AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Suasana koridor sekolah menuju kantin pagi itu cukup ramai, namun di sudut dekat loker, Saka sengaja memperlambat langkahnya.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siswa lain yang menguping pembicaraan mereka.
Dengan dahi berkerut penuh rasa ingin tahu, Saka menyenggol bahu Al pelan.
"Eh Al, desas-desus di luar sana... apa benar Ayah angkatmu itu selingkuh?" bisik Saka, suaranya ditekan serendah mungkin.
Al menghentikan langkahnya sejenak. Ia menghela napas panjang.
"Hm... sebenarnya aku sudah tahu sejak lama, Ka. Setahun lalu, aku nggak sengaja melihat dia jalan bersama seorang wanita," kata Al pelan.
"Serius? Kamu lihat di mana? Siapa tahu itu cuma sekretaris atau rekan bisnisnya, kan?" tanya Saka, mencoba mencari kemungkinan lain.
Al menggelengkan kepala perlahan. "Aku yakin seratus persen wanita itu bukan sekretarisnya, Ka. Gayanya sangat berbeda. Aku juga tahu semua rekan kerja Ayah, dan wanita itu sama sekali bukan salah satu dari mereka. Yang membuatku heran... aku melihat mereka berdua masuk ke dalam sebuah hotel mewah."
"Ke hotel?" Saka terperangah, matanya agak melebar.
"Aneh, bukan? Kalau memang urusan bisnis atau sekadar rekanan kerja, harusnya mereka bertemu di kafe yang ramai atau restoran terbuka. Tapi ini? Malah masuk ke dalam hotel berdua. Anak kecil pun tahu apa arti semua itu," Al terkekeh pelan.
Saka terdiam, mengangguk-angguk paham dengan ucapan sahabatnya. Ia menepuk pundak Al dengan simpatik.
"Sabar ya, Al. Aku nggak menyangka hidupmu begini."
"Sudahlah, lagipula aku cuma anak angkat di rumah itu dan sekarang tidak ada hubungannya lagi," sahut Al, mencoba mengalihkan.
Saka juga tahu jika Al sudah tidak tinggal di rumah Ari.
Mereka kembali berjalan beriringan. Namun, ingatan Saka tiba-tiba teralih pada pemandangan luar biasa yang ia lihat di parkiran sekolah pagi tadi.
"Eh, tapi omong-omong soal hal lain, Al..." Saka menatap Al dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik.
"Bagaimana cerita sebenarnya kamu bisa dapat motor limited edition yang kamu pakai ke sekolah hari ini? Itu bukan motor sport biasa, Al! Bahkan anak-anak orang kaya di sekolah kita yang hobi pamer aja nggak bakal sanggup inden buat beli motor sekelas itu," kata Saka penasaran
Al menaikkan kedua alisnya, lalu menjawab dengan nada datar. "Oh, itu. Aku cuma menang undian kok."
"Whatt?! Menang undian?!" Saka hampir saja berteriak.
"Nggak mungkin! Jangan bercanda, Al! Mana ada dealer motor atau perusahaan mana pun yang mau rugi bandar demi mementingkan hadiah undian dengan motor limited edition yang harganya selangit itu? Lu pikir gua bocah ingusan yang bisa dibohongi?" tanya Saka lagi.
Al hanya tersenyum. Tentu saja ia tidak mungkin mengatakan bahwa motor itu adalah hadiah dari Sistem.
Sambil berjalan, Al merogoh saku seragamnya, membuka ponselnya, dan dengan cepat mengetik sesuatu di internet.
"Nih, daripada kamu menuduhku yang aneh-aneh, kau lihat sendiri saja fotonya," kata Al sambil menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Saka.
Saka merampas ponsel itu. Di layarnya, terpampang sebuah artikel berita resmi dari platform otomotif terkemuka lengkap dengan foto Al yang memegang plakat replika kunci motor tersebut dalam sebuah acara undian berhadiah skala nasional.
Seketika, mata Saka membulat. Mulutnya menganga lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
Al benar-benar mendapatkan motor langka yang diincar para kolektor dunia hanya karena sebuah keberuntungan alias menang undian.
Saka langsung syok berat, memegangi kepalanya yang mendadak pusing.
"Gila... ini gila! Keberuntungan macam apa ini, Al?! Lu habis mandi kembang tujuh rupa di mana?!" seru Saka heboh, mengguncang-guncang bahu Al.
"Sudahlah, tidak usah dilebih-lebihkan," kata Al sambil merebut kembali ponselnya dan memasukkannya ke saku.
"Aku sudah lapar banget. Lagipula, nanti setelah dari kantin, tolong temani aku ke ruang tata usaha ya," pinta Al.
Saka yang masih setengah syok mengerutkan kening. "Ke ruang TU? Mau ngapain?"
"Buat bayar SPP. Sudah tiga bulan ini aku telat bayar SPP sekolah. Kalau bulan ini tidak segera kulunasi, bisa-bisa nanti aku bisa didepak dan dikeluarkan dari sekolah ini," jawab Al.
Saka menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, benar juga. Lu bawa motor miliaran tapi SPP nunggak tiga bulan, aneh banget hidup lu! Ya sudah, ayo kita makan dulu baru urus administrasi lu yang kritis itu."
Sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat nasib sahabatnya yang penuh kejutan, Saka pun berjalan bergegas bersama Al menuju ke dalam kantin.