Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbakar Dendam
Hari Panen Raya akhirnya tiba dengan begitu meriah. Lapangan desa Layung Koneng dipenuhi warga yang mengenakan pakaian terbaik mereka, berbagai tumpeng hasil karya masing-masing RW dipajang rapi di atas meja panjang, sementara panggung kecil di ujung lapangan sudah dipenuhi alat musik tradisional untuk pentas seni yang akan digelar sore harinya.
Raya mengenakan kebaya sederhana berwarna hijau pastel pemberian Bik Tati, rambutnya disanggul rapi oleh Tiana yang begitu antusias mendandani kakak sepupunya itu untuk acara lomba tumpeng bersama Razka.
"Teh Raya cantik banget!" puji Tiana sambil merapikan aksesoris terakhir di rambut Raya.
"Makasih, Ti. Kamu juga cantik pake baju kebaya kayak gini, kayak lagi Kartinian. " balas Raya sambil tersenyum, meski ada sedikit kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan mengingat akan tampil berpasangan dengan Razka di depan seluruh warga desa.
Acara lomba tumpeng berlangsung meriah, sorak-sorai warga memenuhi lapangan setiap kali juri mengumumkan penilaian untuk masing-masing kelompok. Raya dan Razka tampil begitu kompak, hiasan tumpeng mereka yang dipenuhi ukiran sayuran kreatif berhasil menarik perhatian para juri.
"Selamat, Neng, Kang! Tumpeng kalian juara satu!" seru salah satu panitia, membuat sorak-sorai warga semakin riuh menyambut kemenangan itu.
Razka tersenyum lebar, tanpa sadar tangannya meraih tangan Raya untuk berjabat penuh kegembiraan, membuat wajah gadis itu merona meski ia berusaha menutupinya dengan senyum sopan.
"Alhamdulillah, kerja sama kita berhasil, Neng!" ucap Razka bahagia.
"Iya, Kang. Makasih sudah mau kerja sama sama saya." jawab Raya tulus.
Di tengah kemeriahan acara, tanpa disadari siapa pun, seorang perempuan berkerudung sederhana berjalan pelan memasuki area lapangan. Ia menyamar di antara kerumunan warga yang begitu ramai. Wajahnya ditutupi masker medis dengan alasan menutupi bekas kemerahan yang masih sedikit tersisa, namun mata tajamnya terus mengawasi sekeliling, mencari sosok yang begitu ia benci.
Dia adalah Manda.
Ia berjalan perlahan mendekati kerumunan, jantungnya berdegup kencang antara rasa gugup dan dendam yang begitu membara. Matanya akhirnya menangkap sosok Raya yang sedang tertawa bahagia bersama seorang lelaki asing di dekat panggung utama.
Jadi ini yang bikin dia bisa move on secepat ini, batin Manda geram, tangannya mengepal erat menahan amarah yang begitu meluap.
Ia mulai melangkah mendekat, menyusup di antara kerumunan warga yang sedang menikmati pentas seni yang baru saja dimulai. Namun baru beberapa langkah mendekat, sebuah sensasi panas yang begitu asing tiba-tiba menjalar di kedua telapak tangannya, seperti ada api tak kasat mata yang mulai membakar kulitnya.
"Aduh!" pekik Manda tertahan, buru-buru menyembunyikan tangannya yang mulai memerah ke dalam saku jaket.
Ia mencoba menahan rasa panas itu, terus melangkah mendekat meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. Namun semakin dekat jaraknya dengan Raya, semakin hebat pula sensasi terbakar yang menjalar, kini mulai merambat hingga ke lengan dan lehernya.
Sebuah perisai tak kasat mata, doa dan amalan yang terus dibacakan Ustad Ahmad setiap hari untuk melindungi Raya, kini bereaksi begitu keras terhadap kehadiran niat jahat yang mendekat.
Manda menggigit bibir menahan sakit yang begitu nyata, namun tekadnya yang sudah begitu bulat membuatnya tetap memaksakan diri melangkah lebih dekat. Ia sudah sampai hanya beberapa meter dari tempat Raya berdiri, ketika tiba-tiba rasa panas itu meledak begitu hebat di sekujur tubuhnya.
"AAAKH! PANAAASSS! " jerit Manda tak tertahan, tubuhnya limbung dan jatuh terduduk di tanah, tangannya mencengkeram wajahnya sendiri yang mulai terasa seperti terbakar hidup-hidup.
Teriakan itu sontak menarik perhatian seluruh warga yang berada di sekitar lapangan, termasuk Raya dan Razka yang langsung menoleh kaget mendengar suara jeritan yang begitu memilukan itu.
Beberapa warga berlarian mendekat, mengerumuni sosok perempuan asing yang kini tergeletak kesakitan di tanah, wajahnya yang tertutup masker mulai memerah dan berasap tipis seperti benar-benar terbakar, membuat seluruh kerumunan itu panik dan berteriak ketakutan.
"Ya Allah, ada apa ini?!" seru salah satu warga histeris.
"Kesurupan karuhun kali, buruan panggil Pak Kyai!" seru yang lain, membuat kepanikan semakin menjalar di antara kerumunan.
Razka yang berdiri tak jauh dari sana segera menarik Raya menjauh dari kerumunan, wajahnya penuh kewaspadaan melihat kejadian aneh yang begitu tiba-tiba itu.
"Neng, ayo kita jauh dulu dari sini! Takut kesurupannya nular! " ucap Razka waspada, tangannya melindungi Raya dari kerumunan yang semakin ricuh.
Namun Raya yang sempat melirik sekilas ke arah sosok yang tergeletak itu, merasakan sesuatu yang begitu familiar dari bentuk wajah yang sebagian terlihat dari balik masker yang mulai terlepas akibat pergerakan tubuhnya yang meronta kesakitan.
Manda!
Jantung Raya seketika berhenti berdegup, matanya membelalak lebar tak percaya melihat sosok yang selama ini menjadi sumber segala teror dalam hidupnya, kini tergeletak kesakitan tepat di hadapan seluruh warga desa yang sudah begitu ia anggap sebagai keluarga baru.
"Itu... Manda," bisik Raya lirih, suaranya bergetar hebat antara kaget dan takut.
Pak Kyai yang kebetulan hadir dalam acara itu segera bergegas mendekat, tangannya membacakan beberapa ayat suci sambil mendekati sosok Manda yang masih meronta kesakitan di tanah.
"Ini bukan kesurupan, ini efek dari tolak bala." ucap Pak Kyai tegas setelah memeriksa kondisi Manda sejenak, suaranya cukup keras hingga terdengar oleh seluruh kerumunan yang mengelilingi mereka, "siapa pun perempuan ini, dia datang ke sini dengan niat yang tidak baik."
Bisik-bisik warga semakin riuh mendengar penjelasan itu, sementara Manda yang menyadari kedoknya mulai terbongkar di depan umum, berusaha bangkit dengan tubuh yang masih gemetar hebat menahan sakit.
"Lepasin saya! Saya nggak apa-apa!" jerit Manda panik, mencoba menepis tangan-tangan warga yang hendak membantunya, matanya yang sudah memerah menatap liar ke sekeliling, mencari jalan keluar dari situasi yang begitu memalukan itu.
Razka yang melihat kekacauan itu segera melangkah maju, matanya menatap tajam ke arah Manda yang kini berhasil berdiri meski masih terhuyung-huyun.
" Teteh siapa? Kenapa Teteh bisa sampai kayak gini?" tanya Razka tegas, mencoba mengumpulkan kejelasan dari situasi yang begitu membingungkan itu.
Manda tak menjawab, matanya justru menatap tajam ke arah Raya yang masih berdiri mematung di belakang Razka, wajahnya begitu pucat menyaksikan kejadian yang begitu tak terduga itu.
"Ini belum selesai, Raya." desis Manda penuh dendam, suaranya begitu pelan namun cukup terdengar oleh Raya yang berdiri tak jauh darinya, "kamu boleh menang hari ini, tapi saya nggak akan berhenti sampai kamu bener-bener hancur!"
Sebelum ada yang sempat menahannya, Manda berhasil melepaskan diri dari kerumunan. Ia berlari sekuat tenaga menembus keramaian menuju arah jalan keluar desa, meninggalkan warga yang masih terpaku bingung dengan kejadian yang begitu aneh dan mengerikan itu.
Raya berdiri mematung, tubuhnya gemetar hebat menahan berbagai perasaan yang begitu bertumpuk, antara takut, syok, dan sebuah kesadaran baru bahwa ancaman yang selama ini ia coba hindari, kini benar-benar telah menemukan jalannya sampai ke tempat persembunyiannya yang paling aman sekalipun.
Razka segera merangkul pundak Raya yang masih bergetar hebat, matanya menatap penuh kekhawatiran pada gadis yang kini sudah begitu berarti baginya.
"Neng, itu tadi... orang yang selama ini bikin Neng dalam masalah?" tanya Razka hati-hati, sudah bisa menebak jawabannya sendiri dari reaksi Raya yang begitu jelas.
Raya hanya bisa mengangguk lemah, air matanya mulai menetes tanpa bisa ia bendung lagi, sementara seluruh warga desa yang menyaksikan kejadian itu kini menatap Raya dengan tatapan penuh tanya, sebuah rahasia yang selama ini ia coba sembunyikan, kini mulai terbongkar di hadapan orang-orang yang begitu ia percaya sebagai keluarga baru.
"Aku minta maaf, Kang. Aku minta maaf karena bawa masalah ini sampai kesini." isak Raya, suaranya begitu pilu menahan rasa bersalah yang begitu besar.
Razka menggeleng tegas, tangannya mengusap lembut pundak Raya yang masih bergetar.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, Neng. Ini bukan salah Neng, ini salah orang yang punya niat jahat itu " ucap Razka tegas, matanya menatap arah kepergian Manda dengan penuh kewaspadaan, "Yang penting sekarang Neng aman, dan saya janji nggak akan biarin orang itu deket-deket lagi sama Neng."
Di kejauhan, Pak Kyai masih berdiri termenung menatap arah kepergian Manda, wajahnya menyimpan kekhawatiran yang begitu dalam. Ia menghampiri Razka dan Raya dengan langkah tergesa.
"Neng," panggil Pak Kyai serius, "perempuan itu jelas bukan orang biasa. Saya bisa merasakan aura yang begitu jahat dari tubuhnya."
Raya menatap Pak Kyai dengan mata yang masih basah, mengangguk pelan membenarkan dugaan itu.
"Iya, Pak Kyai. Saya memang pernah dikirim gangguan sama orang yang tadi. Tapi saya tidak pernah menyangka jika dia datang ke desa ini." akui Raya tak lagi bisa menyembunyikan kebenaran yang sudah begitu jelas terbongkar di hadapan seluruh warga.
"Kalau begitu, malam ini juga kita perlu perkuat lagi perlindungan buat Neng. Sebab saya yakin dia akan kirim sihir yang lebih berat lagi untuk membalas." ucap Pak Kyai bijak.
" Terima kasih Pak Kyai. "
"Yang lebih penting sekarang, Neng harus lebih waspada. Orang yang punya dendam sebesar itu, biasanya nggak akan berhenti sampai di sini saja. Perkuat sholat dan dzikirnya, Neng."
Kata-kata itu membuat kekhawatiran baru menyelimuti hati Raya, namun di sisi lain, ada juga rasa syukur yang begitu besar karena kini ia tak lagi sendirian menghadapi teror yang selama ini menghantuinya. Warga desa yang tadinya hanya mengenalnya sebagai keponakan Bik Tati, kini justru semakin bersimpati dan bertekad melindunginya dari ancaman yang begitu nyata itu.
Sementara di kejauhan, Manda yang berhasil kabur dari desa dengan tubuh yang masih menyisakan bekas terbakar di wajah dan tangannya, duduk terisak di dalam angkot yang membawanya menjauh dari Layung Koneng.
Hatinya dipenuhi kebencian yang kini semakin membara, sebuah dendam yang begitu besar hingga membuatnya bertekad untuk kembali dengan rencana yang jauh lebih kelam dari sebelumnya, tak peduli lagi seberapa besar risiko yang harus ia tanggung demi menghancurkan kebahagiaan yang kini mulai tumbuh dalam hidup Raya yang jauh darinya.
BTW itu pas ulet bulu Mendoan pamit udah jatuh talah apa belum 🤔🤔🤔 Sadar gak sadar kan mereka sahabat tuh secara agama dan ada catatannya juga kan.. Tolong perjelas Mak.. kan kasian tuh kalau mau nikah ribet sama status yg gak jelas itu.. Ini duda / Jendess apa laki / bini orang..
kan gak lucu jadi poligami sama poliandri 🙏🏻🙏🏻🙏🏻