Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. HARI PERTAMA KULIAH
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan bagi Nadira: hari pertama kuliah.
Nadira berdiri di depan cermin besar di kamar utama, mematut penampilannya. Ia mengenakan kemeja katun berwarna putih gading yang dimasukkan rapi ke dalam rok plisket panjang berwarna cokelat susu, dipadukan dengan sepatu kets putih kesayangannya. Tas punggung kain khusus perlengkapan melukis sudah tersandang manis di bahunya.
"Mas Abi, bajuku udah rapi belum? Nggak kelihatan kekanakan, kan?" tanya Nadira panik, memutar tubuhnya di depan Abiyasa yang sedang menyesuaikan ikatan dasinya.
Abiyasa menghentikan gerakannya. Pria itu menatap istrinya dari atas ke bawah. Senyuman tipis nan hangat—senyuman yang kini selalu siap hadir untuk Nadira—terukir di bibirnya. Pria itu melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
"Kamu terlihat sangat cantik dan anggun, Nyonya Mahendra," bisik Abiyasa dengan suara baritonnya yang rendah. Tangannya terangkat, merapikan kerah kemeja Nadira seraya menyelipkan beberapa helai rambut di balik telinga gadis itu. "Tidak ada yang kekanakan."
"Tapi aku grogi banget, Mas..." cicit Nadira, menempelkan telapak tangannya di dada Abiyasa yang tegap. "Gimana kalau nanti dosennya galak? Gimana kalau teman-teman seangkatanku cuek-cuek?"
Abiyasa menangkup kedua pipi Nadira, mengangkat wajah cantik istrinya agar mata mereka bertatapan lurus.
"Dengarkan saya," tegas Abiyasa lembut namun sarat akan keyakinan. "Kamu masuk ke kampus itu karena bakat dan kerja kerasmu sendiri. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Nikmati hari pertamamu, cari teman yang baik, dan kalau ada masalah sekecil apa pun..."
"Langsung telepon Mas Abi," potong Nadira seraya tersenyum tipis, hafal betul kalimat wajib suaminya.
"Pintar," sahut Abiyasa seraya menundukkan kepala, mendaratkan kecupan hangat yang cukup lama di dahi Nadira, menyalurkan ketenangan dan kekuatan. "Ayo turun, Pak Maman sudah menunggu di mobil."
Sedan Toyota Camry hitam berhenti tepat di depan pelataran gedung Fakultas Seni Rupa UG*. Suasana kampus sangat ramai oleh ratusan mahasiswa baru berbusana rapi yang berlalu-lalang, serta stan-stan organisasi mahasiswa yang memeriahkan orientasi kampus.
Nadira menarik napas panjang, bersiap membuka pintu mobil. Namun, tangan kanan Abiyasa menahannya perlahan.
"Ingat janji kita," ujar Abiyasa menatap Nadira penuh arti.
"Iya, Mas Abi... Aku nggak akan lewat dari jam lima sore, aku nggak akan jajan di sembarangan, dan aku nggak akan... senyum-senyum ke mahasiswa cowok lain," tutur Nadira dengan nada jenaka seraya memutar matanya gemas.
Abiyasa terkekeh pelan—suara tawa rendah yang menggetarkan dada tegapnya. Pria itu menarik jemari kecil Nadira dan mengecup punggung tangannya dengan penuh kehangatan. "Satu lagi."
"Apa lagi, Mas?"
Abiyasa memajukan tubuhnya, mengecup singkat bibir manis Nadira di hadapan Pak Maman yang sudah paham betul untuk pura-pura sibuk melihat spion luar. "Selamat memulai babak barumu, Sayang. Saya sangat bangga padamu."
Wajah Nadira seketika merona merah hangat. "Makasih ya, Mas Abi! Aku masuk dulu!"
Nadira meluncur keluar dari mobil dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas. Dari dalam mobil, Abiyasa memperhatikan langkah cepat istri kecilnya yang membelah kerumunan mahasiswa sampai tubuh mungil itu menghilang di pintu masuk auditorium kampus.
Di dalam auditorium utama, suasana pengenalan kehidupan kampus berjalan meriah. Nadira duduk di deretan kursi tengah bersama puluhan mahasiswa baru jurusan Desain dan Seni Rupa.
"Hai! Boleh duduk di sini?"
Seorang gadis berambut pendek ikal dengan gaya pakaian eccentric khas anak seni menyapa Nadira ramah.
"Boleh banget! Silakan," sahut Nadira riang seraya menggeser tasnya.
"Aku Maya, dari jurusan Seni Murni," kenal gadis itu seraya mengulurkan tangan.
"Aku Nadira, dari Desain Komunikasi Visual," jawab Nadira seraya membalas jabat tangannya tulus.
Dalam hitungan jam, Nadira langsung merasa cocok dengan Maya. Keraguan dan ketakutannya akan lingkungan baru menguap seketika.
Teman-teman seangkatannya ternyata sangat terbuka, kreatif, dan penuh semangat. Mereka bertukar cerita tentang pengalaman melukis, karya favorit, hingga latar belakang masing-masing.
Saat sesi istirahat makan siang di kantin kampus, Maya menatap ponsel Nadira yang tergeletak di meja—layar ponsel itu menampilkan foto wallpaper Nadira dan Abiyasa yang sedang bergandengan tangan di vila.
"Wah, Nad! Foto wallpaper-mu estetik banget!" puji Maya seraya menyeruput es tehnya. "Itu cowokmu ya? Ganteng banget, berwibawa gitu!"
Nadira tersenyum malu-malu, pipinya merona manis. "Bukan cowok... Itu suamiku."
"HAH?!" Maya hampir saja tersedak es tehnya. Matanya membelalak lebar menatap Nadira tak percaya. "Kamu bercanda kan, Nad?! Kamu udah nikah?!"
"Beneran, Maya," kekeh Nadira pelan, menunjukkan cincin pernikahan yang melingkar cantik di jari manisnya yang sengaja ia kenakan dengan rantai kalung perak kecil di lehernya demi kenyamanan melukis. "Aku nikah habis lulus SMA kemarin."
"Demi apa?!" jerit Maya tertahan seraya memegang dahinya. "Aku kira kamu masih single kayak anak-anak lain! Tapi sumpah, suamimu kelihatan dewasa dan penyayang banget di foto itu."
"Dia emang... baik banget sama aku," gumam Nadira tulus, rasa rindu mendadak merayapi dadanya padahal baru beberapa jam mereka terpisah.
Sore harinya, tepat pukul empat tiga puluh, kegiatan orientasi hari pertama berakhir.
Nadira berjalan menuju pintu gerbang fakultas bersama Maya seraya mengobrol riang. Namun, langkah Nadira terhenti saat melihat sebuah pemandangan di area parkir depan gedung.
Bukan lagi sedan Toyota Camry biasa yang menunggu. Sebuah mobil jip Jeep Wrangler berwarna oranye mencolok terparkir anggun di bawah pohon beringin. Di samping mobil itu, berdiri Baskara dengan kacamata hitam dan kemeja santai, seraya melambaikan tangan heboh ke arah Nadira.
Dan di samping Baskara... berdiri Abiyasa Mahendra.
Sang CEO tampak begitu memesona dalam balutan kemeja putih yang digulung hingga siku, celana kain charcoal, dan kacamata rasionya yang memberikan kesan teramat tampan, berwibawa, dan dominan. Beberapa mahasiswi yang melintas tampak berbisik-bisik heboh mengagumi ketampanan pria dewasa tersebut.
"Nadira! Di sini!" seru Baskara dengan suara nyaring tanpa malu.
Maya di samping Nadira mendadak membeku kaku. "Nad... itu... itu cowok yang di foto wallpaper-mu, kan?! Dia beneran datang ke kampus?!"
Nadira menepuk jidatnya sendiri, merasa canggung sekaligus gemas melihat suaminya dan Baskara berdiri di sana. "Iya, Maya. Itu suamiku..."
"Gila... suamimu keren banget, Nad! Kayak aktor drama Korea!" bisik Maya takjub.
Nadira pamit pada Maya, lalu melangkah cepat menghampiri kedua pria tersebut. "Mas Abi! Mas Baskara! Kok Mas Abi jemputnya sama Mas Baskara pakai mobil mencolok begini sih?"
Baskara melepaskan kacamata hitamnya seraya tertawa lepas. "Salahkan suamimu, Nadira! Dia dari jam tiga sore udah enggak fokus rapat kantor cabang di Jogja. Bolak-balik liat jam tangan terus ngajak aku buru-buru ke sini!"
Abiyasa memberikan tatapan dingin penuh peringatan pada Baskara, membuat sahabatnya itu buru-buru mengatupkan mulutnya seraya menyengir tanpa rasa bersalah.
Abiyasa memalingkan pandangannya pada Nadira. Pendar di matanya seketika melunak penuh kehangatan. Tangannya terangkat, mengusap pelan puncak kepala istrinya.
"Bagaimana hari pertamamu, Nyonya Mahendra?" tanya Abiyasa dengan suara baritonnya yang lembut, mengabaikan kehadiran Baskara dan tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Lancar banget, Mas!" jawab Nadira dengan binar mata bahagia. "Aku dapat teman baru, dosennya ramah-ramah, terus kelas studionya seru banget!"
Abiyasa menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan—sebuah ekspresi lega yang tiada tara. "Bagus kalau begitu."
Pria itu tanpa ragu merangkul pinggang mungil Nadira, menarik istrinya rapat ke sisinya dalam gestur kepemilikan yang sangat jelas di depan publik kampus UG*.
"Hei, kalian berdua! Jangan pamer kemesraan di depan jomblo seperti saya ya!" protes Baskara seraya memutar matanya. "Ayo masuk mobil! Aku sudah reservasi meja di restoran buat merayakan hari pertama kuliah Nadira!"
Nadira tertawa renyah seraya menggamit erat lengan tegap suaminya. Abiyasa mengecup singkat pelipis Nadira sebelum membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Di bawah naungan sore Kota Jogja yang syahdu, hari pertama kuliah Nadira berjalan dengan sangat sempurna. Bukan hanya karena impian akademisnya yang mulai terwujud, tetapi karena ia tahu, ke mana pun langkah kakinya menjelajah, ia memiliki sosok suami terbaik yang akan selalu menjadi pelindung, pendukung, dan rumah sejati bagi hatinya.