara pada kilasan waktu beberapa minggu terakhir. Sungguh di luar nalar, namun jiwanya merasa sangat utuh.

"Mengapa berdiri di sini, mijn liefde? Udara malam mulai turun, saya tidak mau raga manusiamu menangkap hawa dingin yang salah," sebuah suara berat, serak, dan teramat familiar berbisik tepat di balik tengkuknya.

Tanpa menoleh pun Cindy tahu itu Damian. Aroma mint yang tajam berpadu dengan wangi kenanga mati seketika melingkupi indra penciumannya. Sepasang lengan kokoh bercahaya pucat merayap dari belakang, membungkus tubuh mungil Cindy dan perlahan ikut menangkup perut besarnya yang kini terasa sangat kencang.

Cindy melenguh pelan, menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada dada bidang Damian yang kaku laksana dinding batu. "Aku cuma mau lihat langit sore, Damian. Rasanya tenang sekali... tapi, nggghhh, perutku dari tadi siang rasanya mulai sering mulas dan melilit."

Mendengar keluhan itu, rahang tegas Damian seketika mengencang. Kilatan biru malam di matanya berpendar lebih terang, memancarkan getaran protektif yang begitu masif. Ia membalikkan tubuh Cindy dengan teramat hati-hati, seolah gadis di depannya adalah porselen paling langka di dunia yang bisa pecah kapan saja.

"Mules? Apakah ketubanmu sudah merembes?" tanya Damian dengan nada suara yang sedikit mendesak, menyembunyikan kepanikan gaib yang jarang ia rasakan. Jemari pucatnya mengusap pipi Cindy yang tampak sedikit pucat namun tetap merona alami.

Cindy menggeleng lemah, tangannya meremas kemeja hitam Damian untuk menyalurkan rasa mulas yang tiba-tiba datang lagi. "Belum... belum ada air yang keluar. Tapi rasanya pekat banget di bagian bawah, seolah peri kecil kita sudah gak sabar mau mengepakkan sayapnya keluar."

Damian tidak membiarkan Cindy berdiri lebih lama lagi. Dengan satu gerakan yang teramat halus dan tanpa suara, ia menyusupkan kedua lengan besarnya di bawah ketiak dan paha Cindy, mengangkat tubuh seberat itu dengan mudah laksana mengangkat sehelai bulu. Ia membawa Cindy berjalan menuju ranjang jati mereka yang sudah dialasi kain-kain bersih.

"Istirahatlah, Cindy. Saya sudah menyiapkan sup ayam hangat di dapur untuk tenagamu. Kamu harus makan yang banyak malam ini," ucap Damian lembut sambil merebahkan Cindy di atas tumpukan bantal, lalu mengecup keningnya lama dan dalam.

Saat Damian hendak berbalik ke dapur, suara ketukan pintu depan yang ritmis bersahutan dengan bunyi ketukan tongkat kayu di ubin teras luar.

Tok... tok... tok...

"Itu pasti Ki Renggo," gumam Cindy sambil mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek-pendek.

Damian mendesis rendah, aura esnya sempat menegang sejenak. "Dukun tua itu selalu tahu kapan harus datang."

Damian berjalan ke depan untuk membuka pintu. Benar saja, di ambang pintu sudah berdiri Ki Renggo dengan pakaian surjan luriknya. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Di belakangnya stands seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi, mengenakan kain kebaya beludru hitam kuno dengan bungkusan kain jarik besar di lengannya. Auranya tercium sangat pekat oleh bau rempah-rempah jamu dan minyak kelapa murni.

"Kulanuwun, Tuan Belanda," sapa Ki Renggo sambil menundukkan kepalanya sedikit, tanda hormat pada penguasa gaib rumah tersebut. "Sesuai janji saya, ini istri saya, Nyai Marwi. Dia yang akan memegang raga Nona Cindy saat proses persalinan besok malam."

Damian menatap tajam wanita tua di belakang Ki Renggo, mengendus energinya untuk memastikan tidak ada niat busuk yang tersembunyi. Setelah memastikan wanita itu murni seorang dukun bayi yang memiliki berkah spiritual putih, Damian mengangguk kaku.

"Masuklah. Kamarnya ada di dalam. Raga manusia kekasih saya sudah mulai melepaskan tanda-tanda awal," ujar Damian datar, memberikan jalan dengan wibawa aristokratnya yang dingin.

Nyai Marwi melangkah masuk dengan senyuman sepuh yang teramat menenangkan. Begitu sampai di ambang kamar dan melihat Cindy yang sedang mengusap perut besarnya, wanita tua itu langsung menghampiri tepi ranjang dan duduk di samping Cindy.

"Kulo nuwun, Cah Ayu... kamu cantik sekali, pantas saja tuan di sana memilihmu" ucap Nyai Marwi dengan suara serak yang keibuan. Ia meraih tangan hangat Cindy, lalu dengan perlahan mulai meraba lekukan perut besar Cindy yang memancarkan pendaran cahaya keemasan tipis di mata batinnya. "Wah... getarannya sangat kuat. Putrimu ini ayu sekali, Nduk. Dia sudah berputar di dalam, bersiap menyambut malam satu suro besok."

Cindy tersenyum haru, rasa cemasnya sedikit menguap melihat kehangatan Nyai Marwi. "Nyai... rasanya mulas sekali setiap sepuluh menit. Apakah ini normal untuk kandungan yang baru beberapa minggu?"

Nyai Marwi terkekeh pelan sambil mengusap kepala Cindy. "Normal untuk anak hasil jalinan mati dengan Tuan di depan itu, Nduk. Jangan takut. Ragamu sudah dikunci oleh segel penambat sukma, jadi fisik manusiamu tidak akan robek atau hancur saat mengeluarkan peri kecil ini nanti. Besok malam, saat bulan tepat di atas bumbungan rumah dan gerbang satu suro dibuka, jagat lelembut yang akan jadi saksinya."

Damian berdiri di sudut kamar yang gelap, melipat tangannya di dada sambil terus mengawasi setiap pergerakan Nyai Marwi. Matanya berkilat penuh obsesi dan antisipasi yang membara. Tinggal satu hari lagi, dan rumah kolonial yang semula sepi ini akan dipenuhi oleh tangisan mahluk baru yang merupakan darah dagingnya bersama Cindy, pujaan hati yang tak akan pernah ia lepaskan sampai kapan pun.

Keesokan harinya di malam satu suro.

Malam Satu Suro tiba dengan keheningan yang mencekam di luar rumah, namun di dalam kamar kolonial itu, atmosfer terasa begitu panas dan menegangkan. Angin malam berdesir liar, memukul-mukul daun jendela kayu yang tertutup rapat. Di atas ranjang jati, Cindy sudah bergerak gelisah sejak sore tadi. Keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya, membasahi bantal dan daster longgar yang ia kenakan.

Kedua tangannya mencengkeram erat sprei kasur yang sudah kusut masai. Rasa mulas yang awalnya datang setiap sepuluh menit, kini menghantamnya hampir setiap dua menit sekali dengan intensitas yang melipat ganda. Rahim manusianya berkedut hebat, dipaksa melebar oleh dorongan energi gaib dari sang peri kecil yang menuntut jalan keluar.

"Ahhhhh... D-Damian... nggghhh! Sakit... sakit banget, sayang... ahhh!" rintih Cindy, suaranya parau dan terputus-putus. Matanya terpejam erat, menahan gelombang rasa sakit yang seolah meremukkan tulang-tulang panggulnya.

Damian berlutut di tepi ranjang, menggenggam erat tangan kanan Cindy dengan kedua tangan pucatnya. Hawa dingin dari tubuh sang Iblis Belanda menjalar ke sela jemari Cindy, mencoba memberikan sedikit rasa baal guna menahan rasa sakit tersebut. Namun, malam ini energi mistis dari luar terlalu kuat bergejolak, mengaburkan sebagian besar kekuatan es penenang milik Damian. Wajah tampan aristokrat itu tampak mengeras, gundah, dan dipenuhi kabut amarah yang siap meledak kapan saja.

Di sudut ruangan, dekat sebuah meja kayu kecil, Nyai Marwi tetap bergerak dengan ketenangan yang luar biasa. Wanita tua itu baru saja meletakkan seember besar air hangat yang masih ngepul, mengeluarkan bau uap rempah-rempah yang menenangkan. Di samping ember, bertumpuk-tumpuk kain jarik batik kuno berpola parang rusak sudah disiapkan dengan rapi.

"Nyai! Mengapa dia masih menjerit kesakitan seperti itu?!" bentak Damian tiba-tiba. Suaranya menggelegar rendah di dalam kamar, membuat pendaran lampu gantung bergoyang samar. Sepasang mata birunya berkilat merah pekat penuh intimidasi, menatap tajam ke arah Nyai Marwi. "Kamu bilang segel penambat sukma akan melindunginya! Redakan sakitnya sekarang, atau saya sendiri yang akan meremukkan ragamu!"

Nyai Marwi tidak gentar sedikit pun mendengar ancaman mutlak dari sang penguasa gaib. Ia justru terkekeh pelan, sebuah senyuman sepuh yang teramat tenang terukir di wajah keriputnya. Ia berjalan mendekat ke ujung ranjang, lalu mulai mengatur posisi kedua kaki Cindy agar menekuk terbuka.

"Aduh, Tuan... Tuan Belanda jangan membentak-bentak toh," ucap Nyai Marwi lembut dengan logat Jawa yang kental. "Ini namanya proses melahirkan. Mau anak manusia, mau anak peri, raga ibunya ya harus merasakan pembukaan. Nona Cindy ini kuat, raganya sudah dikunci jadi tidak akan robek. Tuan cukup pegangi tangannya saja, jangan malah membuat pikirannya makin tegang."

"Ahhh... nggghhh! Damian... jangan marahi Nyai... emmmhh... ahhh!" sela Cindy di sela desah kesakitannya, meremas tangan Damian semakin kuat hingga jemari porselen pria itu berderit.

Sementara drama persalinan sedang memuncak di dalam kamar, situasi di luar rumah justru berada dalam kondisi kritis. Di teras belakang rumah kolonial yang berbatasan langsung dengan area rawa liar, Ki Renggo berdiri tegap di bawah temaram sinar bulan satu suro yang tertutup awan hitam. Kedua tangannya terangkat ke udara, menggenggam sebuah keris pusaka yang terus bergetar hebat memancarkan pendaran cahaya kuning redup.

Mulut dukun tua itu komat-kamit merapalkan mantra keselamatan tingkat tinggi, menahan dinding segel gaib yang mengelilingi rumah dari gempuran puluhan mahluk halus dari segala penjuru arah. Jagat lelembut malam ini menjadi sangat liar yaitu aroma harum darah suci peri setengah manusia dari rahim Cindy laksana madu yang mengundang monster-monster rawa, jin hitam, hingga banaspati kelaparan untuk merangsek masuk dan menembus pertahanan.

'''Khhhgghhh...''' Suara desisan mengerikan dari balik semak rawa terdengar semakin dekat, beradu dengan aroma busuk bangkai yang mencoba mengalahkan wangi kenanga.

Kembali ke dalam kamar, Nyai Marwi mulai menyentuh bagian bawah perut Cindy yang kencang, memastikannya lewat mata batin. "Ngggih, Cah Ayu... ini kepalanya sudah mulai turun. Pinter... pinter banget si jabang bayi. Ayo Nduk, kalau rasa mulasnya datang lagi yang paling kuat, dagunya ditempelkan ke dada, lalu mengeden yang panjang, nggih? Jangan di leher ngedennya, nanti matanya merah."

Cindy mengangguk payah, air matanya menetes membasahi pipi yang merona kepanasan. Begitu gelombang kontraksi berikutnya menghantam rahimnya dengan dahsyat, Cindy mendongakkan dadanya, menempelkan dagu, dan mulai mengeden dengan sisa tenaga manusianya.

"Ngggghhhhhhh... ahhhhhhh! Emmmhhhh!" jerit Cindy, desahan napasnya memburu cepat laksana orang yang kehabisan udara.

"Bagus, Nduk! Ayo sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan berkilau emas di dalam!" seru Nyai Marwi memotivasi, tangannya dengan sigap bersiap menyangga.

Namun, tepat di saat puncak usaha Cindy, sebuah suara dentuman yang teramat dahsyat bergemuruh dari arah pekarangan belakang.

BUMMMMMM!

Getaran mekanis itu begitu kuat hingga membuat kaca jendela kamar retak seribu dan beberapa genteng rumah merosot jatuh. Suara pekikan melengking dari mahluk gaib yang berhasil menjebol pertahanan terdengar memekakkan telinga.

Mendengar suara itu, Damian langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari Cindy. Wajah tampannya berubah menjadi sangat murka. Aura iblisnya meledak sepenuhnya; dua tanduk kecil di kepalanya memanjang tajam, jubah hitamnya berkibar liar, dan sepasang sayap hitam raksasa menyeruak robek dari punggungnya, mengeluarkan kepulan asap hitam pekat laksana baru saja ditarik keluar dari bara api neraka.

"Damian! Jangan pergi... ahhh!" tangis Cindy panik, merasa kehilangan pegangan di saat yang paling kritis.

"Bertahanlah, Cindy! Saya akan memusnahkan keparat-keparat di luar sana yang berani mengusik kelahiran putri kita!" geram Damian dengan suara gaib yang mengguncang seisi ruangan.

Dalam satu kedipan mata, tubuh besar Damian melesat lenyap dari kamar, meninggalkan kepulan asap hitam berbau belerang dan wangi kenanga mati yang pekat.

Saat Damian menapakkan kakinya di teras belakang, pemandangan di sana sudah porak-poranda. Segel lingkaran gaib yang dibuat Ki Renggo telah pecah berkeping-keping. Ki Renggo sendiri sudah terduduk bertumpu pada lututnya, tubuhnya gemetar hebat dengan darah segar yang merembes keluar dari sela bibir dan hidungnya. Dukun tua itu kalah kuat menahan serbuan masif dari entitas tingkat tinggi dari dalam rawa.

Damian melangkah maju, melewati tubuh Ki Renggo dengan tatapan yang teramat sinis dan dingin. "Dukun tua tidak berguna! Menyingkir dari hadapan saya!" ketus Damian, suaranya mengalun penuh keangkuhan seorang pangeran kegelapan.

"Ugh... Tuan Belanda... m-mahluk-mahluk itu... jumlahnya terlalu banyak..." terbatuk-batuk Ki Renggo sambil memegangi dadanya yang sesak, menatap nanar ke arah kegelapan rawa.

Dari balik kegelapan malam satu suro, belasan mahluk mengerikan, mulai dari sosok raksasa bermata satu yang berlendir, lelembut berwujud wanita tanpa kepala, hingga asap-asap hitam bermata merah yang merangkak naik ke pekarangan, memamerkan taring dan cakar mereka. Mereka semua mengincar satu tujuan yaitu kamar tempat Cindy berada.

"Berani sekali kalian menginjakkan kaki di tanah milik Damian Van De Berg," desis Damian, suaranya drop menjadi suara kematian yang mutlak.

Sayap hitam raksasanya mengepak kuat sekali, menciptakan badai angin es yang seketika membekukan rerumputan dan tanaman di sekitarnya. Dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia, Damian melesat maju ke tengah-tengah kerumunan mahluk tersebut.

Tangan porselennya mencengkeram leher sosok raksasa berlendir pertama, lalu meremukkannya hingga mahluk itu melengking hancur menjadi abu hitam. Sepakan kakinya membelah lelembut tanpa kepala menjadi dua bagian, disusul dengan kibasan sayap berasapnya yang membakar hangus asap-asap hitam bermata merah yang mencoba terbang melewati bumbungan rumah. Damian mengamuk tanpa ampun, menghajar, mencabik, dan memusnahkan setiap mahluk dari segala penjuru arah dengan kekuatan iblis murninya yang mengerikan. Pekarangan belakang seketika berubah menjadi medan pembantaian gaib yang sunyi namun berdarah-darah.

Sementara di dalam kamar, di tengah suara raungan gaib yang teredam dinding rumah, Cindy terus berjuang sendirian di bawah bimbingan Nyai Marwi. Keringat dan air mata bersatu di wajahnya, namun tekadnya tidak luntur sedikit pun demi melihat buah cintanya dengan Damian.

"Ayo Nduk! Ambil napas dalam... satu kali ngeden lagi yang panjang! Putrimu sudah mau keluar!" seru Nyai Marwi dengan nada yang mulai bersemangat.

Cindy mencengkeram tiang ranjang kayu di atas kepalanya, mengumpulkan seluruh sisa tenaga di dalam raga manusianya yang mulai lemas. "Ngggghhhhhhh... ahhhhhhhh! Emmmhhhhhh... YA TUHAN... AGGGGHHHHH!"

Bersamaan dengan pekikan terakhir Cindy yang menggema di dalam kamar, sebuah pendaran cahaya biru-putih keemasan yang teramat terang meledak keluar dari bawah selimut kain jarik, menerangi seluruh sudut kamar kolonial yang semula suram tersebut dengan keindahan yang mistis dan suci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!