NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Kepulangan

"Tuk... tuk... tuk..."

Suara langkah kaki bersepatu hak tinggi menggema di sepanjang ruangan, berpadu dengan gesekan roda koper yang bergulir perlahan di lantai. Irama keduanya terdengar semakin jelas, menandakan seseorang tengah berjalan mendekat.

Mendengar suara itu, seorang wanita yang semula duduk santai sambil membolak-balik halaman majalah segera menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan majalah di atas meja, lalu bangkit berdiri. Dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, ia mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang kini semakin dekat, seolah menanti sosok yang akan segera muncul di hadapannya.

"Aku pulang," ucap Nisrina Afrasya lirih sambil menundukkan kepala.

Ia berdiri tepat di hadapan seorang wanita anggun yang mengenakan gaun berwarna hijau toska. Wanita itu masih duduk tenang di sofa. Majalah yang sedari tadi dibacanya kini telah diletakkan di atas meja, sementara tatapannya tertuju lekat kepada Nisrina.

Sebelum keheningan itu berlangsung lebih lama, seorang pria bernama Faeyza Afrasya segera menghampiri adik perempuannya. Senyum hangat menghiasi wajahnya.

"Kamu pulang, Nisrina?" ucapnya penuh haru.

Meski terkejut karena sang adik pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, rasa bahagia yang memenuhi hatinya jauh lebih besar. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di luar kota, akhirnya ia bisa melihat Nisrina kembali.

"Apa kamu sudah menyelesaikan kuliahmu?" tanya Faeyza sambil memeluk Nisrina erat.

"Kenapa tidak memberi tahu Kakak? Kalau saja kamu mengabariku, Kakak pasti sudah menjemputmu di bandara."

Nisrina tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya. Ia hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa begitu kaku. Tatapannya seolah menyimpan banyak hal yang belum sanggup diungkapkan. Di hadapannya, Faeyza masih menatap penuh harap, meyakini bahwa adiknya akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan yang telah lama dinantikan keluarga.

Tak lama kemudian, Mahendra Afrasya melangkah mendekat. Pria paruh baya itu merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk putrinya dengan hangat.

"Alhamdulillah... akhirnya kamu selesai juga, Nak. Ayah sudah menunggu momen ini begitu lama," ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sorot matanya memancarkan rasa bangga sekaligus haru.

Suasana hangat itu kemudian disambut suara seorang wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Om dan Tante juga ikut senang, Nisrina. Akhirnya kamu lulus juga," ujar Keysha Afrasya, adik kandung Mahendra, dengan senyum lebar. "Kami semua sudah menunggu hampir lima tahun sampai kamu menyelesaikan S2. Padahal adikmu yang mulai kuliah tiga tahun setelahmu saja sudah lebih dulu lulus."

Ucapan itu diakhiri dengan tawa kecil, menandakan bahwa kalimat tersebut hanyalah sebuah candaan. Namun, entah mengapa, senyum di wajah Nisrina justru semakin memudar. Ia hanya menundukkan kepala, seolah ada beban berat yang tengah disembunyikannya dari seluruh keluarganya.

"Iya, Nisrina. Tante juga ikut bahagia karena akhirnya kamu berhasil menyelesaikan pendidikanmu," timpal Rahma Alia, istri Keysha, dengan senyum hangat.

Ucapan itu semakin mencairkan suasana. Tawa dan obrolan ringan memenuhi ruang keluarga kediaman keluarga Afrasya. Semua orang larut dalam kebahagiaan, menyambut kepulangan Nisrina setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan.

Namun, tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Di sudut ruangan, wanita anggun bergaun hijau toska yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka perlahan mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya tertuju tajam kepada Nisrina. Wajah cantiknya tetap terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan kemarahan yang berusaha ia sembunyikan.

"Membuat kesal saja..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun.

Tatapannya tak pernah lepas dari Nisrina.

"Jangan lupa tujuanmu pulang ke rumah ini," ucapnya dingin.

Kalimat itu sontak membuat senyum di wajah Nisrina menghilang. Jemarinya yang semula menggenggam gagang koper perlahan mengencang. Ia memahami betul makna di balik ucapan wanita itu, sementara anggota keluarga yang lain masih larut dalam kebahagiaan, sama sekali tidak menyadari perubahan suasana yang tiba-tiba terasa begitu menyesakkan.

Nisrina menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya terasa sesak saat menatap wajah dingin sang adik.

"Aku mohon... jangan lakukan ini, Haselyn," pintanya lirih. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Haselyn Afrasya menatapnya tanpa sedikit pun menunjukkan belas kasihan.

"Ingat janjimu padaku," ucapnya datar. "Janjimu saat aku bersusah payah membawamu pulang."

Mendengar kalimat itu, kepala Nisrina semakin tertunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha meredam gemetar yang tak mampu ia sembunyikan.

"Maafkan Kakak, Haselyn..." bisiknya penuh penyesalan.

Keheningan yang menyelimuti ruangan justru terasa semakin mencekam. Nisrina tahu, kemarahan yang selama ini dipendam Haselyn mungkin sudah berada di ambang batas. Dan kali ini, ia tak yakin sang adik masih memiliki alasan untuk memaafkannya.

"Jangan bilang kau mengabaikan peringatanku, Kak!" bentak Haselyn. Nada suaranya tajam, dipenuhi amarah yang selama ini ia pendam.

"Maaf..." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Nisrina. Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh keheningan yang mencekam.

Haselyn melangkah mendekat dengan langkah tenang, tetapi setiap pijakannya terasa begitu menekan. Sorot matanya tak sedikit pun melembut.

Melihat sang adik terus mendekat, Nisrina secara refleks melangkah mundur. Napasnya memburu, tubuhnya bergetar hebat. Rasa takut menguasai dirinya.

Plak!

Suara tamparan menggema di seluruh ruangan.

Kepala Nisrina terhuyung ke samping. Perlahan ia mengangkat tangan, memegang pipinya yang terasa panas. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi kedua pipinya.

"Haselyn!" seru beberapa anggota keluarga besar Afrasya hampir bersamaan. Wajah mereka dipenuhi keterkejutan. Tak seorang pun menyangka Haselyn benar-benar menampar Nisrina yang bahkan baru saja menginjakkan kaki di rumah itu.

Faezya melangkah cepat menghampiri Haselyn dan Nisrina. Tanpa ragu, ia menarik lengan Haselyn dengan keras hingga gadis itu menoleh. Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan sang adik erat, seolah berusaha menahan amarah yang mulai meluap.

"Berani sekali kamu bersikap kurang ajar pada kakakmu!" bentak Faezya. Sorot matanya penuh kemarahan dan kekecewaan. Ia sama sekali tak menyangka Haselyn tega mengangkat tangan kepada Nisrina.

Namun, Haselyn membalas tatapan itu tanpa sedikit pun gentar. Wajahnya tetap dingin, rahangnya mengeras, seakan tamparan yang baru saja ia layangkan bukanlah sesuatu yang patut disesali.

"Aku hanya menamparnya, Kak," balasnya tajam. "Kalau Kakak tahu apa yang dilakukan adik kesayangan Kakak selama ini di luar negeri, aku yakin Kakak akan melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar menamparnya."

Ucapan Haselyn seketika membungkam seluruh ruangan.

Tak ada lagi suara yang terdengar selain embusan napas yang terasa begitu berat. Seluruh tatapan keluarga besar Afrasya beralih kepada Nisrina. Wajah-wajah yang semula dipenuhi keterkejutan kini berubah menjadi penuh tanda tanya.

Apa sebenarnya yang telah dilakukan Nisrina selama berada di luar negeri?

Hingga Haselyn, yang selama ini begitu menjaga sikap dan menahan emosi, tega melayangkan tamparan di hadapan seluruh keluarga.

Tak seorang pun berani menyela. Mereka hanya saling bertukar pandang, menunggu penjelasan yang entah akan membawa kenyataan seperti apa.

Sementara itu, Nisrina tetap menundukkan kepala. Jemarinya mengepal pelan di balik tubuhnya, bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, tak satu pun kata berhasil keluar. Ia memilih diam, membiarkan setiap tatapan penuh prasangka menghujam dirinya tanpa perlawanan.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!