Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Suara derum mesin motor sport milik Helga melambat saat memasuki pelataran kompleks perumahan.
Gerimis tipis masih menetes pelan dari dedaunan pohon mangga di depan pagar rumah berarsitektur minimalis nomor dua belas.
Pukul tiga lewat empat puluh menit, langit sore mulai menampakkan bias warna jingga keabu-abuan dari celah awan mendung.
Helga menghentikan motornya tepat di depan gerbang besi yang setengah terbuka.
"Pas kan? Nggak nyasar," kata Helga sambil mematikan mesin motor.
Cklik.
Regina berkedip dua kali. Ia tidak langsung turun, melainkan melepas simpul tali jas hujan ponco biru tua di bawah dagunya terlebih dahulu.
Jemarinya yang agak dingin meraba plastiknya, menarik tudung itu ke belakang hingga rambut hitamnya yang terikat rapi menyembul keluar.
"Terima kasih," ucap Regina datar.
Ia mengayunkan kaki kanannya, turun dari jok belakang motor dengan gerakan pelan agar rok abu-abunya tidak tersangkut pada pegangan besi.
Klek.
Suara engsel pintu depan rumah terbuka nyaring.
Ratna muncul dari balik pintu kayu, masih mengenakan kemeja kerja warna krem dan celana kain hitam, tetapi tanpa sepatu hak tinggi yang biasanya ia pakai.
Wajahnya tampak sedikit lelah, namun matanya langsung berbinar begitu melihat Regina berdiri di samping motor di depan pagar.
"Regina! Ya ampun, nak..." Ratna melangkah cepat melintasi teras semen, menyambar payung lipat kecil di dekat pot tanaman, lalu membukanya.
Ratna menghampiri Regina di dekat gerbang, langsung memegang kedua bahu anak perempuannya.
"Kamu nggak apa-apa kan? Baju kamu basah nggak?"
"Nggak, Ma. Regina pakai jas hujan," sahut Regina pendek, menunjuk ponco biru tua yang masih melekat di tubuhnya.
Ratna menghembuskan napas lega.
Pandangannya lalu teralih ke sosok laki-laki yang masih duduk di atas jok motor sport hitam.
Baju putih seragam Helga tampak basah kuyup di bagian lengan dan dada, sementara celana abu-abunya menempel ketat karena serapan air hujan.
Ratna memajukan langkahnya satu pijakan, mengarahkan payungnya sedikit ke depan untuk menutupi bagian stang motor Helga.
Tatapan matanya melembut, ada kurva senyum hangat yang terukir jelas di wajahnya.
"Aduh, kamu temannya Regina ya?" tanya Ratna, suaranya terdengar sangat ramah. "Basah kuyup begitu... Kamu yang antar Regina pulang?"
Helga merapikan sedikit kerah seragamnya yang lepek, lalu menyunggingkan senyum tipis—senyum yang sopan dan jauh dari kesan tengil yang biasanya ia tunjukkan di koridor sekolah.
"Iya, Tante. Saya Helga, teman seangkatan Regina," jawab Helga santai, suaranya serak-serak basah namun teratur.
"Tadi di sekolah hujannya deras banget, jadi saya tumpangi sampai rumah."
"Terima kasih banyak ya, Helga," Ratna mengangguk-angguk pelan, matanya menatap baju basah Helga dengan prihatin.
"Duh, Tante sampai nggak enak. Kamu mau mampir dulu ke dalam? Tante buatkan teh hangat atau minum dulu, biar seragammu agak kering."
Helga melirik Regina yang berdiri kaku di samping ibunya, lalu kembali menatap Ratna.
"Nggak usah, Tante. Terima kasih banyak," sahut Helga halus.
Ia menarik helmnya dari stang motor.
"Rumah saya dekat dari sini, tinggal lurus ke arah jalan raya. Kasihan juga kalau kemalaman, takut hujannya makin deras lagi."
"Beneran nggak mau mampir dulu?" tanya Ratna memastikan.
"Nggak usah, Tante. Lain kali saja," balas Helga. Ia memutar kunci kontak motornya.
Brummm.
Mesin motor sport hitam itu kembali menyala dengan suara derum yang halus.
Helga menatap Regina sekejap dari balik kaca helmnya yang retak tipis di sudut bawah.
"Gua balik dulu," kata Helga pendek.
Regina hanya mengangguk sangat tipis. "Hati-hati."
"Mari, Tante," pamit Helga sambil menundukkan kepalanya sedikit ke arah Ratna.
"Hati-hati di jalan ya, Helga! Jangan ngebut, jalanannya licin!" seru Ratna melambaikan tangannya saat motor sport hitam itu mulai bergerak perlahan, membalikkan arah di ujung gang, lalu menghilang di belokan jalan raya.
Regina membuka kancing ponco plastiknya, melepaskannya dari kepala, lalu melipat plastik tipis itu menjadi lipatan empat persegi di atas pagar besi.
Ia menyapu bercak air yang menempel di tali ransel abu-abunya dengan ujung lengan kemejanya.
Ratna merangkul bahu Regina, membawa anak perempuannya masuk ke dalam teras yang terlindung atap.
Clek.
Ratna menutup payung lipatnya, menyandarkannya di dekat sudut tembok.
"Regina, Mama minta maaf ya," ucap Ratna tiba-tiba saat mereka berdua berdiri di depan pintu rumah.
Regina menghentikan tangannya yang sedang membetulkan posisi tali tas. "Minta maaf buat apa, Ma?"
Ratna memegang kedua tangan Regina, jemarinya yang hangat mengusap jemari Regina yang masih agak dingin sisa perjalanan.
"Tadi sore Mama mendadak ada rapat darurat sama kepala divisi dari Jakarta," kata Ratna, wajahnya menyiratkan penyesalan yang jujur.
"HP Mama di-mute di tas, baru sadar pas jam tiga lewat seperempat. Pas Mama mau jalan jemput kamu, jalanan depan kantor sudah macet total. Mama panik banget mikirin kamu nunggu sendirian di sekolah."
"Regina nggak apa-apa, Ma," balas Regina pelan. "Lagi pula tadi Helga nemuin tempat pensil Regina yang hilang kemarin, jadi sekalian balik bareng."
Ratna tersenyum tipis, mengelus rambut Regina yang sedikit lepek di bagian ujung.
"Anaknya sopan ya. Walaupun naik motor sport gitu, tapi tadi ngomongnya halus."
"Dia anak IPS, Ma," gumam Regina seadanya.
"Anak IPS juga banyak yang baik," sahut Ratna melangkah masuk ke dalam rumah.
"Sana kamu mandi pakai air hangat. Jangan lupa seragam basahnya langsung ditaruh di keranjang cucian. Mama mau buatkan teh manis hangat di dapur."
Regina berjalan menyusuri koridor dalam rumahnya menuju kamar tidur. Ia menutup pintu kamar dan meletakkan ranselnya di atas meja belajar putih.
Ia merogoh saku bagian dalam ranselnya, mengeluarkan tempat pensil kain biru tua yang sudah kembali ke tangannya.
Regina menaruh tempat pensil itu tepat di samping lampu belajarnya, persis seperti posisi di foto Instagram yang ia lihat semalam.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di dalam saku roknya bergetar dua kali secara beruntun.
Regina menarik ponselnya keluar, mendapati dua pesan masuk dari nomor yang berbeda.
Pesan pertama datang dari Shinta:
'REGINA! GUE LIAT ELO NAIK MOTOR SAMA HELGA DI DEPAN WARUNG BAKSO! DEMI APA ELO MAKAN BAKSO BARENG DIA?! BESOK PAGI ELO HARUS CERITA SAMPAI DETAIL!'
Pesan kedua datang dari nomor tak dikenal milik Helga:
'Gua udah sampai rumah. Tempat pensil lu jangan sampai ketinggalan lagi.'