NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perantara yang Ditakdirkan

Lampu-lampu jalanan ibu kota membias di kaca depan SUV hitam yang melaju tenang membelah kepadatan lalu lintas malam. Di kursi belakang, Shanum bersandar lesu. Ketegangan rapat konsorsium yang menguras pikiran, ditambah sisa trauma insiden percobaan penabrakan siang tadi, membuat seluruh persendian tubuhnya terasa gemetar dan pegal.

Shanum melirik spion tengah. Aran mengemudi dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada sedikit pun gestur gugup atau sisa ketakutan dari pria bertubuh kekar itu, meski ia baru saja meloloskan mereka dari maut beberapa jam lalu.

Shanum berdehem kaku, mencoba mengikis keheningan kabin. "Teh pahit yang kamu siapkan di ruang tunggu restoran tadi... suhunya pas. Terima kasih."

Aran melirik spion tengah sekilas. Garis bibirnya sedikit terangkat—sebuah garis tipis yang hampir tak terlihat, namun cukup untuk mengikis aura robotik yang biasanya melekat erat pada dirinya.

"Dua puluh dua derajat Celsius, Mbak Shanum. Suhu standar agar rasa pahitnya tidak merusak fokus Anda," sahut Aran. Suaranya masih teratur dan santun, namun intonasinya tidak lagi sedingin dua hari lalu. "Itu bagian dari Poin Keempat perjanjian kita, bukan?"

Shanum mendesis pelan, meski bibirnya tak bisa menahan senyum tipis yang tersembunyi di balik kegelapan kabin. "Kamu mulai pandai bersilat kata, Aran."

Kabin kembali hening untuk beberapa saat, diiringi deru halus mesin mobil. Aran menatap jalanan senggang di depannya. Pikiran pria itu kembali terlempar pada bayangan Shanum yang merunduk dan memejamkan mata di lantai mobil siang tadi—membisikkan nama Tuhan di tengah ancaman maut.

"Mbak Shanum..." panggil Aran pelan. Suaranya tidak lagi terdengar seperti instruksi taktis, melainkan suara seorang pria biasa yang diliputi rasa ingin tahu yang polos.

Shanum menegakkan posisi duduknya. "Ya?"

"Soal doa Anda siang tadi..." Aran jeda sejenak, merangkai kata-katanya agar tetap teratur. "Waktu orang tua saya dibunuh di depan mata saya... ayah saya meraungkan nama Tuhan sampai napas terakhirnya. Tapi tidak ada keajaiban yang turun dari langit. Tidak ada malaikat yang menahan peluru itu. Mengapa Tuhan Anda diam saja saat orang baik memohon pertolongan-Nya?"

Shanum terpaku di kursi belakang. Pertanyaan itu terucap begitu jujur, tanpa nada meremehkan atau sinis. Di balik ketegapan fisik dan keahlian bertempur Aran yang mengerikan, Shanum kini melihat seorang anak kecil yang hancur dan tersesat di dalam kegelapan selama belasan tahun.

Shanum menarik napas panjang, menatap bayangan Aran di spion tengah dengan pandangan yang jauh lebih lembut.

"Tuhan tidak selalu menolong manusia secara langsung dengan menurunkan keajaiban dari langit, Aran," tutur Shanum pelan namun mantap. "Sering kali, Tuhan menolong manusia melalui perantara."

Aran mengernyitkan alisnya tipis. "Perantara?"

"Iya," lanjut Shanum. "Orang-orang yang diyakini dibiarkan tewas atau menderita, bukan berarti dilupakan. Dan orang-orang yang selamat, ditolong melalui tangan-tangan manusia lain yang digerakkan oleh-Nya. Sama seperti saat kamu hanyut di sungai perbatasan dengan dada tertembak... Tuhan tidak menerbangkanmu ke rumah sakit mewah. Tuhan menggerakkan Mubin untuk menemukanmu, menggerakkan Kyai Syahuri untuk menampungmu, dan menggerakkan jemari Ning Layla untuk menjahit lukamu tanpa rasa takut."

Aran terdiam. Jemarinya di lingkar kemudi sedikit mengencang. Bayangan wajah teduh Kyai Syahuri yang menyambutnya tanpa rasa curiga, ketenangan Ning Layla saat membersihkan darah di dadanya, serta ketulusan para santri di Pesantren Al-Ikhlas mendadak berputar cepat di memorinya.

"Mbak Shanum..." ujar Aran pelan, seolah sedang mencerna sebuah pemahaman baru yang asing. "Maksud Anda... orang-orang di pesantren itu... adalah perantara?"

"Bukan cuma mereka," Shanum tersenyum tipis, membuang pandangannya ke luar jendela kota. "Kamu juga perantara, Aran. Siang tadi, ketika truk itu hampir menghantam kita, Siapa yang menggerakkan refleksmu untuk membanting setir dalam hitungan detik? Kalau bukan karena keberadaanmu di balik kemudi ini, mungkin saya sudah tidak bernapas lagi malam ini."

Kata-kata itu menghantam benak Aran dengan kekuatan yang luar biasa. Selama belasan tahun, ia menganggap dirinya hanyalah sebuah mesin pembunuh, senjata berdarah dingin yang diciptakan oleh kegelapan bernama Viper. Namun malam ini, wanita di kursi belakang itu menyebutnya sebagai perantara pertolongan Tuhan.

Sebuah hangat yang asing merayap pelan di dada Aran, meretakkan dinding ketidakpercayaan dan kebencian yang telah membeku belasan tahun di jiwanya. Untuk pertama kalinya, matanya yang biasa dingin dan kosong tampak berbinar redup, terbuka secara tak langsung pada keberadaan Sang Pencipta yang selama ini ia ingkari.

Aran menghela napas panjang, dan kali ini, pundaknya ketiadaan ketegangan taktis. Sikap kaku ala robot perlahan meluruh, menggantikannya dengan gestur manusiawi yang lebih hangat.

"Kalau begitu..." Aran bersuara lagi, kali ini dengan nada santai yang diwarnai sedikit kelakar tipis. "Berarti biaya perantara saya hari ini sangat murah, Mbak Shanum. Hanya segelas teh pahit dan potongan gaji standar."

Shanum terbelalak kaget, lalu terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang jarang sekali terdengar dari mulut sang CEO kaku.

"Jangan melonjak dulu, Aran!" sembur Shanum dengan gengsi yang tetap dipertahankan, meski nada bicaranya jauh lebih santai. "Ingat, gaji double dan apartemen tetap kamu tolak sendiri tadi pagi!"

"Saya hanya menjalankan Poin Ketiga, Mbak," sahut Aran ringan, bibirnya kini benar-benar membentuk ukiran senyum yang tulus. "Lagipula, tinggal di mess karyawan membuat saya lebih mudah menyeduh teh pahit Anda setiap pagi."

Shanum menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Tembok gengsi dan ketegangan di antara mereka yang semula berdiri kokoh selinggi langit, malam itu mencair drastis di sepanjang jalan pulang.

SUV hitam itu akhirnya memasuki pelataran kediaman utama Al-Maktoum Group. Aran memarkirkan mobil dengan presisi, lalu turun untuk membukakan pintu belakang.

Saat Shanum melangkah keluar, Aran berdiri tegap—tetap mematuhi jarak dua meter, namun dengan raut wajah yang jauh lebih hidup dan bersahabat.

"Selamat malam, Mbak Shanum. Istirahatlah dengan tenang, perantara keselamatan Anda akan berjaga di luar sampai pagi," ujar Aran santai, menyertakan anggukan kepala yang sangat santun.

Shanum menatap Aran sejenak, merasakan perubahan besar pada pria di hadapannya. Ia bukan lagi sekadar pengawal berdarah dingin yang menakutkan, melainkan seorang pelindung yang memiliki jiwa.

"Selamat malam, Aran," balas Shanum lembut. "Dan... terima kasih untuk hari ini."

Saat Shanum melangkah masuk ke dalam rumah utama, Aran merogoh saku jasnya. Ponsel terenkripsi miliknya bergetar pelan, menampilkan pesan ancaman dari Lucas (Viper-0) yang diterimanya tadi siang.

Aran menatap layar itu tanpa rasa ragu sedikit pun. Dengan jemarinya yang mantap, ia mengetikkan balasan rahasia melalui frekuensi radio pendek:

TO: VIPER-0 (LUCAS)

MESSAGE: Saya tidak akan pulang, Komandan. Di sini, saya bukan lagi senjata. Saya telah menemukan alasan untuk hidup.

Aran menutup ponselnya, lalu berbalik menatap langit malam Jakarta yang penuh bintang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardebaran merasa tidak lagi berjalan sendirian di dalam kegelapan.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!