Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Dia dan Pintu Operasi
Lampu ruang operasi berwarna merah menyala tajam di ujung koridor lantai empat Rumah Sakit Medika Utama. Jarum jam dinding stainless steel menunjukkan pukul 08.15 WIB. Suasana di lorong khusus bedah toraks dan jantung itu begitu hening, hanya diselingi oleh dengung pendingin udara serta deru napas Alina yang tidak teratur.
Alina duduk bersandar di kursi tunggu besi yang dingin, meremas kedua tangannya yang terasa membeku. Ibunya, Bu Rahmi, telah didorong masuk ke dalam ruang operasi lima belas menit yang lalu.
Sebelum pintu tebal itu tertutup rapat, Alina sempat mencium kening ibunya, membisikkan doa, dan melihat senyum lembut sang ibu yang berusaha menenangkan ketakutannya.
(“Tuhan, lindungi Ibu ... Hanya Ibu yang Alina punya,”) bisik batinnya berulang kali bagaikan mantra.
Alina meraih liontin cincin emas putih di balik kemeja kremnya, meremasnya erat-erat. Logam dingin itu perlahan menghangat di dalam genggamannya, memberikan sedikit kekuatan misterius yang menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia teringat janji Devan dua malam lalu di ruangan kerja lantai 20. Pria itu berjanji bahwa tim medis terbaik akan dikerahkan dan semuanya akan berjalan lancar.
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Langkah kaki teratur yang berat dan mantap bergema dari arah lift utama lorong steril. Alina mendongak.
Sesosok pria tinggi tegap bersetelan jas hitam elegan melangkah mendekat. Devan Dirgantara. Ia berjalan sendirian tanpa dikawal sekretaris atau pengawalnya. Penampilannya rapi seperti biasa, namun ada raut keletihan samar di sekitar matanya, seolah ia baru saja menyelesaikan urusan bisnis penting atau penerbangan pagi yang panjang.
Jantung Alina berdesir hebat. Ia refleks berdiri dari duduknya, menatap Devan dengan mata membelalak tak percaya. "Pak Devan? Kenapa ... kenapa Anda ada di sini?"
Devan menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Alina. Pandangan matanya yang kelam menyapu wajah pucat gadis itu, menyadari betapa gemetarnya jemari Alina yang saling bertautan.
"Aku ada rapat dengan jajaran direksi rumah sakit ini jam sepuluh nanti," Devan beralasan dengan nada datar tanpa celah, merapikan kancing jasnya. "Sekalian melewati koridor ini untuk memastikan proses operasinya berjalan sesuai jadwal."
Alina menelan ludah. Ia tahu betul gedung direksi rumah sakit berada di sayap barat, sementara koridor bedah transplantasi berada di lantai empat sayap timur yang terisolasi. Devan tidak sekadar melewati koridor ini. Pria itu sengaja datang untuk melihatnya.
"Operasi ibumu sudah dimulai?" tanya Devan, mengalihkan pandangannya ke arah lampu merah di atas pintu operasi.
"Sudah, Pak. Sekitar satu jam yang lalu," jawab Alina pelan. Suaranya terdengar sangat kecil dan serak.
Devan melirik kursi tunggu besi yang dingin, lalu menatap Alina yang tampak kaku memegang tasnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devan melangkah ke pintu lorong dan memberi isyarat tangan kepada seorang staf rumah sakit yang berjaga di sudut.
Dua menit kemudian, staf tersebut datang membawa satu cangkir teh chamomile hangat dan satu cangkir kopi hitam tanpa gula, menyerahkannya kepada Devan sebelum membungkuk hormat dan berlalu.
Devan mengangsurkan cangkir teh chamomile hangat itu ke arah Alina. "Minum ini. Wajahmu pucat sekali seperti orang yang mau pingsan."
Alina menerima cangkir keramik itu dengan ragu-ragu. Uap hangat yang membumbung menyentuh hidungnya, mengalirkan rasa tenang yang seketika meresap ke dadanya. "Terima kasih, Pak Devan."
Devan mendudukkan dirinya di kursi tunggu di samping Alina. Ia menyesap kopi hitamnya perlahan, menyilangkan kaki tegapnya. Jarak di antara mereka kini hanya terpisah beberapa jengkal. Di koridor yang sunyi ini, aroma sandalwood dan bergamot khas Devan memenuhi udara, mengalahkan bau antiseptik rumah sakit yang menusuk.
"Dokter Hendra adalah dokter spesialis jantung terbaik di Asia Tenggara," Devan membuka suara dengan nada tenang dan mantap, memutus ketegangan yang menghimpit dada Alina. "Tingkat keberhasilan prosedur yang ditanganinya mencapai sembilan puluh delapan persen. Kamu tidak perlu mencemaskan hal yang belum terjadi."
Alina menatap cangkir teh di tangannya, tersenyum tipis nan sedih. "Saya tahu, Pak. Tapi Ibu adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki di dunia ini. Sejak Bapak meninggal lima tahun lalu, cuma Ibu tempat saya pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibu ..." Alina tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suaranya tertahan di tenggorokan, dan satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.
Devan memalingkan wajahnya menatap Alina. Dilihatnya bahu kecil gadis itu yang bergetar halus menahan tangis. Ada getaran aneh di dalam dada Devan, sebuah rasa asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa ingin merengkuh bahu ringkih itu dan menyembunyikan Alina dari seluruh penderitaan dunia.
Namun, Devan mengendalikan dirinya dengan sangat ketat. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah saputangan kain berwarna abu-abu gelap bersulamkan inisial "DD", lalu mengulurkannya ke depan wajah Alina.
"Hapus air matamu," kata Devan rendah. "Ibumu butuh melihat senyumanmu begitu dia bangun dari anestesi nanti, bukan mata yang sembap."
Alina menerima saputangan halus itu, mengusap air matanya perlahan. "Maafkan saya, Pak Devan ... Saya malah menangis di depan Anda."
"Tidak perlu minta maaf," sahut Devan datar, meski matanya tetap tertuju pada Alina dengan kelembutan yang sangat tersembunyi. "Menunjukkan kelemahan di depan orang yang tepat bukanlah sebuah kejahatan."
Kalimat itu (di depan orang yang tepat) terdengar bagaikan dentang lonceng yang bergema indah di dalam hati Alina. Apakah Devan secara tidak langsung menganggap dirinya sebagai orang yang tepat bagi Alina untuk membagi beban hidupnya?
Dua jam berlalu dalam keheningan yang jauh lebih menenangkan. Devan tidak beranjak dari kursinya, menolak panggilan telepon dari sekretarisnya dua kali untuk menunda rapat direksi rumah sakit. Pria itu tetap setia duduk di samping Alina, menjadi dinding kokoh yang tak tergoyahkan di tengah badai kecemasan gadis itu.
Tepat pukul 11.30 WIB, lampu merah di atas pintu operasi akhirnya padam, berganti menjadi hijau. Pintu ganda otomatis bergeser terbuka.
Dr. Hendra melangkah keluar bersama dua asistennya, melepas masker bedahnya dengan raut wajah yang memancarkan kelelahan sekaligus kepuasan.
Alina langsung meloncat dari duduknya, bergegas mendekati sang dokter, diikuti Devan yang berdiri anggun di belakangnya. "Dokter! Bagaimana ... bagaimana keadaan Ibu saya?"
Dr. Hendra tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya mantap. "Alhamdulillah, Mbak Alina. Operasi transplantasi berjalan sangat sukses tanpa ada komplikasi sama sekali! Jantung donor baru merespons dengan sangat baik di dalam tubuh Ibu Rahmi."
Alina menutupi hatinya yang membuncah oleh rasa syukur luar biasa. Air mata bahagianya menetes deras. "Terima kasih, Ya Tuhan ... Terima kasih banyak, Dokter!"
"Saat ini Ibu Rahmi sedang dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU) untuk pemulihan dan observasi ketat selama dua puluh empat jam ke depan," lanjut Dr. Hendra. Kemudian sang dokter memalingkan pandangannya ke arah Devan, membungkukkan badan sedikit secara formal. "Tuan Devan, terima kasih atas fasilitas helikopter medis cepat yang Anda sediakan untuk membawa organ donor dari bandara pagi tadi. Tanpa itu, kita mungkin terlambat sepuluh menit."
Alina mendadak membeku. Ia memutar badannya, menatap Devan dengan mata membelalak lebar.
("Helikopter medis?")
Ternyata Devan tidak sekadar membayar biaya pengobatan. Pria itu menyewa helikopter khusus untuk memastikan organ donor jantung tiba tepat waktu tanpa terkendala kemacetan lalu lintas udara atau darat.
Devan hanya mengangguk tipis pada Dr. Hendra, wajahnya kembali mengenakan topeng datar nan dingin. "Kerja yang bagus, Dokter Hendra. Pastikan perawatan pasca-operasinya mendapat perhatian penuh."
"Tentu, Tuan Devan. Kami akan berikan yang terbaik," janji Dr. Hendra sebelum pamit untuk memeriksa pasien lain.
Setelah dokter pergi, Alina berdiri terpaku menatap Devan. Dadanya bergemuruh hebat oleh perpaduan rasa haru, kekaguman, dan rasa utang budi yang teramat sangat besar.
"Pak Devan ..." suara Alina bergetar hebat. "Anda ... Anda menyewa helikopter untuk organ donor Ibu?"
Devan merapikan lengan jasnya, menghindari tatapan mata Alina yang berbinar emosional. "Itu prosedur efisiensi. Organ tubuh punya batasan waktu pemakaian yang sangat ketat. Aku tidak suka melihat investasi medis yang sudah kubayar sia-sia hanya karena masalah keterlambatan logistik."
Alina tahu betul Devan sedang menggunakan alasan logis dan dingin untuk menutupi kebaikannya. Namun Alina tidak bisa dibodohi lagi. Di balik topeng es yang keras itu, suaminya memiliki hati yang luar biasa bertanggung jawab dan peduli.
Alina melangkah mendekat, membungkukkan badannya dalam-dalam di depan Devan. "Terima kasih banyak, Pak Devan ... Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan Anda dalam hidup saya."
Devan menatap tubuh mungil Alina yang membungkuk di depannya. Tangan Devan terangkat perlahan, secara refleks mendarat di bahu Alina, menyuruhnya berdiri tegak kembali. Touch pria itu terasa hangat dan memabukkan.
"Sudah kukatakan, kamu tidak perlu membalas apa pun," ujar Devan dengan suara bass yang pelan namun meresap ke dalam jiwa Alina. "Cukup jalankan peranmu dengan baik, jaga rahasia kita, dan tetaplah tersenyum seperti ini."
Mata mereka beradu selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kilat mereka, Alina melihat kilatan emosi yang sangat bening dan dalam di dasar mata Devan, sebuah tatapan perlindungan murni seorang suami kepada istrinya.
****
Sore harinya, Alina kembali ke kantor divisi Pemasaran di lantai 12 dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia. Operasi ibunya sukses, dan beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit pundaknya seolah terangkat sepenuhnya.
Namun, kebahagiaan itu menyurut saat ia melangkah masuk ke ruangan. Atmosphere kantor terasa aneh dan menusuk. Beberapa rekan kerja berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya.
Di meja kerja Alina, sebuah amplop cokelat besar berlogo resmi ( Pemerintah Kota / Dinas Kependudukan) tergeletak di atas papan ketik komputernya. Amplop itu sudah dalam kondisi terbuka sedikit.
Clara berdiri tidak jauh dari meja Alina, tersenyum sinis sambil memainkan pena mahal di tangannya.
"Selamat sore, Alina," sapa Clara dengan nada suara yang penuh kelicikan dan kemenangan. "Tadi ada kurir pengirim dokumen resmi yang mengantarkan surat verifikasi data kependudukanmu. Katanya ada ketidaksesuaian status sipil di data HRD kantor kita."
Alina merasa darahnya seketika membeku. Perutnya melilit hebat.
Clara melangkah mendekati meja Alina, menundukkan kepala dan berbisik tepat di samping telinga Alina dengan nada mengejek yang sangat beracun. "Di berkas HRD kamu daftarkan dirimu sebagai Lajang ... Tapi kenapa surat dari Dinas Kependudukan ini menyatakan bahwa statusmu sudah Menikah sejak dua minggu lalu?"
Mata Alina membelalak sempurna. Bahayanya telah tiba. Rahasia terbesar yang berusaha ia sembunyikan dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya kini berada di ambang jurang kehancuran.